
Rayan harus mendongakkan kepalanya saat melihat sosok yang mengambil bukunya, terkejut dan kagum dengan tinggi badan orang tersebut, bahkan tinggi Rayan saja tak sampai bahu pria itu padahal tingginya sendiri mencapai 170 lebih.
"Um... permisi? Maaf tapi aku duluan yang ingin mengambil buku itu." Ujar Rayan pada pria misterius bertopi vedora dengan pakaian formal serba hitam, rambut pria itu sepanjang pinggangnya dan berwarna hitam legam.
Tapi sayangnya, bukan sosok seperti itulah yang di lihat oleh mata Rayan. Pria itu sedang menggunakan topeng yang di buat dari kekuatan seorang Superhuman. Itu adalah rahasianya untuk saat ini.
"Aku duluan yang mengambilnya. Jadi secara otomatis ini jadi milikku." Ketus pria itu, ekspresinya datar dengan tatapan dingin.
"Tapi kau kan belum membayarnya jadi itu belum menjadi milikmu." balas Rayan tak mau kalah.
"Aku pemilik toko buku ini"
Itu adalah pernyataan yang membuat Rayan terdiam sepenuhnya, tapi jauh dalam hatinya, dia sedang mengumpati pria itu.
"Sialan! Mentang-mentang orang kaya! Kalau ini toko seharusnya kau menjualnya! Bukan mengambilnya seolah ini perpustakaan pribadimu! Tidak usah membuka toko kalau memang tidak berniat menjualnya pada pelanggan! Dasar orang menyebalkan!" Pikirannya dalam hati.
Tanpa Rayan ketahui, perkataan itu terdengar sangat jelas di telinga pria tersebut, terlihat pria itu menunjukan seringaiannya setelah beberapa detik terkejut dengan umpatan Rayan tadi.
"Menarik!" Seru pria misterius itu dalam hatinya.
"Aku akan memberimu buku ini secara gratis" Ujar pria itu.
Rayan melayangkan tatapan menelisik. Menatap penuh curiga sosok tinggi di hadapannya. "Gak percaya! Memangnya apa yang gratis di dunia ini? Kau pasti mau meminta bayaran dalam bentuk lain nantinya bukan?"
Pria itu menghela nafasnya.
"Kau tidak akan mendapatkan apa-apa kalau terlalu memikirkan resiko di masa yang akan datang."
Pada akhirnya pria itu pun pergi meninggalkan toko buku dan Rayan tak mendapatkan buku berjudul imortality itu.
*Disuatu tempat...
"Bagaimana dengan pencariannya? Apa anak yang menghancur leburkan pelelangan waktu itu sudah di temukan?" Tanya seorang pria begitu ia menduduki kursi di mobilnya. Pria itu memegang buku berjudul imortality. Ya, itu adalah buku yang di bawanya setelah bercekcok singkat dengan Rayan tadi.
"Belum tuan. Keberadaannya susah di lacak, seolah ada yang sengaja menutup-nutupi identitasnya." Jawab supir dari pria itu. Dilihat dari penampilannya, sepertinya ia juga merangkap kerja sebagai asisten.
Pria itu mengamati pemandangan di luar melalui jendela kaca hitam mobilnya. "Lalu barang lelang yang sempat kabur itu?" Ia melihat sosok Rayan yang baru keluar dari toko buku, itu sangat menyita perhatiannya.
"Kami bisa mendapatkan hampir keseluruhannya." Jawab si supir.
__ADS_1
Sang tuan mengalihkan perhatiannya sembari mengernyit bingung. "Hampir?"
"Ada satu barang lelang yang tidak bisa di temukan. Dan itu adalah produk yang paling berkualitas dengan nilai jual tinggi-"
"Jadi gadis pengguna kekuatan es itu." Pria itu memotong perkataan supirnya.
Ekspresinya sudah tak minat lagi untuk mendengar kelanjutan informasi tersebut, mungkin karna dirinya dapat menduga dengan pasti barang mana yang telah hilang.
"Ini hanya pemikiranku saja. Tapi sepertinya ada beberapa manusia langka yang menciptakan tempat bernaungnya sendiri. Mencari dan menarik manusia-manusia langka lainnya yang bingung, ketakutan, dan polos untuk bergabung dalam tempat naungan mereka." Sang tuan berujar dengan ekspresi datar. Dan si supir menjadi pendengar yang baik di sana.
"Coba bayangkan jika kita bisa menemukan tempat bernaung itu, berapa keuntungan yang akan kita peroleh nantinya?" Ujar sang tuan sembari membuka lembaran demi lembara buku yang ada di pangkuannya.
Supir itu tak memberikan responnya karna ia tau bahwa tujuan dari pertanyaan tuannya bukanlah untuk mengharapkan jawaban darinya.
Pria misterius itu menyeringai, ia teringat sosok yang tadi berebut buku dengannya.
"Rhea pasti akan senang jika aku memberitahukan kondisi adiknya." Ujar pria itu sekaligus mengakhiri percakapan. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang untuk meninggalkan area toko buku itu.
"Misi penyelamatan?" Rayan membaca pesan yang baru masuk di ponselnya, sudah jelas juga siapa pengirimnya.
Dalam pesan itu juga tertera perintah Indra yang meminta Rayan agar bertemu secara pribadi dengannya, tentunya tempatnya juga sudah di sebutkan dalam isi pesan itu.
