
Kota paling sepi, kota Arcadia. Walau sering dibilang begitu, nyatanya tidak sesepi yang seperti orang pikirkan. Saat berjalan di jalanan umum, banyak orang yang berlalu lalang. Tapi memang tidak seramai di ibu kota. Di mana terkadang orang saling mendorong untuk maju.
Di Arcadia semuanya tampak tenang. Mungkin justru ini keunggulan Arcadia. Walau dibilang kota yang tidak cocok untuk anak muda. Layaknya desa yang tidak trendi.
Salah satu universitas di kota Arcadia, juga dinamai dengan nama kotanya. Universitas Arcadia. Sebuah universitas yang besar, memiliki taman yang bagus, juga air mancurnya sangat cantik. Ada patung bocah telanjang dengan sayap burung di punggungnya sedang kencing di puncak air mancur. Airnya keluar dari bocah itu. Setiap hari, sepanjang tahun, dia selalu berdiri di atas pancuran. Tidak pernah berhenti. Yang mendesain patung air mancur itu memiliki selera yang unik.
Awalnya banyak yang berkomentar buruk mengenai patung ini, dianggap tidak sopan. Tapi yang mendesai patung ini adalah orang yang keras kepala. Dia mengancam, jika orang-orang terus berkomentar tidak suka dengan patung ini, maka dia akan membuat yang lebih 'bagus'.
Pemilik universitas saat ditanyai mengenai hal ini tidak berkomentar apapun. Orang yang mendesain patung itu adalah kakak kandung dari pemilik universitas.
Pada akhirnya, seiring waktu, orang-orang mulai terbiasa dengan patung bocah malaikat yang dicap tidak sopan itu.
Cuaca langit kota Arcadia hari ini mendung dan gelap. Suhunya dingin sehingga seseorang harus menggunakan pakaian tebal dan membawa payung. Berjalan di jalan setapak melewati patung fenomenal universitas Arcadia.
Rintik hujan terdengar dari payungnya Daniel yang transparan. Walau transparan, itu tidak terlalu jelas untuk dilihat, terlihat agak kabur. Suasananya terasa seperti masih jam lima pagi. Ada yang santai dengan payungnya, ada juga yang berlari terburu-buru dengan hoodie menutupi kepalanya.
Di kelas, Daniel biasanya duduk paling pojok. Posisi yang sering diabaikan dosen. Tapi hari ini dia duduk di depan bersama seorang gadis berambut merah jahe. Walau ekspresi gadis itu tampak tidak nyaman, Gwenaelle tidak mengusir Daniel.
Dia tidak mau menunjukkan bahwa dia terganggu, itu hanya akan membuat dirinya terlihat jelek. Bersikap cool with everything include an insect dan tidak terganggu akan membuatnya lebih keren. Maka kemudian mungkin Daniel akan merasa tidak mau menghampiri Gwenaelle lagi.
Daniel membuka mulutnya, "Hei, apa kita punya pekerjaan rumah?"
Gwenaelle meliriknya, Daniel sedang mencondongkan badannya ke arah Gwenaelle, jika Gwenaelle salah pergerakan, dia mungkin saja akan memberikan kecupan pagi hari. Jadi Gwenaelle mendorong Daniel dengan agresif.
Gwenaelle: "Aku tidak tuli, kau bisa bicara dari tempat kau duduk."
Daniel: "Aku hanya ingin melihat rambutmu dari dekat. Itu terlihat seperti sebuah kobaran api di tengah lautan kepala coklat dan blonde."
Gwenaelle memutar matanya. "Kau benar. Lagipula hanya rambutku yang berwarna seperti ini. Terlihat aneh karena berbeda sendiri."
Daniel mengerutkan alisnya, "Tidak juga, itu terlihat unik."
Seorang pria masuk dengan sebuah buku besar di tangannya. Penampilannya rapi dan enak di pandang. Jasnya yang berwarna biru tua sangat cocok dengan gayanya. Itu tertulis The History. Tidak ada satupun dari murid itu yang mengenali pria yang baru masuk tersebut.
Kaki jenjang pria itu terhenti di depan meja dosen, dia meletakkan bukunya. Mata ambernya menatap ke para mahasiswa di depannya.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Joerrel tersenyum ramah.
