ANNEALL

ANNEALL
Chapter 6 Warna Aura


__ADS_3

Giannaelley membuat portal di depan rumah menggunakan sihir. Portal atau teleportasi merupakan kemampuan berpindah tempat yang terjadi hanya dalam waktu sekejap.


Teleportasi juga merupakan penggabungan dari kata 'Tele' yang berarti jauh dan bahasa latin 'Vortare' yang artinya membawa. Jika digabungkan maka teleportasi adalah membawa jauh atau membawa ke lokasi yang lebih jauh.


Dengan keberadaan Valerie yang tidak memiliki kemampuan sihir, lebih mudah bagi mereka ke Istana Eunoia menggunakan portal.


"Mari nona, kau tidak perlu merasa takut." Ucap prajurit yang ikut menemani Giannaelley berusaha menenangkan Valerie yang terlihat sangat pucat sekaligus terkejut.


"Ya. Umm...  Terimakasih." Valerie menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayo kita masuk sekarang! Portal akan menyebabkan cahaya yang lebih terang dari ini dan itu bisa menarik perhatian orang lain di Azzellatton." Desak Adaire.


"Ya. Dan untung saja rumahmu agak jauh dari pemukiman." Ucap Giannaelley sembari mengangkat tangannya yang menahan portal agar tidak tertutup.


Valerie tidak mau menjadi orang pertama yang masuk ke portal berwarna biru tua transparan itu. Dia tidak mau banyak tanya lagi. Lagi pula Adaire telah mendahuluinya.


"Ayo. Tidak apa-apa. Kau bisa melakukan ini." Bujuk Lyra si peri kecil.


"Y-ya? Haha aku——terima kasih." Gadis itu menjawab dengan canggung karena baru kali ini dia bertemu dan berbicara dengan seorang peri.


Dengan mata yang disipitkan akibat cahaya yang semakin terang, gadis itu memandangi portal sejenak, menghela napas panjang, baru kemudian melompat ke dalam portal.


Tubuhnya kaku setelah dia terisap kuat dan ditarik ke dalam dengan cepat sejauh berkilo-kilo meter seperti ada medan magnet kuat di dalam lubang besar yang seperti terdiri atas bintang dan beberapa lorong, dan disekitarnya juga ada sekumpulan awan berwarna pink keunguan ditaburi banyak bintang.


...****************...


Ketegangan Valerie langsung berganti rintihan saat dirinya jatuh tersungkur begitu keluar dari portal. Dia berlutut seraya memegangi pinggangnya yang sakit. Sekujur tubuhnya pegal.


"Bangun, Al." Terdengar suara Adaire sambil menarik tangannya.


Kini Valerie berada disebuah aula megah yang sangat luas. Lantainya dilapisi karpet halus berwarna ungu tua dengan motif emas yang membentuk seperti bunga lavender serta gambarnya juga tebal. Dinding-dinding yang mengelilinginya penuh dengan ukiran dari tembaga, dilengkapi pilar-pilar raksasa yang tersusun dari marmer.


Di hadapan Valerie berdiri puluhan prajurit, semua memakai baju besi dengan motif kepala singa di lencananya. Sekarang mereka menatap Valerie.


Gadis itu tidak berkomentar hanya balas menatap mereka dengan mimik bingung. Kemudian Giannaelley dan Adaire serta Valak prajuritnya mengajaknya berjalan memasuki pintu masuk Istana.


"Baiklah. sebetulnya berapa lama kita akan berada di istana? Aku khawatir barang-barang yang kubawa tidak cukup atau malah kelebihan." Tutur Valerie.


"Aku tidak tahu," timpal Adaire seraya berjalan di belakang Giannaelley.


...****************...


Saking  terpesonanya akan kemegahan istana Eunoia yang baru pertama kali dilihatnya, Valerie tidak memperhatikan kemunculan dua orang laki-laki yang menghampiri mereka. Yang berdiri paling depan adalah seorang laki-laki paruh baya berperawakan tinggi dan sudah agak keriput serta memiliki rambut yang sedikit putih karena dimakan usia. Sedangkan laki-laki yang berdiri di belakangnya tampak lebih muda, bertubuh kurus, dan berpenampilan lebih sederhara dari si laki-laki paruh baya.