Rayan pun pergi untuk memenuhi pertemuan yang di minta oleh Indra sekaligus menanyakan lebih detail tentang misinya bersama Alex
*Ruang tamu di kediaman mewah milik Indra.
"Maaf karna memintamu datang dengan tiba-tiba." Ujar Indra sebagai pembukaan, style pakaiannya terlihat lebih santai. Tapi!
"Entah kenapa kak Indra seperti berandalan. Aku tak terbiasa melihatnya memakai baju seperti itu" Itulah yang Rayan pikirkan.
Ia pun menanggapi perkataan sang ketua.
"Tidak masalah. Jadi apa yang ingin kak Indra sampaikan padaku?" Tanyanya. Duduk di sofa yang berhadapan dengan Indra.
"Bukan sampaikan. Tapi meminta."
Rayan menatap lekat manik mata Indra. Ia sedikit bingung dan penasaran dengan perkataannya. Seorang ketua, meminta pada anggota?
"Tolong bantu aku jaga Alex untuk kedepannya. Apa pun yang dia katakan, tolong dengarkan. Apa pun yang dia rasakan, tolong pahami. Percayailah dia." Indra berucap dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
Itu membuat Rayan bertanya-tanya.
"Apa alasannya?" ia menatap Indra dengan intens. "Karna menurutku, Alex bukanlah sosok yang membutuhkan hal seperti itu."
Indra mengerti mengapa Rayan berpikir seperti itu. Dan karna itu juga Indra memberikan sedikit saran. "Rayan... terkadang yang kelihatan kuat di luar, belum tentu kuat di dalam. Dan begitupun sebaliknya." Ujarnya bermaksud menyinggung pemikiran Rayan.
"4 tahun yang lalu. Ketika Alex berusia 12 tahun, dia kehilangan kedua orang tuanya. Dan ketika hak asuhnya sudah di tentukan, itulah awal neraka untuknya dan adiknya. Seseorang yang di tunjuk menjadi wali asuhnya ternyata mengalami gangguan jiwa dan penyakit pedofilia-" perkataan Indra terjeda secara paksa karna ulah Rayan.
"Kau tidak akan bilang Alex pernah menjadi korban pelecehan bukan?" Rayan menatap serius wajah Indra. Sementara Indra hanya memberi tanggapan dengan wajah santai. Jujur, Rayan sempat mengalami culture shock tentang kepribadian Indra.
Pasalnya, Indra yang di sekolah dan Indra yang di rumah berbanding terbalik 360 derajat. Di sekolah, Indra terlihat seperti murid teladan kesayangan guru. Sedangkan di rumah, ia seperti berandalan yang kerjanya makan, tidur, dan tawuran.
Rayan sempat berpikir Indra memiliki kepribadian ganda atau mungkin itu saudara kembarnya. Namun ia tahu bahwa tidak ada dari keduanya yang benar.
Aturannya, sesama anggota aliansi harus saling terbuka. Itu yang mendasari benar dan tidaknya bio data para anggota.
Indra menyesap minuman jusnya. Membuat Rayan kesal karna sikap Indra yang terlalu santai saat membahas topik serius dan mungkin juga sensitif.
Setelah lama menunggu, Indra pun menjawab pertanyaan Rayan.
"Tidak! Dia hampir menjadi korban. Tapi itu gagal berkat kekuatan yang di milikinya, kekuatan yang menelan sebuah kota dalam kegelapan tanpa cahaya. Beruntungnya aku ada di kota itu, jadi aku bisa menetralisirkan kekuatan yang nyaris memakan banyak korban itu." Ujarnya.
Rayan terlihat sedikit lega. "Apa kekuatan itu meluap karna ketakutan Alex? Atau karna untuk melindungi inangnya?" Ujarnya bertanya.
Indra tersenyum simpul. "Kau memang pintar. Aku jadi merasa bersalah karna menempatkanmu di kelas yang bermasalah."
Rayan hanya menanggapi perkataan itu dengan keterdiamannya. Enggan untuk membalas topik yang berbeda dari sebelumnya.
"Mungkin keduanya." Indra berujar dengan wajah penuh keraguan. Itu membuat perkataannya menjadi tidak pasti untuk di benarkan.
"Yah... Wajar saja sih. Biasanya jika seseorang berada dalam situasi seperti itu, mereka akan berpaku pada rasa takut?" Rayan berucap dengan realistis.
Di benarkan juga oleh Indra.
"Tentu saja. Jika Alex adalah korbannya. Tapi dia hanya hampir menjadi korban. Bukan korban yang sebenarnya."
Itu adalah kata terakhir yang selalu berputar di kepala Rayan, ia tak sempat menanyakan lebih jelas lagi tentang perkataan itu karna Indra memiliki kesibukan lain yang memaksanya untuk mengakhiri percakapan sampai di situ.
Satu-satunya kata yang mengganggu pikirannya adalah adanya kata "hanya" dalam kalimat Indra. Ini membuat Rayan berpikir apakah hampir menjadi korban pelecehan itu bukan suatu masalah yang besar?
__ADS_1
"Indra tidak pernah bilang Alex adalah korban. Dia hanya mengatakan hampir menjadi korban. Dengan kata lain, ada seseorang yang menjadi korbannya dan mungkin Alex adalah saksi mata." Pikir Rayan di tengah perjalanan pulang, tentunya ia di antar oleh bawahan Indra karna ia tak mau ada penculikan season 2.
"Ah! Terserahlah!" Gerutunya frustasi. Entah karna hal apa mengingat ia punya banyak masalah.