
Pecahnya perang besar itu terjadi karna keserakahan benua barat yang menginginkan segala sesuatu di benua baru, yang tentunya tak di miliki oleh ia dan benua lainnya.
Berbeda sekali dengan negara China yang semangat dalam menjalin hubungan baik, meski alasannya untuk meniru apa yang ada di benua itu sih. Tapi memang China tak berniat merampas apa yang ada di benua baru itu, mereka murni menginginkan kerja sama dalam banyak hal, militer ataupun ekonomi.
Tentu saat perang pecah, China, Indonesia, dan beberapa negara di benua timur memihak benua baru, sedangkan beberapa negara di benua barat memilih memusuhi, sisanya hanya menonton dan menjadi pihak netral.
Pada akhirnya beberapa negara di benua barat kalah. dan kini mereka berada di bawah naungan benua baru. Patut di syukuri karna benua baru tidak melakukan penjajahan pada pihak yang telah kalah. Mereka hanya mengambil alih kepemimpinan dari negara itu. Dan setelah peperangan itu, benua baru mengumumkan namanya sebagai benua Asuncion.
Beberapa negara yang memihak benua Asuncion mendapat hak-hak istimewa dari mereka sedangkan yang netral tentu tak mendapatkan apa-apa.
Hal itu jelas menjadi penyesalan bagi pihak yang memilih netral karna mereka tak mendapat akses mudah untuk mempelajari teknologi yang sudah sangat maju di benua itu.
Julukan negeri fantasy sangat cocok dengan benua Asuncion karna sistem pemerintahan berbentuk kerajaan. Benar-benar persis seperti yang ada di dalam dongeng atau pun khayalan para pecinta komik dan novel fantasy.
Berkat keberadaan benua itu, bumi pun menjadi tercemar dan perlahan-lahan menjadi tempat yang mirip seperti dalam negeri fantasy.
Munculnya benua itu membuat manusia di bumi memiliki kekuatan yang tak masuk akal dan sulit di jelaskan, meski kekuatan itu tidak datang secara merata.
Tapi para ilmuwan sedang berusaha membuat kekuatan itu bisa di ratakan ke semua orang meskipun harus menjadikan manusia sebagai objek eksperimen.
Perubahan juga terjadi pada hewan, beberapa hewan berubah menjadi monster berukuran besar yang mengerikan dan menyerang siapa pun dengan tak tentu arah. Itu membuat kemiliteran menjadi sangat sibuk untuk menjaga kelangsungan hidup manusia.
Pada akhirnya kehidupan seperti itu masih berlanjut hingga sekarang, meski sudah sedikit lebih ringan karna di bantu oleh bangsawan dari benua Asuncion dan juga Asosiasi Superhuman.
Selain itu, kerajaan Pallantium memberikan kebijakan pada beberapa negara untuk mengijinkan bangsawan dari kerajaannya tinggal di beberapa negara yang membutuhkan bantuan karna dampak dari perubahan yang mereka bawa.
"Padahal itu cuma alasan bagi mereka untuk menginvasi bumi dan menjadi yang pertama dan tak terkalahkan di bumi, apanya yang kerja sama? Itumah memanfaatkan kepercayaan dengan gaya" Pikir Rayan dalam kepalanya.
"Jadi, namamu adalah Langit Arayan Sagara. Lahir di Indonesia tapi memiliki darah Italia dari ayah." Ujar Duke Candlelight dengan tatapan menelisik.
"Apa kau sengaja tinggal di Indonesia agar terbebas dari sanksi yang tengah di rasakan oleh orang-orang yang sebangsa denganmu?"
__ADS_1
Rayan tau perkataan itu adalah umpan untuk memancing emosinya, tapi sayangnya Rayan tak termakan umpan itu, karna dirinya mengakui bahwa ia adalah bagian dari Indonesia.
"Sebangsa? Dengan siapa? Aku lahir dan besar di negara ini, ini adalah bangsaku." Ujarnya membalas dengan tatapan tajam.
"Dan bisakah kau langsung ke intinya?" Sambungnya.
Duke Candlelight menatap Rayan dengan tatapan yang sulit diartikan. Itu terlihat seperti ia sedang menyimpan rasa bersalah dalam dirinya.
"Tidak ada inti disini. Aku hanya ingin bertemu keponakanku." Ujarnya.
Rayan terkejut dengan perkataan itu. Benar-benar tak menduga kalau perkataan seperti itu bisa keluar dari mulut lawan bicaranya.
Duke Candlelight kembali mengatakan sesuatu yang mendukung perkataannya tadi.
"Tidakkah kau berpikir mengapa warna rambut ibumu sama denganku?"
Rayan baru terpikirkan akan hal itu. Mungkin karna ia sudah sangat lama tak melihat sosok ibunya lagi, jadi semua ingatan tentang ibunya menjadi samar di kepalanya.
"Maksudnya ibuku adalah adikmu?" Tanya Rayan memastikan.
Rayan terdiam, ia tak bisa membalas perkataan itu karna memang benar orang tuanya mati saat melindunginya dan kakaknya, meski pada akhirnya kakaknya tertangkap dan harus di besarkan dengan cara keluarga inti dari ayahnya.