"Nona Adaire, rasanya sudah lama sekali  sejak pertemuan terakhir kita," kata si laki-laki paruh baya.


"Selalu ada saatnya terjadi pertemuan kembali," sahut Adaire.


"Nah, apa kabar Nona Adaire? Aku baru tahu kalau kau mempunyai keponakan." Tanya Kahrama, si laki-laki paruh baya.


Sepenglihatan Valerie, Adaire tampak canggung, "baik." Jawabnya singkat.


"Banyak yang berubah dari Eunoia setelah tragedi berakhir, kelihatannya Anda pun banyak berubah, Nona Adaire. Oh, aku hampir melupakan sesuatu, Nona Giannaelley, kau dipanggil Nona La Grange di laboratorium istana. Dia menunggumu." Tutur Kahrama tetap ramah.


"Benarkah? Baiklah, terimakasih Tuan Kahrama." Ucapnya seraya pergi menjauh. "Kalian bisa memanggilku jika memerlukan sesuatu."


Lalu Kahrama memperhatikan Valerie, "Apa dia orang terpilih itu? Aku tidak mengira dia masih sangat muda dan cantik. Senang bertemu dengan Anda, Nona. Saya Kahrama, Kepala Pelayan Istana Eunoia. Dan siapa namamu?"


"Namaku Valerie, senang bertemu denganmu. Tadi kau bilang—Sang... Terpilih..  Apa maksudmu?"


"Raja Bhadrika sudah menunggu kami, bukankah begitu? Mengapa kita tidak segera menemuinya?" Adaire tidak menggubrisnya, malah langsung mengalihkan pembicaraan.


"Benar sekali, Yang Mulia Raja Bhadrika telah menanti kehadiran kalian di Aula Persatuan. Javas, bawa barang-barang mereka ke peraduannya." Tutur Kahrama.


Lelaki kurus yang sedari tadi hanya diam mematung di belakang Kahrama pun buru-buru menghampiri kedua perempuan itu dengan membungkuk sopan dan meminta agar tas yang mereka bawa di serahkan kepada Javas untuk diletakkan di peraduan mereka yang sudah disiapkan.


"Saya akan mengurus barang-barang Anda dengan baik."


"Terima kasih." Sahut Valerie.


Valerie kembali berjalan mengikuti Kahrama bersama Adaire, dan Valak ke dalam Kastel Pemerintahan.

__ADS_1


Kahrama memimpin mereka melintasi koridor-koridor, memasuki aula kosong, lorong-lorong, menaiki tangga-tangga pualam, hingga akhirnya berhenti di depan pintu ganda dari kayu tebal setinggi empat meter yang penuh ukiran. Valerie tidak bisa mengingat rute perjalanan mereka karena terlalu rumit memahami setiap bagian Istana yang sangat luas itu.


Pintu tersebut dijaga oleh empat prajurit yang berdiri tegak dalam diam dengan tatapan lurus ke depan—sangat terlatih, sehingga membuat mereka tampak seperti patung. Tangan kanan mereka menggenggam pegangan pedang yang digantung di sebelah kiri sabuk yang melingkari pinggang, jelas mereka akan selalu sigap menarik senjata begitu diperlukan.


"Aku akan masuk terlebih dahulu untuk memberitahu kedatangan kalian," pamit Kahrama. Kemudian dua orang prajurit di sebelah kiri secara otomatis mendorong salah satu pintu hingga terbuka.


"Apa yang harus aku lakukan di dalam sana, Bibi Adaire?"


"Berkenalan dengan keluarga Istana," lagi-lagi menjawab dengan kaku.


"Benarkah? Kurasa tujuannya bukan untuk itu." Seloroh Lyra pada Adaire menatapnya sinis. Dia sangat benci orang pembohong.


"Kau tahu?" Tanya Valerie penasaran.


"Tentu saja, Valerie."


"Kita masuk!" Sela Adaire.


Tiba-tiba pintu ganda Aula Persatuan dibuka lagi, Kali ini oleh prajurit yang berjaga di dalam ruangan. Tampak Kahrama berdiri di samping dan mempersilahkan Valerie, Adaire, serta Valak yang membawa Lyra sang peri kecil untuk masuk.


