
Pada akhirnya Raisha memberikan tugas tentang pencarian mata-mata itu. Auranya terkesan menyeramkan, membuat anggota lain kesulitan, bahkan hanya untuk sekedar meneguk ludah dan berkedip.
Hawa kehadiran wakil ketua OSIS memang selalu seperti itu. Lebih menyeramkan dari ketua OSIS sendiri. Tapi ketua OSIS masih jauh lebih menyeramkan ketika ia serius. Sayangnya ketua OSIS hanya serius kalau keadaan sudah benar-benar di ujung tanduk.
Para anggota pun merespon sebaik mungkin dan rapat osis pun di bubarkan setelahnya karna jam istirahat hampir habis.
Hal itu juga yang membuat Rayan dan Alex buru-buru ke kantin untuk membeli makanan dan minuman kemasan agar bisa di makan saat di kelas nanti, karna waktu sudah tidak memungkinkan untuk makan di kantin.
...----------------...
*Di ruang kelas, saat jam mapel MTK.
"Lex!"
"Hm?"
"Alex!"
"Hm. Hm?"
"Ish! Alex woi!" Rayan sedikit meninggikan suaranya tapi masih tak terjangkau oleh guru yang sedang menjelaskan materi di depan papan tulis.
Alex membalikkan badannya. "Apa?!" Ia menghadap Rayan yang duduk di belakangnya. Wajah Alex nampak begitu kesal dan tertekan, tapi yah..... dia tampan dengan rambut yang acak-acakan.
"Aduh!" Latahnya. Mengaduh sakit ketika spidol menghantam wajahnya. Sepertinya guru di depan telah menjangkau suara Alex yang sedikit emosi. Spidolnya pun terpental mengenai dada Rayan.
"Keluar!" Titah guru tersebut dengan wajah datar.
"Lho? Pak?" Alex terperangah saat menatap sang guru.
"Yang di belakangnya juga keluar!" Tatapan sang guru tertuju pada Rayan. Membuat Rayan terkejut di tempatnya. "Lho? Pak?" Rayan bertanya-tanya salahnya.
"Dua-duanya keluar!"
Rayan dan Alex langsung berdiri dari kursi duduknya dan berlari keluar kelas dengan terburu-buru.
"Mampus! Rasain lu! Kena jugakan!" Ejek Alex. Berbisik sambil berlari kecil-kecilan, begitu juga dengan Rayan yang berlari beriringan di samping Alex.
"Ck! Gara-gara elu nih!" Balas Rayan juga berbisik. Wajahnya terlihat kesal, berbanding terbalik dengan Alex yang senang karna ada temen senasip sepenanggungan.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong Ray, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Alex memulai topik, dia melakukannya sambil berjalan menyusuri koridor.
"Tentang kau yang terlihat akrab dengan anggota OSIS lainnya dan juga Indra. Sudah sejak kapan?"
Alex mendongakkan sedikit kepalanya pandangannya menerawang jauh ke masa lalu. "Sejak awal SMP. Aku berutang sesuatu padanya di masa lalu. Jika bukan karnanya, aku sudah di telan kegelapan"
Rayan menatap bingung. "Biar ku tebak. Apa kau melepaskan kendali atas kekuatanmu, lalu kekuatan itu mengambil alih kendalinya sendiri dan kemudian ketua osis datang dan menetralkan kekuatanmu?" Itu hanya dugaan tanpa dasar yang jelas.
Alex terdiam beberapa detik sebelum menjawab, sepertinya ia masih menerawang ke masa lalu. "Kurang lebih seperti itu."
Mereka berdua pun terus berjalan tanpa arah sampai suatu ketika Alex menahan langkah Rayan secara tiba-tiba dan mengajaknya bersembunyi di balik tembok.
"Ap-"
"Shhhtt!"
Desis Alex sembari menempelkan telunjuknya ke bibir Rayan, membuat Rayan menatap bingung sosok Alex, ia menepis tangan Alex yang menempel di bibirnya.
"Apa? Kenapa?" Tanya Rayan berbisik. Matanya menajam guna meminta penjelasan.
"Lihat itu." Alex menunjuk pada sesuatu, membuat Rayan mengikuti arah pandang Alex. Ia pun mendapati dua orang murid lawan jenis yang sedang bertemu rahasia di tempat sepi.
"Oh? Bukankah itu kakak-kakak yang paling populer di sekolah. Pasangan paling serasi dan sempurna dalam segala bidang, banyak pengikutnya pula tuh."
"Terus? Apa alasan kita mengamati orang yang sedang pacaran?" Rayan bertanya dengan bingung.
Respon polos itu membuat Alex ingin sekali *******-***** wajah yang sedang menatapnya tanpa dosa. Rayan benar-benar bukan pakarnya kalau dalam bidang yang berbau kedewasaan.
"Coba kau lihat gerakan vulgar yang mereka lalukan itu! Lihat itu! Lihat Rayan! Lihat!" Alex meremat-remat bahu Rayan yang berdiri di depannya. "Tangan cowok itu membuka kancing baju ceweknya lho! Mereka gak akan ngelakuin adegan snu-snu di situ kan?!" Ujarnya dengan heboh.
"Aku juga lihat! Gila banget! Mainnya udah kayak profesional!" Heboh Rayan juga.
