
Valerie tengah merapikan beberapa bunga-bunga yang baru ia dapatkan setelah panen kemarin, di kebun belakang rumahnya. Merapikannya dengan maksud akan menutup toko tersebut karena sudah petang dan ia harus kembali ke rumah. Gadis tersebut dan bibinya memang sudah berprofesi sebagai penjual bunga di ibu kota Kerajaan Eunoia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terhitung sudah sekitar kurang lebih 17 tahun lamanya mereka menjual bunga yang memiliki berbagai jenis dan bentuk.
Mereka yang menanam beberapa jenis bunga untuk usahanya tentulah sudah menjalani proses pemilahan dan perawatan agar bunga tetap sehat dan segar.
Di atas toko tersebut terdapat papan nama di atas pintu ganda toko bertuliskan:
...ADAVORA...
...indah nan menawan...
Di luar toko terdapat dua rak panjang dan bertingkat yang menyimpan macam-macam bunga.
Gadis berambut putih itu mengunci pintu dan berjalan dengan menenteng sebuah tas. Suasana petang sangat menyenangkan apalagi jika ia berkesempatan melihat matahari terbenam yang secara perlahan ditelan gunung.
Seekor kuda menerjangnya ketika ia tengah menoleh ke arah salah satu toko yang menjual gaun. Ia tak menyadari hal itu karena begitu terpesona melihat gaun yang begitu indah di depan matanya.
BRAKK!!
Valerie terjatuh, tasnya terhempas dan ia hampir kejatuhan sebuah tiang jika saja tak ada yang menahan tiang itu.
Seorang pemuda di depannya mengulurkan tangan. Valerie menerima uluran tersebut. Ia berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor terkena tanah berdebu di bawahnya.
Kuda cokelat yang ia lihat berdiri di samping tuannya dengan wajah seperti—marah? Entahlah. Memangnya kuda bisa marah? Mungkin bisa.
"Kau tak apa?"
"Y-ya, aku baik-baik saja." Valerie membalas pertanyaannya sembari celingukan mencari tasnya yang sempat terlempar entah di mana.
"Apa yang kau cari?"
"Tasku."
Pemuda itu menoleh ke arah kudanya dan mendapati tas tersebut berada di moncongnya.
"Harpy, berikan padaku!" Pintanya sembari mengulurkan tangan meminta agar sang kuda memberikan tasnya.
Kuda cokelat itu meringkik seraya mengibaskan ekornya pada sang tuan.
Valerie yang melihat tasnya ada pada kuda tersebut ia mendekatinya. Dan mengelus kepala sang kuda. Kuda cokelat yang bernama Harpy tersebut terlihat memejamkan matanya tampak terasa nyaman berada di samping Valerie.
"Kau bilang namanya Harpy?" Tanya gadis itu sembari menatap lekat iris cokelat yang dimiliki oleh pemuda dihadapannya.
"Ya. Itu namanya, maafkan aku nona—"
"Valerie."
"Ya?"
"Itu namaku."
"Ah, nama yang bagus. Aku Lambert senang bertemu denganmu."
Harpy memberikan tas rajut berwarna biru muda kepada pemiliknya sambil mengeluarkan suara seperti ringkikkan. Tampaknya kuda itu benar-benar tengah marah.
"Senang bertemu denganmu juga. Kelihatannya kuda ini sedang marah padamu?"
"Yah, dia sangat pembangkang—" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Harpy mengibaskan ekornya pada wajah Lambert membuat Valerie tersenyum. Baru kali ini ia diajak bicara seseorang dengan sopan. "Kau ini..."
"Sepertinya aku baru melihatmu di sini. Apa kau orang baru?"
"Iya, aku datang dari Lovasea dan kau adalah orang pertama yang kuajak bicara disini." Lambert menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Jauh sekali.. Kudengar Lovasea memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah, apa itu benar?" Tanya Valerie sembari mengingat-ingat isi buku yang pernah ia baca.
Valerie memang tidak pernah kemana-mana kecuali hanya pergi ke Azzellatton—ibu kota Eunoia—hanya untuk menjual bunga saja. Itu pun rumahnya lumayan jauh dari tempat itu.
"Begitulah. Kau pernah ke Lovasea?"
"Aahh tidak.. Aku hanya pernah membacanya dari dalam buku saja."
"Sayang sekali. Lain kali, apa kau mau pergi ke sana bersamaku?"
Tawaran itu membuat Valerie cukup terkejut dan agak takut. Takut-takut jikalau nanti ia dibawa pergi oleh pemuda di depannya itu untuk dijadikan pekerja **** atau budak. Karena mengingat selama ini ia tidak pernah diperlakukan dengan baik oleh orang-orang disekitarnya kecuali Bibi Adaire. Membayangkannya saja membuat bulu kuduknya merinding.
