
Bhadrika, pria berusia 48 tahun tersebut kini tengah merenung di peraduannya sembari menatap tumpukan kertas yang merupakan sebagian dari tugasnya menjadi raja. Usianya memang sudah kepala empat, namun tak menyurutkan ketampanannya dan kewibawaannya. Pria itu tetap masih terlihat awet muda.
Bhadrika begitu tak bisa melupakan mengenai hal-hal yang telah ia rencanakan bersama anggota Kerajaan Lovasea beberapa hari yang lalu.
Darah biru. Setelah dipikirkan kembali, sekarang dia sadar apa yang mengganjal di dalam benaknya.
Ia berpikir, jika hanya keturunan darah biru saja yang bisa menaklukan naga hijau, bukankah mereka tidak perlu mencari keberadaan Lyra sang peri kecil misterius yang tak pernah menampakkan diri sampai-sampai harus mencarinya ke pedalaman hutan Anaoma.
Dan jika yang dipikirkan Bhadrika itu benar, kenapa pula Giannaelley mengatakan bahwa kemungkinan hanya ada sekurang-kurangnya dua sampai tiga pemilik darah biru saja yang tersisa di seluruh Utopia? Bukankah itu sudah cukup jelas bahwa yang dimaksud Giannaelley adalah pemilik darah biru pekat atau... 'blood shield'?
Sedangkan keturunan dari pemilik-darah biru pekat-itu sudah ia lenyapkan bertahun-tahun yang lalu. Pria itu jadi mengingat kembali tentang isi dari kitab *ymaaz bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menundukkan **Gargantuan dan kini naga itu sudah punah. Belum. Tersisa satu yang kini telah bangkit dari tidurnya. Entah siapa penyihir jahat yang berani membangunkan sang naga.
*ymaaz; (Kitab kuno yang menjelaskan keseluruhan tentang naga)
**Gargantuan; (Jenis naga terkuat di seluruh negeri Utopia)
Dijelaskan pula dalam kitab ymaaz bahwa hanya pemilik darah biru pekat yang dapat menandingi bahkan menundukkan Gargantuan. Dan jika saja tak ada satupun pemilik darah biru pekat yang tersisa, maka bisa dipastikan seluruh negeri yang akan menjadi hidangan empuk untuk para naga dari berbagai ras. Kitab dandalis pun menjelaskan hal yang sama di salah satu sub bab-nya.
Dan sekarang, bagaimana jika mereka tidak bisa menemukan pemilik darah biru pekat yang lain selain seorang bayi perempuan yang telah ia bunuh? Dan bagaimana nasib negerinya dan seluruh Utopia? Bagaiman jika para naga menguasai seluruh negeri nantinya?
Kesadaran ini telah mengguncang dunianya dan membuatnya merasa bersalah dan hancur.
Pria itu mengacak rambutnya kasar. Ia tak bisa melakukan apa-apa sekarang. Suara ketukan pintu membuatnya seperti dipaksa keluar dari pikirannya sendiri. Seorang prajurit muda menghampiri peraduan Bhadrika dengan raut wajah tak menyenangkan. Prajurit itu terlihat seperti sedang merasa kelelahan bahkan mungkin ketakutan.
"Salam hormat saya Yang Mulia." Kata si prajurit seraya membungkukkan badannya.
"Ada apa?"
"Ada kabar buruk Yang Mulia." Lapor sang prajurit ragu-ragu dengan kepala tertunduk lemas.
"Kuharap kabarmu tidak membuatku semakin frustasi, katakan!" Ucapnya pelan.
"Begini, Yang Mulia. Salah satu prajurit yang mengawal Yang Mulia Ratu dan Pangeran melaporkan bahwa dalam perjalanan pulang semalam, mereka dihadang oleh—" si prajurit menelan salivanya kasar. "—Oleh... Oleh seekor Gargantuan—Yang Mulia."
Sontak Bhadrika berdiri dari kursinya, wajahnya semakin terlihat pucat kala ia mendengar kabar buruk itu. Matanya nanar menatap sang prajurit.
Gargantuan yang dimaksud sudahlah jelas bahwa itu adalah Phyleria sang naga hijau. Karena mengingat seekor naga jenis Gargantuan hanya tersisa satu di Utopia.
Bhadrika mendekatinya membuat tubuh prajurit tersebut bergetar karena takut ia akan terkena hukuman setelah gagal melindungi sang Ratu dan Pangeran.
"Apa? Gargantuan kau bilang?" Tanyanya semakin frustasi.