Semua mahasiswa membalas seperti paduan suara amatir. Semuanya tampak bingung.
"Perkenalkan, aku Joerrel. Aku menggantikan Sir. Leon untuk sementara waktu selagi dia melakukan perawatan kesehatan."
Kelas yang sunyi seketika bising dengan suara bisik-bisik antar mahasiswa. Salah seorang mahasiswa mengangkat tangan.
"Sir. Joerrel, apa yang terjadi dengan Sir. Leon?"
Yang lain berpikir bahwa itu aneh. Sir. Leon adalah dosen paling sehat di universitas Arcadia. Di umurnya yang enam puluhan, dia tampak tidak punya masalah apapun dengan anggota tubuhnya. Selain itu, kepribadiannya juga tampak selalu santai dan ceria. Tidak menunjukkan tanda-tanda sakit apapun. Atau mungkin Sir. Leon selama ini menyembunyikannya? Mulai muncul banyak teori di antara orang di dalam kelas. Ada yang menutup mulutnya terkejut, ada yang membulatkan matanya.
"Tubuhnya sedang tidak sehat." Jawab Joerrel.
Para mahasiswa saling menatap. Daniel menatap Gwenaelle. "Apa kau tahu sesuatu?"
__ADS_1
Gwenaelle: "Tidak, aku tidak mendengar kabar apapun soal ini." Gwenaelle mengerutkan alisnya.
Joerrel melanjutkan, "Jadi semuanya, mohon kerja sama kalian untuk beberapa bulan ke depan dan berdoa semoga Sir. Leon cepat sembuh." Joerrel membuka buku besar di meja. "Buka bab lima. Kudengar dari Sir. Leon kalian punya tugas di bab lima. Apa itu?"
Salah seorang mahasiswi duduk paling depan menjawab, Gwenaelle, "Meringkas, Sir."
Daniel: "Sial, aku belum meringkasnya."
Gwenaelle meliriknya. Sejak kejadian semalam, Gwenaelle merasa agak tidak nyaman untuk berpikir tentang Daniel atau ide bertemu lagi dengannya. Walau kejadian itu memang salahnya sendiri untuk muncul dengan impulsif. Takut Daniel akan mencercanya dengan setumpuk pertanyaan. Tapi ternyata Daniel terlihat sangat santai dan tidak mempertanyakan apapun, atau mungkin belum. Gwenaelle hampir ingin berkomentar bahwa itu gara-gara Daniel lebih memilih untuk melakukan ritual daripada mengerjalan tugasnya. Tapi dia tidak mau membuka topik itu, jadi dia segera menutup mulutnya dan membuka bab lima.
"Kalau begitu mari kita mulai kelasnya."
Setelah Joerrel mengatakan itu, pintu belakang ruangan terbuka sedikit, kemudian kepala berambut perak kebiruan muncul, mengintip. Semua mata menatap pada orang yang mengintip itu. Itu seorang gadis, dia kaget dan segera menarik kepalanya. Semua orang masih menunggu pintu itu.
Pintunya kemudian terbuka dan seorang gadis masuk dengan agak membungkuk. Dia berbisik-bisik pelan, "Maaf... maaf..." sambil mencari bangku kosong.
Matanya berputar ke sana ke mari, kebingungan dan wajahnya tampak khawatir. Gwenaelle memanggil gadis itu dengan mengangkat tangannya. Membuat gestur agar gadis itu pergi ke arahnya. Gadis berambut perak kebiruan itu berjalan ke arah Gwenaelle.
Bangku di sebelah Gwenaelle kosong.
Daniel bertanya, "Temanmu?"
"Bukan. Aku tidak pernah lihat dia di kelas ini sebelumnya."
Daniel tampak kagum, "Jadi kau menghapal semua wajah yang ada di kelas ini?"
"Ya."
"Ya. Si tukang tidur paling pojok."
Daniel tertawa senang seolah yang diucapkan Gwenaelle adalah sebuah pujian.
Gadis berambut perak duduk dan meletakkan buku besarnya di atas meja. Dia menunduk pada Gwenaelle dan berbisik, "Te-terimakasih..."
"Tidak masalah." Gwenaelle tersenyum.
