
Valerie dan Adaire mendapat kamar yang luas dan nyaman di Kastel Pandhita, kastel yang paling besar di Area Mahligai. Kamar itu terdiri atas dua lantai, masing-masing memiliki tempat tidur besar yang ditutupi kelambu berwarna ungu tua yang dihiasi sulaman indah. Ada banyak ruangan di sana, termasuk ruangan khusus di sebelah kamar mandi yang memuat banyak lemari tempat menyimpan pakaian-pakaian bagus dan mahal, sepatu-sepatu indah, dan perlengkapan penampilan mewah lainnya.
Dipilihnya gaun tidur yang paling sederhana. Namun, Valerie tak lantas tidur, dia naik menghampiri tempat tidur Adaire dan duduk bersandar di sana sambil memeluk sebuah bantal. Sementara itu, Adaire yang juga baru selesai mandi sedang menyisir rambutnya di meja rias sebelah tempat tidur.
"Aku heran, mengapa harus aku yang menumbangkan naga itu. Aku bukanlah keturunan bangsawan seperti mereka, tapi kenapa mereka bilang bahwa aku yang harus melakukannya hanya karena aku pemilik darah biru pekat itu, Bibi Adaire? Apa kau tahu sesuatu?" Katanya, yang sejak tadi berusaha sabar supaya emosinya tidak meluap-luap.
Adaire sejenak terdiam menatap cermin besar dihadapannya, sekujur tubuhnya kaku, bulu kuduknya berdiri secara spontan, tangannya gemetar, serta jantungnya juga berdegup kencang. Wanita itu sedang diselimuti rasa khawatir sekaligus takut akan pertanyaan dari Valerie. Dia belum menemukan jawaban yang tepat untuk menjawabnya. Adaire kemudian beranjak duduk disebelah gadis itu.
"Aku minta maaf, Al. Aku tidak ingin kau tersinggung. Tapi, aku tidak ingin kau tahu bagaimana buruknnya sikap ayahmu terhadap wanita yang selama ini mengandungmu. Lagi pula, kita sudah tinggal berdua dengan kehidupan yang baru, jadi rasanya tidak perlu mengungkit—"
"Kenapa setiap aku bertanya mengenai sesuatu yang berhubungan dengan ibu, Bibi selalu mengganti topik pembicaraan? Katakan yang sebenarnya Bibi Adaire, apa yang kau sembunyikan dariku?" Sela Valerie. Gadis itu menghela nafas panjang. Baiklah, sekarang dia terlampau marah hingga berani memotong ucapan Bibinya. "Aku tidak akan marah, asal Bibi menceritakan masa laluku selengkap-lengkapnya."
Adaire menghembuskan nafas berat. "Kau benar. Sebenarnya ibumu bukanlah kakakku, Al."
"Jadi Bibi berbohong?" Pekiknya tak percaya.
"Maafkan aku Al. Aku akan menceritakan semuanya padamu."
"Huh, aku akan mendengarkannya."
Dengan berat hati, Adaire terpaksa harus membeberkan cerita yang tidak pernah mau dia ceritakan lagi kepada orang lain.
"Sebenarnya ibumu bukanlah rakyat biasa, dia adalah seorang bangsawan dari keluarga yang terpandang dan terhormat. Hannah Montana. Dia berasal dari keluarga besar Montana yang snagat dihormati oleh orang lain. Sekarang kau tak perlu bertanya lagi mengapa kau memiliki darah biru yang disebutkan oleh mereka."
"Lalu, ayahku?"
"Ayahmu dulunya hanyalah seorang pelacur sekaligus pemberontak brutal yang sangat ditakuti oleh orang-orang di Azzellatton. Ayahmu dulunya juga bergabung dalam anggota Viking yang menjadi perompak kapal nelayan untuk merampas semua yang mereka miliki. Dia seorang pembunuh kejam, Valerie. Karena itulah aku tidak ingin kau mengetahuinya."
Valerie membelalakkan matanya tak percaya, ternyata ayahnya seorang pembunuh sekaligus perompak? Tetapi bagaiman bisa ibunya bertemu dengan pria brengsek sepertinya?
"Lalu bagaiamana dengan sikap buruk ayah terhadap ibu?"
"Dia memculik ibumu sewaktu mereka sedang melakukan kunjungan di Kerajaan Aesand, mereka bermaksud untuk menjodohkan ibumu dengan Putra Mahkota Kerajaan Aesand. Tetapi nasib menimpanya, ibumu malah dipertemukan dengan ayahmu. Dia menyiksanya, memukulinya sampai ayahmu memperkosa ibumu hingga hamil. Beberapa bulan pencarian ibumu berlangsung, akhirnya para prajurit Kerajaan Aesand tiba menemukannya. Mereka membunuh ayahmu serta teman-temannya yang lain hingga tak tersisa.
