ANNEALL

ANNEALL
Chapter 7 Ancaman Vampir


__ADS_3

Valerie nampak kaku, ternyata dunia di dalam istana tidaklah semenyenangkan dan semenarik yang dia bayangkan. Dia masih saja diperlakukan dan dipandang remeh oleh orang-orang disekitarnya.


"Kau yakin berucap seperti itu, Tuan Barrows? Aku rasa albino tidak seburuk itu," sanggah Giannaelley.


"Ya. Itu menurutku dan karena kau juga albino bukan?"


...****************...


Raja Bhadrika memijat pelipisnya, dia sungguh sangat jengah akan perdebatan ini.


Raja Bhadrika menghela nafas panjang, "ayah, Giannaelley bukanlah albino, namun rambutnya memutih karena dia tidak sengaja terkena pancaran sihir dari Putri Elleanna sewaktu kami berada di Kerajaan Aesand." Jelas Raja Bhadrika mengingat kejadian dua tahun yang lalu ketika Giannaelley ditugaskan untuk menemani Putri Elleanna yang sedang bermain-main dengan sihirnya dan akhirnya mengenai Giannaelley. Sihir es yang dipancarkan ternyata mempengaruhi rambut Giannaelley hingga menjadi berwarna putih seperti sekarang.


"Sudah kuputuskan, kau akan langsung menjalankan misimu dua hari lagi jika kau menerimanya. Dan kami sudah menyusun rencana ini matang-matang, pertama-tama kau akan langsung menjemput permaisuri serta putraku dari wilayah Aspen. Karena naga itu masih berada di luar perbatasan, kami memutuskan untukmu menjalankan tugas inti, dimana kau berperan penting untuk menghabisi naga itu."


"Bagaimana jika dia gagal, Yang Mulia." Tanya Harry dengan nada terdengar ketus.


"Jika gagal, kami sudah menyiapkan strategi lain. Salah satu anggota Kerajaan Aesand akan membantu membekukan Phyleria agar kau bisa menghabisinya, Nona Valerie. Dan jika cara itu pun masih gagal," Raja Bhadrika menghela nafas panjang. "Aliansi dengan bangsa elf akan dilakukan."


Aliansi adalah istilah lain yang merupakan penggabungan antara dua atau lebih kelompok menjadi satu dengan tujuan agar dapat mencapai tujuan bersama atau masing-masing, dengan lebih baik karena adanya kerjasama yang saling menguntungkan.


"Mengapa harus bangsa elf, Yang Mulia? Bukankah—" Tanya salah seorang menteri terlihat tidak setuju.


"Aku tahu Ornaz, tetapi hanya bangsa mereka yang tahu banyak tentang naga, dan dengan begitu, Nona Valerie akan tahu apa yang harus dilakukannya. Dan bukankah mereka bisa berkomunikasi dengan naga. Tebakanku benar, kan, Peri Lyra?"


"Benar, Yang Mulia. Tetapi seseorang yang bisa berkomunikasi bahkan memahami bahasanya bukanlah orang sembarangan, biasanya yang memiliki kemampuan tersebut hanyalah orang yang memiliki kemampuan sangat istimewa dan digadang-gadang sebagai pemimpin dari ras para naga walaupun dia seorang manusia."


"Menarik, kau tidak keberatan jika harus menerima tugas ini, bukan, Valerie?" Sang Raja kembali melirik kearahnya.


Pikiran Valerie semakin sibuk. Keningnya berkerut dalam. Tiba-tiba dia merasa ada tangan dingin yang yang menggenggam tangannya. Tatapan Valerie lantas beralih kepada Adaire, dan melihat perempuan itu mengangguk tegas dan meyakinkan.


Maka setelah menghela nafas dalam-dalam. Valerie berkata dengan yakin. "Tidak. Sama sekali tidak. Aku bersedia menjalani tugas ini, dengan dua syarat."


Raja Bhadrika mempersilahkannya, lantas Valerie menuturkannya.


"Yang pertama, aku membutuhkan bantuan dan dukungan penuh dari istana Eunoia."


"Itu sudah pasti. Apapun yang kaubutuhkan akan kami sediakan." Raja Bhadrika menyanggupinya.


"Dan yang kedua, jangan pernah lagi menganggap bahwa bahwa albino adalah ras terburuk dan terendah hanya karena mitos yang beredar. Dan saya harap Anda bisa menghentikan semua perundungan hingga pembunuhan yang marak terjadi hanya karena mereka menganggap bahwa albino adalah penyihir kegelapan."


...****************...


Empat belas hari telah berlalu, kini tiba saatnya malam ini adalah malam dimana sorak-sorai rakyat Heexxerr terdengar semakin bergembira ria. Di luar kastel kerajaan Heexxerr, terdapat banyak sekali bunga-bunga liar yang bermekaran memenuhi pekarangan.


