Anomali

Anomali
Chapter 9: Pekerjaan-Trisula #1


__ADS_3

Raezha dibangunkan oleh Herlambang pada pagi hari.


Herlambang menepuk bahu Raezha sambil memanggil namanya. “Hei Raezha, bangun-bangun. Udah pagi, kita harus cepat.”


Raezha langsung terbangun dan beranjak berdiri dari kasur. “Harus mandi dulu?” Tanya Raezha.


“Pake nanya.”


Raezha segera mandi cepat dan menggunakan pakaian serta jas hitam miliknya, lalu Raezha kembali menghadap ke Herlambang.


“Sudah semua?” Tanya Herlambang.


“Sudah.”


“Oh ya sebelum itu, kamu ngalamin mimpi anomali gak?” Tanya Herlambang lagi.


“Kali ini enggak, tapi gak tau kedepannya nanti.”


“Ok kalo gitu. Kita langsung aja pergi.”


Raezha dan Herlambang langsung pergi meninggalkan fasilitas menggunakan mobil mereka kemarin.


Dalam perjalanan ke pantai Kemala, Herlambang sempat berbincang-bincang dengan Raezha soal masa lalu Raezha.


“Jadi Raezha..., ortu kamu di mana sekarang?” Tanya Herlambang sambil mengemudikan mobil.


“Aku gak punya orang tua, bahkan aku gak tahu siapa orang tuaku. Aku dulu tinggal bersama seorang pria tua mantan polisi. Tapi dia sudah tiada sejak aku umur 15 tahun, sekarang aku hanya tinggal sendiri. Sebatang kara.” Jawab Raezha sembari melihat keluar jendela mobil.


“Jadi kamu bener-bener gak tau siapa orang tuamu sampai sekarang?” Tanya Herlambang lagi sambil membelokkan kemudinya mendahului mobil di depan.


“Ya, sampai sekarang. Aku pas sekolah pun sering kena masalah karena sering berantem ama orang yang sering nge-bully aku karena aku pendiam di kelas. Bahkan pas SMP aku pernah pindah sekolah karena hampir menghilangkan nyawa orang yang mem-bully-ku. Yah mau gimana lagi, waktu itu aku bener-bener udah gak bisa mengontrol emosi lagi karena sudah terlalu lama menahan sabar.”


“Yah bullying memang masalah yang hampir tidak pernah terselesaikan. Perilaku senioritas dan sok berkuasa terkadang memang membuat kita kesal, padahal mereka kalo diajak berantem malah ngajak temen. Pada dasarnya pem-bully itu adalah orang-orang pecundang.” Tutur Herlambang dengan sedikit seringai di wajahnya.


Raezha dan Herlambang terus melaju dengan mobil mereka menuju pantai Kemala, hingga setelah satu jam setengah lebih mereka berkendaraan. Mereka pun sampai di pantai Kemala dan menemui beberapa orang polisi yang sedang berjaga di area yang diberi garis polisi "DILARANG LEWAT."


Raezha dan Herlambang berhenti lalu keluar dari mobil dan menemui polisi yang berjaga.

__ADS_1


Polisi tersebut menghampiri Raezha dan Herlambang, menghadang mereka untuk berjalan melewati garis polisi. “Jangan lewat sini, ini area investigasi.”


“Dan kami yang akan melakukan investigasi.” Ucap Herlambang dengan nada santai, lalu mengeluarkan kartu identitasnya dari dompet dan memberikannya pada polisi tersebut.


Polisi tersebut mengambil kartu identitas Herlambang, ia melihat kartu tersebut lalu memberikannya kembali pada Herlambang. “Maaf, saya kira Anda orang asing. Silakan lewat.”


Herlambang menarik garis polisi ke atas agar bisa lewat yang diiringi oleh Raezha di belakangnya.


Herlambang dan Raezha berjalan menghampiri kumpulan polisi yang sedang berbincang satu sama lain.


Sekumpulan polisi tersebut menoleh ke Herlambang dan Raezha setelah mendengar suara langkah kaki sepatu mereka.


“BARUNO?” Tanya salah satu polisi.


“Ya.” Jawab Herlambang singkat. “Kami langsung saja menginvestigasi. Apakah kalian sudah bertanya kesaksian para penduduk?” Tanya Herlambang balik.


“Ya, beberapa penduduk berujar bahwa kemunculan anomali 'Trisula' terjadi pada sore hari saat pantai sudah sepi.” Tutur polisi tersebut.


“Apakah para penduduk tahu atau pernah melihat bentuk dari anomali itu?” Tanya Herlambang lagi lalu memasukkan tangannya ke saku celana.


