Anomali

Anomali
Chapter 10: Trisula #2


__ADS_3

Pada pukul 1:17 Herlambang membangunkan Raezha di warung milik pria tua siang tadi. Tapi sebelum Herlambang menepuk pundak Raezha, Raezha sudah terlebih dahulu bangun dan langsung berdiri.


“Baru juga mau bangunin kamu.”


“Gitukah? Mau ngapain?” Tanya Raezha menghadap wajah dan menatap mata Herlambang.


“Gantian, aku mau nulis kesimpulan sementara tentang investigasi kita.” Herlambang duduk di kursi panjang, meletakkan buku di atas meja makan.


“Nih senter, biar gak gelep-gelep amat.” Herlambang memberi Raezha senter.


“Ok.” Raezha berjalan keluar dari warung sambil menyalakan senter yang diberi oleh Herlambang.


Raezha berjalan menjauhi warung dan memulai penelusurannya di tengah malam....


Raezha berjalan di tepi pantai yang sepi dan gelap dengan suara ombak pantai yang seolah-olah membuat seseorang bernostalgia. Meskipun menggunakan perumpamaan seperti itu, tetap saja Raezha tidak merasakan perasaan apapun melalui suara ombak pantai yang menggebu-gebu.


Sudah sekitar 15 menit Raezha berjalan-jalan di pesisir pantai seperti seorang penjaga pantai. Raezha mengarahkan senternya ke area yang terlihat lebih gelap dari tempat lain, terutama rumah tua yang ia jumpai siang tadi.


Teringat dengan cerita kelam dan horor yang diceritakan pemilik warung. Raezha berjalan mendekati rumah tua itu sambil terus mengarahkan senternya ke jendela rumah tersebut.


Raezha melewati semak-semak yang memenuhi bagian depan rumah itu. Tidak ada pintu di depan rumah tua tersebut, juga di dalam rumah tua tersebut sudah dipenuhi dengan semak dan rerumputan karena sudah terlalu lama tidak ditinggali.


Raezha masuk ke dalam rumah dengan waspada, mengarahkan senternya ke tempat tertentu untuk melihat seisi rumah tua.


“Kenapa rumah ini gak dihancurin aja oleh pemerintah daerah? Udah terlalu lama dibiarkan di tempat yang notabenenya lokasi wisata.” Tanya Raezha kepada dirinya sendiri dengan perasaan heran dan bertanya-tanya sembari berjalan ke ruang kamar rumah tua.

__ADS_1


Memasuki kamar rumah tua, seisi kamar benar-benar sudah dipenuhi oleh semak layaknya rumah di tengah hutan. Padahal rumah itu berada di dekat pantai, bukan dekat hutan.


Tiba-tiba dari luar terdengar suara pohon yang jatuh. Raezha langsung keluar dari rumah tua itu dan memeriksa keadaan luar.


Sebuah pohon kepala yang besar jatuh entah bagaimana caranya. Raezha menghampiri pohon tersebut dan menemukan bahwa pohon kelapa itu dipotong dengan sempurna tanpa adanya bagian yang miring sedikitpun.


Raezha mengeluarkan revolvernya setelah melihat bekas potongan pohon kelapa. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Raezha terus mengamati area sekitar sembari mengangkat revolvernya.


Tidak ada tanda apapun atau bekas jejak hasil dari terpotongnya pohon kelapa itu. Ataukah Raezha yang kurang teliti?


Raezha berdiri dan memotret hasil temuannya dengan smartphone-nya. Raezha menyimpan smartphone-nya kembali ke dalam jas dan menggunakan radio kecil yang tersembunyi di dalam jasnya untuk memanggil Herlambang.


“Yudo ini Raezha, aku menemukan pohon kelapa yang terjatuh karena dipotong di dekat rumah tua yang kita jumpai tadi. Cepet ke sini, ada sesuatu yang menarik.” Pinta Raezha melalui radio kecil agar Herlambang secepatnya ke tempat Raezha.


Sesampainya di lokasi, Herlambang menghampiri Raezha yang menunggu Herlambang.


“Jadi ini pohonnya?” Tanya Herlambang sambil mengamati bagian batang pohon kelapa yang terpotong.


“Ya. Baru aja tadi jatuhnya, jatuhnya juga bukan karena terpaan angin tapi karena dibelah atau dipotong.” Ujar Raezha sambil mengapit tangan di dadanya.


“Tapi aku gak denger suara pohon jatuh.” Balas Herlambang dengan perasaan heran.


“Ha? Serius? Masa cuma aku sih yang denger? Padahal suara jatuhnya keras loh, gak jauh dari warung itu pula.” Tanya Raezha lebih heran.


“Kayaknya ini bakal jadi petunjuk pertama kita. Apa ada lagi yang kamu temuin?” Tanya balik Herlambang sambil menoleh ke Raezha.

__ADS_1


“Belum ada sih, sementara cuma ini dulu ini aja gak tau perbuatan Anomali atau bukan.” Jawab Raezha.


“Kalo gini sih udah besar kemungkinan penyebabnya Anomali, apalagi kalo-” Tiba-tiba Herlambang menerima panggilan melalui smartphone dari pihak BARUNO pusat.


Herlambang mengangkat panggilan dari BARUNO. “Di sini Herlambang Yudhoyono. Ada apa?” Tanya Herlambang.


Seorang wanita operator menjawab Herlambang melalui smartphone. “Herlambang! aktivitas anomali Trisula terdeteksi di sekitar pantai Melawai!”


“Ap- Baik, aku akan segera ke sana!” Panggilan dari BARUNO terputus dan Raezha bertanya kepada Herlambang.


“Panggilan dari BARUNO?” Tanya Raezha.


“Ya, anomali Trisula terdeteksi di pantai Melawai gak jauh dari sini.” Herlambang menyimpan kembali smartphone-nya ke dalam jasnya dan berlari ke mobil mereka.


“Ha? Serius di sana? Bukannya di sana Deket dengan dermaga TNI?”


Herlambang berhenti dan berbalik melihat Raezha. “Kamu lupa kalo anomali bisa muncul di mana aja? Dah, ayo cepet naik ke mobil.” Herlambang lanjut berlari ke mobil.


“Iya, iya!” Raezha berlari mengejar Herlambang ke mobil mereka.


Sesampainya di mobil, Herlambang langsung masuk dan menyalakan mobil mereka disusul dengan Raezha yang masuk ke dalam mobil.


Herlambang langsung tancap gas pergi dari pantai Kemala menuju pantai Melawai. Jarak pantainya cuma 400 meteran doang kok.


Setelah sampai di pantai Kemala, mereka langsung turun dari mobil sambil membawa revolver dan memulai investigasi pencarian anomali di wilayah itu.

__ADS_1


__ADS_2