ANNEALL

ANNEALL
Chapter 1 Bangkit Kembali


__ADS_3

Langkah-langkah kaki yang menginjak bebatuan kecil menimbulkan suara gemeretak yang cukup nyaring. Terhitung sudah satu jam lebih mereka menelisik area dalam goa untuk mencari hewan itu, dan jauh di bawah tanah kini mereka berada. Membuat mereka lebih berhati-hati untuk melangkah. Mengendap-endap seperti pencuri agar tak membangunkan sang naga yang tertidur pulas di bawah mantra sihir selama beratus-ratus tahun lamanya.


"Yang Mulia, kita menemukannya." Ujar salah satu prajurit memperhatikan satu celah besar berada di sisi kiri mereka.


Lantas mereka semua berbalik mengikuti arah pandang sang pengawal.


"Apa itu Phyleria? Sang naga hijau dalam legenda?" Seorang wanita bertanya penuh kekaguman tatkala ia melihat seekor naga besar tengah memejamkan matanya.


Keempat orang itu memakai jubah serba hitam dan semuanya menutup wajahnya dengan tudung jubah yang mereka pakai.


"Tak perlu bertanya lagi, cepat jalankan tugasmu! Aku sudah tidak sabar." Kali ini, pemimpin mereka yang membuka suara berkata seraya menyunggingkan senyum liciknya.


Naga itu berwarna hijau tua kehitaman dan memiliki dua tanduk panjang di kepalanya. Kukunya tajam, ekornya panjang dan memiliki sisik-sisik yang sama seperti tanduk di bagian atas kepalanya, runcing dan tajam berbaris rapi dari punggung hingga ekornya. Sisiknya yang didominasi warna keemasan pada setiap ujung sisik, membuatnya nampak seperti garis pembatas antara satu sisik dengan sisik lain. Selain itu, warna keemasan yang terdapat pada setiap sisiknya menyala-nyala bahkan setiap tanduk yang dimiliki oleh sang naga juga memiliki warna keemasan yang sama. Hal ini membuat naga itu terlihat hampir sama seperti yang diceritakan dikebanyakan buku bersejarah sampai dari mulut ke mulut.


Namun yang dideskripsikan di dalam buku tidaklah semuanya sama persis seperti yang mereka lihat sekarang, mungkin sebagian benar. Konon, naga itu memiliki sebuah permata kehidupan yang terletak di depan dadanya. Diceritakan bahwa permata itu bisa membuat seseorang yang memilikinya mempunyai kemampuan yang luar biasa. Bukan hanya itu, diceritakan bahwa darah sang naga hijau bisa membuat hidup abadi bahkan bangkit berkali-kali dari kematian. Tak ayal para kesatria bahkan raja-raja di seluruh negeri Utopia berlomba-lomba mencari keberadaan naga tersebut untuk sekedar membunuhnya dan meminum darah serta mengambil permata tersebut.


Tetapi tidak dijelaskan di dalam buku mengenai dimana keberadaan naga itu dikurung. Ya. Naga itu dikurung oleh seorang kesatria hebat yang berhasil menaklukannya di masa lampau. Amor Hawkes, Seorang kesatria terhormat sekaligus putra kedua dari seorang raja di kerajaan Lovasea, salah satu kerajaan besar di negeri Utopia. Kala itu Pangeran Amor memerintahkan seorang penyihir kepercayaannya untuk menidurkan sang naga menggunakan sebuah mantra sebelum sang pangeran menghembuskan nafas terakhirnya. Karena setelah menghunuskan pedangnya ke kepala naga ia malah terhempas dan tubuhnya tercabik-cabik akibat cakaran naga hijau yang begitu parah.


Dahulu kala, sebelum Pangeran Amor menaklukannya naga itu pernah membunuh salah seorang raja di Utopia yang membuatnya diserbu oleh banyak pasukan prajurit kerajaan hingga kesatria. Kejadian itu membuat sang naga terkepung, tetapi tidak sedikit pula prajurit yang gugur karena terkena semburan api. Hingga saat naga sedang lengah, Amor naik ke atas kepala sang naga. Kesatria itu menebas salah satu tanduknya serta menusuk bagian atas kepalanya hingga membuat naga tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Namun sayang, hal itu justru membuat sang kesatria terbunuh sebelum ia meminum darah naga. Tragedi itu telah terjadi beratus-ratus tahun lalu. Dan kini cerita itu hanya dianggap legenda yang kerap diceritakan oleh para orangtua sebagai cerita pengantar tidur pada anaknya.


