
"Eksperimen Super-human. Eksperimen yang menjadikan manusia berkekuatan super sebagai objek penelitian. Tujuannya untuk mengetahui cara membagi kekuatan itu pada manusia lain yang tak memilikinya. Dasar dari tujuannya adalah keadilan agar manusia yang tak terpilih juga bisa memiliki kekuatan itu, tapi itu sebenarnya hanya rasa iri semata." Jawab remaja itu seadanya.
Rayan mengangguk paham, dan ia masih memiliki pertanyaan lain untuk di ajukan. Tapi saat Rayan berniat mengajukan pertanyaan itu. Tiba-tiba saja Asnia mencengkeram sisi bahu Rayan dan remaja cowok di sana.
Asnia tersenyum horor, membuat kedua cowok di sana berdigik ngeri. "Kenalan!"
"Baiklah-baiklah. Mari kita kenalan dulu. Namaku Lennon Arabesque dan cewek di sebelahku ini Asnia Ashaliya." Ujar remaja bernama Lennon itu. Rayan pun memperkenalkan dirinya juga.
"Langit Arayan Sagara. Panggil aja Rayan." Dua remaja di hadapan Rayan nampak terkejut.
"Apa! Rayan!" Asnia berujar dengan syok.
"Heeeee? Pantas saja kau tak terpengaruh hipnotis musikku." Celetuk Lennon yang membuat Rayan tersadar.
"Benar juga. Tapi apa alasannya? Aku bukan Superhuman seperti kalian." Ujar Rayan menurut keyakinannya.
Pernyataan itu jelas di sangkal dengan tegas oleh Lennon. "Tidak! Kau pasti juga Superhuman seperti kita." Ujarnya dengan pasti.
Rayan mulai panik dan kemudian menjadi histeris. Raut ketakutan nampak begitu jelas di wajahnya. Pandangannya menjadi tak fokus, nafasnya mulai memburu. Rayan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Tidak! Aku tidak mau jadi Superhuman! Aku tidak mau punya kekuatan super! Kumohon! Tolong jangan memilihku! Aku tidak mau menjadi Superhuman! Aku tidak menginginkannya! Aku membencinya!" Rayan berujar dengan emosional, membuat Lennon dan Asnia terkejut bukan main saat mendapati respon yang penuh kebencian itu.
Asnia menatap khawatir. "Rayan..." ia merasa iba dengan kondisi Rayan yang sedang menangis dan terpuruk.
Suasana alam di sekitar mereka mandadak jadi sangat dingin padahal matahari sore itu sangatlah cerah tanpa berhiaskan awan sedikitpun di langit. Lennon dan Asnia seolah merasa mereka berada di kutup Utara dan akan segera membeku.
"Daun! Pohon! Beku!" Teriak Asnia.
Lennon pun melihat arah pandang Asnia dan benar saja! Tak hanya daun di satu pohon, tapi di sekeliling mereka pun hampir membeku. Lebih tepatnya mengeluarkan bunga es semirip salju.
"Rayan!" Lennon mencoba meggapai Rayan yang tengah berjongkok sambil menjambak kuat rambutnya.
__ADS_1
Ekspresinya menggambarkan trauma dan depresi. Saat Lennon berada cukup dekat dan hampir menggapai Rayan. Tiba-tiba saja ia terpental, Lennon merasa seperti menabrak pusaran angin yang bergerak cepat di sekeliling Rayan.
Wujud angin itu tidak terlalu kelihatan, itu terlihat seperti saat kau melihat angin yang keluar dari mesin baling-baling pesawat.
Kau tidak bisa melihat anginnya tapi saat kau melihat sesuatu yang berada di seberangmu maka sesuatu yang kau lihat akan menjadi buram.
Asnia berlari menghampiri Lennon karna ia terpental cukup jauh di tambah juga menghantam aspal. "Lennon!" Suasana di sekitar mereka menjadi kacau sampai tak lama setelahnya...
C'tak!
Suara jentikan jari dari seseorang membuat Lennon dan Asnia merasa lega dengan kehadiran orang tersebut.
"Ups! Hampir saja terjadi sesuatu yang berbahaya." Ujar sosok itu yang tak lain adalah ketua osis dengan dua orang siswi di belakangnya.
Indra berjongkok di samping Rayan tepat setelah ia menetralkan kekuatan Rayan dengan jentikan jarinya tadi. Merangkul bahu Rayan dengan penuh perhatian.
"Rayan... aku tau alasanmu. Tapi menurutku, bukan kekuatanmu yang harus di salahkan. Melainkan orang-orang yang menginginkan dan menggunakan kekuatan itu untuk tujuan jahat. Merekalah yang pantas di salahkan dan di benci. Kamu, kakakmu, dan orang tuamu hanyalah korban dari ambisi dan rasa iri mereka."
"Kekuatan itu bukan kutukan, karna dia ada di hidupmu untuk menolongmu dan membantumu, membuatmu mengerti bahwa kamu tidak sendiri, bahwa kamu tidak berjuang sendiri! Terimalah kekuatan itu Rayan. Kamu pasti sudah merasakannya selama ini, bahwa angin berada di pihakmu. Kamulah anak yang di cintai oleh angin." Indra berujar dengan penuh kelembutan, berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan Rayan.