"B-benar Y-yang Mulia." keringat dingin membasahi keduanya. Bencana besar!
"Dimana mereka dihadang?"
__ADS_1
"Di dekat perbatasan hutan Anaoma, Yang Mulia. Semua prajurit yang mengawal yang mulia tewas dan hanya menyisakan satu prajurit yang kini kembali dengan luka bakar hebat di tubuhnya." Raja semakin dibuat stres oleh penuturan prajuritnya. "Tetapi untungnya, Yang Mulia Ratu Cathrine dan Pangeran James selamat dari petaka yang menimpa. Mereka diselamatkan oleh para elf dan membawanya masuk ke perbatasan. Saya memperkirakan bahwa para elf tersebut akan membawa mereka ke kerajaan karena elf yang datang membantu mereka berpakaian prajurit dengan simbol Naga di lencana mereka."
"Selamat? Kurarap kabarmu benar. Karena aku tidak akan tinggal diam jika mendengar permaisuri mati." Desis Bhadrika. "Tadi kau bilang bangsa elf yang menyelamatkan permaisuriku?"
"Benar Yang Mulia."
"Tapi bukankah perbatasan hutan Anaoma itu ada sihir pembatas yang jika seseorang melewatinya ia akan merasakan sakit luar biasa pada tubuhnya? Lalu bagaiamana permaisuri dan putraku melewatinya?"
"Yang saya dengar, Yang Mulia Ratu dan Pangeran diberi ramuan untuk mereka minum agar bisa melewati sihir pembatas tanpa rasa sakit, Yang Mulia."
Bhadrika menghela napas kasar. Elf adalah satu-satunya ras yang paling ia benci setelah apa yang sudah terjadi 17 tahun yang lalu. Bahkan, setelah kejadian hari itu, ia memutuskan hubungan erat dengan bangsa elf hingga sekarang. Tetapi di sisi lain pria itu juga berharap agar keluarganya akan baik-baik saja di negeri para peri tersebut.
"Apa Rosse mengetahui hal ini?" Tanyanya sembari memijat pelipisnya.
"Yang Mulia Putri Rosseanne belum mengetahui hal ini, Yang Mulia."
"Jangan sampai dia mengetahuinya, aku tidak ingin membuatnya khawatir."
"Baik, Yang Mulia."
Pria itu menggebrak meja dengan keras hingga membuat meja tersebut berantakan. Bahkan ia juga menyingkirkan semua benda yang ada di atas meja. Semuanya berantakan.
Melihat Raja Bhadrika tampak begitu frustrasi, membuat si prajurit berpikir keras untuk mencairkan suasana.
Raja Bhadrika tengah bertekur keras dengan pikirannya. Saat ini, jika mereka menjemput Ratu dan Pangeran ke wilayah Aspen, itu juga akan berisiko.
"Jangan dulu. Kita tunggu kabar dari Giannaelley." Pungkas Raja Bhadrika.
Pria itu menyuruh prajuritnya pergi yang langsung dipatuhi olehnya sembari membungkukkan badan.
Jika dipikir-pikir, kalau mereka menjemput Ratu Cathrine dan Pangeran James, itu akan mengulur waktu dan bukan tidak mungkin, naga itu pasti sudah membuat seluruh negeri menjadi hutan api jikalau mereka terlambat sedikit saja.
...****************...
Ratusan prajurit kerajaan berbaris rapi di belakang kereta kuda yang terukir sebuah simbol kerajaan Eunoia yaitu kepala singa. Prajurit-prajurit tersebut masing-masing menunggangi kudanya. Di depan dan di belakang kereta dipenuhi oleh lusinan prajurit yang ditugaskan untuk menjaga tokoh penting di dalam kereta kuda tersebut.
Di dalam kereta kuda, terdapat dua orang. Mereka adalah Ratu Chatrine Barrows yang merupakan permaisuri Raja Bhadrika dan putranya Pangeran James Carlotta. Kini mereka tengah dalam perjalanan pulang menuju Eunoia setelah pergi ke luar negeri untuk menghadiri kunjungan di salah satu sekolah ternama di Utopia.
Saat ini, mereka tengah berada di tempat tengah-tengah antara dua jalan yang memiliki arah berbeda. Di dekat perbatasan hutan Anaoma, mereka seharusnya belok ke kiri untuk menuju ke Kerajaan Eunoia.