Dan sampai sekarang belum ada satupun yang berhasil menemukan keberadaannya.


Namun tidak untuk saat ini, seseorang berhasil menemukannya. Ia berada jauh di bawah tanah, goa yang berada di pulau Eduardoreen. Pulau terasing bahkan terlarang yang ada di Utopia. Sebelumnya tak pernah ada orang yang menginjakan kakinya di tempat terkutuk itu setelah kesatria Amor Hawkes sang penakluk naga hijau dan seorang penyihir kepercayaannya.


Mereka berusaha berhati-hati untuk menghindari deru nafas sang naga yang mengeluarkan uap panas. Bersembunyi di balik batu dan mengendap-endap. Terlihat ada sebuah danau di bawah keberadaan naga tersebut, danau itu berwarna hijau muda dengan uap yang mengepul. Sepertinya air di sana cukup panas. Kini salah satu diantara mereka berusaha mendekati kepala naga untuk merapalkan sebuah mantra. Ia mengenakan jubah berwarna ungu dengan cindung yang menutupi kepala hingga wajahnya.


"Cepatlah! Kau membuang waktuku."


"Ini akan membutuhkan waktu, Yang Mulia." Perempuan itu mengibaskan jubahnya, "Hei kau! bisakah kau berjaga di sebelahku?! Mungkin naga ini akan menyerangku setelah ia bangkit dari tidurnya," sambungnya.


"Hah! Tak kusangka seorang penyihir sepertimu tak memiliki nyali yang cukup besar untuk menghadapi seekor naga," cengirnya melirik sang penyihir.


"Apa katamu? Asal kau tahu saja, aku hanya tidak ingin mati konyol di tempat seperti ini—"


"Benarkah? Kalau begitu matilah setelah kau selesai dengan semua tugasmu!"


"Kau...." Si Penyihir menggeram marah, ia menghentakkan tongkatnya dengan kepala tertunduk dan tangan mengepal keras. "Bagaimana kalau kau saja yang mati untuk kujadikan umpan? Kurasa itu akan lebih baik!"


"BISAKAH KALIAN DIAM?!! Kalian hanya membuang-buang waktuku yang sangat berharga ini hanya untuk perdebatan yang tidak penting!!" Hardik sang pemimpin pada kedua orang di depannya. "Kenapa diam saja? cepat jalankan tugas kalian atau aku akan menjadikan kalian berdua makanan penutup untuk para monster!"


"Itu lebih baik, huh?" Timpal salah seorang lelaki dari mereka yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.


"Diamlah, Aku tidak sedang berbicara denganmu!"


Keduanya menegang, si penyihir mendesis ke arah pria yang tadi berdebat dengannya. "Aku membiarkanku lolos kali ini!"

__ADS_1


Pemuda yang diminta berjaga di sebelah sang penyihir siap mengambil posisi, ia melirik sekilas ke arah Klaus yang tersenyum miring pada pria itu. Sial! Dia sangat menyebalkan.


Si perempuan merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, mengangkat tongkatnya. Tongkat itu memiliki tinggi yang hampir sama dengan si pemilik. Ular menjadi salah satu hal yang terbesit dikepala ketika melihat tongkatnya. Ya, tongkat itu berbentuk seperti ular bahkan ujung atas tongkatnya adalah kepala ular kobra dengan lidah terjulur serta bola mata yang berwarna merah.


"Yang Mulia, untuk berjaga-jaga sebaiknya anda tidak terlalu dekat dengan sang naga. Itu bisa membahayakan keselamatan anda." Ujar salah satu pengawal pribadinya.


"Tidak perlu, aku akan baik-baik saja. Sebaiknya kau bersiap!"


"Baik, Yang Mulia." Ucapnya seraya membungkukkan badan.


