
Dimulai hari ini, Bagas menerima uang jajan yang sudah terpotong, tapi tak membuatnya sedih, sudah menjadi tekad nya untuk segera mengganti kucing Hira, gadis kecil yang selalu menari-nari di pikiran nya,
"nda, adek hari ini bawa bekal ya?"
"bunda tolong siapin ya, adek ga sempet lagi kalau harus mengisi bekal sama minum, adek hampir telat nda" pinta nya pada bunda yang terburu-buru karena hampir terlambat berangkat sekolah.
"udah bunda siapin kok dek, tu ada di atas motor adek" jawab bunda lembut.
"beneran bunda, makasih bunda, adek berangkat sekolah dulu ya" pamitnya pada bunda setelah selesai memakai sepatu, tak lupa Salim tangan dan juga mencium pipi bunda dengan sayang.
"iya, hati-hati kalau bawa motor ya dek," pesan Yanti pada putra nya.
"ya bunda, adek berangkat dulu".
Tin,, bunyi klakson motor Bagas meninggalkan halaman rumahnya menuju sekolah, hari ini adalah untuk pertama kalinya Bagas membawa bekal dan juga minum kesekolah.
sampai di rumah Hira, Bagas sengaja mengurangi laju motornya, berharap melihat Hira bermain di depan teras rumah nya, tapi sayang rumah Hira sudah sepi, tidak ada tanda-tanda penghuni rumah, tampak nya Hira dan ibu nya tidak ada dirumah,
Sedikit kecewa, Bagas kembali melajukan motornya menuju sekolah.
tak berselang lama, Bagas sudah sampai di sekolah, dan disambut oleh Kelvin sahabat sekaligus rivalnya di lapangan.
"gas, tumben kamu agak siang datang nya" celetuk Kelvin sambil meninju pelan lengan Bagas.
__ADS_1
"iya tadi aga kesiangan bangun nya",
"tumben seorang Bagas bisa kesiangan, biasanya juga paling pagi datang nya",
"bawel kamu,,Uda ah aku mau masuk" turun dari motor dan langsung berjalan menuju kelas nya,
"Woii,,Bagas tunggu Napa?"
"tega kamu ninggalin aku yang Uda dari tadi setia nungguin kamu" ucapnya mendramatisir.
"ogah" ketus bagas yang tetap terus berjalan meninggalkan Kelvin yang ngedumel ga jelas.
"gini amat ya, punya sahabat,ga ada setia-setia kawannya"
Bagas seolah menebalkan telinga nya tidak ambil pusing dengan apa yang di ucapkan Kelvin, sudah menjadi hal biasa bagi nya berteman dengan Kelvin yang sudah sejak lama, dari sekolah dasar, mereka sudah berteman hingga SMA,
Bagas hanya memutar bola matanya malas, sebenarnya Bagas merasa risih dan tidak nyaman setiap kali celin berusaha mendekati nya, namun terkadang rasa kasihan membuatnya untuk tidak mempermalukan celin didepan banyak orang,
Tapi sepertinya celin tidak pernah mengindahkan peringatan yang diberikan oleh Bagas, malah semakin menjadi-jadi,
"gas,,tungguin dong?" suara nya yang dibuat semanja mungkin,
"apa sih cek, berisik tau" ketus Bagas.
__ADS_1
"kok gitu sih gas,"
"Uda lah cel, ga usah sok manja gitu, aku dengernya geli tau,,hiii?" sarkasnya sambil mengedikan kedua bahu nya.dan berlalu meninggalkan Celina yang terus memanggil manja padanya.
Kelvin yang mendengar suara celin, hanya tertawa ngakak, pasalnya celin sudah mengejar Bagas 2th lamanya, tapi tidak pernah berhasil,
"apa loh ketawa,,puas kamu ngetawain aku," jutek nya
"Woii,,celin,,jadi cewek itu harus mahal dan berkelas,,jangan murah gitu dong,,sayangkan wajah cantik tapi murah" sarkas Kelvin.
"berisik kamu, bilang aja kamu cemburu kan karena aku suka nya sama Bagas, bukan sama kamu"
"lah,,sok ngartis,,pede banget kamu,,"
"selera kami itu bukan yang kecentilan kayak kamu, tapi,,,,"
"tapi apa???"
"hahaha,, penasaran dia"
"celin celin,,aku aja suka nya yang kayak Arum, udah cantik, Soleha, baik lagi,,apa lagi Bagas,,,wihhh kayaknya kami lagi bersaing nih buat dapetin Arum,,kamu minggir dulu ya" ejek Kelvin yang sengaja memanasi celin.
"Kelvin,,!!!!" teriak celin,
__ADS_1
"awas kamu ya Vin" kesel celin.
Kelvin berlari menjauh dari celin, puas rasanya sudah membuat celin kebakaran jenggot.