
20 tahun yang lalu di kediaman Maximilian ditemukan sebuah keranjang yang berisikan bayi perempuan di dalamnya.
Benar, bayi itu adalah Gwenaelle. Gwenaelle bayi ditemukan di depan pintu rumah kediaman Maximilian. Pada saat itu beberapa pegawai dibuat keheranan, sebab tidak ada satupun pegawai yang menyadari adanya orang luar ataupun penyusup yang masuk kedalam kediaman saat itu.
Layaknya seperti sihir "boom" dan voila, Gwenaelle muncul di depan pintu.
Sang kepala keluarga, Christian Maximilian beserta istrinya Abigail Maximilian sepakat memutuskan untuk mengadopsi Gwenaelle. Christian Maximilian yang merupakan seorang dokter tidak mungkin membiarkan seorang bayi yang tampak dengan sengaja diberikan ke keluarga ini.
Sempat heran dan kebingungan, tetapi Abigail menganggap bahwa itu adalah berkat dari Tuhan.
Walapun resmi di adopsi, Gwenaelle tidak menggunakan nama belakang Maximilian karena nama Gwenaelle telah tertulis rapi nan indah di amplop surat yang ada bersamaan di dalam keranjang.
'Gwenaelle D'arcy Orfhlaith.'
'Bukalah saat usiamu mencapai 16 tahun.'
Sejak dini Gwenaelle telah diberi penjelasan mengenai namanya yang berbeda, dan telah diberi tahu pula asal mula keluarga Maximilian menemukannya.
Gwenaelle tak merasakan adanya perbedaan perilaku dari orangtua asuhnya antara dia dan saudara angkatnya Zayn. Gwenaelle tumbuh menjadi gadis yang ceria, pintar nan cerdas.
Tapi seketika dunia Gwenaelle berubah, saat dia menemukan beberapa fakta yang sangat mengguncangnya setelah ia membaca sebuah surat pada usianya yang ke-16 tahun.
2 tahun kemudian, disaat usia Gwenaelle 18 tahun Gwenaelle menghilang. Gwenaelle hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan bahwa dirinya akan pergi selama 1 tahun untuk berlibur menenangkan dirinya serta ingin mencari suasana baru.
Gwenaelle menepati janjinya, setelah 1 tahun dia pergi berlibur entah kemana. Dia pun kembali pulang ke kediaman Maximilian dengan penampilan serta aura yang berbeda dari sebelumnya.
Gwenaelle mendapatkan fakta bila bukan hanya ada makhluk hidup manusia, hewan atau tumbuhan saja di dunia ini. Percaya tidak percaya ada berbagai macam ras dari 'Makhluk' lainnya. Layaknya seperti di negeri dongeng.
Dan salah satunya adalah Gwenaelle sendiri. Sebenarnya ada banyak pertanyaan di dalam diri Gwenaelle, karena selama ini dia mengira dirinya sama seperti anggota keluarga yang lainnya yaitu seorang manusia.
Sebenarnya sampai sekarang pun, Gwenaelle masih suka skeptis dengan fakta dia bukanlah seorang manusia. Dia bahkan sempat mengalami depresi berat, dan penolakan yang sangat tinggi akan fakta ini.
Dari pihak keluarga tidak ada sama sekali yang tahu tentang fakta jati diri Gwenaelle yang sebenarnya. Karena dia sangat takut untuk mengatakannya.
Gwenaelle adalah eksistensi yang 'misterius'. Eksistensi sepertinya merupakan tanda tanya besar dalam sejarah 'makhluk lain' Kasus Gwenaelle ini belum pernah terjadi dan seharusnya tidak pernah terjadi. Karena Gwenaelle merupakan seseorang yang mewarisi darah dan kekuatan dari dua ras yang saling bertentangan.
Masih ada beberapa hal yang harus Gwenaelle lakukan, dan untuk kali ini dia harus mempersiapkan semuanya dengan sangat matang.
