ANNEALL

ANNEALL
Chapter 2 Peri Lyra


__ADS_3

Hujan lebat kembali mengguyur wilayah Azellatton.


Sejak kecil, Valerie Annora tinggal di sebuah pondok sederhana yang terbuat dari batu dan kayu. Pondoknya hanya memiliki dua kamar tidur, satu ruang makan sempit yang diisi oleh meja persegi dengan dua buah kursi kayu, satu dapur, satu kamar mandi, dan sebuah ruang depan. Di sana terdapat perapian yang selalu menyala di musim dingin seperti sekarang, juga sebuah kursi panjang yang sudah tua serta meja dari batang pohon raksasa untuk menjamu para tamu.


Dari balik jendela ia memandang, berdiri sambil memeluk erat buku tebal yang baru dibacanya. Rambutnya panjang berwarna putih bersih, kulitnya seputih salju, netranya berwarna biru sebiru lautan, bibirnya berwarna pink alami serta tubuhnya juga lumayan berisi. Secara fisik gadis itu bisa saja menjadi incaran para pria. Namun selama ini, tidak pernah ada satu orang pun yang mau berteman dengannya hanya karena ia memiliki albino.


Mereka meyakini bahwa seseorang yang memiliki albino akan membawa kesialan bagi siapa saja yang dekat-dekat dengan penderitanya. Oleh karena itu, Valerie sangat sering mendapatkan perlakuan tidak sopan bahkan sampai dirundung oleh orang-orang disekitarnya entah itu anak-anak hingga orang dewasa pun tak luput dari nasib yang menyelimutinya.


Selain itu, orang-orang juga percaya pada mitos bahwa orang-orang albino merupakan manusia yang memiliki kekuatan sihir yang tidak pernah mati.


Bahkan setiap orang yang ingin bermaksud jahat padanya menggunakan sihir untuk mencelakai Valerie, sihir itu malah tidak mempan sama sekali. Malah terkadang sihir yang mereka gunakan untuk menyerang akan berbalik ke arah yang memakainya. Seperti senjata makan tuan.


Ia menghela nafas panjang dan duduk di depan perapian untuk menghangatkan tubuhnya yang menggigil.


"Valerie, ayo makan. Makanannya sudah siap." Bibi Adaire mengajaknya bersantap malam sembari merapikan makanan yang telah ia masak.


Gadis itu meletakkan buku tebalnya di atas meja-di depan-perapian. Ia menghampiri bibinya dengan tersenyum simpul.


"Kenapa bibi tidak bilang sedang memasak? Aku kan bisa membantu."


"Tidak, sepertinya kau kelelahan setelah menjaga toko seharian penuh ini."


"Hmm akhir-akhir ini penjualannya lumayan meningkat."


"Aku bisa melihatnya."


Gadis berusia tujuh belas tahun itu memiringkan kepalanya. Mencerna maksud dari perkataan bibinya barusan.


"Dengan jumlah uangnya yang bertambah lebih dari sebelumnya." jelas Adaire yang tahu ekspresi kebingungan Valerie.


"Ah! Aku kira bibi menerawangnya menggunakan sihir." Ucap gadis itu bermaksud bercanda.


Adaire memototkan matanya, terkejut akan perkataan Valerie.


Sebelah alis Adaire terangkat dan ekspresi wajahnya dingin. "Sejak kapan aku bisa sihir?" Dia mengelak cepat.


"Aku kan hanya bercanda...," cengir Valerie.


"Sudah! Habiskan makananmu!"


Mereka berdua melanjutkan makannya dan membiarkan hawa canggung menguasai keduanya.


Di suapan terakhirnya, gadis itu mulai teringat akan satu hal. Ya. Suara itu. Auman itu. Suara raungan hewan yang begitu kencang.


Ia lantas ingin bertanya.


"Bibi—"


"Al—"


Keduanya membuka suara secara bersamaan.


"Ah, bibi dulu!"


"Tidak, kau dulu."


"Bibi saja, pertanyaanku tidaklah terlalu penting."


"Baiklah! Hari ini, apakah ada yang mengganggumu?" Tanyanya.


"Umm.. tidak."


"Jawab dengan jujur Al,"


"Aku sudah berkata jujur bibi."


"Syukurlah kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Ah, begini.. Tadi petang, sewaktu aku pulang. Aku mendengar suara auman yang sangat kencang, apa bibi mendengarnya?"


