Aletheia : Mengikuti Kilauan Sang Buih

Aletheia : Mengikuti Kilauan Sang Buih
BAB V


__ADS_3

Rasanya seperti api yang menyentuh es. Walau udara di sekitarnya memang sudah terasa seperti es, tapi es yang ada didepannya terasa paling dingin. Karena itu bukan berwujud udara yang tidak bisa disentuh.


Mereka saling menatap dengan pikiran kosong. Jika tidak ada Daniel, mungkin mereka berdua akan berdiri di sana saling menatap untuk waktu yang lama.


Tidak ada dari mereka berdua yang melontarkan pertanyaan akan hal ini. Mereka berjalan dalam diam seiring gedung utara semakin dekat.


Di dalam kantor. Seorang pria sedang menatap keluar jendela. Pikirannya melayang mengingat beberapa hal penting di dalam hidupnya. Wajahnya tidak berekspresi sama sekali. Tampak melamun. Pria itu berkedip saat pintu ruangannya diketuk dari luar. Dia berbalik dan berjalan ke arah pintu.


Pintu besar ruangannya terbuka, seorang gadis bersama dua orang lainnya masuk ke dalam ruangan dengan setumpuk buku di pelukan mereka.


"Terimakasih sudah mengantarkan buku-buku ini." Joerrel mengambil buku-buku dari pelukan Attiene dan meletakkannya di meja. Daniel dan Gwenaelle juga mengikutinya, meletakkan buku-buku yang mereka pegang di atas meja kerja Joerrel.


Ruangan itu rapi dengan beberapa pot tanaman di dalamnya, terasa menyenangkan untuk berlama-lama di dalam. Tapi yang terpenting adalah, ruangan itu hangat. Daniel mengantuk karena ruangan itu terasa seperti ruang penetasan telur ayam, sangat nyaman.


"Tidak masalah, Sir. Joerrel." Attiene menjawab.


Kelas Sir. Joerrel pagi ini sangat menarik. Di tengah pelajaran, topik yang dia bawa agak melenceng dengan topik yang ada di buku. Dia membahas sebuah artefak yang tidak ada dari satupun murid di kelas itu pernah dengar. Mereka semua hampir menghantamkan kepala mereka di atas meja karena mengantuk. Hanya Daniel yang tampaknya sangat tertarik dengan subjek itu dan beberapa kali mengajukan pertanyaan.


Sebuah artefak yang diketahui keberadaannya karena cerita rakyat. Karena ini cerita rakyat, tidak banyak yang benar-benar percaya dengan artefak ini. Lagipula cerita rakyat di sampaikan melalui mulut ke mulut. Pasti ada perubahan versi dari si penyampai. Bisa saja orang itu menambahkan bumbu-bumbu yang tidak ada hanya agar terdengar lebih menakjubkan ceritanya. Cerita ini juga memiliki banyak versi.


Namun sebuah museum di ibukota, menyimpan catatan kuno yang isinya sama dengan cerita rakyat ini. Walau memiliki banyak versi, inti ceritanya tetap sama. Yaitu, bahwa itu adalah sebuah batu kristal indah yang terjatuh jauh dari langit ketuju. Mendarat di dunia manusia dan tidak pernah ditemukan. Hanya para malaikat dan iblis yang dapat menggunakan artefak itu.


Orang-orang masih belum jelas dengan kalimat Hanya para malaikat dan iblis. Banyak orang berspekulasi bahwa itu adalah sebuah dongeng. Tidak ada malaikat dan iblis di dunia ini. Orang-orang tidak percaya pada sesuatu yang tidak pernah mereka lihat. Maka itu akan disebut dongeng.


Daniel yang penasaran mengajukan pertanyaan acak kepada Joerrel. "Sir, apa jangan-jangan Anda yang menyimpan artefak itu?"


Joerrel tertawa terbahak-bahak di dalam kelas, para mahasiswa kebingungan, namun beberapa tampaknya tertular tawa Joerrel jadi mereka ikut tertawa kecil. Berpikir pertanyaan Daniel sangat lucu. Joerrel menjawab setelah menyeka air di ujung matanya, "Tentu saja tidak. Jika aku memilikinya maka aku tidak akan berada di sini."


Attiene yang dari tadi duduk tegak tampak tegang, sedangkan Gwenaelle di sebelahnya tampak tertarik. Kelas pagi itu seru untuk beberapa orang.