Mereka berbelok. Namun, prajurit dan kereta kudanya tiba-tiba berhenti mendadak yang membuat sang Ratu dan Pangeran tersungkur ke depan.
"Ada apa ini? Kenapa keretanya berhenti, Ibunda?" Tanya James dengan raut wajah kebingungan.
"Ibu tidak tahu. Apa kau baik-baik saja?" James menganggukan kepalanya mengartikan bahwa ia baik-baik saja.
__ADS_1
"Saya baik-baik saja Ibu."
James melongok ke luar jendela dan mendapati beberapa prajuritnya yang sedang melawan seekor makhluk yang sangat besar berwarna hijau dan memiliki sayap.
"Makhluk itu mirip seperti.... NAGA!" James membelalakkan matanya kala menyadari bahwa sekarang mereka sedang dihadang oleh seekor naga yang sangat ganas. Cathrine sontak menoleh ketika mendengar putranya memekik menyebutkan—'naga'. "Ibu, ada seekor naga yang menghadang kita!" Ujarnya panik.
"Apa?!"
'HUAAAAAARRRRRGGGGHHHHHH!!!!'
Naga mengaum dengan kencangnya sampai-sampai dia menyemburkan api dari mulut besarnya. Sebagian prajurit yang melawannya berguling-guling tidak karuan kala mereka terkena api panas di tubuhnya lalu mati dengan keadaan gosong.
Auman naga terdengar untuk yang kedua kalinya. Prajurit yang berada di sana semakin berkurang karena mati terbunuh. Mereka tak mungkin menang melawan naga sepertinya. Dan tidak mungkin juga jika mereka bertahan di sana.
"YANG MULIA!!!" Teriakan seseorang membuayarkan keterkejutan Ratu dan Pangeran yang terpaku karena melihat naga untuk pertama kalinya.
Mereka lalu menyadari ada api yang menyembur ke arah mereka. Reflek, keduanya keluar melompat dari kereta. Akan tetapi lompatan mereka tidak terlalu jauh.
Keduanya tersungkur di dekat kereta karena tak sempat bangun, Cathrine dan James hanya bisa menatap api yang menghampirinya dengan mata lebar. James dan Cathrine memejamkan matanya ketika api mulai melahap bagian kereta. Hangus.
Apa mereka mati? Tapi kenapa mereka mendengar suara auman naga untuk yang ketiga kalinya? Apa ini kematian?
Setelah membuka mata, rupanya mereka masih hidup! Fiuh... Syukurlah. Tapi, bukankah mereka berada di dekat kereta kuda? Tapi kenapa sekarang mereka berada sedikit jauh dari tempat itu?
"Apa Anda baik-baik saja?"
Suara lembut terdengar ditelinga. James dan Cathrine celingukan. Iris matanya melebar ketika mereka melihat seseorang bertelinga panjang, apa dia seorang—elf?
"Apa kau—" James menggantung kalimatnya.
"Perkenalkan, aku Asteria. Anda pasti tahu bukan setelah melihat telingaku?" Ucap seorang gadis yang berdiri di hadapan Cathrine dan James dengan senyum lebar.
"Apa kau yang telah menyelamatkan kami? Apa kami masih hidup?" Tanya sang ratu.
"Benar," raut wajahnya berubah serius. "Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang mari kita pergi dari tempat ini. Disini berbahaya dan sepertinya naga itu mengincarmu."
"Kau akan membawa kami kemana?"
"Kerajaan kami. Tenang saja, kau akan aman disana karena naga itu tidak akan bisa melewati sihir pembatas. Ini, minumlah ramuan ini agar kau tidak terkena efek menyakitkan dari sihir pembatas." Asteria menyodorkan sebuah botol kecil berisi ramuan penawar.
Cathrine sedikit ragu untuk meminumnya, ia menerka-nerka apakah benar gadis dihadapannya akan menolongnya seperti yang diucapkan? Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain selain menerima. Ia ingin selamat. Semoga saja para elf ini tidak memiliki niat jahat padanya dan putranya.
Dari kejauhan, terlihat seorang laki-laki yang akan menghampiri sang Ratu dan Pangeran. Dengan langkah gontai ia mendekat, namun ia segera menghentikan langkah kakinya yang sakit setelah melihat sang ratu dan pangeran pergi melewati perbatasan dengan para elf lain. Bisa diperkirakan, ada sekitar 20 elf yang membawa ratu dan pangeran, mereka semua memakai pakaian layaknya seorang pengawal. Salah satu diantaranya perempuan.
...****************...
__ADS_1