Anomali

Anomali
Chapter 7: Kalimantan Timur


__ADS_3

Setelah mendarat di Kalimantan Timur, atau lebih tepatnya di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sepinggan di Balikpapan. Cukup panjang yah.


Mereka mendarat di Balikpapan, dan langsung saja keluar dari pesawat melalui jalan yang berbeda dari penumpang lainnya.


Seorang petugas mengarahkan Raezha dan Herlambang ke area parkir tersembunyi.


“Sejak kapan di bandara ini ada tempat parkir yang tersembunyi?” Tanya Raezha terkejut saat melihat ada beberapa mobil di dalam tempat parkir bawah tanah tersembunyi.


Petugas itu keluar meninggalkan mereka. “Raezha, mau liat sesuatu gak?” Tanya Herlambang dengan seringai.


“Apa?”


Herlambang membuka bagasi mobil. Sesaat setelah membuka bagasi mobil, Raezha langsung terkejut dengan isi dari dalam bagasi itu.


“Senjata api?!”


dua pucuk senjata api MP-7 dan tiga pucuk revolver beserta peluru masing-masing senjata terletak di dalam bagasi mobil tersebut.


“Kenapa ada senjata api di dalam mobil ini?” Tanya Raezha yang heran.


“Kamu kan tahu sendiri kalau penyelidikan terhadap anomali itu berbahaya dan sangat rentan untuk diserang, jadi BARUNO mewajibkan untuk personil anggota divisi investigasi memiliki senjata api.” Ujar Herlambang sambil menatap Raezha.


“Tapi bukannya cuma kita berdua ya? Kenapa ada tiga revolver?” Tanya balik Raezha.


“Itu hanya senjata cadangan. Nanti aku akan melatihmu menggunakan pistol dan senjata api.” Herlambang menutup bagasi mobil dan berjalan ke pintu mobil. “Sekarang masuk ke dalam mobil, kita akan ke fasilitas pusat penelitian BARUNO.”


Herlambang masuk ke dalam mobil, begitu pun Raezha yang mengikutinya dan masuk ke dalam mobil lalu duduk di samping Herlambang.


Mobil mereka keluar dari tempat parkir rahasia, lalu pergi meninggalkan bandara.


Saat masih di kota Balikpapan Raezha dan Herlambang sempat di hadang oleh polisi yang sedang melaksanakan razia.


Mobil mereka sempat berhenti saat seorang polisi menghadang mereka. Herlambang membuka jendela mobil lalu seorang polisi berbicara dengannya. “Selamat siang pak, boleh saya lihat surat-suratnya?” Tanya si polisi dengan sopan.


Herlambang menarik dompetnya keluar dari saku celananya dan mengeluarkan kartu identitas anggota BARUNO.


Wajah polisi tersebut langsung terlihat terkejut setelah melihat kartu Herlambang. “Anda dari BARUNO ya, maaf telah menghambat perjalanan kalian. Kalian boleh langsung lanjut pergi.” Si polisi menyerahkan kartu identitas BARUNO kepada Herlambang kembali.


Herlambang hanya mengangguk dengan tatapan dingin, lalu Herlambang mengambil kartunya kembali dan langsung tancap gas meninggalkan lokasi razia.


“Kok tiba-tiba jadi serius gitu?” Tanya Raezha dengan datar sambil bersandar di jendela mobil.


“Enggak ada, kita langsung aja ke pusat penelitian.”


Mereka melanjutkan perjalanan ke pusat penelitian yang berada di tengah-tengah hutan, sangat jauh dari perkotaan dan pedesaan.

__ADS_1


Saat mereka mulai memasuki jalan dengan hutan yang sangat lebat di sekeliling, cahaya perlahan meredup ditutupi oleh daun yang rindang dan lebat.


Setelah berjalan cukup lama dan masuk cukup dalam ke hutan hingga jalan di tanah mulai memudar menyatu dengan rerumputan.


Mobil mereka berhenti lalu Herlambang keluar dari mobil mengajak Raezha untuk mengikutinya berjalan ke fasilitas penelitian. Tapi sebelum itu mereka mengambil senjata api MP7 yang ada di bagasi mobil.


Herlambang melempar senjata api MP7 dan revolver pada Raezha. “Tangkap!”


Raezha menangkap senjata MP7 tersebut setelah itu menangkap revolver yang dilempar Herlambang. “Nanti kamu bakal ku latih bagaimana cara menembak dengan baik dan tepat sasaran.”


Herlambang menutup pintu bagasi mobil lalu menguncinya, setelah itu ia berjalan lurus ke melalui pepohonan di kiri-kanan.


“Harus jalan? Kenapa gak pake mobil aja?” Tanya Raezha mengikuti Herlambang sambil membawa senjata api di tangannya.


“Hutan ini terlalu lebat jadi kita harus berjalan untuk mencapai fasilitas penelitian. Gak lama kok, bentar lagi juga sampai.”