Valerie tidak tahu pasti siapa atau apa yang akan menyambutnya di dalam. Dia melangkah gugup.


Akhirnya, Valerie bertemu dengan penguasa dan pejabat Eunoia, tatapannya tertuju pada panggung megah di ujung aula. Di sana terdapat tiga buah singgasana mewah. Tetapi hanya diduduki oleh satu orang lelaki yang dia yakini adalah Raja Bhadrika Carlotta—penguasa Eunoia. Setahu Valerie, Raja Bhadrika bukanlah bujangan. Tetapi beliau sudah menikah dengan seorang perempuan cantik yang merupakan anak dari penyihir Istana Eunoia dahulu dan telah memiliki dua orang anak. Tetapi kenapa Raja Bhadrika duduk di singgasana sendirian?


Valerie menjadi lebih gugup apalagi karena sekarang mereka semua menatapnya dengan mimik wajah terkejut, penasaran, bahkan ada yang tampak ketakutan.


Tiba-tiba Raja Bhadrika berdiri. Dia sudah melihat Valerie. Serta raut wajah yang terlihat terkejut yang sengaja dia tutup-tutupi agar terlihat tetap berwibawa.


"Itukah dia? Itukah si pemilik darah biru pekat?" Suaranya yang berat terdengar nyaring di dalam Aula Persatuan yang sunyi itu, dan dari nadanya yang tinggi Raja Bhadrika terdengar seperti tercengang dan tidak percaya.


"Salam hormat saya Yang Mulia." Serempak Valak memberi salam hormat kepada Sang Raja dengan badan membungkuk. Serta menyalami semua orang yang berada di dalam Aula Persatuan.


Valerie hanya terdiam, sedangkan Adaire tampak mematung dengan kepala tertunduk di sampingnya.


"Salam." Timpal Raja Bhadrika.


"Apa benar gadis ini pemiliknya?"


"Jelaskan Lyra, mengapa kau mencium aromanya." Lyra terbang ke area tengah-tengah aula, karena jika dia berbicara di belakang maka suaranya tidak akan terdengar oleh semua orang bahkan Raja itu sendiri.


"Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Sebenarnya saya tidaklah mencium aromanya, tetapi melihat warna urat ditangannya serta aura tubuhnya. Setelah melihatnya, saya baru bisa mengendus aroma darah tersebut." Jelas Lyra.


"Apa warna aura dan arti dari warna tersebut?" Tanyanya.


Lyra menjelaskan, "setiap manusia memnacarkan aura warna disekelilingnya. Makhluk hidup tidak hanya mengeluarkan satu aura warna saja. Namun diantara yang lain, satu warna menjadi lebih berpengaruh. Warna dan cahaya yang dipancarkan makhluk hidup menunjukkan keadaan emosi, kesejahteraan spiritual, kekuatan pribadi dan mental, serta tingkat kemampuan bertahan hidup. Keturunan serta lingkungan juga dapat menjadi penyebab cahaya yang dikeluarkan rendah. Aura warna yang dipancarkan setiap orang menunjukkan kepribadian dan pola pikir masing-masing.


Di saat saya melihat gadis ini, saya bisa langsung menyimpulkan bahwa gadis ini berbeda dengan orang lain. Sangat menarik. Aura tubuhnya berwarna biru dan indigo. Yang menandakan orang tersebut merupakan individu yang kuat dan tenang, cenderung mencari hiburan di tempat yang tidak diketahui orang lain, memiliki kemampuan memahami sesuatu tanpa dipelajari, disiplin Ilmu yang mampu melibatkan interaksi dengan manusia. Warna lain yang dimilikinya adalah merah dan merah muda. Merah sendiri merupakan warna utama yang menggambarkan emosi yang kuat seperti kemarahan, cinta, dan kebanggaan serta menandakan bertindak agresif atau atau menunjukkan kekuatan pribadi. Merah muda juga menggambarkan seseorang merasa mudah peka terkait beberapa hal. Hal ini positif jika menandakan cinta sejati, namun menjadi negatif saat mempunyai ketakutan akan kinerja professional." Jelas sang peri panjang lebar sembari terbang di tengah-tengah aula. Suaranya terdengar nyaring.


