Alien Expulsion

Alien Expulsion
Pengusir Alien: Portal penghubung ke dimensi ini


__ADS_3

Dunia ini sudah bukan lagi dunia yang sama, karena tidak hanya ada manusia saja, di bumi tempatku berpijak terdapat alien yang memiliki motif yang masih misterius.


Entah apa yang akan terjadi pada duniaku nanti...


~


"....." Aku terbangun, setelah tertidur lelap karena pikiran yang menumpuk di kepalaku.


"Ah dimana aku... Kamarku ya?"


Tok... Tok... Tok...


"Hakuin boleh aku masuk...?" Suara Leona muncul dibalik pintu kamarku.


"Ah Leona ya? Silahkan pintu tidak dikunci kok!"


Greekk...


Pintu terbuka dan aku melihat pemandangan yang bagiku langka, Leona memakai pakaian biasa dengan motif bergambar Beruang Grizzly, rok setinggi lutut dengan model kekinian, ditambah stoking hitam yang membuat pikiranku seketika terbang hingga ke langit.


Aku bersumpah baru kali ini, aku melihat penampilanya yang sangat beda.


"...Agh-ka-ka-kau ini apa Leona?!" Aku bahkan sampai mimisan, dan ambruk lagi di kasur.


Leona menatapku seperti serangga, lalu ia mengatakan kata yang menusuk hatiku.


"Orang mesum meledak saja!" Makinya dengan wajah yang mengerikan untuk dilihat.


"Ah... Itu sangat kejam Leona," Bahkan aku sampai sesedih ini, memangnya aku ini lemah?


"Hah... Ada yang ingin kubicarakan padamu," Leona menghampiriku dan duduk di kasurku.


Apa yang akan ia bicarakan padaku? Batinku setengah malu.


Dia dekat banget dariku, dan juga harum sekali berada di dekatnya, dan--dan baru kali ini, aku melihat telinganya yang dibiarkan agar tidak tertutup rambut peraknya.


Halus sekali kelihatanya jika itu disentuh, karena pahanya putih banget dan sepertinya mulus, kelihatanya nyaman untuk dijadikan bantal. Batinku yang semakin menjadi-jadi.


Dan juga aku suka dengan stoking hitam miliknya, gawat-gawat aku tidak boleh berpikiran kotor...! Aku bahkan sampai menggelengakan kepala sebanyak 3 kali dengan cepat.


"Kau tidak apa kan?" Ucapnya dengan wajah yang cantik.


"Ah ya, baik-baik saja kok hehe..."


"Tentang kemarin, kau sendiri bilang kan kalau kau akan menceritakanya padaku. Apa itu, aku hanya ingin tahu... Dan bu-bukan berarti aku akan menjawab sekarang..."


Hah?! Oi... Oi... Ini serius, baru kali ini aku melihat Leona semanis ini.


Eh tunggu, jawab apa maksudnya jawab? Batinku sambil melipat tangan.


"Bisa kau mengatakanya sekarang?"


"Ah ya, hmm! Tentang kemarin, dimana aku melihat sesosok alien setengah manusia. Kalau tidak salah lihat, ia membawa buku aneh yang sepertinya sudah kuno..."


"Jadi tentang alien toh, kirain itu anu..."


"Anu, kirain apa? Jadi kau mengira aku ini akan berbicara hal lain...?"


Mendengar kata itu, Leona menggelengkan kepalanya dengan cepat sebanyak 3 kali, sama seperti yang kulakukan tadi, sial dia benar-benar imut.


"Ja-jadi teruskan saja, akan aku dengarkan!" Ucapnya dengan menundukkan kepalanya karena malu dengan sikapnya.


Aku bahkan jadi tidak fokus dan mengulangi kataku.


"Tentang kemarin, dimana aku-"


"Kau mengulanginya bodoh! Tadi kau sudah sampai ke buku kuno!"


"Oh benar juga haha..." Aku lalu meneruskan ceritaku pada Leona, dengan menutup mataku.


"Buku kuno yang ia bawa itu membuatku bertanya-tanya hingga sekarang, aku terus berpikir jika buku kuno itu didalamnya terdapat jawaban tentang alien-alien lain..."


