ANNEALL

ANNEALL
Chapter 5 Titah Raja


__ADS_3

Burung-burung berkicauan seperti sedang bernyanyi di hari yang begitu pagi seakan-akan menjadi alarm manual untuk Valerie.


Burung-burung tersebut hinggap di jendela kamarnya.


Valerie terbangun mengucek matanya yang masih berat menahan kantuk dia meregangkan tangannya dan berjalan keluar kamar. Saat itu, dia mendapati bibinya tengah berada di ambang pintu sedang berbincang dengan seseorang lelaki berpakaian seperti prajurit. Tunggu, prajurit?


Adaire mempersilahkan mereka masuk. Mereka yang datang berkunjung ada dua orang, yang satu perempuan, yang satunya lagi laki-laki. Si perempuan tampak memiliki rambut putih yang hampir sama dengannya, namun, rambut perempuan itu tidak sepucat rambut milik Valerie.


Valerie yang sangat penasaran, gadis itu mendekat bersembunyi di balik dinding untuk mencoba menguping.


Setelah dia lihat dan amati kembali, dia melihat ada seorang gadis bertubuh mungil bahkan sangat kecil serta memiliki seperti... Sayap.


Iris mata gadis itu melebar tatkala ia melihat ada seorang peri yang datang kerumahnya. Valerie menutup mulutnya yang menganga. Baru kali ini dia melihat seorang peri. Tetapi bukankah bangsa peri dan manusia tidak terlalu baik dalam menjalin hubungan? Setahunya sih begitu.


"Kau bisa langsung menceritakan maksud kedatanganmu, Gianna," desak Adaire yang duduk disampingnya.


"Baiklah. Tentu kau tahu sudah mendengar desas-desus mengenai kebangkitan Phyleria. Memang belum terungkap siapa yang sengaja membangkitkannya, tetapi Aku dan Penasihat Demarest telah menemukan petunjuk untuk memusnahkannya kembali," tutur Giannaelley.


Sejauh ini Valerie tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh mereka. Tetapi rasanya dia pernah mendengar nama itu. Tapi diamana?


"Dari mana kau dan Penasihat Demarest memperoleh petunjuk terkait masalah ini? Apakah kau dan beliau menemukan kitab Dandalis?"


"Tidak. Sebenarnya kitab itu tidak hilang, namun disimpan ditempat yang tidak pernah bisa diakses oleh siapapun kecuali orang-orang tertentu. Dan aku serta Demarest telah menemukan semua catatan hasil penemuan yang bersangkutan dengan Mantra Penidur dan Mantra Pembangkit. Tentunya setelah kau menyembunyikan kitab itu, bukan?"


"Lalu, apa hubungan semua ini denganku? Dan kenapa kau membawa seorang peri?"


Giannaelley menggelengkan kepala pelan. "Bukan denganmu, tetapi dengan dia." Ungkap Giannaelley seraya menunjuk arah dapur menggunakan dagunya. "Dan peri ini, dia yang membantu kami mencari keponakanmu itu."


Valerie yang tersadar dia lantas mengumpat. Sial. Perempuan itu tahu dia sedang menguping?


Adaire tampak seperti tercekik, napasnya langsung tertahan. Sementara itu, Giannaelley meneruskan informasi yang harus disampaikannya, "Raja Bhadrika memintaku untuk menjemput kalian. Beliau ingin menjelaskan semuanya pada gadis itu. Keselamatan seluruh negeri betul-betul berada ditangannya."


Adaire menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya frustrasi.


"Seharusnya aku tidak pernah tahu isi kitab Dandalis. Aku menyesal pernah mempelajarinya. Dan aku tahu ini akan terjadi. Aku tahu akan ada yang membebaskannya dari Mantra Penidur, dan benar saja kini dia bangun. Aku benci bisa menerawang hal itu."


"Tenangkan dirimu, Adaire. Kita harus bertindak cepat. Bisakah kita berangkat ke Istana sekarang?" Kata Giannaelley.