"Apa ada yang lain peri?" Tanya Bhadrika.


Begitu bingungnya, Valerie tidak mau memikirkan semua teka-teki yang berkecamuk di benaknya, dia hanya ingin menunggu orang-orang bersedia menjelaskan tentang semua kerumitan baginya ini.


"Hmm—Yang membuat saya merasa tercengang adalah... Nona Valerie memiliki warna lain ditubuhnya, putih dan kristal. Bukan hanya itu, warna hitam juga ada disana."


Sontak, semua orang yang berada di aula membelalakkan matanya kala mendengar 'warna hitam' yang diucapkan oleh Lyra, hal itu tentu saja msngundang tanda tanya di kepala mereka. Karena yang mereka ketahui adalah, warna hitam merupakan lambang untuk para penyihir jahat dan dianggap memiliki kekuatan negatif yang sangat mengerikan.


"Cahaya putih yang jernih dan cemerlang hanya ada pada orang-orang yang telah mengembangkan kesadaran spiritual dengan kuat, seperti konsoler kehidupan, guru, dan lainnya. Apa kau seorang guru?" Lyra berbalik pada Valerie yang juga ditatap oleh semua orang di sana.


Valerie menjadi sangat gugup. "Tidak, aku bahkan tidak pernah mengajar seseorang."


"Aneh, tapi kenapa aku melihat warna ini dalam tubuhmu? Ah, baiklah kemudian warna hitam. Kalian semua disini pasti mengira bahwa warna hitam adalah pertanda buruk dan mengerikan bila berada ditubuh seseorang bukan? Ta—"


"Tentu saja, sudah jelas bukan bahwa warna hitam itu warna yang sangat terkutuk! Apalagi yang memilikinya adalah seorang penderita albino." Sinis salah satu menteri yang bertubuh gempal berkepala botak.


"Dengarkan aku dulu Tuan!" Lyra balas menatapnya tak kalah sinis. " Begini, memang umumnya warna hitam diartikan sebagai aura negatif, tapi nyatanya waran hitam tidaklah seburuk yang dipikirkan. Warna ini menunjukkan bahwa orang tersebut berada di bawah sesuatu yang diumpamakan seperti tabir perlindungan yang bisa disebabkan oleh penyakit fisik, dan perasaan emosi seperti khawatir dan takut. Mungkin ini ada kaitannya dengan Nona Valerie yang memiliki 'blood shield'." Pungkas Lyra.


"Saya sudah selesai, Yang Mulia."


Setelahnya Lyra kembali, seorang pria tua yang duduk di kursi paling ujung kiri tiba-tiba berdiri.


"Saya yakin, banyak yang perlu kita ketahui, Yang Mulia. Begitu pula dengan gadis ini, saya yakin, banyak juga yang harus diketahuinya. Mengapa tidak mempersilahkan mereka duduk terlebih dahulu?" Pria dengan rambut berwarna putih tua dan berjenggot tebal itu bicara dengan suara yang rendah dan berat. Tangannya tidak berhenti bergerak dan teratur selama berbicara, seolah-olah telah terlatih bergerak jika sedang mempresentasikan sesuatu.

__ADS_1


Raja Bhadrika kembali duduk di kursi singgasananya tanpa mengalihkan pandangan dari Valerie. Lalu tangan kanannya bergerak pelan menunjuk barisan kursi yang masih kosong. Rupanya, Giannaelley sudah berada di dalam Aula Persatuan.


"Aku setuju dengan Penasihat Demarest, aku mempersilahkan kalian duduk," titahnya.


Valerie duduk tepat di hadapan kursi singgasana Raja Bhadrika yang berjarak sekitar empat meter. Giannaelley disebelah kirinya, sedangkan Adaire duduk di samping kanannya.


"Aku percaya, Nona muda ini belum mengenal keluarga istana Eunoia," Penasihat Demarest berbicara lagi dari tempatnya berdiri.