•••☆•••
__ADS_1
Rintik hujan yang sangat deras serta angin yang cukup kencang hingga membuat beberapa pohon menggoyangkan daunnya. Pagi ini suasana di kota Arcadia cukup sendu hingga membuat beberapa orang cukup enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Tapi tidak dengan perempuan ini, Gwenaelle.
Gwenaelle bahkan sudah rapi dengan mengenakan atasan turtle neck sweater berwarna hitam yang dimasukkan kedalam bawahan high waist jeans yang di balut dengan sabuk cokelat tua. Dia pun mengenakan hiasan kalung bermotif bulan, matahari yang terdapat batu ruby ditengahnya. Tak lupa ia mengenakan combat boots hitam.
Gwenaelle bercermin untuk memastikan penampilannya, dan menyisir pelan rambut merah jahe bergelombang yang ia dapat sejak lahir ini agar tergerai rapi.
Tangannya memegang kalung yang ia pakai dengan cukup lama, sambil melihat pantulan dirinya di depan cermin.
"Apa tidak ada pilihan lain untukku?" Dia bergumam kecil.
Setelah memastikan bahwa sudah cukup rapi, Gwenaelle pun langsung mengambil tas kulit ranselnya dan segera turun ke ruang makan keluarga untuk sarapan.
Abigailㅡsang ibu, tersenyum saat melihat anak perempuannya sudah rapi, lalu menyapanya dengan hangat "Pagi sayang"
Pagi Bu." Sahut Gwenaelle membalas sapaan Ibunya sambil segera duduk disebelah kakaknya Zayn.
"Ayah sudah berangkat?" Tanya Gwenaelle, setelah melihat Chrisㅡsang Ayah tidak hadir di waktu sarapan.
"Iya, Ayah sudah berangkat jam 4 pagi tadi. Dia buru-buru karena akan ada rapat penting di kantor." Jawab Ibu Gwenaelle.
"Kakak! Tolong deh, aku bukan anak kecil lagi." Gwenaelle sedikit kesal karena kakaknya membuat rambut Gwenaelle itu jadi sedikit berantakan.
"Tetap aja, kamu masih terlihat seperti bocah ingusan di mataku." Ledek zayn lagi, dan kemudian mendapatkan pukulan mulus dari Gwenaelle.
Setelah selesai sarapan, mereka berdua pun segera bergegas berangkat ke kampus Gwenaelle.
Mereka berdua menghabiskan waktu di perjalanan sambil bersenda-gurau menikmati cuaca hujan yang enggan menghentikan rintiknya hingga tak terasa mereka tiba di kampus Gwenaelle.
Gwenaelle segera pamit dan bergegas masuk ke gedung kampusnya, agar tidak basah kuyup. Sembari menepis sisa-sisa air hujan yg menempel di pakaiannya, dari arah belakang Gwenaelle terlihat seorang laki-laki tersenyum cerah saat melihat rambut merah jahe bergelombang yang ia kenali.
"Hei Elle~" Ucap laki-laki itu sembari mendekatkan dirinya ke arah Gwenaelle.
•••☆•••
Akupun reflek berbalik saat mendengar suara yang mengingatku pada laki-laki semalam yang ku temui.
Dan... Ya, benar saja itu dia. Sebenarnya aku masih tidak suka sama tindakannya yang seolah-olah menantang maut dengan membuat ritual pemanggilan iblis? Kalau dia hanya manusia biasa, tidak mungkin kan dia memikirkan hal ekstrim seperti itu?
__ADS_1
Aku sudah mendengar kabar bahwa ada dugaan dilakukannya praktik sihir yang ditemukan oleh petugas hutan beberapa hari lalu. Sebenarnya praktik yang ditemukan sang petugas juga masih abu-abu soal pelakunya. Dan kurasa praktik itu gagal.
