Antara Janda Dan Duda

Antara Janda Dan Duda
KEHILANGAN


__ADS_3

Rania dibawa kekamar persalinan,disana Rania berjuang untuk mengeluarkan bayi dalam rahimnya,namun sebab Rania yang dalam keadaan kurang sehat dan sudah tak memiliki kekuatan terkapar lemas diatas ranjang persalinan.


Dokter menyarankan pada bu Ami untuk Rania dioprasi caesar saja supaya bayinya juga bisa diselamatkan.


Tanpa pikir panjang bu Ami mengiyakan saran dari dokter tanpa memikirkan berapa biaya yang harus dikeluarkan nanti,


bagi bu Ami yang penting menyelamatkan Rania juga bayinya.


Bu Ami menunggui Rania yang sedang berjuang diruang operasi hampir satu jam,kemudian dokter yang menangani Rania keluar juga.


Dengan wajah yang terlihat muram dokter itupun menghampiri bu Ami,


"maaf bu.kami sudah berusaha dengan semampu kami untuk menyelamatkan bayi dari ibu Rania.tapi tuhan lebih menyayanginya",


"maksud dokter apa?" bu Ami meminta kejelasan dari ucapan dokter itu dengan panik.


"maaf bu.bayi bu Rania tidak bisa diselamatkan" kata dokter itu penuh penyesalan.


"innallilahi wa innailaihi roji'un" tangis sedih bu Ami sambil berucap.


Dokter wanita setengah baya itu berlalu dengan langkah gontainya,dan bu Ami menangis tersedu merasa sangat kasihan pada Rania dan bayinya.


Bu Ami tidak tau bagaimana dia harus menyampaikan kabar duka ini pada Rania saat dia sudah sadar nanti.


***


Setelah pemakaman bayi Rania,Bu Ami masih berusaha menghubungi nomor ponse Randu tapi hasilnya masih sama selalu diluar jamgakuan.


Kemudian keesokan harinya bu Ami kembali kerumah sakit untuk menemui Rania yang sudah dipindahkan kekamar perawatan kelas 3,tampak Rani terbaring dengan pandangan kosong keatas langit langit rumah sakit.


Dengan hati yang tak karuan rasanya bu Amipun mendekati Rania.


"Ran" panggil bu Ami saat sudah berdiri disamping Rania,


Rania yang jiwanya melayang entah kemana itu tidak mendengar panggilan dari bu Ami sama sekali.


"Rania" bu Ami masih berusaha memanggil Rania dengan perasaan sedih.


Rania masih dalam keadaan yang sama,kemudian bu Ami menggoyang goyangkan lengan Rania.


Barulah Rania tersadar dari lamunanya, " bu Ami "panggil Rania lemah dan berusaha tersenyum kearah bu Ami,


"iya Ran" jawab bu Ami iba melihat kearah Rania.


"bayiku mana bu? suster yang kesini memeriksaku biang kalau bayiku sudah dibawa pulang.apa mas Randu sudah kembali dan membawa bayiku pulang bu?"mas Randunya mana?apa dia sedang sibuk merawat bayi kami bu,Rania yang sangat penasaran memberi banyak pertanyaan kepada bu Ami,


bukanya menjawab Rania,bu Ami malah menangis tersedu sedu hingga membuat Rania merasa heran.


"bu Ami.kenapa menangis?maaf ya bu sudah merepotkan bu Ami mengurusiku" kata Rania merasa tak enak hati pada bu Ami.


Bu Ami hanya terisak tanpa bisa menjawab semua pertanyaan dari Rania,dan mengelengkan kepalanya pada Rania,

__ADS_1


dengan tak sabar Rania berkata,


"bu,tolong bilang ke mas Randu agar bayi kami dibawa kesini lagi.aku ingin menyusuinya bu.dadaku ini rasanya sudah bengkak dan sakit.aku juga ingin melihat wajah bayi kami.mirip denganku apa mirip mas Randu", senyum Rania mengembang saat membicarakan bayinya.


Bu Ami yang mulai bisa menguasai perasaanya menghirup nafas panjang kemudian menghembuskanya,


dengan berhati hati bu Ami mulai menjelaskan semua kenyataan yang terjadi pada Rania.


"Rania kamu adalah gadis yang tangguh.ibu harap kamu tabah dan kuat mendengar apa yang akan ibu sampaikan padamu Ran",


Rania mulai meras tidak enak mendengar kata kata dari bu Ami.


"ada apa bu?" Rania sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari bu Ami.


