ANANTA

ANANTA
BAB 10.


__ADS_3

''Aduh, saya teh gak percaya pas mereka bilang teteh galak kek macan! Auuu..!Auuuu...!ternyata benar euy''.Kata Ananta sambil memegangi pantat serta pinggangnya yang ke sakitan.


~Bel masuk pun berbunyi~


/Di mulainya mapel pertama/


''Disini kita akan mempelajari dua jenis musik dan yang pertama musik tradisional dan emosional''.Kata Bu Rena.


''Maaf ya Th, saya jadi duduk disini! saya teh udah keliling ternyata cuman meja Th tatan aja yang kosong ehh...!kalau saya paksa duduk bertiga ntar di sangka naik bajay Th''.Kata Ananta.


Dan Tania langsung membuka tutup sepidolnya dan langsung mengarisi meja sebagai pembatasannya, sedangkan Ananta hanya melihatnya.


''Jangan sampai lewat''.Kata Tania.


''Alhamdulillah, terima kasih Th tatan, eh iya kan kita belum kenalan euhh...!saya Ananta Prahadi boleh juga di panggil Anta''.Kata Ananta sambil sambil menyodorkan tangannya agar berjabat tangan tetapi tidak di sambut oleh Tania.


Ananta yang tangannya tidak disambut mengundurkannya lagi dan sedikit mengerakkan kursi duduknya, karena takut melebihi batas mejanya dengan Tania.


''Dengerin yah, gue gak mau lo panggil teteh, jangan panggil gue tatan, jangan banyak omong dan jangan ngobrol sama gue''.Kata Tania yang mulai kesal.


''Tapi Th''.Kata Ananta terhenti.


''Diam''.Kata Tania yang mengebrak mejanya.

__ADS_1


Ananta pun terperanjat kaget dan langsung berdiri untuk mencairkan suasana di kelas yang mulai tegang ulah Tania dan dirinya.


''Diam, tak ada gerak terbuat, sunyi senyap, tak ada kata terucap, semua mematung, semua diam bersiap mendengar sabda seni budaya, sebuah puisi kami sembahkan karya Ananta dan Tania untuk Ibunda guru''.Kata Ananta dengan keudikannya.


''Wowww, itu sungguh luar biasa, berikan tepuk tangan dong buat Ananta''.Kata Bu Rena.


Prokkk prokk prokk


terdengar suara tepuk tangan dari semua yang ada di kelas.


''Itu baru keren''.Kata Bu Rena.


~Jam istirahat sekolah~


''Mau makan bareng gak Th''.Kata Ananta sambil menaruh rantang bekalannya di atas meja kantin sambil membukanya.


Tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari Tania karena ia sibuk dengan mengambarnya.


''Saya teh pindahan sekolah dari subang karena ingin mencari pengalaman baru yang lebih menantang di Ibu Kota''.Kata Ananta panjang lebar.


''Siapa''.Kata Tania yang akhirnya buka bicara.


''Saya Th Ananta''.Kata Ananta tersenyum.

__ADS_1


''Yang nanya''.Kata Tania tanpa bersalah.


''Saya mau cerita, teteh dengerin aja, gak usah komen juga gak papa euhh...!jadi saya disini ngekos Th biar ngirit, nah masak juga masak sendiri''.Kata Ananta tanpa henti.


''Th tatan mau cobain gak''.Kata Ananta menawarkan lagi.


''Kenapa sih''.Kata Tania.


''Karena dapat pahala ketika kita membagi rejeki Th''.Kata Ananta.


''Kenapa orang kayak lo tiba-tiba ada di hidup gue''.Kata Tania.


''Jodoh Th, saya teh percaya tidak ada pertemuan tanpa sebab, nah kita itu di pertemukan karena ikatan jodoh yang kuat''.Kata Ananta sambil menata makannya di atas meja kantin.


Ananta menoleh saat melihat Tania berangjak dari duduknya.


''Teteh mau kemana, ini kangkungnya belum di cobain Th, ada ikan asin euh..!paling enak di makan sama nasi kerak.


Sesaat jalan Tania pun terhenti saat Ananta menyebut kan menu-menu makanan yang ia bekal.


''Apa lo bilang''.Kata Tania.


''Euhh...!teteh mau kemana ada ikan asin...!!''.Kata Ananta terhenti.

__ADS_1


__ADS_2