"Aahh aku harus bergegas, bibi pasti sudah menungguku. Sampai jumpa." Nada bicaranya seketika berubah ketus. Lambert yang melihat ekspresinya mengerutkan keningnya sambil menatap kepergian gadis itu.
"Gadis yang cantik." gumamnya.
Valerie bergegas menuju ke rumah dengan berlari setelah jarak antara ia dengan Lambert sudah cukup jauh. Ia tidak ingin pemuda itu mengejarnya, sudah cukup ia mengalami hal yang tidak diinginkan hanya karena dirinya berbeda dengan orang lain. Rasa traumanya juga belum menghilang. Tapi sukurlah Lambert tidak mengejarnya.
'HUAAAAAARRRRRGGGGHHHHHH!!!!'
Sebuah suara auman yang cukup kencang menghentikan langkah kakinya. Valerie menengok kesisi kanan dan kirinya, melihat-lihat apakah ada monster ganas yang akan menerkamnya atau tidak. Tapi suara itu?
"Suara apa itu? Kenapa kencang sekali?" Monolognya.
"Tidak! Jangan berpikiran aneh-aneh! Lebih baik sekarang aku pulang ke rumah."
Gadis itu kembali berlari dengan sangat kencang dari sebelumnya. Khawatir jika tiba-tiba pemilik suara itu muncul di depannya dan menerkamnya. Menakutkan.
...****************...
"Ya. Baik! Terakhir kali aku mendengarnya darimu. Naga itu tertidur di bawah mantra sihir selama beratus-ratus tahun lamanya." Ujar Bhadrika—Penguasa Kerajaan Eunoia dengan suara kewibawaannya.
Di dalam ruangan itu, terdapat ada sekitar tujuh orang yang tengah membicarakan hal ini. Raja Bhadrika duduk di kursi paling ujung memimpin jalannya diskusi sekaligus makan malam karena dialah yang menjadi tuan rumah. Raja Avardo juga duduk berhadapan dengan Raja Bhadrika, sementara Lambert duduk ditengah-tengah yang berhadapan langsung dengan Peter. Giannaelley sang penyihir duduk di samping Peter. Dan Ferrous duduk di samping Lambert. Lalu diikuti oleh Penasihat Demarest yang duduk di samping Raja Bhadrika.
"Jika para elf yang membangunkannya maka hal itu mungkin terjadi. Mengingat para peri-lah satu-satunya ras yang berteman dengan naga." Ujar Peter yang duduk di kursi tengah dan berhadapan langsung dengan Lambert. Peter adalah salah satu panglima perang andalan Eunoia.
"Mustahil itu terjadi. Mantra yang mengurung Phyleria adalah jenis mantra yang sangat kuat diantara mantra penidur lainnya. Tidak mungkin hanya penyihir biasa yang membangkitkannya. Pasti ia adalah penyihir yang memiliki kemampuan di atas rata-rata." Sanggah Giannaelley, penyihir kerajaan Eunoia.
"Hah! Jadi kau mendukung mereka ya, penyihir!?" Ucap Peter memberi penekanan pada kalimat 'penyihir'.
"Tidak! Aku hanya memaparkan asumsiku saja."
Raja Bhadrika menghela nafas panjang. Ia tengah berpikir keras, bagaiman caranya melumpuhkan naga hijau kembali? Jika tidak segera dilumpuhkan ia khawatir hal yang sama beratus-ratus tahun silam terjadi pada negeri mereka.
"Aku juga sempat mendengar suara auman sang naga ditengah perjalananku. Suaranya terdengar kencang." Kali ini Lambert yang bersuara.
Pernyataan Lambert membuat seisi ruangan menolehkan perhatiannya pada Pangeran tampan yang tengah duduk.
"Ada kemungkinan besar naga itu berada di dekat sini." Tebak Ferrous.
"Yang Mulia Raja Bhadrika. Saya telah mengirim beberapa pasukan terbaik dari kerajaan saya untuk mencari dan menyerang sang naga. Tetapi hasilnya nihil. Justru semua kesatria yang saya kirim semuanya mati." Lapor Avardo—Pemimpin Kerajaan Lovasea.
"Kita harus menemukan cara lain, tapi bagaimana?" Ucap beberapa dari mereka frustasi.
"Giannaelley, ada saran darimu?"
"Yang Mulia, tidak ada yang benar-benar bisa membunuhnya bahkan sihir. Sihir hanya mampu melumpuhkan atau hanya menidurkannya seperti yang dilakukan oleh mendiang Maharaja Amor Hawkes dan penyihir kepercayaannya."
Maharaja adalah sebutan untuk seorang raja yang sudah meninggal. Dan Maharani memiliki makna yang sama dengan Maharaja, namun untuk sang ratu yang telah meninggal dunia.