Ternyata hal itu berhasil membuat Hannah marah, hal tak terduga itu membuat mereka merasa heran akan sikap ibumu yang menangisi ayahmu hingga matanya tak bisa mengeluarkan air mata. Ternyata ibumu telah mencintainya, Al. Sangat mencintainya. Dan setelah keluarga Hannah mengetahui kehamilannya, mereka memutuskan untuk membatalkan perjodohannya dengan pangeran. Dan setelah melahirkanmu, ibumu meninggal dunia. Orangtuanya bahkan menyuruhku untuk membunuhmu karena kau albino, bukan hanya itu, mereka merasa malu atas kehamilan ibumu dengan pria yang sangat rakyat Eunoia benci. Tetapi akhirnya aku memutuskan untuk merawatmu, aku merasa tidak tega melakukan hal keji seperti itu. Hingga dirimu beranjak dewasa seperti sekarang, Al. Aku minta maaf, aku sungguh minta maaf."
Pernyataanya membuat Valerie merasa tertohok. Dia merasa ada sesuatu yang menghentakkannya dengan keras. Ternyata perjuangan ibunya untuk melahirkan sosok dirinya membutuhkan sebuah pengorbanan besar. Bahkan orang-orang disekitarnya juga ikut menghakiminya. Jika Valerie menjadi Ibunya dimasa itu, mungkin dia akan melarikan diri terlebih dahulu sebelum dia pergi ke Kerajaan untuk perjodohan itu. Tetapi Ibunya juga bukan seorang peramal yang akan mengetahui sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang.
"Aku tak bisa membayangkannya, bagaiamana cara ibu menghadapi semua rintangan yang sulit seperti itu?" Valerie meneteskan air matanya, tak menyangka Ibunya akan bernasib tragis.
Kebohongan yang Adaire ucapkan dia telan dalam-dalam. Untuk kedua kalinya Adaire berbohong dengan kisah yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dia menjadi tidak tega melihat Valerie meneteskan air mata atas cerita bohongnya.
Dia tidak mempunyai pilihan lain, selain karena telah kembali tinggal di Istana, Adaire merasa bahwa kebenaran yang dia sembunyikan akan terungkap seiring berjalannya waktu. Namun Adaire merasa belum siap akan hal itu. Dia masih tidak mau kehilangan Valerie jikalau gadis yang selama ini selalu bersamanya meninggalkannya.
Valerie tidak berkomentar apa-apa setelah Adaire menceritakan masa lalu Ibunya tadi malam. Dia hanya termenung sebentar, kemudian beranjak turun ke kamarnya dengan alasan mengantuk. Adaire hanya mengiyakan pelan, tidak mempermasalahkan apakah Valerie betul-betul mengantuk atau hanya mengelak dari pembahasan lebih lanjut mengenai kebohongannya.
...****************...
Paginya, Kahrama mengetuk pintu kamar mereka untuk menanyakan apakah Valerie dan Adaire ingin bergabung dengan keluarga istana untuk sarapan. Namun Adaire merasa belum terbiasa berada dekat dengan orang-orang yang dulu menjadi majikannya. Valerie juga tidak keberatan sarapannya diantar ke kamar.
"Kau mau ke mana?" tanya Adaire begitu melihat Valerie muncul dari tangga di dalam kamar sudah berpakaian rapi dan langsung meraih gagang pintu kamar.
"Aku merasa bosan, aku ingin berkeliling, Bibi." Setelah keluar dari kamarnya yang terletak di Kastel Pandhita, Valerie dihadapkan dengan lorong-lorong panjang, aula-aula megah tak berpenghuni, dan tidak ada orang yang bisa ditanyainya. Maka gadis itu terus berjalan mengikuti intuisinya yang berkeyakinan kalau semua jalan pasti memiliki akhir. Walaupun jalan yang diambilnya terasa terus berputar-putar, tidak lama kemudian Valerie menemukan pintu ganda yang terbuka lebar dan sinar matahari menerobos masuk melaluinya hingga menerangi tangga dituruninya, berarti itu adalah pintu keluar kastel.
Pintu tiba-tiba terbuka yang menampakkan seorang lelaki bertubuh atletis dan tampan. Dia memiliki rambut hitam legam, memiliki hidung mancung serta alis yang menambah kesan ketegasan. Tetapi wajahnya menunjukkan kelembutan serta kedamaian yang terpancar.