Penyihir itu menggerakkan mulutnya untuk merapalkan sebuah mantra untuk sang naga. Ketiga orang lelaki berbaju besi layaknya seorang prajurit serta mengenakan kain sebagai penutup wajah seperti masker tengah mengamankan penyihir untuk berjaga-jaga.


'Aldonure aresto atop tufy stupe zahal morakles yonawanda quigor iskay alhomram payroll septum afomes uhuway priasa. Jorenasectra!'


Mata ular di tongkat itu terlihat bersinar setelah mantra kebangkitan dikumandangkan dengan lirih.


Dengan sekali guncangan kasar, tongkat itu meluncurkan seberkas cahaya merah darah ke arah sang naga.


Dan tiba-tiba tanah serta langit-langit goa bergetar hebat layaknya guncangan gempa. Mantra pembangkit telah bekerja dan berhasil mematahkan mantra penidur. Sang naga tersentak keras hingga ekornya nyaris membentur dinding goa.


Naga itu meraung-raung tak karuan. Tanah berguncang hebat, langit-langit mulai menjatuhkan kerikilnya. Bebatuan di atas tanah bergetar dengan hebat. Naga itu mengamuk. Suaranya sangat memekakkan telinga.


"APA YANG KAU LAKUKAN? CEPAT PERGI DARI SANA!" Titahnya yang sedari tadi bersiap siaga berada disamping penyihir.


Ketika hendak menjauh melangkahkan kakinya, sang penyihir itu terkena kibasan ekor sang naga yang membuatnya terpental ke lorong goa tempatnya masuk. Ia mengerang kesakitan memegangi perutnya yang terkena kibasan menyakitkan itu.


Sang pemimpin memberi memberi aba-aba. Pria itu keluar dari balik batu diikuti oleh satu pengawal pribadinya dan menodongkan pedang pada sang naga. Satu orang lagi yang juga keluar dari tempatnya. Ia meninggalkan jubah berwarna hitam yang tertera sebuah simbol kerajaan Eunoia-Kepala singa di dekat sang naga. Prajurit tersebut juga tampak menancapkan sebuah pedang di tangan sang naga, yang dipegangannya tersemat sebuah zamrud mungil yang tampak jernih dan dikelilingi ukiran rumit yang tampak meliuk-liuk. Di sana juga tersemat kepala singa berwarna keemasan.


Sang naga meraung lebih keras dari sebelumnya. Ada sedikit darah mengucur yang keluar dari tubuh naga setelah terkena tusukan pedang, sang prajurit segera mengambil kesempatan tersebut. Ia mengambil sebuah wadah ramuan kecil serta tak lupa mengambil darah sang naga.


Saat hendak mengantongi darah yang ia ambil, hal yang tak terduga terjadi. Kaki besar naga itu melayang menuju prajurit yang menusuknya dan menghempaskannya menggunakan kuku tajamnya hingga membuat pria itu mengalami luka yang sangat parah. Darah naga yang ia pegang melayang dan membentur dinding goa membuat wadahnya pecah darah yang berada di dalamnya pun tercecer di dinding itu.


Si pemimpin dan salah satu pengawal pribadinya kuwalahan menghadapi naga. Pemuda itu menghindar kala api menyembur ke arahnya. Usahanya tak berhasil kala ia mendapati tubuh temannya-salah satu dari mereka-terkulai lemas setelah terkena cakaran naga hijau. Usahanya gagal, ia menyerah dan menolongnya yang kini mengerang kesakitan, ia membawa pemuda berusia 32 tahun tersebut pergi dari sana. Diikuti oleh sang penyihir serta pemimpin mereka.


"Kerja bagus! Mantranya bekerja."


"Mari Yang Mulia, tempat ini akan segera runtuh!" Pengawal pribadi sang pemimpin berujar sembari memapah-Temannya.


Mereka berempat meninggalkan goa dengan tergesa-gesa karena langit-langit yang mulai runtuh. Hingga saat berada di ujung pintu masuk goa, mereka melompat keluar dan terguling karena api yang ikut menyembur keluar.


"Argh!" Pekik Laverna kala perutnya membentur sebuah batu setelah ia berguling menghindar. Perempuan itu memuntahkan darah dari mulutnya.