"Pasti ada cara lain." Ujar Raja Avardo.
__ADS_1
"Ada Yang Mulia, dikatakan dalam *kitab dandalis hanya ada satu orang yang bisa menaklukannya. Dia adalah keturunan dari seorang bangsawan berdarah biru, dan tentunya salah satu keturunannya yang berdarah biru itulah yang bisa menaklukan sang naga hijau."
*kitab dandalis; (Kitab yang menjelaskan mantra-mantra berbahanya hingga semua jenis ramuan serta Gargantuan)
"Darah biru katamu?" Tanya Bhadrika dengan iris mata yang melebar kaget.
"Benar, Yang Mulia. Tetapi saya tidak tahu pasti dimana pemilik darah biru yang disebutkan berada."
"Hanya peri yang bisa mengetahui keberadaannya. Dia bisa mengendus aura pemilik darah biru dengan kuat." Kali ini Penasihat Demarest yang memaparkan.
"Kalau begitu kita tangkap peri-peri kecil yang ada di hutan *Anaoma," Kata Peter memberikan pendapat.
*Anaoma (hutan kerajaan Aspen——elf yang terletak jauh di sisi timur **Utopia).
**Utopia (Sebuah negeri yang terdapat banyak kerajaan salah satunya Kerajaan Eunoia)
"Tidak sembarang peri bisa melakukan itu, tuan Peter." Ucap Giannaelley.
"Peri yang bisa melakukannya adalah——" Penasihat Demarest menggantung kalimatnya.
"Lyra!" Kata Giannaelley dan Penasihat Demarest secara bersamaan.
"Lyra!? Yang benar saja!" Pekik Peter, "kalian sendiri tahu peri itu berada entah dimana kan? Bahkan ia sama sekali tidak pernah menunjukan batang hidungnya di Utopia maupun hutan Anaoma."
"Kita akan mencarinya!" Ujar Ferrous ambisius.
"Tapi bagaimana? Apa kau punya ide Jenderal Ferrous?" Tanya Bhadrika.
Yang ditanya hanya diam saja sambil berpikir mengenai rencana apa yang akan ia gunakan untuk menemukan sang peri misterius itu.
"Eee—Giannaelley, burung hantumu itu apakah dia bisa peka terhadap suara walaupun suara yang ia dengar dibawah pendengaran rata-rata manusia?" Tanya Lambert menatap Giannaelley.
"Kurasa, ya. Dia burung yang sangat pintar kau tahu?"
"Bagaimana kalau kita kirim dia ke hutan Anaoma untuk mencari keberadaan Lyra? Peri itukan bisa bersuara sangat lirih bahkan hampir tak bisa didengar oleh manusia biasa jika sedang menyembunyikan dirinya sebaliknya ia juga bisa berbicara dengan kita secara normal. Mungkin Lyra melakukan hal yang sama." Sambung Lambert.
"Benar, idemu sungguh cemerlang Lambert! Baiklah Tawny, kau dengar? Kau harus mencari peri Lyra dan sampaikan padaku jika kau sudah menemukannya."
Seakan mengerti, burung hantu itu bersuara seakan menyahut dan pergi ke luar melewati jendela besar yang tertera di belakang kursi sang raja.
"Aku salut dengan pemikiran kritismu Lambert. Semoga saja cara ini akan berhasil." Puji Bhadrika.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan seekor burung hantu, kita juga harus ikut bergerak!" Ujar Peter.
...****************...
'HUAAAAAARRRRRGGGGHHHHHH!!!!'
Sang naga mengaum kencang, lebih kencang dari sebelumnya setelah ia terbang ke arah selatan dan bertengger di sebuah tebing terjal berbatu. Masih mencengkeram jubah dikakinya, ia mengeluarkan nafas api dari dalam mulutnya dan keluarlah api berwarna hijau menerjang pepohonan di sekitarnya.
Pohon-pohon yang tampak jarang itu terlihat hangus seketika setelah terkena api.
Phyleria senang karena setelah dikurung selama beratus-ratus tahun lamanya akhirnya ia berhasil bebas. Namun ia juga merasa sangat kesal karena begitu dibangunkan ia langsung mendapat ancaman dari manusia.
Hingga saat ini, dia mencoba sedang mencari-cari manusia yang tadi mengancam nyawanya. Jika saja mereka dipertemukan, maka ia tak akan segan-segan untuk mencabik-cabik tubuhnya menjadi tak tersisa.
Sampai hari telah petang, yang artinya sebentar lagi adalah waktu malam.
Phyleria kembali dengan tangan kosong. Ia kembali masuk ke dalam gua tempatnya dikurung. Meletakkan jubah bersimbol Singa jantan tersebut dan menperhatikannya dengan tatapan mengerikan.
...****************...
__ADS_1