"Tapi kalau aku punya kekuatan itu. Mereka akan datang padaku, mereka akan mengambilku dan memusnahkan yang ada di sekitarku. Aku takut kejadian dulu terulang lagi! Itu mengerikan! Mereka membunuh orang tanpa rasa bersalah sedikitpun. Apa mereka masih manusia?" Rayan mengeluarkan isi hatinya.
Indra memaklumi perasaan itu. Bagi anak yang di besarkan tanpa mengetahui sisi lain dunia, itu adalah tindakan yang tak manusiawi dan tak wajar. Tapi bagi Indra sendiri, itu adalah hal biasa karna ia tumbuh berdampingan dengan hal itu. "Memang begitu kalau mafia dan organisasi gelap lainnya. Pemerintah juga tak terkecuali. Tapi karna itulah kita ada bukan?"
Indra melirik Rayan yang masih terisak.
"Kita sesama Superhuman, bersatu untuk saling melindungi, bersatu untuk membantu dan menolong yang lain, dan bersatu untuk melawan kejahatan serta kekejaman yang membahayakan kita." Ujarnya memberi pengertian.
Rayan masih belum pulih dari kondisi mentalnya saat ini. Dan Indra dapat memaklumi hal itu mengingat Rayan adalah anak yang polos dan masih murni dalam artian lain.
"Jika mereka membentuk organisasi untuk memburu dan menangkap kita, kita juga bisa membentuk sesuatu yang serupa untuk memerangi mereka. Karna itulah aliansi Superhuman di bentuk dan ada bersama kita sekarang."
__ADS_1
Entah kenapa Rayan merasa jauh lebih tenang setelah mendengar perkataan Indra. Tanpa di sadari, semua remaja yang ada di tempat itu berdiri mengelilingin Rayan sambil tersenyum.
"Rayan... Bergabunglah dengan aliansi kami." Ajak Indra dengan ekspresi penuh akan rasa semangat. "Ayo kita selamatkan teman-teman kita di luar sana yang sedang di eksploitasi oleh orang-orang jahat dan kejam." Ia mengepal salah satu tangannya dengan tatapan berapi-api.
Indra berlutut di hadapan Rayan. kedua tangannya menjulur guna menyentuh kedua bahu Rayan. "Mungkin saja, apa yang kita lakukan dan perjuangkan, bisa membawamu bertemu dengan kakakmu, dan menyelamatkannya."
tatapan Indra berubah dan memancarkan keseriusan. "Tapi, jika seandainya kakakmu menjadi jahat, tolong jangan ikuti dia." Tegasnya.
"Bagaimana keputusanmu Rayan?" Indra meminta jawaban.
Rayan menatap manik mata Indra. Memastikan segala kebenaran dari pancaran mata dan ekspresi muka. Ia pun mengangguk setelahnya. "Aku akan bergabung! Demi kakakku, dan demi orang-orang yang bernasip sama atau bahkan lebih buruk dariku hanya karna mereka menjadi manusia yang berbeda!" Ujarnya dengan kesungguhan hati. Remaja di sekelilingnya pun bersorak gembira.
Beberapa saat berlalu. Lima dari enam remaja di sana sedang berdiri membentuk kerumunan. Mereka menunggu satu orang untuk menyelesaikan tugasnya.
"Indra! Aku sudah membereskan mereka semua. Saat mereka tersadar nanti, mereka tak akan ingat apa pun tentang kejadian ini. Aku juga sudah menyelidiki ke dalam ingatan mereka dan aku menemukan sesuatu yang menarik. Tapi kita tak akan membicarakannya disini bukan?" Ujar gadis dengan nama Adzkiya kamila.
Indra mengangguk paham dengan maksud perkataan wakil bendaharanya itu.
"Tentu saja! Kita akan membahasnya di rapat osis besok. Kumpulkan para osis terpilih yang ada. Kita akan mengenalkan Rayan secara resmi juga pada anggota yang lainnya." Ujarnya dengan santai.
Indra menatap pada Rayan.
"Maaf kami tak bisa mengenalkanmu secara menyeluruh karna dua osis lainnya sedang dalam misi yang berbahaya, jadi kita tak bisa mengambil resiko untuk menyuruhnya ke sekolah. Jadi perkenalan untuk mereka akan di wakilkan besok."
Rayan hanya bisa memaklumi hal itu.
"Tidak apa apa." Jawabnya tanpa tersinggung.
Indra melirik mobil yang baru saja tiba di lokasi. Ia tersenyum ria tanpa beban sembari merangkul pundak Rayan dan Lennon yang ada di samping kiri dan kanannya. Membuat dua remaja di sana merasa heran dengan tingkah ketua OSIS mereka.
"Baiklah! Kalau begitu mari kita pulang bersama, kebetulan jemputanku sudah datang. Jadi aku akan mengantar kalian semua pulang. Jaga-jaga jika hal seperti ini masih berlanjut." Ujar Indra mengakhiri segala yang terjadi disana.
__ADS_1
Mereka semua pun di antar pulang oleh jemputan Indra dan hari pun berlalu dengan penuh suasana yang beragam.
"Hahhh! Yaampun! Lagi-lagi posisiku cuma menjadi kendaraan dadakan. Mentang-mentang aku bisa berpindah tempat sana-sini. Nyebelin juga ternyata!" Kesal seorang gadis yang tertinggal karna tak kunjung melangkah.