
Aku turun dari lantai 2 perpustakan meninggalkan Attienne sendiri di sana. Dengan merapatkan jaketku agar tidak terlalu dingin, perlahan-lahan akupun mulai berjalan menjauhi bangunan perpustakaan tua itu.
Cuaca malam ini lumayan dingin, dedaunan pohon sesekali bergoyang mengikuti arah angin. Penerangan malampun hanya di terangi cahaya bulan sabit dan beberapa lampu jalan yang remang-remang.
Ada beberapa orang berjalan kaki yang mungkin baru pulang dari lembur pekerjaan, dan ada juga beberapa alat transportasi berlalu lalang.
Aku memutuskan untuk pulang lebih dulu sebenarnya bukan karena takut kemalaman. Hanya saja aku ingin menikmati malam ini sambil memikirkan sesuatu yang seharusnya segera kulakukan.
2 tahun yang lalu, aku telah melakukan suatu perjalanan yang dimana hanya kulakukan sendiri. Perjalanan itu cukup jauh di daerah timur, dengan perbekalan sederhana dan meminta ijin yang penuh drama karena alasan penolakan berlebihan dari kak Zayn.
•••Flashback•••
"Bu, yah, sesuai janji kemarin yaaa.. setelah lulus Elle dibolehkan pergi trip sendiri kan?" Ucapku dengan nada semangat.
"Hah? Apaan? Engga ada ya, kamu kan kalau mau trip harus barengan sama kakak." Bantah kak Zayn, tidak terima sambil berjalan mendekati kami dari arah belakangku.
"Hm.. mulai deh kak zayn, dengan segala ke posesifannya." Aku melipat tanganku, seraya menatapnya malas.
Kami berkumpul di ruang keluarga, kak zayn yang datang mendekati kami sekarang sudah mendaratkan bokongnya dengan mulus di sebelahku. Dia menatapku yang terlihat sudah mulai bete, sambil menyengir dan menepuk-nepuk pucuk kepalaku pelan.
"Memangnya Elle mau pergi kemana? Kenapa kok pengen banget pergi sendiri?" Ayahpun bersuara.
"Ayah... kan selama ini Elle selalu dibuntutin sama kakak mulu tiap Elle mau pergi kemana-mana. Elle kan juga pengen nikmatin trip sendiri tanpa kakak." Dengan suara sedikit merengek aku menatap ayah dengan wajah melas.
"Elle janji, Elle gak akan lama perginya. Elle ingin keliling-keliling ke berbagai kota dan pelosok-pelosok desa yah. Elle pengen banget ngeliat kondisi masyarakat-masyarakat yang membutuhkan disana."
"Tapi kan kalau berangkat sama kakak, bukannya bisa meringankan trip mu dek? Serius nih, kamu gak mau ditemenin sama kakak?"
"Kakak.. mau sampai kapan coba Elle kemana-mana selalu kakak buntut'in? Elle juga butuh explore dunia sendiri. Itu kan termasuk proses pendewasaan diri, benarkan bu?" Alasanku tak mau kalah, dan meminta pembelaan dari ibuku tercinta.
Ibu yang melihat sinyal dariku akhirnya memberikan opini penengah untuk solusi ini, "Ayah, Kakak, kenapa kita tidak membiarkan keinginan Elle saja? Lagipula, Elle kan sekarang sudah beranjak dewasa. Sebentar lagi juga dia akan masuk masa perkuliahan, jadi ada baiknya dia merefreshkan dirinya dengan melakukan trip sendiri. Bukankah itu bentuk dari pendewasaan diri? Tidak selamanya kan Elle, harus menggantungkan dirinya pada kakak."
Ayah dan kakak tampak berpikir sejenak dan menimbang-nimbang keputusan dengan alasan masuk akal yang diberikan ibu. Ibuku memang yang terbaik!