Valerie terperangah mendengar semua pembicaraan itu. Tetapi dia masih tidak mengerti mengenai hal penting apa yang mereka maksud. Phyleria? Bangkit? Apa sebelumnya 'Phyleria' telah mati dan dibangkitkan oleh seseorang? Tapi siapa itu Phyleria? Dan apa yang terjadi? Valerie masih tidak mengerti.

__ADS_1


Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Adaire menatap Giannaelley lekat-lekat, perasaan takutnya terpancar lewat mimik wajahnya.


"Kami, semua anggota kerajaan di seluruh negeri akan membantu, Raja Bhadrika dan semua Raja lain pun tidak akan tinggal diam. Kami sangat membutuhkan pertolongan gadis albino itu, aku mohon kau mengerti," Giannaelley meremas tangan Adaire dan berusaha meyakinkannya.


"Namanya Valerie," desis Adaire.


"Ya. Siapapun kau menamainya." Timpal Giannaelley.


Adaire menarik nafas dalam-dalam, kemudian memanggil Valerie yang segera menghampiri mereka ke ruangan depan.


"Maafkan ketidaksopananku, Valerie, aku belum memperkenalkan diri, namaku Giannaelley." Katanya setelah berdiri lalu mengangguk sopan.


Diikuti oleh prajuritnya yang mengangguk sopan setelah diam sepanjang perbincangan tersebut.


"Aku sudah mendengar namamu. Tapi kenapa kau datang mencariku?"


Giannaelley tersenyum. "Nanti kau akan mengerti. Nah, bisakah kita pergi sekarang?"


"Pergi ke mana?" Tanya Valerie.


"Kita akan ke Istana Al. Ada urusan yang perlu kita selesaikan. Cepatlah bersiap-siap," jelas Adaire, berusaha membuat suaranya terdengar tenang.


...****************...


Berada di peraduannya, Bhadrika masih sangat frustrasi memikirkan seorang bayi berumur dua hari yang telah dia habisi 17 tahun lalu. Dia khawatir bagaiamana jika mereka tidak berhasil menemukan blood shield jika hanya bayi itu yang tersisa.


Sekarang penyihir dan satu pengawalnya sedang mencari keberadaan pemilik blood shield dengan bantuan peri itu tentunya, setelah beberapa hari mereka kembali mencari Lyra di pedalaman Hutan Anaoma.


Pria itu terlihat sangat berantakan apalagi mengingat bahwa Permaisuri dan Putranya telah dihadang oleh naga dan sekarang dia berada di negeri para peri.


Suara ketukan terdengar. Awalnya pria itu menolak kedatangan salah satu prajuritnya dan menyuruhnya pergi. Tetapi setelah prajurit itu mengatakan bahwa ada seseorang yang datang berkunjung bermaksud ingin memberitahu sesuatu yang sangat penting, Bhadrika langsung bangkit dan berjalan menuju ruang singgasana setelah beberapa lama prajurit Kerajaan Eunoia bersikeras.


Benar saja, ada seorang elf berpakaian layaknya seorang prajurit sedang menunggu kedatangannya.


Elf itu berdiri dan membungkukkan badannya pada Sang Raja. Pria—elf itu juga berjongkok dengan satu kaki kanan yang lutut serta mata kakinya digunakan untuk bertumpu pada lantai, sedangkan kaki kiri menekuk, badannya menunduk lengan kiri tangannya ditekuk serta tangan kanannya menyilang dengan telapak tangan yang mengepal di dadanya. Itu adalah bentuk rasa hormat pada seorang Raja khas kaum elf di negerinya.


Bhadrika memmerintahkannya untuk berdiri dan menjelaskan apa maksud kedatangannya.


"Maafkan atas kedatangan saya yang secara tiba-tiba Yang Mulia. Tetapi saya kemari untuk menyampaikan hal penting kepada Anda."

__ADS_1


"Kudengar permaisuriku berada di Aspen. Apa itu benar?" Tanya Bhadrika langsung pada intinya, tidak menanggapi permintaan maaf dari elf didepannya.


