Anomali

Anomali
Chapter 5: Badan Urusan Anomali


__ADS_3

Raezha berjalan pulang ke kos dalam kondisi masih agak pusing dan lelah. Sesampainya Raezha di kosnya, ia langsung masuk ke kos dan menutup pintu dengan rapat.


Raezha duduk di lantai lalu berpikir apa yang dikatakan oleh orang aneh dalam "mimpi" nya.


“Apa maksudnya mencari tahu tentang anomali? Dan apa maksudnya tentang 'kebenaran?' Aku sudah bingung dengan siapa orang tuaku malah dibuat pusing lagi oleh orang aneh yang muncul dalam mimpiku.”


Raezha menjadi bingung tapi juga penasaran dengan perkataan yang dilontarkan oleh orang aneh dalam "mimpi" nya.


Raezha mengambil smartphone-nya di dalam sakunya, lalu ia melihat jam pada smartphone.


“Sudah jam 9, entah apa yang harus kulakukan lagi.”


Raezha benar-benar bingung harus berbuat apa lagi, ia saja tidak apakah harus mencari tempat untuk melamar kerja lagi atau menunda sampai kakinya sembuh....


Pada akhirnya 1 pekan kemudian atau pada tanggal 20 September 2017 Raezha benar-benar dalam keadaan kosong finansial dan sudah tidak memiliki uang, benar-benar finan-"sial". Walau luka pada lutut kanannya sudah cukup membaik tapi tetap Raezha tidak tahu harus cari pekerjaan ke mana lagi, jika ia tidak segera mendapatkan pekerjaan ia akan diusir oleh pemilik kos karena ini adalah bulan kedua Raezha menunggak.


Saat Raezha sedang duduk merenung di lantai, terdengar suara ketukan pintu dan seseorang yang memanggil namanya dengan suara yang tidak asing.


TOK, TOK, TOK, TOK, TOK.


“Raezha!” Panggil pria sambil mengetuk pintu.


“Ya! Siapa sih yang datang?” Raezha berdiri lalu berjalan ke pintu kemudian membukakan pintu.


Seorang pria tinggi dengan seragam lengkap dan di samping lengan jaket bertuliskan "BARUNO" dan di depan jaketnya bertuliskan "Divisi Investigasi Anomali" dengan lambang perisai dan cakaran berdiri tepat di depan Raezha. Siapa lagi kalau bukan Herlambang Yudhoyono.


“O-oh pak Herlambang, ada apa kemari?” Tanya Raezha yang cukup penasaran.


“Bukankah sudah kubilang waktu itu kalau aku akan menemuimu untuk mengajakmu ke markas Badan Urusan Anomali.” Ujar Herlambang dengan santai.


“Haruskah sekarang?” Tanya Raezha lagi.


“Iya, sekarang ikuti saja aku ke mobil.”


Raezha memutuskan untuk ikut bersama Herlambang berharap ia akan mendapatkan imbalan uang untuk menambah isi dompetnya. Sebelum pergi Raezha mengunci pintu kos lalu mengikuti Herlambang ke mobil SUV berwarna hitam yang terparkir di sisi jalanan. Jelas mobil itu bukan mobil biasa karena sudah dimodifikasi.

__ADS_1


Raezha masuk ke dalam mobil begitupun Herlambang yang masuk melalui pintu pengemudi.


Herlambang mulai menyalakan mobil dan mengemudikan mobil menjauh dari tempat kos Raezha menuju ke markas Badan Urusan Anomali di Jakarta Pusat.


“Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 1 jam lebih, jadi santai saja nikmati pemandangan kota.” Ungkap Herlambang sambil mengemudi mobil.


Perjalanan yang cukup jauh hanya untuk mengantar Raezha ke markas pusat Badan Urusan Anomali di Jakarta Pusat. Raezha meraih smartphone-nya dari sakunya, Raezha melihat smartphone-nya sambil bersandar di pintu mobil.


Setelah berjalan selama 1 jam mereka pun sampai di markas pusat Badan Urusan Anomali di Jakarta Pusat.


Raezha dan Herlambang keluar dari mobil setelah memarkirkan mobil mereka, Herlambang membimbing Raezha masuk ke markas.


Markas Badan Urusan Anomali lebih terlihat seperti kantor perusahaan dibandingkan markas.


“Kenapa markas BARUNO lebih terlihat seperti tempat kantoran?” Tanya Raezha sambil berjalan mengikuti Herlambang.


“Karena ini adalah tempat para pejabat dan petinggi memberi komando, sementara pusat penelitian dan sel anomali berada di tempat yang berbeda. Kan gak lucu kalo tiba-tiba ada anomali yang melarikan diri dari sel dan menyerang warga Jakarta. Kamu pikir markas ini akan mirip seperti markas TNI?” Jawab Herlambang dengan santai sambil berjalan menuju lift.


