
Raezha dibawa ke Polsek Pamulang untuk menjalani serangkaian interogasi.
Setelah sampai di Polsek, Raezha dibawa ke suatu ruangan gelap dan duduk di kursi yang telah di sediakan.
Masuk seseorang dengan seragam lengkap sembari membawa buku dan pulpen. Ia duduk di depan meja menghadap ke Raezha.
“Nama kamu Raezha, perkenalkan saya Herlambang Yudhoyono, dari divisi investigasi anomali.” Ujar Herlambang dengan santai. “Jawab pertanyaan saya dengan jujur.” Lanjut Herlambang.
“Baik pak.” Balas Raezha tanpa perlawanan.
“Pertanyaan pertama, kemana kamu kemarin?” Tanya Herlambang.
“Saya kemarin pergi untuk melamar kerja di sebuah perusahaan yang bernama 'PT Mitra Info' pada jam 8:30, tapi pada akhirnya saya ditolak setelah mendengar pertanyaan konyol dari HRD.” Jawab Raezha.
“Ouh begitu, pertanyaan konyol seperti apa?” Tanya Herlambang lagi sambil mencatat jawaban Raezha.
“Dia bertanya tentang pengalamanku, padahal aku belum pernah bekerja sama sekali.” Jawab Raezha datar.
“Ya HRD itu ada dua jenis, ada yang bijak tapi juga ada yang dungu dan kamu bertemu dengan HRD yang dungu.” Balas Herlambang sambil sedikit tertawa. “Kita lanjut lagi. Setelah kamu ditolak, kamu kembali pulang melewati jalan gang dan sempat berhenti di jalan dan muncul seekor kucing yang melompat turun dari pipa besi. Apa kamu merasa ada yang aneh dari tempat gelap tersebut?” Tanya Herlambang.
“Ya walau memang ada kucing yang turun dari pipa besi, aku bisa merasakan ada energi aneh yang menyebar dari area gelap dan sempit itu.” Jawab Raezha tanpa keraguan.
“Apakah kamu tahu, bahwa di area tempat kamu berdiri ada orang yang menjadi korban dari anomali?” Tanya Herlambang lagi.
“Benarkah?! Jadi memang ada anomali yang bersembunyi di sana?!”
“Ya memang benar, kemarin kami baru saja menemukan mayat dari korban anomali sekaligus bukti rekaman gangguan anomali.” Jawab Herlambang. “Oh ya kamu terluka ya? Gimana kamu bisa terluka?” Tanya Herlambang.
“Oh luka ini, aku juga merasa agak aneh karena luka ini tidak berasal dari dunia nyata.” Ungkap Raezha.
“Tidak berasal dari dunia nyata? Gimana itu maksudnya?” Tanya Herlambang penasaran.
Kemudian Raezha menjelaskan "mimpinya" secara panjang lebar pada Herlambang.
“Jadi begitu ya, jelas bahwa itu anomali tapi aku belum pernah dengar ada anomali yang membawa seseorang ke sebuah hutan dan kembali terbangun di kasur mereka.” Tutur Herlambang yang berpikir keras. “Ini kasus rumit dan unik, nanti aku akan memberitahu hal ini kepada petinggi Badan Urusan Anomali atas ceritamu itu. Mungkin ada sesuatu yang bisa menjelaskan segala hal yang terjadi.” Ujar Herlambang lalu berdiri.
__ADS_1
Herlambang berjabat tangan dengan Raezha. “Baik itu saja yang bisa saya sampaikan dan terima kasih atas kerjasamanya.”
“Ya sama-sama senang bisa membantu aparat keamanan.” Balas Raezha sambil berjabat tangan dengan Herlambang.
Setelah menjalani serangkaian interogasi dan pertanyaan, Raezha akhirnya keluar dari Polsek dan memutuskan untuk langsung pulang. Lagi pula kakinya masih terluka.
Saat Raezha berjalan pulang hujan turun dan memaksanya untuk berteduh di sebuah warung makan terdekat.
“Numpang ya pak, kaki saya sakit nih.” Pinta Raezha lalu duduk di kursi kayu panjang. “Oh ya gak papa kok duduk aja.” Sahut pemilik warung makan sambil membuat sesuatu.
Sang pemilik warung makan berjalan ke kursi yang di duduki Raezha sambil membawa segelas teh hangat, pemilik warung makan meletakkan teh hangat tersebut di atas meja Raezha.
“Eh? Tapi saya gak beli pak.” Raezha sempat menolak tapi sang pemilik warung makan tetap memberikan teh hangat tersebut. “Sudah minum aja, gak perlu bayar kok.” Pinta pemilik warung dengan lembut.
