Anomali

Anomali
Chapter 3: Panggilan


__ADS_3

Suara sirine berhenti, Raezha mendengar suara ketukan pintu selama tiga kali secara pelan.


TOK, TOK, TOK.


Sesuai dengan arahan peringatan dari pemerintah, Raezha tidak membuka pintu karena tidak ada yang tahu apakah yang di luar itu adalah manusia atau anomali.


Saat suara ketukan itu berlangsung seluruh perangkat elektronik langsung mati dan membuat seisi ruangan kos Raezha menjadi gelap gulita dan itu menunjukkan bahwa yang barusan mengetuk pintu adalah anomali.


Suara ketukan pintu menghilang, tapi Raezha tidak bersembunyi. Sebaliknya ia mengambil pisau dapur dan menunggu di depan pintu.


Raezha tetap berdiri di depan pintu jikalau anomali tersebut mencoba menerobos masuk ke kosnya, walau dengan resiko yang sangat besar.


Setelah sekitar 30 detik kemudian perangkat elektronik kembali menyala, menandakan anomali sudah menjauh dari lokasi.


Televisi kembali menyala dan siaran yang disiarkan adalah pemberitahuan dari Badan Urusan Anomali.


“ANOMALI TELAH MENJAUH DARI WILAYAH TANGERANG SELATAN, JIKA ADA KORBAN YANG ANDA TEMUKAN MOHON SEGERA UNTUK MEMANGGIL PIHAK KEPOLISIAN SEKITAR. UNTUK SAAT INI SEMUA MASYARAKAT DIHIMBAU UNTUK KEMBALI KE RUMAH MASING-MASING UNTUK MENGHINDARI ANOMALI YANG MUNGKIN MASIH BERSEMBUNYI.” Kata pria dalam siaran peringatan.


Raezha menaruh kembali pisaunya di meja dapur lalu berjalan ke kasur dan jatuh terbaring di atas kasur.


“Apa tidak ada cara agar anomali ini bisa dihentikan?” Ucap Raezha lalu menghela napas.


Raezha tiba-tiba merasa sangat mengantuk dan perlahan menutup mata lalu tertidur.


Setelah tidur cukup lama Raezha terbangun pada pukul 17.50. Raezha masih dalam keadaan mengantuk dan mengambil smartphone-nya lalu melihat jam.


“Apa? Sudah jam 6? Lama banget aku tidur.” Kata Raezha lalu bangkit dari kasur dan berjalan ke WC untuk mencuci muka.


Setelah mencuci muka Raezha, Raezha berjalan ke depan pintu lalu membuka pintu untuk melihat ke luar.


Setelah melihat sebentar Raezha kembali masuk dan menutup pintu. Raezha berjalan ke lemari dan mengambil mi instan. Pola hidup yang tidak sehat ya, mau bagaimana lagi ia sudah tidak punya cukup uang untuk membeli lauk-pauk.

__ADS_1


Raezha lalu mengambil panci dan mengisinya dengan air kemudian menaruhnya di atas kompor dan mulai memasak mi instan.


Setelah memasak mi Raezha duduk di depan televisi sambil menyantap mi yang telah ia masak.


Walau Raezha menonton televisi sambil menyantap mi, ia malah berpikir bagaimana agar bisa mendapatkan pekerjaan secara cepat dan mudah.


“Gimana ya cara dapetin kerjaan yang cepat tapi gaji mumpuni.” Ungkap Raezha dalam hati sambil menyantap mi.


Seusai makan mi Raezha melihat jam di-smartphone-nya. “Apa? Sudah jam 7.37? Apa aku makan selama itu? Padahal tadi baru jam 6.” Ucap Raezha yang merasa waktu berjalan sangat cepat.


Lalu Raezha menaruh piringnya di tempat cucian piring, karena cucian piring sudah banyak Raezha memutuskan untuk mencuci piring sebentar.


Seusai mencuci piring Raezha kembali melihat jam di-smartphone, dan kali ini jam menunjuk pada pukul 20.47 atau 8.47 malam


“Apa? Sudah mau jam 9? Kenapa waktu bergerak sangat cepat malam ini?”


Kemudian Raezha mendengar suara ketukan pintu dari luar, Raezha perlahan mendekat ke pintu lalu membuka pintu. Tapi, sayangnya tidak ada orang sama sekali di luar selain kegelapan malam dan kesunyian. Raezha kemudian kembali masuk ke dalam kos, tapi. Bukannya kembali ke kos, Raezha malah berada di hutan antah-berantah.


Raezha melihat pohon-pohon besar yang mengelilingi dirinya, lalu ada banyak burung yang terbang di atas Raezha dari arah timur.