"Alien yang membawa buku kuno ya...? Aku tidak tahu ini, jadi aku akan membicarakanya dengan profesor," Leona kemudian berdiri, aku menangkap tangan nya karena aku masih belum selesai bicara.


"Ha-Hakuin apa yang kau lakukan...?"


Aku membelokan wajahku, dan tidak menatap Leona.


"Ini memang memalukan, tapi aku belum selesai berbicara..."


"Ah begitu ya,"


Aku membuka mulut dan ingin berbicara lagi, tapi ada getaran aneh yang kurasakan. Seperti gempa bumi, bahkan Leona juga merasakanya, kami berdua terombang-ambing seperti ombak.


"A--apa yang sebenarnya terjadi!"


Aku dengan reflek menarik tangan Leona, sehingga ia terjatuh di atasku.


Jangan berpikir yang aneh-aneh, masih ada keanehan yang jauh lebih aneh dibanding ini. Batinku dengan wajah setengah malu.


"Getaran...apa ini?"


Karena getaranya cukup kuat, aku mengambil langkah untuk merangkul Leona sambil berbaring.


"Hei ap--apa yang kau lakukan mesum...!"


"Mau bagaimana lagi, getaranya cukup kuat kau tahu...?"


"Kali ini kau akan kubiarkan seenaknya..." Walau begitu sebenarnya dia ingin melepaskan tanganku yang sudah merangkulnya.

__ADS_1


"Jangan bergerak Leona! anumu itu menyenggol wajahku... Hmph aku tidak bisa bernafas kalau--begini."


"Hiekk, ahh... Geli bodoh!"


"Kau yang harusnya menyingkirkan ini!"


Usai gempa bumi akhirnya berakhir, suara alarm panggilan darurat menggema di telinga kami.


Wuengg... Wuengg...!!


"Apa yang terjadi...?"


Leona mengangkat kepalanya.


"Ini adalah suara alarm panggilan darurat, apa yang sebenarnya sudah terjadi?!"


Panggilan darurat ya? Sial getaran gempa bumi itu apa tadi...? Padahal lagi enaknya, ah lupakan, itu tadi benar-benar kenyal. Bodoh lupakan Hakuin mesum! Aku bahkan sampai memukul wajahku sendiri dengan keras.


"Hiee, kau ini apa-apaan!?"


"Lebih baik aku memukul sendiri, dibanding terpukul olehmu..."


"Hah!? Oh maksudmu tentang kejadian tadi ya... Hei Hakuin, tentang itu kau mau tangan kanan atau kiri." Leona bahkan sudah meremas tanganya, mengerikan wajahnya seperti seorang yang ingin balas dendam...!


"Kiri, aku mau kiri!!"


"Bagus, kalau begitu ku kirim kau ke ruang medis-" Ia mendaratkan pukulanya ke wajahku, nyaris saja itu mengenainya beruntung cuma udara saja yang kurasakan, karena hempasan dari pukulanya itu sangat cepat.


Hologram menyala di jam tangan yang dibawa Leona, akhirnya aku dapat bernafas lega, karena lolos dari hukumanya.


Pip...


"Leona kau ada dimana?!"


"Adurf! Ah itu... Aku ada di kamar Hakuin..."


"Hah...? Oh begitu ya, panggil Hakuin juga dan cepat datang ke ruang pertemuan!"


"Baik siap laksanakan!"


Pip...


"Kita pergi sekarang Hakuin!"


"Ba-baik..."


Leona berdiri sambil memperbaiki rambutnya yang acakan.


"Oh ya tentang tadi, lupakan saja. Jika kau mengungkitnya di lain waktu kupastikan akan kudaratkan tangan kananku ke wajahmu..." Senyumnya seperti Yandere njerr!!!


"Ah ya-ya akan kulupakan, tapi tadi kenyal sekali-"


"Hmm!!" Leona mendaratkan tangan kirinya ke perutku yang malang.


"Sudah paham Hakuin?"


"Yaa--paham kok, tapi bantu aku berdiri, Le-o-na..."