Pemuda itu menatapnya dari jarak yang tak terlalu jauh dihadapannya. Dia menerbitkan senyum manis lalu menghampiri Valerie. Gadis itu pun membalas senyumannya.
"Valerie?!" tiba-tiba pemuda itu terdengar antusias.
Barulah Valerie menyadari satu hal, pemuda itu adalah pemuda yang menabraknya di Azzellatton saat dia hendak pulang tempo hari. Kelopak matanya melebar dan jantungnya berdegup kencang.
"Valerie? Benarkah ini kau?" Setelah sampai didekatnya, Lambert, nama yang Valerie ingat sewaktu pemuda itu memperkenalkan diri bertanya untuk meyakinkan.
"Ya, itu aku."
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya masih memandangi Valerie dengan perasaan takjub.
"Aku ingin berkeliling saja," Jawab Valerie. Meski ekspresinya datar, dalam hati dia merasa senang bertemu lagi dengan Lambert.
__ADS_1
"Maksudku, apa yang kau lakukan di Istana Eunoia?" Jelas Lambert ramah seperti pertama kali mereka bertemu.
Valerie termenung, dia bingung harus menjawab apa.
"Aku—diundang kemari." Sahutnya gagap.
Mimik wajah Lambert menunjukan dia sedang berpikir. Keningnya berkerut dalam lalu membelalakkan netra cokelatnya.
"Apa kau——pemilik darah biru pekat, itu?"
"Bagaiamana kau... tahu?" Valerie terkejut karena Lambert mengetahuinya.
"Ah! Itu, kata orang-orang pemiliknya adalah seorang gadis yang memiliki albino, jadi aku langsung tahu kalau kaulah orangnya. Kau tahu Valerie, bahkan aku juga ditugaskan untuk membantumu melawan naga." Ujarnya begitu antusias.
"A-ah yaa, itu aku. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?" Valerie bertanya juga karena penasaran.
"Aku ingin mengambil Harpy dari istal, tetapi ada sesuatu yang tertinggal di kamarku. Bagaimana jika aku yang menemanimu berkeliling?"
"Aku tidak ingin merepotkanmu."
"Tak apa, aku tidak merasa direpotkan. Lagi pula aku juga sangat merasa bosan berada disini tanpa teman. Dan kaulah satu-satunya orang yang kukenal selain kakakku. Tunggu disini, ya. Aku akan segera kembali."
Valerie masih termenung, tadinya dia berpikir apakah pemuda itu akan membencinya karena dia albino, tetapi nyatanya, Lambert tetap bersikap ramah padanya seolah-olah tidak mengetahui tentang mitos yang beredar di kalangan masyarakat.
Valerie jadi banyak berpikiran negatif, mengenai keselamatanya di sini dan saat menghadapi naga. Mengingat kebanyakan orang-orang istana tidaklah menyukainya terkecuali Giannaelley dan mungkin Lambert, hanya mereka yang tidak memojokkannya karena menderita albino. Atau bisa saja setelah dia menerima semua hal-hal baik dari orang-orang, mungkin saja setelah itu dia akan dibunuh dan dimutilasi, entahlah pikirannya berkecamuk memikirkan hal-hal negatif yang dia sendiri tidak tahu apa dugaannya benar atau salah.
"Kau sudah menunggu lama, ayo kita pergi!" Ajak Lambert yang tiba-tiba saja berada di sampingnya.
Valerie terkejut akan kehadiran pemuda itu karena tidak menyadarinya. Saat itu adalah saat dimana Valerie memikirkan hal-hal yang aneh.
"Ah! Ya. Mari."
...****************...
Setelah perjalanan yang amat panjang, mereka berdua sampai di istal. Valerie merasa sangat kelelahan karena harus melewati Gerbang Satu hingga Gerbang Empat, melewati jalanan setapak sampai perkebunan hingga akhirnya sampai di tempat tujuan. Sungguh Valerie tidak mengira bahwa Istana Eunoia akan seluas ini.
Lambert lalu menghampiri seekor kuda cokelat yaitu Harpy di salah satu kandang.
Kuda tersebut meringkik ketika dia melihat Valerie berdiri dibelakang Lambert. Harpy terlihat sangat senang sampai-sampai dia melompat-lompat sehingga membuat ekornya terkibas kesana-kemari.
"Sepertinya Harpy senang kau berada disini, Valerie." Ujar Lambert seraya mengusap punggung kepala Harpy dengan lembut.
"Sepertinya begitu," Valerie mengulum senyum manis dan Harpy yang langsung menghampirinya serta memutari tubuhnya pada Valerie dengan girang.