Mereka berlindung di balik batu besar ketika Phyleria keluar dari persembunyiannya setelah beratus-ratus tahun terkurung di dalam sana dan tertidur untuk waktu yang sangat lama. Sang naga menatap lingkungan sekitarnya nanar mencari-cari seseorang yang telah mengusiknya.


Phyleria, sang naga. Setelah tidak menemukan sesuatu yang ia cari, naga itu terbang pergi berlalu ke arah selatan dengan membawa jubah yang dicengkeram di kaki besarnya serta pedang yang masih tertancap di tubuh bagian kakinya.

__ADS_1


"Mohon ampun Yang Mulia, da-darah yang saya ambil dari tubuh sang naga terhempas ke dinding se-hingga membuat wadahnya pecah."


"Jadi? Kau gagal?" Wajahnya datar menatap prajurit yang terkena cakaran sang naga terbaring dengan luka parah.


"Ma-maafkan saya, Ya-yang Mulia--" Nafasnya tercekat. Luka yang terlalu parah membuatnya sekarat seperti sekarang. Ia memejamkan matanya setelah mengucapkan kata 'maaf'. Ia mati.


"Apa dia mati?"


"S-sepertinya begitu Yang Mulia. Lukanya terlalu parah."


"Terima kasih karena kau telah mengabdi padaku, Rodhes."


"Sayang sekali. Aku bahkan belum sempat memberimu pelajaran untuk yang terakhir kalinya." Kali ini Laverna yang bersuara, menolehkan kepalanya pada mayat berlumuran darah yang tergeletak di atas tanah.


"Tapi bagaimana dengan darah sang naga, Yang Mulia?"


"Lupakan, tak ada lagi yang bisa kita lakukan. Lagi pula, aku tidak sia-sia telah membebaskannya, tentunya dengan kemampuan yang dimiliki penyihirku. Tunggu pembalasanku Badrika. Kau akan menerima akibatnya!" Ia menyeringai.


"Baiklah! Tapi bisakah kita menguburnya terlebih dulu sebelum pergi meninggalkan tempat ini?"


"Tak ada perlakuan khusus untuk prajurit yang mati di medan perang."


"Tapi bagaimana jika hal serupa terjadi padamu disaat-saat seperti ini? Apa kau juga mau diperlakukan seperti ini dan ditinggalkan kemudian membusuk secara perlahan atau dimakan hewan buas?" Cecarnya yang tak terima sahabatnya diperlakukan seperti sampah setelah ia berkorban untuk melakukan kemauan sang tyran. Ya. Benar sekali, pemimpin dari mereka itu ialah tyran ia bahkan tak segan-segan menebas kepala seseorang jika orang itu tak menyenangkan hatinya.


"Aku tahu dia sahabatmu, tapi apakah kau sedang mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu itu?"


"Tapi Ya—"


"Cukup! Perintahku adalah mutlak. Kau telah membuang waktuku. Biarkan dia atau aku akan menebas kepalamu sebagai gantinya!"


Dengan wajah muram, pengawalnya terpaksa menuruti perintah rajanya. Ia benar-benar kalut oleh sikap pemimpinnya. Benar-benar seorang tyran yang tak tahu belas kasihan.


'Bedebah!' umpatnya dalam hati.


Kedua pengawalnya menghampiri, mereka menatap kepergian sang naga. Si penyihir memegangi perutnya yang terasa nyeri.


Sang pemimpin berbalik menatap ketiganya. "Mari berjanji untuk tidak membuka mulut tentang hal ini. Jika tidak, maka aku akan menebas leher kalian!"


Meski sudah terbiasa akan sikapnya yang terkenal dingin, tetap saja ancaman itu membuat bulu kuduk merinding mendengarnya. mereka tahu bahwa tyran dihadapannya bukanlah sosok lemah lembut melainkan pria berdarah dingin yang kejam.


"Kami berjanji, Yang Mulia." Jawab mereka serempak.


...◌⑅⃝●⋆☆⋆●⑅◌...


untuk lebih detailnya lagi kalian bisa mampir ke Wattpadku. Nama akunnya MishaLye. Jan lupa mampir yaa.

__ADS_1


Yuk bisa yuk 50 Followers!!


__ADS_2