Mereka berdua terus berjalan dan naik ke lantai atas melalui lift. Mereka berdua pun sampai di lantai atas lanjut berjalan menuju suatu ruangan. Sebuah ruangan yang di pintunya bertuliskan "Ruang Ketua/Kepala".


Mereka berdua berhenti di depan pintu ruang tersebut. Lalu Herlambang mengetuk pintu selama beberapa kali lalu terdengar suara perintah dari dalam ruangan.


Herlambang membuka pintu perlahan lalu masuk bersamaan diikuti oleh Raezha di belakangnya.


Pria yang duduk di kursi berhenti menulis di kertas. “Oh Herlambang, jadi ini pemuda yang kamu maksud? Aku penasaran dengannya.” Pria yang merupakan kepala BARUNO berdiri dari kursinya.


Herlambang dan Raezha berdiri depan meja kerja kepala BARUNO. Di pakaian kepala BARUNO tertulis nama "Andhika Pratama".


“Perkenalkan saya adalah Andika Pratama, ketua atau kepala utama Badan Urusan Anomali.” Ucap Andhika.


“Perkenalkan juga saya adalah Raezha, hanya seorang yang sedang mencari kerja.” Balas Raezha dengan santai tapi dengan ekspresi datar.


“Jadi langsung saja nak Raezha, Herlambang sudah memberitahukan bahwa kamu mengalami 'mimpi' yang langsung terhubung ke dunia nyata.” Ungkap Andhika.


“Ya, dan satu Minggu yang lalu atau lebih tepatnya saat aku sudah diinterogasi oleh pak Herlambang, aku kembali mengalami mimpi tersebut tapi berbeda.” Balas Raezha dengan datar.

__ADS_1


“Oh begitu? Coba jelaskan detailnya.” Pinta Andhika sambil terus menatap Raezha.


Raezha pun bercerita tentang "mimpi" yang ia alami 1 pekan lalu kepada Andhika. Andhika yang mendengar cerita dari Raezha pun tertarik dan juga penasaran.


“Menarik, jadi orang hitam aneh dalam 'mimpi' mu itu mengakui langsung bahwa dirinya adalah bagian dari anomali. Kurasa kamu akan menjadi subjek yang berguna.” Ucap Andhika. “Jadi nak Raezha, kamu mau gak kalau kamu menjadi bagian dari BARUNO? Kamu juga kan masih cari kerja toh? Mau gak?” Lanjut Andhika menawarkan pekerjaan pada Raezha.


Jelas ini adalah tawaran langka dan Raezha pun tanpa berpikir panjang langsung menerimanya. “Baik aku terima!” Seru Raezha bersemangat.


Andhika tersenyum. “Bagus, sekarang kamu adalah bagian dari divisi investigasi anomali bersama Herlambang Yudhoyono sebagai mentor sekaligus rekanmu.”


“Tapi hehehe.... Aku boleh minta gaji sekarang gak? Soalnya kos tempat aku tinggal udah nunggak 2 bulan nih pak. ” Pinta Raezha sambil menyengir.


Andhika dan Herlambang tertawa sedikit. “Tenang aja, sekarang seluruh biaya hidupmu sudah ditanggung oleh BARUNO.” Ujar Andhika.


“Terima kasih pak Andhika!” Balas Raezha dengan bahagia.


“Kalau begitu dalam 1 minggu kemudian pastikan bahwa dirimu sudah siap untuk menjalankan investigasi pertamamu.”


Raezha dan Herlambang pun keluar dari ruangan Andhika, lalu mereka berjalan turun ke lantai bawah melalui lift dan berpapasan dengan seorang perempuan yang terlihat seumuran dengan Raezha.


“Kenapa Raezha?” Tanya Herlambang.


“Dia seperti seumuran denganku.” Ucap Raezha sambil menatap perempuan yang berjalan menjauh.


“Dia memang terlihat seumuran denganmu, tapi dia sudah berusia 28 tahun.” Ujar Herlambang.


“S-serius?! Gak nyangka kalo ada orang kek gitu.”


Raezha dan Herlambang berjalan keluar dari markas menuju ke mobil. Herlambang pun mengantar Raezha pulang ke kos.


“Raezha, kamu punya jas gak?” Tanya Herlambang sebelum Raezha keluar mobil.


Raezha berbalik menatap Herlambang dan menjawabnya. “Ya aku punya bekas kakekku, memangnya kenapa?” Tanya balik Raezha.


“Bagus, nanti pakai saat Minggu nanti. Juga ambil ini sebagai uang sakumu, lain kali panggil saja aku Yudo.” Herlambang memberi uang sebesar dua ratus ribu rupiah kepada Raezha.

__ADS_1


“Makasih banyak pak Yudo!" Ucap Raezha dengan gembira.


“Ya sama-sama, aku pergi dulu ya!” Raezha meninggalkan mobil dan Herlambang pun pergi meninggalkan Raezha yang berjalan ke kosnya.


__ADS_2