Gwenaelle beserta Daniel dan Attiene keluar dari ruangan Joerrel.


"Hei para gadis, ayo makan sesuatu." Daniel berjalan di belakang mereka.


Attiene tampak setuju, "Benar... aku juga agak lapar."


Gwenaelle pada akhirnya juga setuju. Dia ingin mengenal Attienne lebih jauh. Entah mengapa dia merasa ada sesuatu tentang gadis ini. Membuat dirinya sangat tertarik.


"Kalau begitu ayo makan di kantin. Menu hari ini katanya enak." Gwenaelle menyarankan.


Mereka pergi ke kantin dan memesan. Antrian siang itu tidak terlalu panjang, mungkin karena mereka terlambat tadi. Alhasil beberapa menu sudah ludes. Hanya tersisa dua menu. Daniel dan Attiene memesan nasi kari sedang Gwenaelle memesan udon.

__ADS_1


Mereka duduk bersama di meja kosong.


Gwenaelle: "Attiene, di mana kamu sebelumnya berkuliah?"


Attiene yang sedang mengambil sendok di depannya menatap Gwenaelle. Dia terdiam sebentar. "Ummm..." Kemudian dia menyendokkan nasi kari ke dalam mulutnya.


"Whuah, Hattiehe hangad helapahan! Hwa hwa hwa." Daniel berbicara dengan mulut penuh nasi kari.


"Daniel, tolong telan dulu makananmu sebelum berbicara." Gwenaelle berkomentar sambil menggosok sumpitnya hingga terlepas dari bungkusnya.


Attiene menelan nasi karinya kemudian berbicara, "Universitas di ibu kota."


Gwenaelle mengangguk.


"Oh, itu adalah universitas yang bagus. Kenapa kau malah pindah ke sini?" Daniel menyendok nasi karinya.


Attiene mengunyah makanannya. "Ada urusan yang membuatku harus pindah."


Daniel: "Urusan apa itu?"


Attiene: "..."


Gwenaelle tidak menyangka Daniel sekepo ini, daripada mengkepoi tentang Gwenaelle yang lari masuk hutan, dia juga kepo dengan urusan gadis yang baru dia temui dua jam yang lalu.


Daniel tertawa dan kembali mengunyah karinya.


***


Sore itu, Gwenaelle mampir lagi ke perpustakaan tua favoritenya. Kembali mencari buku yang kemarin sempat dia baca. Tapi hari ini ketika dia mencarinya, buku itu tidak ada.


Saat ditanya pada penjaga perpustakaan, penjaga perpustakaan tidak ingat bahwa mereka memiliki buku seperti itu. Gwenaelle sedikit jengkel. Dia berbalik dan mencari buku lain di rak yang agak berdebu.


Debu melayang-layang dengan jelas dibawah sinar matahari sore, tembus melalui kaca. Gwenaelle meng-scanning satu persatu buku di rak. Memperhatikan mereka dengan teliti. Saat tertarik, dia akan menarik buku itu keluar dengan hati-hati dan membaca isinya sebentar, kemudian mengembalikannya ke tempat sebelumnya.


Saat jari-jarinya menyetuh satu persatu buku-buku, jarinya menyentuh tangan orang lain. Jantung Gwenaelle hampir melompat keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan orang yang disentuh tangannya. Mereka berdua terkejut dan saling menatap untuk beberapa saat dengan mata melotot. Kemudian tersadar dan saling menunjuk saat mengetahui itu ternyata adalah orang yang mereka kenal.


"Attiene..."


"Gwenaelle, itu kamu." Attiene tersenyum.


Gwenaelle menghembuskan napas lega dan tersenyum. "Yaampun, aku sangat kaget. Karena jarang sekali ada orang di sini, jadi tadi itu sangat tidak terduga. Kupikir itu sesuatu yang lain, hahaha."

__ADS_1


Attiene: "Kau benar, perpustakaan ini sangat sepi. Apa memang selalu sesepi ini?"


Gwenaelle menarik sebuah buku bersampul hijau. "Iya. Hampir tidak pernah ada pengunjung. Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau menemukan perpustakaan ini? Apa Attiene tinggal dekat sini?"


"Kamu bisa memanggilku Attie, Gwenaelle." Attiene juga ikut kembali mencari buku di rak. "Benar, aku tinggal di sekitar sini."


"Kalau begitu kamu juga bisa memanggilku, Elle, Attie." Gwenaelle berbalik pada Attiene dan tersenyum. "Aku juga tinggal di daerah ini. Tapi agak jauh dari perpustakaan ini sehingga aku harus naik bus satu kali."