"Aku bersyukur kau terlahir tanpa kekuatan Rayan. Jadi mereka tak terlalu memperhatikanmu bahkan membiarkanmu hidup meski itu terjadi karna permintaan Rhea."
Rayan menepis perkataan itu.
"Tidak paman. Aku juga terlahir berbeda dari manusia lainnya." Rayan menunjukan bagaimana cara dia mengontrol angin di atas telapak tangannya, angin yang berputar mengikuti keinginannya.
Pada saat itu Duke Candlelight menghentikan aktivitasnya dalam meminum teh, padahal cangkir teh itu sudah berada tepat di depan mulutnya. Ia membelalakkan matanya, menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Duke Candlelight beranjak dari duduknya dan mencengkeram bahu Rayan, tidak terlalu kuat tapi cukup untuk membuktikan bahwa pria itu sedang dalam kepanikan.
__ADS_1
"Elementalist angin! Siapa saja yang tau tentang kekuatan itu Rayan?" Tanyanya. Rayan masih terkejut karna di terjang tiba-tiba. Meski begitu Rayan tetap menjawab pertanyaan yang di lontarkan pamannya.
"Teman-temanku. Tapi mereka bukan orang yang jahat dan suka memanfaatkan orang." Ujarnya. Masih dengan ekspresi bingung.
"Benarkah itu? Meski begitu kau tetap harus waspada Rayan! Karna elementalist angin itu istimewa di antara elementalist lainnya. Jika kekuatanmu terungkap, yang akan memburumu bukan cuma mafia dan organisasi lainnya, kerajaan juga akan melakukan hal serupa!" Ujar sang paman yang kemudian kembali ke tempat duduknya. Ia mencoba menenangkan diri.
"Saat ini satu-satunya kerajaan manusia di benua Asuncion, tempat aku dan ibumu berasal. Sudah mendapat informasi pasti bahwa 4 elementalist kehidupan telah ada di dunia. Dan kerajaan sedang gencar mencari keberadaan para elementalist itu. Jadi berhati-hatilah!"
Rayan nampak termenung saat mendengar perkataan sekaligus informasi yang di ketahuinya, tak pernah ia sangka kalau keberadaan elementalist sangat di inginkan oleh siapapun bahkan sampai pihak Kerajaan.
"Kenapa kerajaan menginginkan para elementalist itu?" Rayan mencoba menggali informasi.
"Karna elementalist dari elemen kehidupan adalah salah satu kunci untuk menyegel benua Asuncion kembali ke dasar laut." Duke Candlelight menjawab dengan santai pertanyaan itu karna bukan termasuk dalam rahasia penting.
"Apa yang akan terjadi jika benua Asuncion di segel?" Tanya Rayan lagi. Ia berencana mengorek informasi lebih dalam.
"Bukankah sudah jelas? Duniamu akan kembali seperti semula. Tak kan ada lagi Superhuman." Duke Candlelight berujar dengan santai seolah itu bukanlah apa-apa.
Tapi bagi Rayan, itu adalah sebuah informasi yang sangat berharga. Rayan sampai membelalakkan matanya karna itu jelas merupakan sesuatu yang paling dia inginkan.
"Lalu bagaimana cara melakukan penyegelan itu?" Tanya Rayan lagi. Ia masih belum puas dengan informasi yang di ketahuinya.
"Aku tidak tau. Kerajaan Pallantium merahasiakan dengan ketat hal yang berhubungan tentang itu. Hanya raja dan pewarisnya yang tau." Ujar sang Duke, menjawab dengan sejujurnya.
Ia sungguh tak tahu tentang masalah yang berhubungan dengan penyegelan benua. Rayan pun menghentikan rasa keingintahuannya sampai di situ. Ia takut sesuatu akan terjadi jika ia memaksakan kehendak.
Hening panjang melanda kedua orang di sana. Tak ada yang membuka mulutnya sampai Duke Candlelight menyodorkan sesuatu pada Rayan, membuat Rayan menatap bingung sesuatu yang ada di atas mejanya.
"Tanda pengenalku. Memiliki benda ini berarti kau mendapat dukungan serta berada dalam perlindungan keluarga Duke Candlelight. Ini akan membantumu dalam menyelesaikan masalah dengan bangsawan atau organisasi lain, bisa juga sebagai tiket gratis untuk menghadiri acara para elit dunia. Cuma itu yang bisa ku lakukan untukmu. Oh, dan akan lebih bagus kalau kau menjadikan benda itu sebagai liontin di kalungmu." Jabarnya bersikap acuh tak acuh. Rayan hanya menerimanya tanpa rasa terimakasih. Mungkin dia lupa.
Pertemuan itu pun berakhir sampai di situ. Sepanjang perjalanan pulang Rayan benar-benar terlihat seperti orang yang banyak pikiran.
__ADS_1
Dan ia semakin di buat kepikiran lagi karna melihat dua orang pasangan populer di sekolahnya sedang melakukan pertemuan bersama dua orang misterius. Satunya berpakaian formal tapi serba hitam, dan yang satunya lagi memakai jas putih khas seorang ilmuwan.
"Haruskah aku mengikuti mereka?"