Sebelumnya Valerie sudah membaca banyak tentang anggota keluarga istana Eunoia dan yakin sekarang sudah bertemu dengan beberapa diantaranya, namun, dia merasa tidak perlu memotong dan membiarkan Penasihat Demarest melakukan maksudnya.


Lantas pria tua itu menunjuk sang raja yang berwajah tampan dan berpenampilan selayaknya seorang raja. Dia memiliki rambut berwarna kecoklatan serta beriris senada dengan rambutnya. "Yang Mulia Raja Bhadrika Carlotta, penguasa Eunoia yang ke-68, keturunan pertama dari mendiang Maharaja Garrizki Carlotta dan Maharani Chayelie Ishani, kakak kandung dari Pangeran Gerrand Carlotta dan memiliki dua orang keturunan yaitu Pengeran James Carlotta serta Putri Rosseanne Carlotta." Jelas Penasihat Demarest.


Penasihat Demarest kemudian berdiri ditempatnya. "Yang Mulia Ratu Cathrine Barrows, pendamping penguasa Eunoia ke-68, keturunan kedua dari mantan penyihir kerajaan Harry Barrows dan Falveta Damarwarsa, dan adik kandung dari Gilbert Aslana Barrows--tabib paling terkemuka di Eunoia."


Penasihat Demarest memperkenalkan seseorang yang sama sekali tidak ada di dalam aula. Tetapi Penasihat Demarest tetap memperkenalkannya dengan menunjuk salah satu foto wanita berambut merah kecoklatan dengan anggunnya yang dipajang di dinding aula.


Lalu Penasihat Demarest berjalan ke sisi kiri dekat panggung singgasana, "Yang Mulia James Carlotta, Putra Mahkota Eunoia, keturunan pertama dari Yang Mulia Ratu Cathrine Barrows dan Yang Mulia Raja Bhadrika Carlotta, sangat mahir dalam memanah dan melukis." Penasihat Demarest melakukan hal yang sama seperti ketika dia sedang memperkenalkan Ratu Cathrine. Dia menunjuk foto pangeran tampan berambut senada yang memakai setelan jas berwarna putih.


Selanjutnya, Penasihat Demarest berjalan kembali ke sisi paling kiri di dekat kursi yang ditempati oleh pria bertubuh atletis dan mempunyai jenggot hitam yang lumayan panjang. Penasihat Demarest lalu menepuk pundak pria itu.


"Jenderal Peter Vallene, Menteri Pertahanan sekaligus Jenderal tertinggi pasukan keamanan Eunoia, keturunan pertama mendiang Kesatria Norman Vallene dan Nona Diana."


Penasihat Demarest berjalan kembali ke kursinya yang berada cukup jauh. "Saya sudah selesai, Yang Mulia," katanya setelah duduk dengan hormat.


"Aku baru tahu ternyata kau memiliki keponakan, ya, Nona Adaire," desis Raja Bhadrika.


"Dia anak dari kakakku, kakakku telah meninggal setelah melahirkan Valerie." Adaire tampak menjawab dengan kepala tertunduk lemas dan tangan bergetar.


Valerie merasa ada yang aneh, selama ini, Bibi Adaire tidaklah pernah menceritakan tentang orangtuanya sama sekali. Dan setiap dia menanyakan siapa orangtuanya, Adaire selalu mengganti topik pembicaraan. Valerie agak sedikit heran mengenai Raja Bhadrika yang ternyata mengenal Bibinya. Dia ingat Bibinya pernah bercerita bahwa dia adalah mantan pelayan istana Eunoia yang sekarang berhenti.


"Apa itu benar, Bibi Adaire? Se—Auch!"


Valerie mengernyit kesakitan begitu Adaire tiba-tiba mencubit pinggang rampingnya.


"Dan yang kutahu, kurasa kau hidup sebatang kara." Raja Bhadrika terus menanyainya dengan pertanyaan yang menyimpang dari awal rencana pertemuan. Hal itu semakin membuat wanita itu gugup sekaligus takut dan cemas.


"Kami bertemu disaat saya sedang berbelanja kebutuhan dapur istana di pasar tujuh belas tahun lalu, dia dalan keadaan hamil, namanya Hannah, dan itulah alasan saya mengapa mengapa saya memutuskan untuk berhenti menjadi pelayan istana." Sanggah Adaire.