"Ahh, begitu." Attiene menarik sebuah buku bersampul biru. "Kenapa kamu sangat tertarik dengan perpustakaan ini, Elle?"


Gwenaelle: "Hmm... lihat perpustakaan ini. Tampah seperti sebuah perpustakaan dari waktu lampau. Aku sangat menyukai desainnya. Bagaimana menurutmu? Bukankah ini pertama kalinya Attie ke perpustakaan ini?"


"Sebenarnya ini ke dua kalinya aku di perpustakaan ini. Aku juga sangat menyukai desainnya. Tapi dinding luarnya tampak berbeda ya." Attiene tertawa lembut.


Gwenaelle juga ikut tertawa, dia setuju. Cantik di dalam, buruk di luar. Seperti sebuah pepatah.


Setelah mendapatkan buku yang mereka inginkan, ke dua gadis itu memutuskan untuk pergi duduk bersama di meja biasanya Gwenaelle membaca. Mereka duduk bersebrangan.


Mereka berbincang sebentar kemudian membaca. Sesekali membahas mengenai buku yang mereka baca.


Buku Gwenaelle bercerita tentang sebuah hutan yang dipenuhi dengan makhluk fantasi. Dua chapternya sudah menarik hati Gwenaelle. Buku yang dibaca Attiene mengenai Iblis yang dihukum dan dibuang ke bumi. Masing-masing sangat menarik sesuai selera mereka. Mereka menghabiskan waktu membaca dan berdiskusi.


Jam menunjukkan pukul delapan malam. Gwenaelle menutup bukunya dan melihat Attiene yang masih fokus membaca.


"Attiene, apa kamu masih ingin lanjut membaca?"


Attiene mengangkat matanya dari buku, "Iya... kurasa aku akan membaca sedikit lagi. Ini hampir selesai."


Gwenaelle enggan meninggalkan Attiene, karena tidak ada satupun orang di perpustakaan. Tapi dia takut pulang terlalu malam. Lagi pula jarak rumah Attiene tidak terlalu jauh dari perpustakaan ini. Jadi sepertinya akan baik-baik saja.


Gwenaelle mengambil tas dan mantelnya. "Attie, aku duluan ya. Takut terlalu malam. Apa tidak apa-apa aku tinggal sendiri."


"Tidak masalah." Attiene menegakkan badannya.


Gwenaelle tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal. Meninggalkan Attiene yang duduk sambil melihat kepergian Gwenaelle keluar pintu.


Suasana menjadi sangat sepi. Hanya ada Attiene, cahaya lampu, dan kebisingan di luar perpustakaan. Attiene kembali membaca bukunya.


Suara sangat sunyi, terasa tenang. Terdengar anjing mengonggong di luar, tapi itu teredam oleh bangunan perpustakaan. Attiene tidak terlalu memperhatikan sekitarnya. Pikiran dan matanya lekat pada buku. Kepalanya berisi dengan imajinasi cerita dari bukunya.


Imajinasi itu pecah saat terdengar benda jatuh dari dalam perpustakaan. Attiene kaget dan mengangkat kepalanya, mencari sumber suara. Attiene masih duduk diam, fokus pada suara barusan. Tapi tidak ada lagi suara. Attiene berpikir mungkin penjaga perpustakaan hanya ceroboh. Jadi dia kembali pada bukunya. Tapi tepat saat dia ingin kembali membuka bukunya, suara itu muncul lagi.

__ADS_1


Terdengar seperti suatu tumpukan benda yang jatuh. Attiene berdiri dan berjalan ke arah sumber suara. Lampu di area sumber suara ternyata mati. Bau manis menyengat mulai mengganggunya. Hari ini dia bisa menahan bau ini dengan cukup baik. Tapi bau apalagi yang dia cium sekarang ini? Baunya busuk. Attiene menggertakan giginya jengkel. Matanya berfokus pada kegelapan di depannya.


Suara gedebug itu semakin dekat, datang semakin dekat dari dalam kegelapan. Ternyata buku berjatuhan dari raknya seperti domino yang disusun. Terus jatuh, mendekat ke arahnya. Kaki Attiene melangkah mundur. Dia berlari kembali ke mejanya dan mengambil barang-barangnya. Kemudian memutuskan untuk menyudahi buku yang dia baca malam ini.


__ADS_2