"Apa kau suka membaca?"
"Aku sangat suka membaca."
"Bagaiman kalau kau ikut denganku ke Gedung Pustaka?" Ajakan Lambert cukup mengejutkannya.
"Aku pernah membaca tentang Gedung Pustaka," komentar Valerie.
"Jangan hanya membaca tentangnya, ayo mengunjunginya! Ada banyak sekali buku bagus di sana. Ayo naik!" Tegas Lambert dengan semangat.
Setelah menduduki pelana di punggung Harpy, Lambert membungkuk sambil mengulurkan tangan untuk membantu Valerie naik.
"Dan kau harus berkenalan dengan teman baruku. Dia sangat pintar!" Lambert kembali meyakinkannya.
Valerie menatap mata cokelat pemuda dihadapannya sebelum kemudian menghela nafas panjang, "Baiklah." Katanya lalu meraih tangan Lambert dan naik ke punggung Harpy.
"Kau tidak mungkin tidak terjatuh jika menunggangi Harpy bersamaku tanpa berpegangan. Percayalah," cengir Lambert begitu Valerie duduk di belakangnya.
Awalnya gadis itu ragu-ragu, tetapi lantas berpegangan ke pinggang Lambert dengan csnggung. Dengan sekali entakan kaki, Lambert membuat Harpy berlari kencang. Valerie sedikit tersentak, maka langsung mengesampingkan perasaan canggungnya dan mengeratkan pelukannya di pinggang Lambert.
Tidak lama kemudian mereka sampai di Area Rekreasi, di mana terdapat gedung-gedung yang menjadi tempat anak para bangsawan Eunoia serta menteri Eunoia menempuh pendidikannya.
Lambert memelankan langkah Harpy begitu mereka mencapai gedung putih yang paling besar. Bagian dasarnya sengaja dibuat lapang seperti sengaja dibuat untuk menjadi tempat penyimpanan kuda, disangga oleh pilar-pilar berwarna putih yang kukuh.
"Kita sudah sampai di Gedung Pustaka," kata Lambert.
__ADS_1
Gadis itu mengikutinya berjalan ke arah tangga batu yang menempel pada dinding sebelah kiri Gedung Pustaka. Akhirnya mereka sampai ke sebuah teras yang luas. Banyak anak-anak yang sedang berkumpul mendiskusikan sesuatu atau membaca buku sambil menikmati minuman segar disitu.
Dari banyaknya pelayan yang melayani anak-anak itu, Valerie sudah bisa menebak kalau mereka adalah putra dan putri para pejabat Istana Eunoia.
"Di mana orang-orang dewasa, apa mereka tidak tertarik untuk kemari?"
"Area Rekreasi adalah area tempat mereka belajar dan bermain, itu yang kutahu Valerie." Jelasnya singkat. Berusaha menjelaskan apa yang diketahuinya.
Mereka berdua lantas berjalan menuju ke dalam perpustakaan dimana terdapat banyak sekali buku-buku yang tertata rapi ditempat yang bertingkat-tingkat dan sangat luas. Area Perpustakaan Eunoia sangat besar dengan dilengkapi oleh sofa-sofa untuk orang-orang yang ingin membaca di dalam Perpustakaan, di sana terdapat bsnyak buku seperti buku sejarah, buku sihir karena anak-anak disini juga mempelajari sihir, tetapi sihir yang mereka pelajari hanyalah sihir tingkat dasar sehingga tidak terlalu berbahaya untuk mereka. Hal itu bertujuan agar mereka bisa membela dirinya dari hal yang mengancam keselamatannya.
Mereka menghampiri meja besar yang digunakan oleh petugas perpustakaan di sana, jikalau ada yang ingin meminjam buku. Seorang pemuda berkacamata yang sedang merapikan beberapa buku di sana terlihat sambil berbicara dengan ramahnya pada seorang gadis berambut kemerahan, rambutnya panjang dan keriting.
Lambert serta Valerie lalu menghampiri mereka.
"Hei Liezt, apa kau sibuk?" Tanya Lambert pada pemuda berkacamata.
"Tidak, tapi, yaa.. sedikit. Aku akan sangat senang jika kau membantuku," pemuda itu tertawa ringan pada Lambert dengan mata yang menyipit.
Lalu Lambert berbalik ke samping dan melihat Valerie serta pemuda bernama Liezt secara bergantian. Dia lalu memperkenalkannya. Sedangkan, gadis berambut kemerahan tadi hanya menyimak dengan tangan yang menumpu kepala kecilnya.
