
Terjadi kehancuran besar yang terlihat seperti ledakan di tempat pelelangan, tapi penyebabnya bukanlah bom, melainkan terpaan angin.
Hal itu menyita semua perhatian yang ada di sana dan tanpa mahkluk enormous itu sadari, keberadaan Alex sudah menghilang dari hadapan mereka.
Bencana itu menjadi berita panas di kalangan manapun.
Berita yang memuat informasi tidak pasti tentang munculnya elementalist angin. Sosok berjubah hitam dengan topeng joker.
Entah bagaimana mereka mengambil foto tersebut di situasi seperti itu, yang pasti orang yang ada dalam foto itu adalah Rayan.
"Cari tau tentang kasus di pelelangan itu, khususnya anak bertopeng ini." Titah seorang pria berpakaian formal yang memakai topi vedora -pimpinan mafia dari keluarga inti Sagara.
"Utus ksatria khusus untuk mencari anak bertopeng itu! Dia pasti seorang elementalist angin! Kita harus mendapatkannya!" Titah orang paling berpengaruh saat ini -satu satunya raja di benua Asuncion, raja Herzego.
"Hm~ elementalist angin ya? Menarik! Aku harus mendapatkan dia sebelum Saintess Lucia ke-12 mendapatkannya." Ujar seseorang dengan penuh kelembutan dan keeleganannya, di satu sisi juga menunjukan wibawa seorang pemimpin. Dialah Paus dari kuil suci Helios, Julius de Helios.
Begitulah kurang lebih reaksi kebanyakan orang berkuasa lainnya, terbutakan akan ambisi dan keserakahan mereka.
Tentu pihak asosiasi dan empat keluarga abadi pun tidak terkecuali, sebesar itulah dampak yang di timbulkan dari keberadaan seorang elementalist.
...----------------...
Di ruang rapat osis...
"Kalian sudah dengar apa yang terjadi pada Archie raventes?" Tanya sang ketua sekaligus memulai rapatnya.
Para anggota mengangguk bersamaan, wajah mereka semua terpaku serius, ada sedikit rasa takut yang terselip di antara wajah-wajah itu.
Beberapa kursi kosong bertambah, kali ini yang tidak hadir dalam rapat bukan hanya Raditya dan Arjuna, tapi juga Rayan, Alex, dan Archie selaku pihak terkait saat penculikan terjadi.
"Sudah sadar bukan? Kenapa aku menekankan pada kalian semua untuk berhati-hati dan menyembunyikan kekuatan masing-masing? Tidak menuntut kemungkinan kalian akan bernasip sama dengan Archie." Tegas Indra.
Semua anggota terdiam, mereka tak bisa menyangkal perkataan itu karna sudah ada contoh dan bukti nyatanya, apa lagi itu terjadi pada teman mereka sendiri.
"Kali ini Archie beruntung karna ada Rayan dan Alex yang kebetulan melihat kejadian itu. Mereka bahkan melawan rasa takut demi menyelamatkan seorang teman, yang mungkin belum tentu bisa kalian lakukan." Sambung Indra pada perkataannya.
Semua anggota tetap bungkam.
__ADS_1
"Aku menyuruh Rayan dan Archie untuk menenangkan diri sedangkan Alex harus beristirahat karna memakai kekuatan terlalu banyak. Untuk sekarang jangan lakukan misi apa pun dulu dan hiduplah seolah kalian hanya manusia biasa. Setidaknya kita harus mengelabui kecurigaan siapa pun yang merasa begitu."
Salah satu anggota mengajukan pertanyaan.
"Lalu bagaimana dengan mata-mata?" Thea menatap tajam pada sang ketua.
Indra menanggapinya dengan tenang.
"Rayan sudah memberitahukannya. Mata-mata itu adalah pasangan populer di sekolah ini, Prita dan Varel."
Semua anggota menunjukan reaksi terkejut yang luar biasa, tanda bahwa mereka semua tak ada yang menyangkanya.
Rapat pun berakhir begitu saja dan pertemuan di bubarkan. Indra menahan salah satu anggota untuk tetap bersamanya, dia ingin menyampaikan sesuatu secara pribadi. Hanya pada Raisha.
"Raditya tertangkap!"
Itu adalah dua kata yang mengejutkan gadis paling cuek, jutek, dingin, dan galak di SMA Franksinarga. Raisha putri ardhias.
"Apa yang terjadi padanya?! Mengapa bisa?!" Tanya gadis itu sudah sewajarnya.
"Aku tidak tau. Ia hanya memberiku sinyal kegagalan dan setelah itu tak ada kontak yang masuk." Indra menjawab dengan wajah yang nampak begitu lelah.
Pada saat itu, Indra sedang mengatur isi pikirannya yang berantakan.