Raja Bhadrika tampak mengernyitkan keningnya, merasa curiga akan pernyataan yang diberikan oleh wanita itu. Seperti sangat kebetulan.


"Seperti suatu takdir atau kebetulan, ya, Nona Adaire," tatapan Raja Bhadrika tampak seperti sedang mengintimidasi.


Kebingungannya sudah memuncak, sehingga Valerie memberanikan diri untuk menuntut, "ada apa ini sebenarnya? Apalagi yang kau tutupi dariku Bibi Adaire?"


"Baiklah, seperti yang kau dengar tadi, permaisuri serta putraku sedang berada di wilayah Aspen. Dan kau tahu mengapa?" Valerie menggeleng pelan, "karena mereka dihadang oleh seekor Gargantuan yang telah bangkit kembali setelah beratus-ratus tahun silam tertidur. Bangsa elf melihat kejadian dimana permaisuri serta putraku dihadang, lalu mereka membawanya ke dalam wilayah mereka yang nyaris tak pernah diinjak oleh kaki manusia. Karena sang naga mengincarnya. Dan Gargantuan itu harus secepatnya dimusnahkan sebelum terlambat."


"Tapi, apa hubungannya dengan saya, Yang Mulia?" Tanyanya bingung.


"Tentu ada hubungannya denganmu. Karena kaulah yang harus memusnahkan naga itu. Dan kau tahu mengapa kau harus memusnahkannya?"


"Aku pernah mendengar bahwa hanya pemilik darah biru pekat-lah yang bisa memusnahkannya?" Tebak Valerie. Karena dia mendengarnya dari Giannaelley yang berbicara dengan Adaire saat sedang berada di rumahnya.


"Benar sekali, dan setelah pertemuan ini, aku akan memutuskan untukmu menyusun rencana bersama Pangeran Ferrous dan Jenderal Peter setelah kembali dari Aspen. Dan juga penyihir kerajaan yaitu Giannaelley serta Pangeran Lambert dari Lovasea yang siap membantumu kapan saja. Aku juga berharap agar mereka segera kembali."


"Tetapi.. bukankah hanya ke—"


"Lantas, apa yang harus dilakukan untuk memusnahkan naga itu, Yang Mulia. Apakah Anda yakin? Saya rasa misi ini terlalu berbahaya untuknya, bagaiman jika dia terluka? Hanya dia keluarga satu-satunya yang saya miliki, mohon pikirkan baik-baik, Yang Mulia." Potong Adaire dengan tangan gemetaran. Sungguh, dia sangat tidak ingin asal-usulnya diketahui karena takut akan kehilangan gadis yang selama ini sangat dia sayangi.


"Aku sudah memikirkannya Adaire, keputusanku sudah bulat. Keselamatan seluruh negeri kini berada di tangan keponakanmu. Aku tahu kau sangat menyayanginya, tetapi berfikirlah secara bijaksana. Atau nyawamu yang akan melayang ditangan para naga itu."


"Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Tetapi apakah Yang Mulia yakin gadis albino sepertinya bisa menangani kasus besar seperti sekarang?" Ucap Harry Barrows--mantan penyihir kerajaan—Ayahanda Ratu Cathrine, yang meragukan Valerie.


"Apa Anda meragukannya, Tuan Harry?" Tanya Giannaelley dengan lembut namun terdengar seperti suara desisan.


"Lihat dia, Giannaelley. Bukankah kebanyakan albino akan membawa sial? Bahkan kebanyakan dari jenis mereka ada yang tubuhnya dijadikan sebagai jimat atau benda persembahan untuk ritual, dan apa kau yakin telah membawa orang yang tepat?"


Valerie nampak kaku, ternyata dunia di dalam istana tidaklah semenyenangkan dan semenarik yang dia bayangkan. Dia masih saja diperlakukan dan dipandang remeh oleh orang-orang disekitarnya.


"Kau yakin berucap seperti itu, Tuan Barrows? Aku rasa albino tidak seburuk itu," sanggah Giannaelley.


"Ya. Itu menurutku dan karena kau juga albino bukan?"

__ADS_1


...*******************...


__ADS_2