"Ah apa boleh buat, kita harus datang ke ruang pertemuan dengan cepat...!"


Leona menarik lenganku, dan aku pun berdiri sambil masih memegangi perutku yang kesakitan.


"Kita akan naik lift, jaga perutmu agar tidak lebih sakit nantinya..."


"Woi kau ini iblis hah! Sial getaran saat kita naik di lift nanti, akan membuat perutku jadi lebih sakit lagi nantinya!!"


"Hukumanmu!"


Ah mengerikan, aku tidak mau menjadikanya sebagai istri...!!!


Leona kali ini berlari sambil memegangi tanganku, aku kesakitan dibuatnya karena perutku seperti rasanya tertusuk oleh sesuatu.


"Aduh perutku..."


"Jangan merengek pria lemah!"


"Lemah your head! Lu yang bikin gue jadi kek gini sialan!"


"Hah, kenapa kau pakai bahasa tidak sopan kepadaku!"


Leona kelihatanya marah, ia memegangi tanganku dengan genggaman gorilanya yang kuat nan mengerikan.


"A--adu--duh sakit bodoh. Woi kau ini iblis hah?! Kau menggenggamku sangat kuat!"


Tapi Leona tidak menggubrisnya, aku pun mengikutinya sambil menahan penderitaanku ini.


Sebenarnya ada apa dengan dia? Batinku sambil menahan sakit, karena genggaman tangan Leona yang kuat ini, bahkan aku masih memegangi perutku.


Ruang pertemuan ada di lantai 5 sehingga kami harus naik lift dahulu untuk sampai ke sana.


Berbicara soal itu, gedung berkedok rumah ini memiliki banyak sekali lantai-lantai, seperti misalnya kamar khusus pilot yang dilengkapi fasilitas terjaga.


Lantai 1 ialah mesin yang menjalankan Invisible House ini. Lantai 2 ialah ruang hampa yang entah apa isinya. Lantai 3 ialah kamar khusus pilot. Lantai 4 kamar khusus peninggi seperti Jenderal Inori maupun Leona. Lantai 5 ialah ruang pertemuan. Lantai 6 untuk arena latihan. Lantai 7 ruang kebebasan dimana ada game disini. Lantai 8 adalah arena pertarungan, Lantai 9 ruang pengobatan, dan lantai 10 serta teratas ialah ruang yang dipenuhi Mecha.


Benar-benar serba aneh sekali...


Dan keanehan ini membuatku semakin curiga, pasalnya gedung aneh ini tingginya mencapai langit bahkan menembus awan.


Serta dapat bergerak seperti layaknya kendaraan, tapi orang yang dilaluinya akan tertembus. Ada yang aneh bukan, apa yang akan terjadi nantinya ya...?

__ADS_1


"Hakuin kau melamun?" Leona menyadarkanku, aku terperangah lalu menolak dengan tanganku.


"Tidak-tidak, hanya saja aku terus kepikiran dengan duniaku yang serba aneh ini... Dan juga kau ini apa-apaan tadi!?"


" Maaf-maaf, wajar kan aku marah, dan juga bukankah kita hidup di zaman yang sudah sangat maju, bahkan sekarang ini tahun duaribu sembilanpuluh. Kau seharusnya mengerti kan...?"


"...Entahlah, hanya saja ini membuatku merasa aneh..."


Leona hanya tersenyum kecil.


Kami akhirnya sampai ke ruang pertemuan, sudah ramai orang yang berkumpul disini.. termasuk para peninggi serta para pilot.


"Akhirnya kau tiba juga Nona Leona," Ucap Adurf, orang yang menjadi asisten kepercayaan Jenderal.


"Ya Adurf, sesuai yang kau suruh."


"Dan kenapa dengan orang yang kaubawa itu, dia seperti lilin yang mau habis saja..."


"Ah Hakuin ya!" Seru Masashi.


Jenderal Inori, adalah peninggi yang masih kuanggap misterius. Karena dia ini manusia ataukah alien yang menyamar?


Jenderal Inori bangun dari kursinya, lalu menggeser mejanya dan menyalakan rokoknya.