Maklumilah karna dua bocah itu belum pernah menyaksikan intro dari adegan panas secara langsung, bahkan melihat di internet juga belum pernah. Mereka cuma mendengarnya dari mulut ke mulut. Karna itu juga biasanya Alex jadi bulan-bulanan teman sesama tongkrongannya.
Pada saat itu, rok gadis di sana tiba-tiba saja tertiup angin kencang yang membuat rok pendek itu terbang ke atas beberapa detik.
Alex memasang tampang dan gerakan layaknya orang bijak. "Ish! Ish! Ish! Rayan! Tidak boleh begitu! Masa kau mengendalikan angin buat nerbangin roknya sih. Ini namanya pelecehan seksual!" Ujarnya memberi tuduhan.
Rayan tersentak kaget dengan tuduhan tak berdasar itu. "Apaan?! Bukan aku! Aku tidak melakukan apa-apa lho!" Sanggahnya membela diri.
__ADS_1
"Jadi maksudmu anginnya yang mesum gitu?" Alex menatap datar pada Rayan. "Kau pikir aku akan percaya?!" Ujarnya dengan tampang meragukan.
"Kaukan pengendalinya. Pasti kau yang gerakin anginnya buat nerbangin rok cewek itu. Ngaku gak? Ngaku!" Alex memaksa Rayan. Tentu Rayan memberontak karna tak ingin di salahkan. Meski begitu Alex masih saja tetap mengganggunya.
"Tidak kusangka pikiran temanku yang ku nilai polos dan bau kencur ini ternyata sudah 1821. Aku kecewa." Ocehnya, membuat Rayan kesal sendiri. Di satu sisi, Alex merasa senang bisa menjahili Rayan.
"Ngomong apa sih?! Bukan aku lho!" Rayan bersikeras membela diri sampai akhir. Pertengkaran tipis-tipis itu membuat keduanya tak menyadari bahwa target yang di amati telah hilang dari radar.
"Wah! Wah! Adik-adik. Apa kalian melihat apa yang kakak-kakak ini lakukan tadi?" Ujar siswi senior yang tadi dalam pengamatan.
Rayan dan Alex terlonjak kaget saat kakak kelas yang mereka amati sudah berada di belakang mereka. Jangankan untuk menyadari pergerakan, mereka bahkan tak bisa merasakan hawa keberadaan kakak kelas yang ada tepat di belakang mereka.
Alex tersenyum canggung. "Eh? Kak Prita, hehe.. maaf. Kebetulan kami lewat sini, jadi gak sengaja ngelihat kak Prita dan kak Varel berduaan." Rayan menggguk guna memperkuat kebenaran dari alasan Alex.
"Yaudah ya kak. Kami gak akan ganggu waktu kakak. Kami permisi dulu." Alex menuntun Rayan untuk pergi meninggalkan tempat, sementara kedua kakak kelas itu melihat punggung Rayan dan Alex dengan tatapan tajam masing-masing.
...----------------...
Pagi hari ketika Rayan terbangun dari tidurnya. Dia tak melewati fase pengumpulan nyawa terlebih dahulu, melainkan langsung tersadar seratus persen. Hal ini terjadi karna matanya tak sengaja menangkap jam dinding di kamarnya.
[08.25]
"Waaaaaaaaa! Aku telat!" Teriak Rayan di atas ranjangnya. Ia pun buru-buru keluar kamar. Tujuannya adalah kamar mandi.
"Bapak! Kenapa gak bangunin sih?!" Gerutunya saat berpas-pasan dengan pria paruh baya yang ada di sekitarnya.
Pria itu menatap Rayan dengan raut sedikit kebingungan. "Bukannya sekarang tanggal merah Ray?"
Rayan tersentak dan menghentikan langkahnya. "Iya kah?" Segera ia berlari melihat tanggal. Dan ternyata benar bahwa hari itu tanggal merah.
Rayan pun memutuskan untuk tetap mandi karna ia memilih menghabiskan hari liburnya dengan berjalan-jalan di luar. Pada akhirnya itu menjadi perjalanan yang paling ia sesali karna dirinya malah terlibat dengan sesuatu yang merepotkan.
Bertemu dengan salah satu bangsawan! Dan berakhir di ajak (paksa) berkunjung ke kediaman bangsawan kelas atas tersebut. Keluarga Duke Candlelight! Keluarga yang semua rambutnya berwarna seterang matahari.
"Nama?" Tanya seorang pria yang duduk berhadapan dengan Rayan.
Pria itu terlihat tegas dan dingin seolah tak tersentuh, apa lagi dengan kacamata baca yang bertengger di batang hidungnya. Jangan lupakan wajah tampannya yang menyerupai orang china. Tapi tentu dia bukahlah dari negara tersebut, karna ia dan bangsanya di sebut sebagai pendatang tak di undang.
Ceritanya sekitar 100 tahun lalu. Dunia di hebohkan dengan munculnya benua baru dari dasar laut. Benua yang ukurannya sama dengan benua australia dan di huni oleh orang-orang yang menggunakan senjata dengan tingkat kecanggihan di luar nalar. Ini jugalah awal dari munculnya Superhuman!
__ADS_1
Tentu kemunculan benua tersebut membuat negara-negara yang ada di benua Amerika, Eropa, Asia dan lainnya merasa khawatir. Mereka gelisah apakah benua tersebut datang dengan menginginkan pertikaian atau menjalin kerja sama. Untungnya benua itu menginginkan kerja sama.
Tapi sayangnya... kerja sama itu berakhir dengan pecahnya perang antar benua baru dan benua lainnya.