Lalu suara geraman yang kuat terdengar hampir di seluruh hutan. Raezha mencari asal suara itu. Tiba-tiba terdengar suara berisik di semak-semak dan keluar makhluk berwarna hitam dengan warna putih dan mirip seperti monster kecil yang berlari mengejar Raezha.


Raezha mau tidak mau harus berlari dari kejaran makhluk aneh itu. Raezha terus berlari menjauh dari makhluk hitam aneh, tapi ia merasa bahwa ia hanya berputar-putar saja di hutan belantara tersebut.


Raezha berbelok ke kiri sembari berlari terus menerus, makhluk yang mengejar Raezha tidak lagi terlihat menandakan bahwa Raezha sudah berada jauh darinya. Raezha memutuskan untuk duduk di sebuah pohon untuk beristirahat dan berpikir sejenak.


Raezha menghela napas panjang setelah berlari cukup lama. “Ini mimpi atau anomali sih? Gak mungkin ini mimpi, ini pasti anomali.” Ucap Raezha yang terheran-heran. “Tapi memangnya ada anomali yang membawa orang ke hutan kayak gini?”


Baru juga istirahat sebentar makhluk hitam aneh itu kembali menunjukkan diri dan mengejar Raezha sambil mengaum.


Raezha terpaksa harus berlari lagi dari kejaran makhluk hitam aneh tersebut. Raezha berlari cukup lama ke sana dan kemari untuk menghindari kejaran makhluk hitam tersebut.

__ADS_1


Karena tidak memperhatikan apa yang ia lewati Raezha berakhir terjatuh dan terluka di bagian dengkul kanan. Makhluk hitam aneh yang mengejar Raezha perlahan mendekati Raezha. Raezha menjauhi makhluk hitam itu tapi ia di belakang terdapat pohon yang menghalanginya. Makhluk hitam itu berubah menjadi seseorang yang berwarna hitam dengan mata putih bersinar terang.


“Kau tidak bisa menghindari takdir, semua seharusnya sudah jelas tinggal kamu yang belum.” Pria hitam itu terus berjalan mendekati Raezha yang terduduk dengan luka di kakinya.


“SIAPA KAU?! APA YANG KAU INGINKAN?!” Tanya Raezha yang berteriak.


“Kupikir kau benar-benar pemberani. Tapi yang ingin kuingin adalah memberitahumu bahwa kamu adalah-” Tepat sebelum pria hitam itu menyelesaikan kata-katanya, Raezha terbangun dari tidurnya di pagi hari. “Apa?!- Ternyata hanya mimpi.” Raezha sedikit menghela napas lalu mencoba untuk bangun dari kasur. “Aww! Apa ini?” Raezha merasa kakinya sangat sakit, Raezha melihat bahwa dengkul kaki kanannya terluka. Luka yang persis sama seperti yang ia alami di dalam mimpinya.


“Bagaimana bisa aku terlu- Tunggu, ini luka yang sama seperti dalam mimpiku. Bagaimana bisa?!” Raezha masih dipenuhi pertanyaan tapi di depan pintu ada yang mengetuk.


TOK, TOK, TOK, TOK, TOK, TOK.


“Kami dari Polsek Pamulang di mohon untuk keluar sebentar.” Pinta polisi di luar.


“Ya saya akan keluar- Aduh!” Raezha mencoba untuk berdiri lalu berjalan perlahan membukakan pintu dan terlihat dua orang polisi dengan seragam lengkap yang sudah menunggu. “Ya ada apa pak?” Tanya Raezha.


“Apa benar Anda Raezha?” Tanya salah satu polisi.


“Ya benar saya Raezha, ada apa ya?” Tanya Raezha lagi.


“Di panggil untuk menjalani interogasi dari Polsek, ini bukan tentang tindak kejahatan. Hanya sekedar pertanyaan untuk investigasi, mohon untuk kooperatif.” Jawab polisi di samping polisi yang tadi bertanya.


Karena Raezha tidak merasa melakukan kejahatan apapun, ia memutuskan untuk ikut saja daripada memberontak.


“Baik saya akan ikut, tapi tolong tunggu sebentar saya ingin mengobati luka saya dulu.” Pinta Raezha.


“Kamu terluka? Jika tidak ikut tidak apa-apa, saat kamu sembuh kami akan datang lagi.” Balas polisi dengan ramah. “Tidak apa-apa aku akan ikut.” Ucap Raezha.


“Baik kalau begitu, kami akan menunggu Anda mengobati luka Anda.”


Raezha berjalan kembali masuk ke dalam lalu pergi kamar mandi untuk membersihkan luka sebelum mengambil perban yang ia simpan di lemari, lalu membalut dengkulnya yang terluka dengan perban tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai dengan urusan lukanya, Raezha pun ikut pergi bersama polisi ke kantor Polsek Pamulang.


__ADS_2