Raezha meminum teh hangat tersebut walau agak sedikit ragu. Kemudian si pemilik warung duduk di samping kiri Raezha.
Si pemilik warung berjabat tangan dengan Raezha. “Nama saya Zuhrif Arifan, kamu bisa panggil saya pak Ifan karena semua orang memanggil saya begitu.” Ucap pak Ifan lalu melepaskan jabat tangannya. “Saya sering lihat kamu lewat jalan sini sambil bawa-bawa dokumen, kamu pasti lagi cari kerja kan?” Tanya pak Ifan.
“Iya saya lagi cari kerja, tapi kemarin kaki saya malah luka gini.” Jawab Raezha.
Setelah berbincang selama beberapa menit, hujan mulai mereda dan Raezha memutuskan untuk pulang.
Sebelum itu Raezha berpamitan dengan pak Ifan. “Makasih ya pak udah ngizinin buat berteduh, maaf kalau merepotkan.” Pamit Raezha.
“Enggak papa kok sama sekali gak ngerepotin, nanti kalau ada waktu ke sini lagi.”
Raezha berjalan kembali ke kos tapi dalam perjalanan kabut putih muncul dan menghalangi pandangannya.
“Kenapa tiba-tiba ada kabut? Padahal baru juga selesai hujan.”
Kabut semakin tebal dan benar-benar menghalangi pandangan Raezha, bahkan Raezha merasa bahwa ia berada di tempat lain dan bukan di jalan trotoar.
Raezha tetap berjalan lurus walau tidak dapat melihat apapun di depannya. Aroma bunga tercium di hidung Raezha, aroma bunga mawar semakin kuat dan menusuk hidung Raezha.
“Kenapa tiba-tiba ada aroma bunga? Aromanya semakin kuat, tapi dari mana asalnya?”
__ADS_1
Raezha tetap berjalan lurus tapi kabut yang awalnya putih tebal merubah area sekitar menjadi putih seolah seperti "surga".
Karena area yang sudah benar-benar berwarna putih, Raezha terpaksa harus mengikuti arah dari aroma bunga mawar yang terus menusuk hidungnya.
Saat Raezha sudah berjalan cukup lama ia melihat sebuah bunga mawar yang melayang di udara.
“Apa? Bunga melayang? Kok bisa?”
Raezha berjalan perlahan mendekati bunga tersebut dengan keraguan dan penasaran. Saat Raezha akan menyentuh bunga mawar itu, bunga mawar tersebut langsung layu dan hancur berkeping-keping.
Seseorang menatap Raezha dari belakang di kejauhan. Raezha yang menyadari bahwa ia sedang di awasi langsung berbalik ke belakang.
Orang itu berwarna hitam dengan mata putih menyala, persis seperti orang yang ada di dalam "mimpi" Raezha.
Orang itu berjalan perlahan mendekati Raezha. “Kita belum selesai....” Ucap orang hitam aneh itu sambil terus berjalan perlahan.
Raezha perlahan berjalan mundur menjauhi orang itu. “Siapa kau?! Apa yang kau mau dariku?” Tanya Raezha dengan keras.
“Apakah kamu yakin bahwa 'anomali' memang benar-benar monster?” Tanya orang aneh tersebut sambil berjalan mendekati Raezha.
“Apa maksudmu?!” Tanya balik Raezha.
“Aku juga adalah bagian 'anomali', dan aku hanya ingin kamu mencari tahu kebenaran dari 'anomali'. Karena kamu adalah harapan kebenaran.” Ungkap orang aneh itu.
Pak Ifan menghampiri Raezha dan membangunkannya. “Hei nak bangun, hujan sudah berhenti.” Ucap pak Ifan sambil menepuk pundak Raezha.
“Apa? Ha?” Raezha bangun dalam kebingungan. “Di mana orang aneh itu?” Tanya Raezha.
“Orang aneh? Apa maksud kamu? Kamu dari tadi tertidur karena terlalu lama menunggu hujan reda.” Ujar pak Ifan.
“Lebih baik kamu pulang saja, apalagi kamu masih luka begitu jadi kamu perlu banyak istirahat.” Tutur pak Ifan.
“Ya hujan juga sudah berhenti, makasih ya pak udah ngizinin saya berteduh di sini.” Pamit Raezha lalu pergi dari warung makan.
“Ya sama-sama, lain kali ke sini lagi ya!”
__ADS_1
Raezha masih memikirkan "mimpi" yang ia alami tadi. “Tadi itu nyata atau cuma mimpi?”