
Rayan menatap tak percaya dengan pemandangan di depannya. Itu bukan suatu pemandangan yang luar biasa, hanya berupa bandara internasional dengan pesawat yang lalu lalang.
"Mengapa tidak ada yang bilang kalau kita akan menggunakan pesawat untuk misinya?" Tanya Rayan pada dua sosok yang ada di sampingnya.
"Ya karna galaksi internasional high school ada di Amerika Serikat." Alex menjawab dengan santai. Meminum minuman kaleng bersoda di tangannya.
Gadis yang bersama mereka pun ikut menambahi obrolan singkat itu.
"Kalau bukan naik pesawat. Memangnya kau ingin kita naik apa Rayan?" Ujar Adzkiya kamila, gadis dengan aura humorisnya.
Rayan menatap pada gadis di sampingnya.
"Lalu apa yang kakak lakukan di sini? Bukankah misi ini hanya untukku dan Alex?" Ujarnya mengganti topik.
"Rencananya sih begitu, tapi Indra sedikit khawatir mengingat dua orang yang di tugaskannya memiliki masalah masing-masing. Satunya mines pengalaman, satunya lagi punya trauma kelam."
Adzkiya melirik ke arah Alex. "Apa lagi itu tempat asal seseorang yang ingin di lupakan." gumamnya. Sengaja tidak di perjelas.
"Hah? Apa?" Rayan meminta pengulangan kalimat. Tapi Adzkiya tak mengabulkannya.
Alex berjalan mendahului kedua temannya.
"Ayo jalan. Kita bisa ketinggalan pesawat jika tak segera bergegas. Jangan menyianyiakan tiket yang di beli oleh Indra. Berkat dia, kita jadi bisa naik pesawat dengan pelayanan first class yang harga pulang perginya 100 jutaan."
Rayan menyemburkan minumannya, ia terkejut saat mendengar perkataan itu.
"Gilak! 100 jutaan? Mending beli tanah!" Ujarnya dengan wajah syok.
"Itu pemikiran yang wajar teman! Semua orang yang tidak memiliki banyak kekayaan pasti berpikir begitu. Meski ada juga yang enggak." Celetuk Adzkiya dengan ekspresi yang bahagia.
Kepribadiannya sangat berbeda dengan kesan pertamanya saat insiden penculikan yang gagal waktu itu.
Adzkiya, Rayan, dan Alex pun melanjutkan perjalanannya menuju Los angeles di Amerika Serikat.
Perbedaan waktu di antara kedua negara dan jam terbang yang tidak bisa di bilang singkat membuat ketiga remaja itu baru tiba di bandara internasional Los angeles pada minggu pukul 6 sore menjelang malam.
Dan ketika ketiganya telah turun dari bandara, Adzkiya dan Alex telah di repotkan oleh Rayan di sepanjang mereka melakukan perjalanan.
Pasalnya Rayan ternyata mengalami mabuk udara, mungkin karna ia baru pertama kali menaiki pesawat.
Kondisi itu jelas membuat Alex dan Adzkiya kewalahan bahkan hingga mereka keluar dari bandara dan hendak mencari penginapan pun Rayan masih mabuk dan perlu di papah.
Entah berapa kali ia muntah sampai badannya jadi lemas tak bertenaga, entah berapa kali juga ia mengeluh kepalanya yang terus berputar-putar.
__ADS_1
Apa pun makanan atau minuman yang masuk ke dalam perutnya pasti akan ia muntahkan lagi saat belum sempat di cerna, itulah kenapa Rayan sepertinya mengalami dehidrasi.
"Adu... Dududuh! Alex! Papah Rayan lagi! Biar aku yang cari penginapannya saja." Ujar Adzkiya sembari menyerahkan Rayan pada sosok orang di sampingnya.
Sepertinya Adzkiya tak ingin kerempongan lebih lama lagi, terlihat ia yang langsung pergi begitu saja setelah menyerahkan Rayan.
...----------------...
*Beberapa jam kemudian...
Adzkiya membantingkan diri di kamar penginapannya. "Akhirnya! Masalah penginapan selesai! Tinggal menghubungi Alex saja." Ia mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi nomor Alex.
"Alex! Aku sudah mengurus masalah penginapan. Cepat bawa Rayan ke sini, aku akan kirimkan alamat-"
Alex menyergah perkataan Adzkiya.
"Wow wow wow! Tunggu sebentar!" Itu membuat Adzkiya terdiam di tempatnya.
"Apa maksud membawa Rayan ke tempatmu? Bukankah sedari tadi Rayan ada padamu?" Ujar Alex di seberang telpon.
Adzkiya terdiam dengan ekspresi bingung. Ia menatap ponselnya. "Bukankah aku sudah menyerahkannya padamu?"
"Kapan? Aku pergi ke kafe sebentar untuk membeli makanan karna lapar dan itu sebelum kita melewati persimpangan. Aku bilang akan menyusul kalian nanti tapi aku kehilangan jejak dan kau maupun Rayan tidak bisa di hubungi." Jabar Alex membuat Adzkiya panik.
"Apa?! Hei! Kau?" Suara Alex terdengar panik dan kebingungan, ia meminta penjelasan secara tak langsung.
"Ayolah! Aku kira kau masih ada di sampingku, jadi aku menyerahkannya begitu saja pada orang di sampingku. Dan karna aku yakin bahwa itu kau, jadi aku tak melihat wajah orang itu. Gimana nih? Masa dia di culik sih?"