"Baiklah, ayah setuju. Yang penting Elle selalu beri kabar ya. Dan hati-hati juga saat trip, hindari pergi malam-malam oke sayang?" Aku langsung tersenyum cerah saat mendengar persetujuan ayah.
"Yeay.. makasih ya ayah..."
"Ayolah Elle.. ajak kakak juga..." kak zayn masih berusaha untuk membujukku agar mengajaknya. Hm, aku tau kalau kau begitu menyangiku tapi ini bener-bener harus jadi trip rahasiaku sendiri. Maaf ya kak zayn.
"Bu lihat bu, kakak masih aja ngerengek mau ikut."
Dengan segala macam drama serta alasan tak masuk akal dari kak zayn, akhirnya diapun mengalah dan aku bisa bebas berpergian sendiri. Bisa ditebak segimana rasa sayangnya ke aku, padahal aku bukanlah adik kandungnya. Aku berterimakasih sekali pada seseorang yang telah membawaku ke kediaman Maximilan ini.
__ADS_1
Semua persiapan telah ku cicil untuk di persiapkan sebelum meminta ijin, termasuk tiket dan transportasi lainnya. Karena itu, lusa nanti aku sudah bisa mulai berangkat ke kota Arden jauh di daerah timur.
Lusa, 04.15 pagi.
Kami berempat bergegas berangkat menuju stasiun. Mengapa berempat? Tentu saja mereka -ayah, ibu, kak zayn- tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk mengantarkanku ke stasiun. Setelah sampai, aku segera pamitan dan langsung memasuki kereta api dengan tujuanku.
Aku bener-bener sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Seandainya aku sama seperti mereka, tapi nyatanya fakta yang aku terima berkata lain.
Fakta bahwa aku dan mereka berbeda. Dan itulah yang menjadi alasanku untuk melakukan perjalanan ini. Ketahuilah, sangat tidak mudah bagiku untuk langsung menerima kenyataan, dari fase denial, anger, bargaining, depression, hingga akhirnya acceptance.
Aku bukanlah manusia...
Fakta bahwa orangtua kandungku dari ras bertolak belakang yang tak semestinya bersatu, dari ras iblis dan malaikat. Setelah aku lahir, aku langsung di asingkan ke dunia manusia. Aku tahu fakta ini dari surat yg entah darimana datangnya saat usiaku tepat ke 16 tahun.
Isi surat itu mengatakan hal tersebut, dan ada syarat yang harus aku penuhi agar kekuatan asliku yang disegel bisa sepenuhnya lepas. Yang pertama, aku harus melakukan perjalanan jauh ke daerah timur saat akan terjadinya gerhana matahari. Dengan melakukan beberapa ritual, agar penyerapan energi dari gerhana matahari dapat terserap dengan sempurna.
Yang kedua, masih sama seperti yang pertama bedanya pergi ke daerah selatan saat mendekati waktu terjadinya gerhana bulan.
Karena ini perjalanan pertamaku, sudah pasti tujuanku adalah ke daerah timur agar bisa melakukan penyerapan energi gerhana matahari.
Perasaanku saat ini benar-benar campur aduk, karena ini adalah hal mistis yang pertama kali aku lakukan. Benar atau tidak benarnya tentang jati diriku, akan aku buktikan sendiri dalam perjalanan ini.
•••Flashback End•••
"Sebentar lagi, aku harus memulai perjalanan kedua."
Aku menunduk, lalu menggerakkan tanganku seatas dada dengan telapak tangan menghadap keatas. Aku menggerakkannya pelan, dan keluar elemen api kecil yang kubuat.
"Fakta bahwa aku adalah seorang berdarah iblis dan malaikat, benar adanya."
Aku menggenggam tanganku, agar elemen api tersebut hilang. Dan segera bergegas pulang ke rumah.
***
Gwenaelle telah sampai dirumahnya, diapun langsung segera pergi mandi membersihkan dirinya agar tidurnya nyenyak.