Pertanyaan itu tak langsung dijawab, karena ternyata Valerie juga mendengarnya? Oh! Baiklah!


"Tidak!"


"Sungguh? Tapi itu sangat kencang, tidak mungkin bibi tidak mendengarnya bukan? Kira-kira hewan ap—"

__ADS_1


"Al, kau sudah selesai kan? Bergegaslah tidur dan istirahatkan tubuhmu!" Sergahnya memotong ucapan Valerie. Lalu berlalu dari meja makan.


Valerie mengernyitkan dahinya, bingung akan sikap bibinya. Ia masih terdiam ditempatnya dan menerka-nerka kenapa Bibi Adaire bersikap berbeda. Apa mungkin ia sedang memiliki masalah? Tapi kenapa tidak menceritakan padanya? Sudahlah. Gadis itu lalu membereskan meja makan dan berlalu memasuki kamarnya.


...****************...


2 Hari Berlalu


Setelah Tawny berhasil menemukan keberadaan Lyra, sang peri yang digadang-gadang bisa mengendus darah biru. Mereka berempat, tepatnya Giannaelley, Peter, Lambert dan Ferrous kini tengah berada di pedalaman hutan Anaoma yang terpelosok.


Untunglah mereka sama sekali tidak bertemu dengan naga-naga yang berada di hutan tersebut. Mengingat mereka sedang berada di wilayah Kerajaan Aspen membuatnya semakin waspada.


Kerajaan Aspen adalah satu-satunya kerajaan yang menjadikan naga sebagai simbol. Bahkan bisa dibilang mereka sangat akrab dengan naga-naga yang menurut orang diluar Kerajaan Aspen sangatlah berbahaya.


Mengikuti arah Tawny yang berhenti di sebuah pohon berukuran sedang serta tidak terlalu tinggi, namun daun yang dimiliki pohon itu sangat rimbun. Daunnya berwarna hijau kekuningan. Dilihat dari kejauhan memanglah seperti pohon biasa. Tetapi jika diamati dengan saksama, pohon itu memiliki jendela-jendela kecil di beberapa bagian. Maka sudah pasti pohon itu adalah rumah sang peri.


"Apa kau yakin ini tempatnya?" Tanya Ferrous sembari melihat-lihat lingkungan di sekelilingnya yang tampak asing.


"Kau meragukan Tawny?"


"Sedikit."


"Tunggu dulu, setelah kulikir-pikir... Jika hanya keturunan bangsawan berdarah birulah yang bisa menaklukan naga hijau-maka bukankah itu berarti kau dan Lambert bisa?" Tanya Peter dengan wajah cengonya. "Bukankah memang semua bangsawan itu memiliki darah biru? Lalu kenapa kita harus repot-repot datang kemari hah!?"


"Kau tidak mengerti." Desis Giannaelley, perempuan itu sudah merasa jengah mendengar semua ocehan prajurit itu. Ia jadi merasa heran, kenapa Raja Bhadrika mau mengangkat Peter menjadi panglima perang andalan Eunoia yang tingkahnya seperti anak usia lima tahun? 'bahkan anak-anak pun lebih baik dari dirinya.' gumamnya dalam hati.


"Tentu saja aku meng—"


"Kau tidak pernah sekolah ya? Pantas saja otakmu kosong!" Potong Giannaelley.


"Apa katamu?!"


"Hei sudahlah! Kita kesini untuk menjalankan rencana, bukan untuk bertengkar!" Hardik Ferrous.


"Menurut sejarah Negeri Utopia, para bangsawan dan keturunannya memang semuanya memiliki darah biru. Tetapi ada satu buku yang pernah kubaca sewaktu berada di perpustakaan nasional Lovasea yang membahas tentang darah biru pekat. Menurut legenda, darah biru pekat itu hanya dimiliki setidaknya dua sampai tiga orang saja di seluruh negeri. Dan diceritakan bahwa siapa saja yang memiliki darah biru pekat maka ia akan kebal terhadap sihir jahat, dengan kata lain orang tersebut tidak bisa dipengaruhi oleh sihir sedikitpun atau hal ini bisa disebut juga dengan blood shield." Jelas Lambert panjang lebar mengingat kembali isi buku yang pernah dibacanya.


"Benar sekali! Kau dengar itu Pete? Dia bahkan lebih pintar darimu. Aku salut padamu, kemampuanmu menyerap isi buku sangat hebat!" Puji Giannaelley yang tentunya juga sedang menyindir Peter. Yang disindir hanyalah diam dan memicingkan matanya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"A-ah aku hanya menjelaskan yang kutahu."