"Baiklah semuanya telah berkumpul, dan kau juga pilot baru... Perkenalkan namamu sekarang!"


"Bentar biarkan aku beristirahat lima menit dulu, perutku sakit sekali karena dipukul oleh Nona Leona..."


"Arghhh!! Oi Hakuin bodoh segera perkenalkan dirimu ke Jenderal ya..." Dia mencubit pantatku!


"Aghh, ba-baik Jenderal. Tapi sebelum itu, anu Leona ku yang cantik dan manis bisa kau lepaskan tangan nakalmu ini dari pantatku?"


"Leona--ku?" Aku tidak menyadarinya tapi sepertinya aku sudah salah bicara. Bahkan Leona berwajah merah sampai-sampai semakin mencubit dengan kuat.


"SAKITTTT ANJERRRR!!!!"


~


Setelah 15 detik dicubit olehnya, aku akhirnya dapat bebas dari penderitaanya.


"Hakuin aku tidak menyangka kau ini seorang masokis?" Ucap Profesor Tatsuya.


"Masokis apaan anjer, lu itu yang masokis profesor sampah!"


"Hah kamu bilang apa tadi, sampah...?!"


Ngeri coy, matanya seperti bicara 'Aku akan membunuhmu!'


Sepertinya aku menggali kuburanku sendiri.


"Ah kukira kau ini teman sehat Hakuin..." Ucap Rtysar sambil menjauh dariku.


"Ya pasti setiap orang punya sifat berbeda bukan?" Masashi kurasa kita ini sahabat.


"Tch, dasar bodoh!" Orang ini punya masalah apa kepadaku...! Aku merasa kalau Ryota membenciku...


"Jangan buang-buang waktu nak! Ini bukan lawakan komedi kau tahu?!"


"Baik-baik Jenderal, ehem-ehem. Nama Gleen Hakuin... Aku berasal dari Prefektur Tokyo, Jepang. Tolong bantuanya untuk sekarang dan seterusnya..."


"Gleen--Hakuin?" Kata Jenderal Inori.


"Ya?"


"Ternyata kau tidak berbohong Tatsuya, nama anak ini memang Gleen--Hakuin,"


Jenderal ini bodoh kah?


"Sudah kubilang bukan, lagipula apa aku sering berbohong?" Kata Profesor Tatsuya dengan tersenyum lebar.


Ada apa dengan namaku? Ah benar juga, aku ini blasteran Jerman-Jepang, jadi Gleen merupakan nama yang diberikan oleh ayahku karena dia orang Jerman.


Jenderal Inori berdehem, lalu melupakan membahas namaku.


"Alasan kenapa kalian kukumpulkan kemari adalah, membahas bahaya yang telah terjadi di dekat sini! Adurf perlihatkan gambarnya!"


"Baik laksanakan perintah!"


Adurf membuka komputernya, lalu menyalakan gambaran hologram, dan memperlihatkan portal yang entah darimana muncul dibawah rumah pesawat ini.


"Portal?!" Sepintas semua orang terkejut, bahkan diriku juga.


"Portal apa itu, dan kenapa sangat mencurigakan...?" Bahkan Rtysar juga berkata begitu.


"Oii... Oii kenapa firasatku jadi tidak enak?" Ucap Akihiro Masashi.


Jenderal Inori berdiri sambil menghisap rokoknya, lalu mengeluarkan asap rokoknya dengan mendongakkan kepala ke atas.


"Itu semua adalah portal penghubung ke dimensi bumi, yang melakukan ini tidak lain dan tidak bukan. Tentu saja adalah alien!"


Portal yang menghubungkan ke dunia ini yang dilakukan oleh para alien. Berarti ada kemungkinan aku dapat mengetahui siapa itu alien setengah manusia...?


Sepertinya aku mulai bersemangat sekarang.


~


Portal telah muncul, dan rombongan alien akan hadir? Akankah waktunya bertarung...?


Akhirnya Arc pertama telah selesai, dan saatnya untuk memulai Arc baru!!

__ADS_1


Bersambung di Arc selanjutnya...


Arc 2. Serangan kepada alien


__ADS_2