Sesuai dengan apa yang dikatakan Herlambang, mereka benar-benar sampai dan melihat suatu tempat yang mirip dengan garasi mobil besar yang dijaga oleh empat orang prajurit dengan senjata dan armor serta masker yang menutupi seluruh wajah mereka yang membuat mereka semakin misterius.


Saat Herlambang mendekati prajurit yang berjaga, ia langsung ditanya tentang kartu identitasnya.


“ID Card.” Perintah prajurit tersebut.


Herlambang mengeluarkan kartu identitasnya sambil sedikit menyeringai. Prajurit mengambil kartu Herlambang lalu mengeceknya. Setelah mengecek ia mengembalikan kartu itu pada Herlambang.


“Siapa yang di belakangmu, bawa senjata pula.” Tanya prajurit dengan sinis.


“Oh jadi dia anggota baru yang dikatakan jenderal Andhika.” Prajurit tersebut menatap Raezha dan berkata. “Jangan terlalu dekat dengan orang ini, dia orang aneh.” Kata prajurit sambil tertawa.


“Enggak kok, dia cuma canda aja. Bohong itu.” Balas Herlambang yang malah ikut cekikikan.


“I know,” sahut Raezha.


“Yaudah kalian bisa lanjut masuk.” Prajurit itu menekan sebuah tombol yang membuka pintu besar fasilitas, tapi pintu hanya terbuka setengah saja dan setelah Raezha dan Herlambang masuk pintu tersebut langsung tertutup rapat.


Terdapat lift di hadapan mereka, langsung saja mereka berjalan ke lift dan turun ke ruang bawah tanah tempat dari fasilitas penelitian.


Mereka pun sampai di fasilitas utama penelitian dan sel anomali.


“Banyak sekali peneliti....”


Raezha mengamati setiap lorong koridor dan ruangan para peneliti, seorang wanita dengan pakaian serba putih ala peneliti profesional menghampiri mereka.


“Hai Herlambang, udah lama gak ketemu. Gimana misi kamu?” Tanya wanita peneliti sambil tersenyum.


Herlambang menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang dibarengi balasan senyum. “Hai Listya, udah lama juga gak ketemu. Misiku masih berjalan dan aku punya anggota baru.”

__ADS_1


“Oh, yang dari tadi mengikutimu itu ya?” Tanya Listya dengan senyum polos.


“Iya.”


Raezha maju dan berdiri di samping Herlambang lalu memperkenalkan diri dengan tatapannya yang datar dan khas itu. “Halo, namaku Raezha. Hanya Raezha.”


“Jadi kamu yang namanya Raezha, jenderal Andhika bilang kamu mengalami mimpi anomali yang langsung terhubung ke dunia nyata.” Ungkap Listya.


“Ya benar, apa kalian ingin melakukan penelitian padaku?” Tanya Raezha serius.


“Wow, kamu langsung tahu. Kami hanya butuh sampel darahmu saja, tidak sampai melakukan eksperimen.” Listya menoleh ke Herlambang. “Aku bawa Raezha ke ruang pengecekan dulu.”


Raezha dibawa oleh Listya ke ruang pengecekan bersamaan dengan Herlambang yang mengikuti.


Raezha duduk di kursi, sementara Listya mengambil alat pengambil darah dari lemari. Listya duduk di samping Raezha lalu mulai mengambil sampel darah dari jari Raezha.


Listya menyimpan darah Raezha dalam sebuah tabung kecil dan memasukkannya ke dalam kantong kecil.


“Kamu yakin enggak papa gak pake perban untuk jarimu?”


“Iya gak papa, enggak ada rasa sakit sama sekali.” Jawab Raezha.


Raezha hanya membersihkan bekas darah di jarinya lalu Herlambang berjalan menghampirinya. “Kalo dipikir-pikir kamu pas di markas tadi enggak pake perban pas udah diambil darah kamu. Emang kamu gak ngerasa sakit?”


“Enggak.”


“Oh, kok bisa? Kamu udah terbiasa?” Tanya Listya penasaran.


“Bukan terbiasa tapi memang aku enggak merasa adanya rasa sakit.” Ujar Raezha memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


“Aneh, apa kamu punya riwayat kelainan?" Tanya Listya lagi.


“Enggak ada.”


Herlambang menyela mereka berdua dengan alasan untuk mengajak Raezha ke tempat pelatihan menembak.


“Udah-udah, Raezha harus ikut ke tempat latihan menembak untuk kulatih menembak.”


“Oh baiklah, kalian juga sudah membawa senjata.”


Herlambang langsung menarik Raezha untuk mengikutinya ke lapangan tembak bawah tanah.


...****************...


BONUS WORD

__ADS_1


Sementara itu setelah Herlambang dan Raezha pergi cukup lama, Listya bersama rekan-rekannya sedang meneliti sampel darah Raezha.


Kening Listya mengerut dan serius saat melihat darah Raezha dari alat mikroskop. “Darah ini.... Kenapa seperti berbeda dengan darah manusia biasa?”


__ADS_2