"Perkenalkan, dia Valerie teman baruku," ujar Lambert memperkenalkan.
"Hai, Nona. Aku Liezt. Salah satu orang yang bertugas menjaga perpustakaan ini, dan dibalik meja inilah aku bertugas." Katanya memperkenalkan diri seraya tersenyum lebar sehingga membuat matanya menyipit. Valerie balas tersenyum.
"Halo, Liezt." Sapanya balik.
"Ah! Sayang sekali, aku harus merapikan beberapa buku ini. Kalian berbincanglah tanpaku, aku akan segera kembali. Putri apa kau akan membacanya?" Tunjuk Liezt pada salah satu buku tebal di depan gadis berambut kemerahan.
"Tidak, kau bisa membawanya, Kakak Liezt."
Liezt lalu mengalun pergi untuk menaruh kembali buku yang telah dikembalikan oleh orang lain. Valerie duduk di kursi sebelah gadis berambut kemerahan itu. Gadis itu terus saja menatap Valerie lekat-lekat. Sedangkan Lambert, dia ikut duduk disamping Valerie dengan mengambil satu buku yang tertinggal.
"Hei! Siapa kau, kau orang baru ya? Aku baru melihatmu?" Tanya gadis keriting itu pada Valerie.
Valerie tersentak dari lamunannya, dia menoleh ke sisi kiri dan melihat seorang gadis kecil sedang menatapnya.
"Ah, ya. Hai. Tadi Liezt bilang kau Putri?" tanya Valerie mengingat yang diucapkan Liezt tadi.
"Ya. Perkenalkan aku Putri Rosseanne Carlotta keturunan kedua dari ayahanda, adik dari Kakak James, eh! Bukan, Pangeran James. Umurku baru lima belas tahun, lalu kau?"
Lambert yang mendengar perbincangan mereka ikut memperhatikan. Ternyata gadis berambut keriting itu adalah Putri Rosseanne.
"Aku Valerie, ak—"
Putri Rosseanne menutup mulutnya dengan iris yang melebar. Dia memotong ucapan Valerie.
"Kau benar-benar Valerie? Apa kakak akan betul-betul menumpaskan naga jahat itu?" Tanyanya dengan wajah yang antusias. Valerie menjadi canggung.
"Ya, Putri. Dan aku yakin dia akan berhasil!" Bukannya Valerie, malah Lambert yang menjawabnya dengan tangan yang diangkat dan telapak tangan yang dikepal mengartikan bahwa dia sedang menyemangatinya dan yakin bahwa Valerie akan bisa melakukan tugas berat yang diberikan untuknya.
"Benar? Kakak Valerie, jangan lupa ya, ketika kau melawannya kamu harus benar-benar membunuhnya dan kembali kemari dengan selamat!" Titahnya penuh semangat seakan tidak memperdulikan bahwa dia sekarang sedang berbincang dengan albino. Kira-kira hal itulah yang saat ini berada di dalam pikirannya.
"Aku akan berusaha semampuku, Putri."
Terdengar suara seseorang yang memanggilnya di belakang, dia memakai baju prajurit Eunoia, Valak.
"Yang Mulia Pangeran Lambert dan Nona Valerie, Pangeran Ferrous serta Jenderal Peter sudah menunggu kalian di Area Prajurit." Lapor Valak.
Valerie tercenung mendengar laporan dari Valak, 'mengapa Yang Mulia Pangeran? Jadi Lambert adalah seorang Pangeran?' Gumamnya.
"Baiklah, kami akan segera datang." Setelah mendengar jawaban tersebut, dia lantas pergi kembali menjalankan tugasnya. "Ayo, Valerie. Mereka sudah menunggu kita. Putri, kami terpaksa harus meninggalkanmu, kami akan kembali berbincang denganmu dilain hari. Oke?"
"Baiklah Pangeran Lambert. Aku juga akan pergi. Kakak Valerie, berlatihlah dengan semangat, ya!" Ujarnya menyemangati.
"B-baik."
Mereka lantas pergi menuju Area Prajurit. Sungguh, dia benar-benar tidak tahu kalau Lambert adalah seorang Pangeran. Tetapi jika dia seorang pangeran, itu berarti Lambert bukanlah pangeran dari Eunoia. Tetapi dari negeri lain. Dia bahkan ingat saat pertemuan pertama mereka saat berada di Azzellatton, dia mengatakan bahwa dirinya berasal dari Lovasea. Itu berarti Lambert adalah pangeran Lambert Hawkes yang merupakan keturunan tak langsung dari Kesatria Amor Hawkes. Valerie tahu dari buku yang dibacanya.
...****************...
__ADS_1