"Sebenarnya kita perlu Arjuna untuk misi penyelamatan ini. Tapi berhubung dia dalam misi yang sangat penting, aku akan mengalihkan misi penyelamatan ini pada Rayan dan Alex." Ujarnya mencoba bersikap setenang mungkin.
Raisha nampak bingung dengan maksud dari rencana Indra. "Kenapa harus mereka berdua?"
Sang ketua menatap kosong meja di hadapannya, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Musuhnya adalah si kembar dari keluarga galaksi. Dan SMA Galaksi adalah sekolah kepunyaan keluarga mereka."
"Jadi?" Raisha meminta kelanjutan dari perkataan Indra.
"Si kembar punya kebiasaan mengoleksi sesuatu yang terkesan indah menurut mereka. Informasi yang ku dapat sebelum Raditya di tangkap adalah tentang bagaimana si kembar gila itu membunuh dan mengawetkan sesuatu untuk di jadikan manekin yang akan menjadi hiasan di kediaman mereka. Rayan dan Alex adalah anggota yang memiliki paras indah, keduanya sangat rupawan, jadi akan mudah memancing si kembar untuk mendekat duluan pada saat pertukaran pelajar nanti." Jabar sang ketua.
Raisha langsung memahami maksud sang ketua. "Aku mengerti, tapi apa harus menerjunkan Alex dalam misi ini? Dia punya trauma yang mendalam Indra. Kau pun tau masa lalunya dan trauma apa yang di milikinya." Ujarnya sedikit meragukan rencana Indra.
Terlihat Indra memberi respon acuh tak acuh. "Semakin kuat ketakutannya, semakin besar kegelapannya."
__ADS_1
Pada akhirnya kalimat itu menjadi akhir dari perbincangan kedua orang di sana.
...----------------...
Di sisi lain.
Rayan sedang berbaring sambil memandangi kalung yang tergantung di tangannya, dia melepas kalung itu untuk melihat dua liontin yang ada di sana.
Liontin dari bangsawan duke dan satu lagi dari gadis yang di tolongnya saat di pelelangan. Liontin yang di berikan Lorentina padanya sebagai bentuk terimakasih.
Ada banyak yang Rayan pikirkan sejak ia bergabung dalam organisasi aneh berkedok osis.
Kejadian-kejadian aneh di sekitarnya membuat Rayan tersadar bahwa sebenarnya dunia sudah berubah sejauh yang tidak bisa di bayangkan, ia tak menyadari perubahan itu karna pemerintah dan kalangan elite lainnya menutupi perubahan itu.
Membuat rakyat biasa tak memiliki akses untuk mengetahui seberapa fantasinya dunia yang mereka tinggali saat ini. Kecuali tentang keberadaan benua baru, hal sebesar itu mana mungkin bisa di sembunyikan atau di tutup-tutupi.
"Rayaaaan!"
Panggil seorang pria yang sedikit meninggikan suaranya, mungkin ia melakukan itu agar Rayan mendengar panggilannya karna jarak keduanya cukup jauh.
"Ya paaak?!"
Rayan segera beranjak dari kamarnya untuk menuju ketempat orang yang memanggilnya.
"Lihat! Bapak baru gajian. Gunakan ini untuk membeli beberapa buku. Kau suka bukukan? Pakailah"
Pria bertato dan berwajah seram tapi berhati lembut dan ramah itu memberikan dua lembar uang merah pada Rayan.
Rayan sedikit tak enak hati untuk menerimanya, ia merasa tak pantas menerima hal itu karna dirinya bukanlah siapa-siapa selain anak yang di temukan di pinggir jalanan dalam hutan lebat. Meski pada akhirnya ia di adopsi. Tapi suatu kesenjangan tidak bisa langsung di hilangkan.
Pria itu memaksa Rayan agar menerima uangnya. "Kau tak perlu merasa sungkan. Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri sejak 9 tahun yang lalu. Bukankah kita ini keluarga? Atau hanya aku yang menganggapnya begitu?"
Rayan segera menyangkal pernyataan itu, pada akhirnya ia pun menerima uang itu dan langsung pergi menuju toko buku. Mencari dan memilah-milah banyaknya buku yang ada di sana, Rayan melakukan aktivitas itu dengan bahagia, terlihat dari wajahnya yang berseri-seri.
Pada saat itu, Rayan menemui sebuah buku unik dan itu memicu rasa penasarannya.
Tapi karna jarak yang terlalu tinggi, ia tak bisa menggapai buku itu meski hanya tinggal beberapa senti lagi.
__ADS_1
Niat hati ia ingin menggunakan kekuatan anginnya untuk menjatuhkan buku itu, kebetulan juga toko bukunya tak begitu ramai.
Tapi belum sempat ia menggunakan kekuatannya, ada sosok tangan yang sudah mengambil buku itu.