"Benar, Yang Mulia, itulah yang ingin saya sampaikan. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa saat prajurit di kerajaan kami sedang menjalankan tugas untuk berjaga, kami tidak sengaja melihat sekumpulan orang yang tengah kesulitan menghadapi naga, dan kami melihat Pangeran James serta Yang Mulia Ratu Cathrine jatuh tersungkur di dekat kereta kuda saat hendak menyelamatkan diri dari semburan api. Lantas kami membawanya menjauh dari tempat itu dan membawa Pangeran serta Ratu bersama kami agar lebih aman untuknya. Dan seperti yang saya lihat, sepertinya naga itu mengincar Yang Mulia Ratu beserta Pangeran. Akhirnya untuk berjaga-jaga, kami memutuskan untuk membawa Yang Mulia Ratu dan Pangeran pergi ke Kerajaan karena sang naga tidak mungkin bisa melewati perbatasan." Jelas sang prajurit kerajaan Aspen panjang lebar.


"Apa mereka baik-baik saja?"


"Mereka baik-baik saja Yang Mulia."


"Syukurlah, tetapi apa naga itu masih berada di  luar perbatasan?" Tanyanya lagi.


"Sejauh ini, dia masih berkeliaran di sana, Yang Mulia."


Bhadrika tampak berpikir sejenak. "Naga itu... Berapa lama lagi aku harus menunggu?!" Ujar Raja Bhadrika frustrasi tanpa pikir panjang.


Raja Avardo bangkit dari duduknya, kebetulan


mereka memang masih berada di Eunoia untuk membahas mengenai bangkitnya Gargantuan yang mulai meresahkan. Raja Avardo baru akan dijadwalkan pulang esok lusa. Sedangkan Ferrous dan Lambert, mereka harus masih berada di Eunoia untuk membantu menyelesaikan masalah.


"Raja Bhadrika, saya yakin pemilik darah biru yang dimaksud akan segera ditemukan. Oleh karena itu, sambil menunggu kabar dari Penyihir Giannaelley, mari kita menyusun rencana untuk misi ini sekaligus menjemput keberadaan Ratu Cathrine dan Pangeran James." Usul Raja Avardo. Pria itu lalu duduk kembali di kursinya.


"Tadi kau bilang Phyleria masih berada di dekat perbatasan bukan?" Tanya Lambert pada si prajurit elf, Dracko.


"Benar."


"Tapi mengapa naga itu mengincar Ratu dan Pangeran?" Pikir Lambert dan semua orang disana pun memikirkan hal yang sama.


Tercetus sebuah ide dikepala Lambert, pemuda itu lantas mengemukakannya. "Mungkin akan lebih baik jika kita menjemput Ratu dan Pangeran kembali ke istana Eunoia setelah Giannaelley dan Lyra menemukan darah biru pekat itu."


"Apa mereka bisa menemukannya dalam waktu singkat, Pangeran Lambert?" Tanya Raja Bhadrika.


"Saya rasa itu akan sulit, tetapi bukankah akan lebih mudah jika darah biru itu bersama kita? Dan mungkin kita bisa membunuh naga itu disaat kita sedang menjemput Ratu dan Pangeran. Itu akan menjadi lebih mudah."


Peter tertawa dengan suara beratnya, semua orang yang berada di ruang singgasana melihatnya heran. Karena bisa-bisanya disituasi seperti ini dia malah tertawa.


"Saya setuju dengan anak ini, Yang Mulia. Saya rasa, meskipun kita harus menunggu peri jelek itu, ide anak ini akan menjadi lebih mudah untuk dijalankan. Jika naga itu masih berada disana." Tutur Peter menyetujui pendapat Lambert.


"Saya juga setuju, Yang Mulia. Tetapi, sebaiknya kita perlu merencanakan strategi lain. Karena belum tentu hal itu akan berhasil dengan sempurna."


Raja Bhadrika menghela nafas panjang. Perkataan Ferrous ada benarnya. Mereka juga harus menyiapkan beberapa strategi lain kalau-kalau mereka gagal menjalankan rencana itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2