Prajurit prajurit yang berjaga di depan gerbang nampak masih berdiri tegap sembari memperhatikan orang-orang yang berseliweran menyiapkan berbagai macam dekorasi.


Festival bunga yang akan diadakan malam ini sudah direncanakan sejak empat belas hari yang lalu secara matang dan diadakan secara besar-besaran.

__ADS_1


Sedangkan, dari dalam Kastel, Raja Argos terlihat sibuk dengan surat yang dipegangnya. Raja Argos menatap surat terhadap dengan mata yang disipitkan. Ditemani oleh Klaus--pengawal pribadinya.


Raja Argos meremas surat di genggamannya secara kasar dengan seringaian yang terukir di wajahnya.sura


"Klaus, apa kau tahu isi surat ini?" Desis Raja Argos.


"Tidak, Yang Mulia.


"Kalau begitu, kau harus mengetahuinya." Raja Argos berdiri seraya melipat tangannya kebelakang. Dia berjalan menuju jendela besar di peraduannya.


Klaus hanya diam dan tidak membiarkan Raja Argos berbicara hingga selesai karena dia tahu Tyran itu akan bersuara lagi.


"Dan Romney bilang, dia seorang gadis. Cantik dan albino. Aku sungguh penasaran karena Romney terus menerus menuliskan kata cantik di dalam surat yang kuterima."


"Yang Mulia bilang gadis itu albino? Bukankah--" Klau menggantung kalimatnya. Pria itu terkejut ketika mendengar kata 'albino' yang keluar dari mulut Raja Argos. Dia jadi teringat akan mitos yang beredar luas di seluruh Utopia.


"Benar, Klaus. Albino. Dan kau tahu, Romsey bilang dia memiliki iris biru sebiru lautan dan merupakan gadis yang paling berbeda dari gadis lain karena aura yang dipancarkan. Bahkan peri yang mereka cari hingga ke pedalaman hutan Anaoma pun mengatakan hal yang sama," Raja Argos berbalik badan mengahadap Klaus yang masih berdiri tegap ditempatnya menyimak setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Menarik bukan?" Sambungnya.


"Sangat menarik, Yang Mulia. Apalagi yang mengatakannya adalah peri Lyra langsung yang diketahui memiliki kemampuan mengendus darah biru pekat hingga melihat warna aura setiap orang serta dapat mengetahui perilaku dari setiap individu." Balas Klaus seadanya.


"Gadis itu sangat membuatku penasaran sampai-sampai aku ingin melihatnya. Apa kau tahu apa yang harus kaulakukan?"


Klaus langsung menangkap maksud dari perkataan Raja Argos. Karena yang dimaksud adalah Raja Argos menginginkan gadis albino itu dan menyuruh Klaus untuk membawanya ke hadapan pria tersebut.


Klaus mengangguk, "saya akan membawanya kemari, Yang Mulia. Dan sudah saatnya Yang Mulia menghadiri festival itu karena kurang lebih satu jam lagi festival akan segera dimulai."


...****************...


Terlihat jalan-jalan yang dihiasi dengan berbagai lentera membuatnya memberikan kesan tersendiri.


Rakyat Heexxerr terlihat sangat bergembira. Ada yang sedang menghiasi kereta kudanya dengan bunga karena akan menampilkan parade, menari, menyanyi, bahkan ada juga yang hanya sekedar berkeliling.


Seluruh rakyat Heexxerr yang berada di sepanjang jalan membungkukkan badannya ketika Raja Argos melewati jalanan.


Terlihat pula para gadis yang mengenakan baju yang terbuat dari bunga yang sengaja dirangkai dan dirancang agar menjadi gaun. Bunga itu dikaitkan dengan bunga lain menggunakan benang atau semacamnya hingga membentuk berbagai motif. Ada yang merancangnya menjadi gaun, kostum, dan lainnya.


Raja Argos menaiki panggung megah yang dihiasi oleh bunga-bunga berwarna-warni. Seketika semua aktivitas disana sepenuhnya berhenti dan mereka memilih untuk memperhatikan Sang Raja yang hendak berbicara.


Raja Argos memberikan salam sejahtera kepada rakyatnya serta semua hal yang diperlukan untuk menyapa semua rakyatnya. Dia menyampaikan semua hal yang terkait dengan festival dan arti penting mengenai alam, bahwa mereka harus bersyukur terhadap Tuhan Yang Kuasa karena telah menciptakan banyak hal hingga membuat wilayah mereka menjadi subur.


"Rakyat sekalian, hari ini adalah hari yang amat sangat penting bagi kita semua. Oleh karena itu, Mari bersama-sama kita sekalang berdoa kepada Yang Kuasa agar terhindar dari dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Serta kalian pasti sudah mengetahui akan kebangkitan Gargantuan yang sudah mulai meresahkan itu, bukan?"