"Jadi begitu ya? Baiklah, Giannaelley bisakah kau mengeluarkannya sekarang? Kita dikejar waktu!" Titah Ferrous.


tuk...


tuk...


tuk...


Tidak membutuhkan waktu lama, pintu kayu terbuka menampakkan seorang-gadis-peri memegang sebuah sisir kecil ditangannya.


Semua orang yang berada di sana terpaku tatkala mereka melihat seorang peri untuk pertama kalinya. Dan secara langsung.


Sang peri baru menyadari ada manusia yang berkunjung ke kediamannya. Ia memelotot hendak menutup kembali pintunya, namun segera dicegah oleh Giannaelley.


"Tropsfy!" Sang penyihir melontarkan sebuah mantra yang membuat peri tersebut tak dapat menggerakkan badannya sama sekali. Ia diam seperti patung, hanya matanya saja yang dapat berkedip.


Peri tersebut memiliki badan yang sangat kecil, mungkin tingginya hanya sampai dua puluh sentimeter saja. Ia juga memiliki telinga yang panjang seperti para elf juga tak lupa sepasang sayap yang berada di belakang punggunggnya.


"Lepaskan aku manusia!"


"Tenanglah! Kami tidak akan menyakitimu." Kata Giannaelley mendekatkan dirinya pada sang peri.


"Omong kosong!"


"Kau bisa percaya pada kami."


Suara Lambert yang terdengar sangat menenangkan ditelinga sang peri membuatnya tidak berbicara lagi. Melainkan mendengarkannya sembari menatap wajah pemuda itu lekat-lekat.


"Apa kau Lyra?" Tanya Ferrous kemudian.


"Siapa kalian? Kenapa kalian mencariku?! Apa tujuan kalian?"


"Jadi benar kau Lyra?! AH AKU TIDAK MENYANGKA AKAN BERTEMU DENGANMU SECARA LANGSUNG!!" Pekik Giannaelley dengan mata berbinar. "Bolehkah aku meminta tanda tanganmu?" Wanita itu tersenyum lebar pada sang peri sehingga membuat ketiga orang dibelakangnya menghela nafas pendek.


"Kau ini seperti bertemu dengan artis saja huh! Padahal sudah jelas aku lebih menawan darinya!" Cetus Peter dengan wajah muram.

__ADS_1


"Apa kau cemburu?"


"APA??!! TENTU SAJA TIDAK!!"


"Hentikan! Bawa peri kecil itu ke istana dan selesaikan semuanya!" Pungkas Ferrous mengakhiri obrolan mereka.


Mereka harus segera kembali ke istana. Hari sudah larut kini mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah tenda.


Beristirahat di tengah hutan seperti sekarang hanyalah membuat mereka merasa was-was apalagi ditengah malam seperti ini. Selain itu, beredar kabar bahwa hutan Anaoma adalah tempat persembunyian para monster-monster ganas yang siap melahap mangsanya kapan saja. Berada di sana berarti menyerahkan diri untuk diburu.


Terlepas dari semua kengerian itu, kunang-kunang mulai bermunculan, beterbangan di sekitar mereka. Jamur-jamur di sana juga terlihat menyala. Tunggu! Jamur yang menyala? Ya. Jamur-jamur yang terdapat di sana bercahaya di kegelapan malam.


"Jamur-jamur ini, mereka begitu cantik." Gumam Giannaelley kagum.


"Jangan terlalu mengagumi, bisa saja jamur itu adalah bentuk pertahanan dari para elf atau bahkan peri sepertinya!" Ketus Peter.


"HEY KAU!!" teriak Lyra pada Peter. Tak terima akan perkataannya.


"Apa?" Pemuda itu melirik sekilas sang peri yang terkurung di dalam sel kecil seraya mengupil. Iuuhhh! Menjijikan!


"Menjijikkan!" Ucap Ferrous pada Peter setelah melihat tingkah pemuda itu.


"Kenapa kau selalu berpikiran buruk pada bangsaku? Kurasa kami tidak seburuk itu!"


Peter hanya diam tak menggubris seraya melanjutkan kegiatannya. Lambert menoleh ke bawah pada sang peri.


"Sudahlah jangan dihiraukan, dia memang seperti itu." Bisik laki-laki tampan disamping kurungannya.