Alih-alih tidur nyenyak, dia malah mendapatkan mimpi buruk. Mata yang terpejam terlihat seperti gelisah, terus bergerak kearah kanan dan kiri. Keringat mulai keluar dari kening dan jatuh ke arah pelipisnya. Tangannya mencengkram selimutnya dengan kuat, badannya bergetar hebat, deru nafasnya yang mulai cepat dan semakin cepat membuatnya sepersekian detik menghentikan nafasnya.
Setelah saat itu, diapun berhasil bangun dari tidurnya.
"Hhh...hhh...ughh.."
Gwenaelle memegang lehernya, sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngos'an. Matanya terbelalak, saat mengingat-ngingat kejadian yang terjadi di dalam mimpinya.
__ADS_1
Perlahan demi perlahan, deru nafas Gwenaelle kembali teratur. Dia meminum segelas air putih yang ada di nakas disamping kasurnya.
'Masih jam 2 dini hari ternyata.'
Batin Gwenaelle, saat melihat pukul sekarang di jam dindingnya.
Gwenaelle bangkit menuju pintu balkon yang ada di kamarnya. Menggeser sebelah pintu, yang langsung di sambut oleh dinginnya angin dini hari yang menembus kulit.
'Kenapa aku memimpikan hal itu?
Sebenarnya apa yang akan terjadi kedepannya? Apa yang harus kulakukan?'
Pikiran Gwenaelle bercampur aduk memikirkan arti dari mimpi buruk yang tadi menimpanya. Seolah-olah mimpi itu mengharuskan Gwenaelle untuk semakin mempercepat melakukan perjalanan keduanya.
Dia mempunyai firasat bahwa perjalanan kedua ini tidak akan semudah perjalanan yang telah ia lakukan sebelumnya. Wilayah yang harus ia datangin jauh di ujung selatan, melakukan perjalanan sendiri membuat ia berpikir berkali-kali. Tidak mungkin kan dia mengajak kakaknya yang seorang manusia?
"Attienne... haruskah aku mencoba untuk mengajaknya? Aku punya firasat bahwa ada persamaan di antara kami.."
"Ataukah aku harus mencoba untuk mengajak Daniel? Lelaki itu, yang kemungkinan sudah mengetahui bahwa aku berbeda."
"Tapi hal apa yang pertama kali harus aku katakan pada Attienne ataupun Daniel? Bagaimana jika dugaanku salah?"
"Bagaimana jika nantinya mereka menganggapku gila? Atau perempuan yang berhalusinasi?"
"Argh... kumohon, beri aku petunjuk lebih banyak lagi.."
Gwenaelle menggenggap erat liontin kalungnya, berharap dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya.
***
Di tempat lain pada waktu yang sama.
"Kerja bagus."
Seorang perempuan muda, sedang duduk di pinggir kasurnya. Mengembalikan 'sesuatu' yang telah ia panggil sebelumnya untuk memata-matai seseorang. Dia tampak sedang tersenyum tipis, sambil memikirkan sebuah rencana yang akan ia lakukan esok.
Banyak hal misterius yang mengintari sosok perempuan muda itu, tetapi ia mampu menutupinya dengan topeng sempurna yang telah ia buat. Dia akan melakukan segala cara agar terlepas dari bayang-banyangan ayahnya.
Ayah yang selama ini selalu membuatnya terlihat seperti boneka hidup, boneka yang selalu melakukan sesuatu dengan kehendak 'tuannya' dan tidak akan bisa membantahnya.
Selama seumur hidupnya, ini adalah kesempatan yang mungkin bisa menguntungkannya tanpa harus dapat kecurigaan dari sang ayah. Menjalankan misi yang diberi ayahnya sambil melakukan rencana yang telah lama ia buat.
Setelah ia sudah puas dengan rencananya untuk besok, ia pun memutuskan untuk beranjak tidur.
__ADS_1