Alex nampak stres mendengar penjelasan itu.
"Bagaimana ini? Gimana cara kita nyari orang hilang di kota yang luas ini? Haruskah kita membuat brosur orang hilang dan melaporkan pada polisi?" Suara Alex di seberang telpon Adzkiya, ia seperti sedang frustasi. Keduanya sama-sama bingung di tempat masing-masing.
"Tidak! Itu tidak efektif. Aku akan kembali ke tempat terakhir kali aku menyerahkan Rayan pada orang asing. Mungkin saja ada CCTV yang menyoroti tempat itu, entah itu CCTV milik kafe atau perumahan di sana." Ujar Adzkiya mencari jalan keluarnya.
Ia pun mengakhiri panggilan itu dan segera bergegas ke tempat yang di maksud.
Beruntungnya, benar-benar ada CCTV yang menyoroti jalanan tempat adegan ceroboh itu terjadi, beruntung juga pihak yang memiliki CCTV mau bekerja sama dan memperlihatkan rekaman yang terjadi di hari itu.
"Gimana?" Tanya Alex yang baru datang menyusul Adzkiya.
"Entahlah identitasnya tidak jelas, pria tinggi dengan jas jubah warna hitam bermotif emas. Wajahnya tidak terlalu kentara karna ia memakai topi vedora senada dengan bajunya. Dia membawa Rayan ke suatu tempat yang tidak terjangkau CCTV. Aku tidak tau lagi setelah itu." Adzkiya berujar dengan wajah frustasi.
"Kita percayakan saja keselamatan Rayan pada angin. Angin pasti akan bergerak untuk melindunginya, tak akan sulit juga bagi Rayan untuk menemukan kita selama dia mengetahui nomor kita, dia bisa menghubungi kita kapan saja. Yang perlu kita lakukan hanya fokus pada misi penyelamatan Raditya." Alex mencoba untuk menenangkan kegelisahan gadis di sampingnya.
__ADS_1
Adzkiya menatap Alex lekat-lekat. Tersimpan kekhawatiran dalam sorot matanya.
"Khawatirkan dirimu. Sejak kita tiba di Los angeles kau jadi bersikap aneh dan tanganmu selalu gemetaran. Ku yakin rasa trauma itu benar-benar mengganggumu apa lagi kau harus terlihat baik-baik saja."
Alex terdiam sedetik. "Aku baik ba-"
"Kau! Tidak! Baik! Baik! Saja!" Tegas Adzkiya dengan penekanan di setiap katanya. Ia sengaja memotong perkataan Alex, dan pergi meninggalkan Alex untuk menuju ke penginapannya.
...----------------...
*Di sisi lain.
Seorang pria dengan tinggi badan hampir 2 meter terlihat sedang memapah seorang bocah remaja. Kejadian itu menghebohkan seluruh pelayan dan bodyguard yang melihat kedatangan tuannya. Pria berambut pirang itu terus berjalan dengan memapah remaja yang di bawanya entah dari mana.
Sang pria membanting tubuh Rayan ke lantai marmer. "Taruh dia di penjara bawah tanah!" Titahnya. Para bodyguard segera menyeret tubuh Rayan menuju tempat yang di perintahkan.
"Tuan. Siapa anak itu? Apa dia mata-mata? Atau anak dari musuh tuan?" Tanya asisten dari pria itu.
"Aku tidak tau. Seorang gadis menyerahkanya begitu saja padaku." Pria itu menjawab dengan datar dan juga seadanya. Beberapa saat setelahnya ia pun pergi dengan meninggalkan perintah untuk asistennya.
"Cari tau latar belakang anak itu. Jika dia bukan dari keluarga yang merepotkan, aku akan menjadikannya hadiah untuk si kembar. Mereka pasti menyukai hadiahnya"
.
.
.
.
.
*Keesokan paginya di penjara bawah tanah.
Terlihat Rayan yang terbangun dari tidurnya. Ia memegang kepalanya yang berdenyut, rasa sakit juga menjalar di beberapa bagian tubuhnya, mungkin efek karna tidur di lantai bebatuan yang tidak sepenuhnya mulus.
"Dimana aku?"
Itu adalah pertanyaan sebelum ia tersadar 100%. Dan ketika ia tersadar sepenuhnya, hal pertama yang ia rasakan adalah kepanikan. Beserta Rasa ketakutan saat melihat banyaknya sel-sel penjara di sekitarnya dan fakta bahwa ia juga di penjara.
Semua itu mengingatkannya pada insiden di pelelangan, tapi kali ini pikirannya mengacu pada apakah sekarang ia yang menjadi barang lelang?
Memikirkan semua itu membuat air matanya meleleh seketika, ia benar-benar takut. Apa lagi posisinya baru pertama kali bepergian ke luar negeri, meski ia bisa berbahasa inggris tapi setelahnya apa? Hanya itu yang Rayan tau tentang Amerika Serikat.
__ADS_1
"Halo, apa kondisimu sudah lebih baik? Terakhir kali kita bertemu, kau sedang mabuk perjalanan bukan?" Seorang pria berujar dari luar sel penjara. "Apa yang membuatmu datang jauh-jauh kesini?" Tanya pria itu. Si pemilik dari tempat yang Rayan pijak saat ini.