
ciittt,,sretttt,,set,,
terdengar suara rem motor yang dipaksa berhenti karena baru saja menabrak seekor kucing yang melintas di jalan,
"eh gas kamu kalau bawa motor yang bener dong, maen rem aja, kaget aku tau" sewot Kelvin yang merasakan sakit kepala nya karena terantuk dengan helm Bagas dan mengusapnya berulang ulang.
"aish,,diem kamu,,berisik tau, noh lihat tu kucing habis kelindes motor aku" kesal Bagas sambil menarik bibir Kelvin yang cerewet.
"ck,,ck,, mana !!! ga ada kok kucing nya" kesal Kelvin karena mulutnya ditarik Bagas.
Tak lama terdengar suara isakan tangis anak kecil,
"hiks,,hiks,,hiks,, mama,," Isak tangis gadis kecil sambil memeluk kucing yang sedang terluka karena tertabrak motor.
mendengar suara tangisan, mereka kompak melihat arah sumber suara,
"kan, apa aku bilang, tu kucingnya lagi di peluk sama yang punya."
"ya Uda, ayo gas kita samperin, sekalian kita lihat kucingnya".
Bagas kembali menghidupkan mesin motornya, dan berjalan pelan menuju rumah anak kecil yang sedang menangis memeluk kucingnya.
Bagas turun dari motor, di ikuti Kelvin yang juga ikut turun menghampiri anak kecil yang sedang menangis.
"dek,,kucing nya ga apa-apa kan," tanya Bagas hati-hati.
bukannya menjawab, gadis kecil itu malah semakin menangis,
"huhuhu,,,huahhh,, mama ,," teriaknya kencang.
melihat gadis kecil yang semakin menangis kencang, Bagas dan Kelvin semakin bingung.
"waduh,, gimana ne gas, makin nangis anaknya" bingung Kelvin.
__ADS_1
"gimana dong, aku juga bingung,"
"cobe deh kamu rayu, siapa tau diem tu anak" bujuk Bagas.
"kok aku sih, kan kamu yang cakep ketimbang aku," elak Kelvin.
"ck,,apa hubungannya coba, cakep sama diemin anak"
"ya ada dong gas, biasanya para ciwi-ciwi akan terpesona sama kecakepan kamu,"
"ck,,apaan sih,,tu masih bocah dodol" kesal bagas
"hhhh,,iya juga ya,"
"hadeh,,bego kamu" menjitak kepala Kelvin karena kesal
karena sibuk berdebat, mereka tak menyadari jika mama si anak sudah datang menghampiri dan menenangkan gadis kecil itu.
"sayang,,anak mama kenapa menangis" menghapus air matanya dan memeluknya dengan sayang.
"sut,,sut,,cup,,cup,,cup,,
"emang kucing nya kenapa sayang"
"kucing nya belom mati kok dek, tu lihat masih bisa jalan kan" menunjuk kearah kucing yang berjalan terseok-seok.
sejenak memperhatikan kucing yang berjalan tidak normal, apakah ada sesuatu terjadi, hingga kucingnya berjalan terseok-seok.
pandangan nya beradu kepada dua orang remaja putra yang juga tengah memandang nya.
Bagas yang merasa bersalah, langsung mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
"maaf Tante, tadi tidak sengaja motor saya yang menabrak kucing itu".
__ADS_1
"OOO jadi kamu yang nabrak kucing Hira,"
"iya Tante, maaf saya tidak sengaja"
"apa saya harus menggantinya Tante?"
"seperti nya tidak perlu, kucingnya juga ga apa apa kok"
"makasih Tante" menyalami dengan takjim punggung tangan ibu Hira.
"enak aja, harus ganti dong, itukan kucing kesayangan Hira" jawab tiba-tiba seseorang yang baru muncul di antara percakapan mereka.
"apa sih dek, ga apa apa kok kucingnya" elak ibunya Hira kepada seseorang yang baru datang.
"ga bisa gitu dong kak, sekarang aja kelihatan baik-baik saja, besok atau lusa gimana"
"kalau mati, terus siapa yang mau tanggung jawab." ketus nya lagi.
"ayolah RIS,,kucing nya juga ga apa apa kok",
"kak Melan terlalu baik jadi orang,
"pokoknya kamu harus tanggung jawab kalau sampai kucingnya Hira mati" tunjuknya pada Bagas dan Kelvin.
"i,,iya Tante, saya pasti tanggung jawab ko" jawab Bagas cepat.
Riska lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka dan kembali masuk sambil menggendong Hira yang masih sesenggukan.
" maafin adek Tante ya, omongannya jangan diambil hati" Melan meminta maaf mewakili adiknya Riska.
"iya Tante,,saya akan tanggung jawab kok kalau kucing nya nanti mati"
"ya sudah, kalau gitu saya tinggal dulu ya" pamit Melani kepada dua orang remaja dan meninggalkan nya untuk masuk kedalam,
__ADS_1
Bagas kembali menghidupkan mesin motornya, dan melanjutkan perjalanan nya pulang kerumah