Dan aku tak menyangka, bahwa tadi malam adalah kali ke-2 ku merasakan adanya ritual pembukaan portal. Itu artinya ritual laki-laki itu benar-benar mendekati kata berhasil. Mungkin kalau tidak aku hentikan, bisa-bisa portal itu akan terbuka dengan sempurna? Aku tidak tau lebih pastinya bagaimana, tapi yang jelas aku tidak bisa menganggapnya remeh.
Tapi ngomong-ngomong melihat tindakannya semalam, apa salah kalau aku berpikir laki-laki ini memang sudah siap mati? Disaat aku yang berusaha mencoba menghindari hal-hal 'tentang itu', malah dipertemukan dengan orang yang seperti dia.
"Hei Elle! Apa kau sudah melupakanku?" Ucap laki-laki itu, membuyarkan pikiranku.
Akupun hanya menggeleng dan menjawabnya dengan singkat. "Tidak."
Ah, aku baru sadar dia memanggil namaku dengan sangat natural. Apa dia pikir kita sedekat itu?
"Namamu Daniel, bukan?" Aku mendongak-an sedikit kepalaku untuk melihat wajahnya dengan jelas. "Apakah ini soal biaya? Jika iya, kau bisa memberitahuku sekarang. Supaya tidak ada lagi hutang diantara kita." Lanjutku tanpa basa-basi.
Sejujurnya aku tidak mau berurusan lebih lama dengan laki-laki ini, melihat dia berani melakukan ritual itu tidak mungkin dia akan melepaskanku yang mengetahui kejadian semalam. Mungkin saja akan banyak sekali pertanyaan di kepala laki-laki itu.
Lalu aku harus bagaimana kecuali menghindarinya? Aku tak mungkin akan mempercayainya begitu saja. Sedangkan dari pihak keluarga yang begitu dekat denganku saja, tidak kuberitahu.
Argh.. kalau saja semalam aku memikirkan cara menghentikan ritual itu tidak secara terang-terangan, mungkin aku tidak akan berhubungan dengan orang ini.
"Bagaimana kalau kita membicarakan ini sambil pergi masuk ke kelas?" Jawab laki-laki ituㅡah tidak, maksud aku Daniel. Dia memiringkan sedikit badannya, seolah-olah mengisyaratkanku untuk berjalan mengikutinya. "Bukankah pagi ini kita ada jadwal kelas yang sama?" Sambungnya lagi.
"Tidak bisakah kita menyelesaikannya sekarang saja?" Akupun balik bertanya, siapapun tolong aku agar bisa menjauh dari orang ini. Bukan karena aku tak menyukainya, aku hanya belum siap kalau-kalau dia bertanya mengenai malam tadi karena aku masih bingung harus menjelaskannya bagaimana.
"Ayolah! Sebelum keburu prof. Zackburg masuk ke dalam kelas" bujuk Daniel sekali lagi. Aku yang tidak punya alasan apapun untuk menolaknya pun, hanya bisa mengiyakan ajakannya.
Seberapa jauh dan seberapa lama kah aku harus terlibat dengan laki-laki ini. Dia bilang bahwa kami berada di kelas yang sama di kelas sejarah dan juga biologi. Antara dia yang terlalu tertutup, atau aku yang tidak menyadari keberadaannya.
Hari-hari ku di kampus sebenarnya juga tidak selowong itu, karena aku cukup aktif di berbagai organisasi.
Entah mengapa, menikmati hari-hari sebagai mahasiswi dan bisa jadi orang yang berguna untuk beberapa orang yang membutuhkan itu amat sangat membuatku senang.
Yah walaupun terkadang tidak semua hal yang telah direncakan, akan selalu sesuai dengan keinginanku. Dan tidak terpungkiri juga, pasti ada beberapa golongan yang menyukaiku dan adapula yang tidak menyukaiku.
Tapi aku tidak perduli, selagi itu tidak menghambat aktifitas atau rencana yang telah aku susun.
•••☆•••
Di waktu yang bersamaan tanpa mereka berdua sadari, jauh di sudut lorong koridor kampus. Ada seseorang yang diam-diam telah memperhatikan mereka.
__ADS_1