
Tiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnn!
Suara klakson motor membuat Rayan terkejut dan reflek menatap ke arah si pengendara. Rayan sedikit kesal saat mengetahui si pengendara itu, matanya menatap dingin dengan wajah cemberut.
"Oi! Lu ngapain sih ngang-ngong, ngang-ngong tengah jalan? Nunggu di tabrak lu? Kalo iya gue tabrak beneran nih?!" Seru Alex dari balik helm full facenya.
"Nice! Alex! Ikuti mobil hitam itu tapi jangan sampai ketahuan!" Titah Rayan seenak jidat dan langsung menaiki motor Alex tanpa permisi.
"Eh? Eh! Apan? Tunggu dul-"
"Udah cepetan! Ntar ketinggalan!"
Alex pun dengan sigap melajukan motornya sesuai perintah Rayan. Mencari celah agar mobil yang di ikutinya tidak sadar.
Setelah lama mengikuti, Rayan dan Alex pun tiba di suatu tempat. Itu tempat yang sedikit suram. Tapi fokus Rayan dan Alex jatuh pada beberapa pria yang keluar dari mobil hitam di sana.
Awalnya, mereka biasa saja saat melihat pasangan populer di sekolahnya keluar dari mobil itu karna mereka sendiri sudah curiga sejak pertemuan terakhir.
Tapi mendadak, keduanya menjadi panik saat orang-orang seram berjas hitam di belakang mereka keluar dari mobil itu dengan membawa sosok Archie yang sedang tak sadarkan diri.
Tak ingin melewatkan bukti nyata, Rayan dengan sigap memotret momen itu di ponselnya dan setelahnya, keduanya pun mengikuti kemana Archie di bawa, tentu di lakukan sambil mengendap-endap dengan kewaspadaan ekstra.
Ada juga rasa takut yang mereka rasakan, tapi demi menyelamatkan seorang teman, mereka pun terpaksa mengabaikan dan melawan rasa takut itu. Hal yang tidak mudah di lakukan sebagian orang.
"Lex! Gimana nih? Pintunya di jaga!" Panik Rayan saat melihat Archie di bawa masuk ke sebuah bangunan misterius
"Tenang. Bagi gue, masuk gak harus lewat pintu." Alex berujar dengan nada dan wajah songongnya.
Ia pun menggunakan kekuatannya, dan seketika itu tubuh dua remaja di sana terselimuti oleh bayangan hitam yang berasal dari bawah kaki. Mereka berdua pun tenggelam seolah termakan oleh bayangan itu.
"Dimana kita?" Tanya Rayan saat melihat sekelilingnya sudah berbeda dari yang tadi. Keduanya berada di suatu ruangan yang cukup asing dan untungnya sepi.
"Kita sudah berada di dalam bangunannya. Mintalah angin untuk menuntun kita agar secepatnya bertemu Archie. Firasatku mengatakan tempat ini berbahaya Rayan! Kita harus secepatnya keluar." Jawab Alex memberi peringatan.
Wajahnya nampak serius dan itu adalah bukti seberapa berbahayanya tempat yang mereka pijak saat ini.
"Aku mengerti!"
Sesuai arahan, Rayan pun meminta bantuan angin dan ia pun di tuntun menuju suatu tempat bersama Alex yang mengikuti di sisinya, berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dan pastinya berbahaya.
"Hari ini kita mendapat tangkapan yang bagus! Superhuman! Pasti akan terjadi pertarungan harga yang fantastis jika dia menjadi barang lelang."
__ADS_1
"Tentu saja! Bos mengatakan bahwa dia akan menjadi barang penutup di lelang malam ini"
"Kita di perintahkan untuk menjaganya tanpa luka sampai gilirannya di lelang tiba"
"Pastikan kalian bekerja dengan baik! Dia akan di jual sebentar lagi"
Itu adalah percakapan yang Rayan dan Alex dengar dari balik pintu. Keduanya takut dan panik, itu adalah hal yang wajar karna mereka berurusan dengan orang yang tidak setara. Bahkan kategorinya adalah berbahaya.
"Kalau orang-orang itu berjaga di dalam ruangan. Berarti kita harus menciptakan keributan untuk memancing yang di dalam agar keluar. Tapi itu bisa membuat semuanya menjadi semakin waspada. Akan sulit menemukan jalan keluar nantinya." Alex memperhitungkan sebuah rencana.
"Harus ada yang menjadi umpan. Dan pastinya bukan kau" tunjuknya pada Rayan.
Tapi yang di tunjuk malah terlihat plonga-plongo, yah... itu wajar karna Rayan tak pernah berada dalam situasi seperti itu. Sehingga saat situasinya terjadi, Rayan tak mampu menemukan jalan keluarnya, dia butuh di arahkan.
"Cuma ada kita berdua di sini, kalau kau yang jadi umpan, aku ngapain?" Tanya Rayan dengan bingung, itu efek dari kepanikannya.
"Goblok! Ya lu nolongin temen kitalah pe'ak! Gimana sih?" Jawab Alex dengan emosi.
"Trus kalo aku ketangkep gimana?" Rayan bertanya dengan gelisah.