"Baiklah, sekarang kita mulai. Kuharap tidak ada yang membuka pintu itu lagi dari luar setelah aku mengatakan kelas dimulai."
Beberapa mahasiswa tertawa. Gadis itu menunduk. Gwenaelle tersenyum pada gadis itu, menenangkannya.
***
Setelah pelajaran selesai, Gwenaelle langsung keluar kelas dengan Daniel mengikutinya. "Kenapa kau mengikutiku?"
Daniel: "Ayo makan siang bersama."
"Aku tidak makan siang."
Daniel melotot, "Kau diet- aduh!" punggung Daniel di tabrak tumpukan buku. Semua bukunya jatuh ke lantai, gadis yang membawa buku itu tampak panik. Itu gadis yang tadi.
Daniel mengusap punggungnya.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" Gwenaelle segera membungkuk dan membantu gadis itu. Daniel yang agak enggan juga ikut membungkuk. Memungut dua buku tebal kemudian berdiri lagi.
"Iya... terimakasih."
"Mau dibawa kemana buku-buku ini?"
"Ke ruangan Sir. Joerrel."
Daniel mengangkat alisnya. "Aneh sekali, kenapa dia malah meminta seorang gadis kecil untuk membawa buku sebanyak ini?"
Entah 'gadis kecil' itu merujuk pada hal baik atau hal buruk, keduanya membuat Gwenaelle tidak bisa berkata-kata.
Gwenaelle, "Dimana ruangan sir. Joerrel?"
"Di gedung utara." Gadis itu bangun dengan buku di pelukannya. Dia ingin mengambil buku lainnya dari tangan Gwenaelle, namun Gwenaelle menghindar.
"Biarkan kami membantumu."
Mereka mulai berjalan ke arah utara.
Udara masih sedingan tiga jam yang lalu. Malah makin dingin, awan di langit juga semakin tebal. Daniel menyembunyikan tangannya di balik jaket dan memeluk dirinya sendiri. Buku di tangannya juga ikut hangat. Gadis itu juga sedikit meringkut, sweaternya tidak terlalu tebal, jadi angin dingin masih bisa menusuk masuk. Gwenaelle menggunakan mantelĀ panjang berwarna coklat dengan bulu halus di bagian dalamnya. Tampaknya Gwenaelle tidak punya masalah dengan udara dingin.
"Ngomong-ngomong, kami tidak pernah melihatmu masuk kelas itu. Apa kau anak baru?" Daniel bertanya.
"Umm, ya..."
Gwenaelle merentangkan tangannya kepada gadis itu, membuat gestur ingin bersalaman. Gadis itu menyambut tangan Gwenaelle yang terbuka.
"Aku Gwenaelle." Gwenaelle memperkenalkan diri.
Gadis itu terdiam sejenak dan menatap Gwenaelle. Gwenaelle menaikkan alisnya bingung. Daniel berdiri diam memperhatikan kedua gadis itu dari samping.
"Apa kalian sedang adu siapa yang kedip duluan?" Daniel tertawa dari balik jaketnya.
Gadis itu tampak tersedar dan segera melepaskan tangannya. "Ma- maaf."
"Apa ada masalah?" Gwenaelle bertanya.
"Ah... tidak." Gadis itu menjawab
"Namamu?" Daniel masih menunggu jawaban siapa nama gadis itu.
"Aku Attiene."
"Baiklah Attiene, mari kita antar buku-buku tebal ini segera. Tanganku mulai sakit." Daniel berjalan mendahului kedua gadis itu yang masih berdiam diri di tempat.
"Ayo." Gwenaelle ikut berjalan.
Gedung utara adalah gedung paling tua di universitas Arcadia. Universitas Arcadia dibangum bersama dengan gedung itu, sedangkan gedung lainnya dibangun di tahun-tahun berikutnya sesuai kebutuhan. Gedungnya berwarna putih dengan tangga lebar bengkok di depannya, dicat berwarna putih. Beberapa ornamen membuat bangunan itu tampak mewah.
Attiene mengetuk pintu yang dicat putih. Dia harus mengetuk dengan sedikit lebih keras hingga tangannya memerah, itu adalah pintu yang tebal dan besar. Attiene mendorong pintu.
__ADS_1