“Bentuk anomali tersebut masih belum diketahui, tapi beberapa warga bersaksi kalau anomali tersebut membawa trisula. Sesuai dengan sebutannya, yaitu "Trisula".” Jawab polisi itu lagi


Herlambang dan Raezha berjalan ke lokasi yang ditandai oleh polisi sebagai lokasi "terakhir" anomali.


Herlambang mengamati tempat yang ditandai oleh markah polisi. Raezha menoleh ke sebuah rumah yang terlihat terbengkalai dan sudah dipenuhi semak-semak, padahal merek sedang berada di pantai.


Raezha meninggalkan Herlambang, namun Herlambang sadar kalau Raezha pergi ke rumah terbengkalai tersebut.


Raezha berhenti di depan rumah tua terbengkalai itu, lalu Herlambang juga berhenti di dekatnya.


“Kok bisa ada rumah terbengkalai di sini? Padahal ini pantai loh.”


“Tidak tahu, mungkin kita bisa tanya pada penduduk sini.” Balas Herlambang.


Kemudian seorang pria tua agak bungkuk menghampiri mereka berdua. “Rumah ini dulunya milik seorang wanita parubaya dengan anaknya yang masih bayi, tapi pada tahun 1996 wanita dan bayi itu dibunuh oleh seseorang yang kini belum diketahui identitas dan keberadaannya.” Ujar pria tua dengan suara agak serak.


“Kok horor ya?” Cengir si Raezha. “Apakah para penduduk tidak ada dugaan kalau pelakunya adalah anomali?” Tanya Herlambang kepda pria tua.

__ADS_1


“Tidak ada yang tahu. Anomali atau bukan, kebanyakan warga di sini menyebut makhluk yang kamu sebut anomali sebagai makhluk mistis dan jelmaan dari setan.” Ungkap pria tua sambil terus menatap rumah tersebut.


Raezha menoleh ke pria tua.“Bukannya BARUNO udah ngasih beberapa foto anomali? Kok masih ada aja orang yang percaya hal mistis?” Tanya Raezha penasaran sambil sedikit memiringkan kepalanya.


“Lebih banyak orang percaya hal mistis karena budaya ketimbang bukti hasil teknologi.” Jawab pria tua. Pria tua itu pergi sambil berkata. “Teruskan investigasi kalian, jika ada yang ingin ditanyakan kunjungi saja aku di warung dekat sini.”


Raezha menoleh ke Herlambang dan bertanya. “Terus kita mau ngapain lagi?”


“Mau gak mau kita harus melakukan investigasi sampai malam hari, juga sambil menunggu anomali. Kalau-kalau dia bakal muncul lagi.”


Herlambang dan Raezha kembali melakukan investigasi di area sekitar pantai. Mengamati, bertanya pada penduduk, dan menunggu. Itulah yang mereka lakukan saat ini, selama dalam investigasi mereka membuat beberapa kesimpulan sementara yang langsung dikirim ke BARUNO melalui smartphone Herlambang.


“Kalo kau mau istirahat, ya istirahat aja. Udah malam, nanti pas tengah malam gantian kamu yang berjaga.”


“Serius beneran nih?”


“Iya aku serius.”


“Yaudah, aku juga lagi mager. Btw aku ada di warung pria tua tadi ya.” Raezha langsung berjalan pergi ke warung pria tua yang ia jumpai.


“Oh? Kamu lagi? Ada apa kemari?” Tanya pria tua sambil mengelap gelas kaca.


“Cuma istirahat. Aku pesan teh anget satu pak.”


“Ok.”


Pria tua itu langsung melempar gelas ke atas lalu menangkapnya lagi, ia mulai membuat teh hangat sesuai pesanan Raezha dengan gaya seolah ia adalah seorang bartender yang handal.


Setelah membuat teh hangat, pria tua memberikan gelas teh tersebut ke Raezha yang sedang duduk. “Ini dia. Silakan dinikmati.”


“Makasih pak.” Raezha langsung menyeruput teh hangat tersebut tanpa meniupnya lagi.


“Jadi.... Gimana dengan investigasi kalian?” Tanya pria tua sambil meletakkan serbet di bahunya.


“Ya begitulah, masih belum ada hasil dan anomali tidak menunjukkan diri. Kami khawatir kalau tiba-tiba anomali bakal muncul di tempat lain yang jauh.” Jawab Raezha sambil menatap gelas teh yang ia pegang.


“Teruskan. Pantai ini adalah pantai yang indah, tidak seharusnya makhluk itu muncul di sini.” Balas pria tua.

__ADS_1


Setelah itu pria tua terus berbincang-bincang dengan Raezha sampai pukul 20:47 malam. Raezha yang merasa mengantuk memutuskan untuk tidur sebentar. Lagi pula Herlambang pasti akan membangunkannya dan memintanya untuk ganti shift....


__ADS_2