Seluruh orang yang berada disana menjawab serempak bahwa mereka telah mengetahui kebangkitan naga itu. Ada yang berbisik-bisik, ada juga malah berbincang sendiri.


Raja Argos menepuk tangannya mengisyaratkan untuk mereka agar memperhatikannya. Seluruhnya diam.


"Aku tahu apa yang dirasakan oleh kalian semuanya. Kalian pasti sangat merasa takut, oleh karena itu untuk menghilangkan rasa takut kalian, mari kita mulai festival-nya."

__ADS_1


Semua orang yang berada disana bertepuk tangan. Mereka memulai parade dengan meniup terompet besar yang menandakan bahwa parade sudah dimulai.


Di barisan pertamanya ada seorang wanita bertubuh seksi berpakaian terbuka mengenakan kostum burung, di punggunggnya terdapat sayap pasangan yang besar berwarna emas yang menyambung ke bagian dadanya yang menampilkan belahan dada wanita tersebut, juga rok mini yang dipakainya, wanita itu juga membawa sebuah papan kecil yang bertuliskan;


...FESTIVAL BUNGA...


...Mencintai alam dan seisinya ...


Ada juga gadis-gadis yang menari dibelakang kereta kuda yang tinggi dan dihiasi beribu-ribu bunga sambil berjalan. Para lelaki yang membawa alat musik memainkannya sepanjang jalan. Ada juga gadis-gadis yang menari di atas kereta kuda dengan mengenakan gaun mewah yang dirancang khusus untuk festival.


Festival di kerajaan Heexxerr begitu meriah. Raja Argos ikut mengiring festival di barisan paling depan, di belakang wanita bersayap emas itu.


Setelah beberapa lama parade berlangsung, terdengar suara teriakan dan geraman mengerikan dari belakang keretanya. Si wanita bersayap emas itu berbalik dan segera berlari tergopoh-gopoh ke arah lain. Raja Argos yang melihat itu, mengikuti arah pandang si wanita.


Betapa terkejutnya dia ketika mendapati makhluk penghisap darah yang berdiri di kereta kuda yang terletak di belakang kereta kuda miliknya.


Musik berhenti, nyanyian serta sorakan riang gembira dari semua orang seketika berubah menjadi tangisan dan jejeritan.


Makhluk-makhluk itu telah banyak membunuh rakyatnya. Mereka semua tampak sedang menggigit korbannya di area leher. Klaus menyuruh Raja Argos untuk tetap berada di dalam kereta agar tetap aman dan bermaksud akan membawa kereta kuda itu pergi.


Namun hal itu malah ditolak oleh Raja Argos. Dia memilih untuk berbicara dengan pemimpin para vampir itu yang terlihat sedang memandangnya dari atas kereta kuda. Gadis-gadis yang menari di atasnya mati mengenaskan karena ulah vampir itu.


"Tapi, Yang Mulia. Hal ini bisa membahayakan nyawa Anda."


"Tidak Klaus, aku akan berbicara dengannya."


Raja Argos begitu bersikeras sehingga Klaus hanya bisa mengiyakan. Seperti mengerti, vampir itu turun dari kereta kuda untuk menghadap Raja Argos. Argos kini tahu apa penyebab mereka datang menyerang dan merusak acara yang meriah ini.


"Kau mengingkari janjimu," desis pemimpin vampir itu tepat ditelinga Raja Argos.


"Aku sudah merancankan sesuatu untuk mendapatkannya, kau tidak perlu khawatir." Balasnya dengan tenang.


"HAHAHAHAHAHA!!!" Gorgon tertawa kencan membuat semua vampir yang dia bawa langsung berdiri dibelakang pemimpinnya. "Kuperingatkan kau, mereka sudah mendapatkannya. Dan jika kau gagal, lihatlah apa yang akan aku lakukan padamu bahkan pada negeri ini!"


Raja Argos diam tak menanggapi. Dia tentu tahu maksud ucapan Gorgon yang mengandung ancaman.


"Camkan itu baik-baik Argos!"


Setelah mengucapkan itu, mereka pergi secepat kilat dan langsung menghilang.


Suasana jadi begitu terasa dingin dan berantakan. Semua rakyatnya sangat ketakutan. Suara tangisan terdengar di sana-sini melihat ada anggota keluarga mereka yang mati terkena gigitan vampir yang haus darah.


Klaus menatapnya keheranan sekaligus kebingungan atas apa yang terjadi. Dia berpikir keras dengan apa yang Gorgon katakan bahwa Raja Argos mengingkari janji.


Jika Rajanya telah mengingkari sebuah janji, maka itu berarti Raja Argos telah membuat suatu perjanjian dengan vampir berbahya sekaligus agresif seperti mereka yang tidak pernah diketahuinya. Dan itu berarti Raja tidak ingin Klaus tahu akan perjanjian mereka. Entah apa yang mereka sepakati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2