"Tapi dia sangat menyebalkan!"


"Hahaha! Sebaiknya kau tidur, besok kita sudah harus melanjutkan perjalan."


Lyra mengangguk-angguk setuju. Disepanjang perjalanannya, Lyra selalu berada bersama Lambert dan selalu menurutinya walaupum ia dikurung di dalam sangkar. Lyra hanya merasa bahwa mereka bukanlah orang jahat. Tetapi tetap saja ia harus bersikap waspada.


"Ini, pakai ini agar tubuhmu tidak kedinginan!" Titah Giannaelley memasukkan kain yang ukurannya cukup kecil ke dalam sangkar.


"Terima kasih."


...****************...


Kerajaan Heexxerr


Kini tengah dipenuhi oleh hamparan bunga-bunga berwarna-warni yang begitu melimpah. Saat ini adalah musim semi dan hal itu menjadikan rakyat Heexxerr semakin bergembira ria.


Heexxerr, Kerajaan Berbunga. Tanah yang indah dengan pegunungan, hutan, padang rumput yang penuh dengan bunga liar. Orang-orang Heexxerr damai dan baik hati, dan menikmati kesederhanaan hidup. Mereka terampil dalam bertani dan mencari makan serta tanahnya yang cukup subur membuat tumbuh-tumbuhan tidak sulit ditanam di wilayah Heexxerr.


Namun sayangnya, Kerajaan Berbunga Heexxerr diperintah oleh seorang raja kejam yang menggunakan hati baik rakyatnya sebagai penutup atas perbuatan jahatnya sendiri. Tetapi hal itu tidak banyak diketahui karena tampang sang raja yang cukup mendalami peran ketika rakyat berhadapan langsung dengan raja. Argos Manors, Raja Hexxeerr yang memiliki 'muka dua'-baik di mata rakyat-buruk di mata empat negeri besar Utopia.


Sang Raja Argos kini tengah menatap ke luar jendela kastilnya yang begitu besar dengan kedua tangan yang melipat ke belakang.


Memperhatikan rakyatnya yang tengah menyiapkan festival bunga musim semi yang akan dilaksanakan empat belas hari lagi.


Setiap musim semi, warga Heexxerr mengadakan festival untuk merayakan mekarnya bunga dan kebangkitan alam. Perayaan adalah saat yang penuh kegembiraan dan ini menyatukan orang-orang dari semua lapisan masyarakat dalam keharmonisan dengan alam. Festival ini akan menampilkan parade, tarian, musik dan permainan serta merupakan acara yang dinikmati oleh segala usia. Perayaan berfungsi sebagai pengingat keindahan dan kerapuhan alam, dan ini adalah waktu untuk bersyukur atas karunia yang telah diberikan oleh sang Maha Pencipta.


Suara derit pintu berbunyi, seorang pemuda memasuki peraduan Argos dengan memakai baju besinya.


"Bagaimana? Kau sudah mendapatkan informasi terbaru?" Tanya Argos dengan tubuh yang masih membelakangi pengawal pribadinya.


"Iya, Yang Mulia. Saya mendapatkan informasi bahwa kini Kerajaan Lovasea dan Kerajaan Eunoia tengah bekerja sama untuk menumpas Phyleria. Bahkan beberapa hari yang lalu, kedua pemimpin kerajaan tersebut sampai Jenderal tertingginya juga mengikuti makan malam bersama." Lapor pengawal pribadi.


"Rencana apa yang mereka diskusikan untuk menaklukan naga itu?"


"Dari informasi yang saya dapatkan, mereka kini tengah mencari seorang peri di hutan pedalaman Anaoma untuk meminta bantuannya agar mau mencari keberadaan si pemilik darah biru."


"Untuk apa? Bukankah mereka juga memilikinya?"


"Untuk itu, saya kurang tahu Yang Mulia."


"Baik, cari tahu selengkapnya! Ini saja tidak cukup Klaus." Titah Argos pada pengawal pribadinya.


"Baik, Yang Mulia!" Klaus membungkukkan badannya kemudian pergi meninggalkan peraduan sang raja.


Informasi ini tentulah sangat berguna seorang peri dan darah biru, ya?


'Apa yang mereka maksud adalah darah biru pekat?' Gumamnya menatap lurus keluar jendela.

__ADS_1


"Blood Shield! Menarik!" Ia memonolog seraya menyunggingkan seringaian.


...****************...


__ADS_2