Terlihat Alex yang merangkul bahu Rayan, ekspresinya sedang menahan amarah sebaik mungkin. Ia melayangkan satu tangannya di udara seperti sedang membelai angin. "Say bye to the world." bisiknya.
Pada akhirnya keduanya pun menjalankan rencana yang ada, Alex membuat kebisingan di sekitar ruangan untuk memancing perhatian para penjaga, sedangkan Rayan bersembunyi terlebih dahulu dan masuk di saat yang tepat.
"Kak Archie! Bangun kak!" Seru Rayan mengoncang tubuh Archie yang tak sadarkan diri.
Archie terbangun, dan saat ia menyadari apa yang tengah terjadi padanya, ia pun menangis histeris karna ketakutan. Cengkeramannya terhadap lengan baju Rayan terlihat gemetar namun juga kuat
"Ray! Tolong! Ray... Aku takut! Apa yang akan terjadi padaku?!" Tangis Archie dengan permintaan tolongnya.
Suaranya yang terdengar gemetar adalah bukti setakut apa dirinya saat ini. Rayan dapat memahami rasa takut itu karna dirinya berada di tempat yang sama.
"Aku akan menolongmu!" Rayan berdiri dan menjulurkan tangannya di hadapan Archie yang terduduk.
Seketika itu, hembusan angin menerpa tubuh Archie. Borgol di tangan Archie beserta rantai yang melilit leher dan kakinya hancur berkeping-keping. Padahal itu bukanlah alat penahan biasa, melainkan sesuatu yang sudah di buat khusus agar bisa menyegel kekuatan dari Superhuman, tentu itu tak berlaku bagi para elementalist tertentu. Salah satunya Rayan.
"Pakai ini"
Rayan memberikan jubah hitam yang panjangnya sepinggang, beserta dengan sebuah topeng. Itu di lakukan untuk melindungi identitas mereka.
"Ayo lari! Angin akan menuntun kita." Rayan dan Archie pun berlari menyusuri rute yang sesuai dengan arahan angin.
__ADS_1
Tapi ada kendala saat melewati rute yang menuju jalan keluar itu, karna Rayan dan Archie harus mendadak berhenti di suatu lorong yang samping kiri dan kanannya berisi jeruji-jeruji besi.
Itu adalah tempat di mana banyak orang di tawan. Dengan kata lain, produk lelang dan juga beberapa budak.
"Rayan! Itu Lorentina! Kita harus menyelamatkannya!" Seru Archie.
"Aduh kak! Gak ada waktu! Nyelametin diri aja udah susah! Alex juga pasti sedang berusaha buat nahan para penjaga itu! Kita harus cepat! Waktu kita gak banyak!" Seru Rayan sembari berlari. Jujur Rayan sedikit kesal karna Archie meminta sesuatu tanpa melihat keadaan.
"Tapi dia sekutu kita dari SMA Oxvard!"
...----------------...
Sementara itu...
Di sisi lain.
Terlihat Alex yang tengah berhadapan dengan Prita dan Varel, pasangan populer di sekolahnya. Kedua manusia itu memasang wajah angkuh dan remeh, mereka percaya diri bahwa Alex tak akan bisa kabur karna sudah di kepung oleh para bodyguard.
"Siapa kau?!" Tanya Prita, siswi yang menjadi primadona sekolah.
Dia bertanya begitu karna penyusup di antara mereka menggunakan topeng atau masker layaknya assassin yang menyembunyikan identitasnya, begitu juga dengan gaya atau fashionnya, seperti orang cosplay.
Bedanya perlengkapan cosplaynya terbuat dari kekuatan Alex sendiri, ia merakit bayangan agar menjadi sebuah baju assassin yang dapat menutupi identitasnya.
Alex tentu memilih diam karna jika ia berbicara, Prita dan Varel akan mengenali suaranya dan ia pasti akan ketahuan.
"Jika kau memberitahukan identitasmu. Kami akan memberimu kematian tanpa rasa sakit." Ujar Varel menambahi.
Alex masih tetap bungkam, ingin ia segera pergi melarikan diri. Alasannya karna ia sudah terlalu lama menggunakan kekuatannya, jika seperti ini terus, dirinya akan mencapai batasnya.
Tapi Alex sendiri tidak bisa kabur karna di kepung, di tambah lagi Varel dan Prita sepertinya adalah Superhuman juga, meski kekuatannya belum Alex ketahui, tapi ia yakin dengan hal itu.
Karna tak di temukannya jalan keluar yang damai, Alex pun menggunakan kekuatannya dan pada saat itu para bodyguard mati karna tertusuk tombak bayangan yang terbuat dari bayangan mereka sendiri.
Tentu hal itu tak berlaku bagi Prita dan Varel, keduanya dapat menghindar, seperti yang di duga Alex tadi, mereka adalah pengguna kekuatan.
"Mahkluk enormous?" Pikir Alex saat melihat perubahan signifikan dari dua orang itu.
Pupil mata berwarna merah darah, kuku yang panjangnya 5 senti serta gigi-gigi yang runcing. Mulut mereka bahkan bisa melebar hingga hampir mencapai telinga.
"Sial! Aku takkan bisa mengalahkan mereka! Sudah terlalu banyak kekuatan yang ku keluarkan." Keluh Alex dalam hati. "Rayan kau dimana sih?"
__ADS_1