"Rania bayi yang kamu lahirkan kemarin laki laki dia ganteng sekali,tapi tuhan lebih menyayanginya dari pada kita Ran" bu Ami terbata batah dalam berkata dalam isak tangisnya.


Seketika tubuh Rania terguncang menahan rasa sakit dihatinya,"anakku...anakku....anakku..." panggil Rania pilu,berkali kali ia memanggil anakknya yang telah tiada.


"bahkan ibu belum sempat memberimu nama nak..." rintih Rania sebak,


"ya tuhannn....kenapa engkau ambil anakku sebelum aku sempat memeluknya.." jerit Rania,berkali kali ia memukul mukul dadanya yang tersa nyeri.


"tuhan....kenapa tuhan...dia masih bayi...dia belum sempat merasakan air susuku tuhan..." tangis Rania semakin menjadi jadi.


Bu Ami memeluk Rania,dia berusaha menenangkan hati Rania yang telah hancur,


"semua sudah jadi kehendak tuhan Ran,ikhlaskan anakmu.kirimkan do'a do'amu untuk dia Ran" bujuk bu Ami.


Seharian itu Rania menangisi kepergian bayinya dan bu Ami masih setia menemaninya,


"bu Ami,mas Randu belum kembali kesini lagi kan?" tanya Rania dengan isaknya,


"belum Ran" rasa sedih menyelimuti hati bu Ami saat mengucapkan kata singkat itu.


"apa mas Randu sudah tau kalau anaknya sudah tiada bu?"


"belum Ran.sampai saat ini nomor suamimu nggak bisa dihubungi!" jujur bu Ami,


mendengar ucapan dari bu Ami hati Rania semakin tercabik cabik,dia kembali menangis tersedu sedu,


"kenapa dia tinggalin aku begitu saja bu..?kenapa?" tanya Rania sedih.


"apa mas Randu sudah nggak cinta lagi sama aku ya bu?apa dia sudah lupa sama aku?",


saat Rania menangis,tak sengaja bu Ami melihat baju dibagian perut Rania yang sudah basah dengan darah,bu Amipun panik,


" Ran perutmu kenapa banyak darahnya!" pekik bu Ami,


Rania yang tak menyadari hal itu,lantas memegang bagian perutnya dan sangat terkejut, "bu Ami bekas oprasiku bu" hanya itu yang bisa Rania katakan dengan lemah,


buru buru bu Ami memanggil suster yang berjaga diujung lorong bangsal tempat Rania dirawat.

__ADS_1


"suster tolong anak saya sus" panggil bu Ami dengan panik,


dua orang suster menghampiri bu Ami,setelah dijelaskan oleh bu Ami suster itu langsung memberi pertolongan pada Rania yang sudah tergolek lemas sebab banyak sekali darah yang keluar dari bekas oprasinya tak lama dokterpun datang memeriksa keadaan Rania.


Setelah selesai menangani Rania dokterpun berpesan jika Rania tidak diperbolehkan banyak melakukan gerakan yang bisa mengakibatkan terbukanya bekas oprasinya kembali.


Dokter wanita setengah baya itupun memanggil bu Ami supaya mengikutinya keluar dari bangsal Rania.


Dengan sabar dokter itu berkata " bu,melihat kondisi mbak Rania saat ini,dia masih harus menginap disini paling tidak satu minggu agar saya bisa memastikan luka diperutnya sudah tertutup denhan benar.tadi saya lihat lukanya terbuka lagi" jelas dokter wanita itu.


"apa bahaya dok?" tanya bu Ami risau,


"kalau terjadi pendarahan lagi bisa mengancam nyawanya bu" dokter berusaha memberi penhertian pada bu Ami.


"kira kira semua biaya yang harus kami tanggung berapa ya dok?"tanya bu Ami pelan diliputi rasa cemas yang mendalam.


"semua bisa ditanyakan dibagian administrasi bu." ucap dokter yang didada bagian kirinya tertera nama Heni itu dengan senyum ramahnya seolah dia mengerti kekawatiran bu Ami mengenai tagihan perawatan Rania.


Mendengar jawaban dari dokter heni barusan,bu Ami hanya bisa tersenym getir tampak ketegangan diwajahnya.


kemudian dokter Heni yang tidak tega melihat bu Amipun berkata," saya kasih gambaranya aja ya bu. mungkin bisa sekitar 15 juta sampai 20an juta bu" jelasnya.


"haah sebanyak itu dok?" bu Ami sangat terkejut dengan angka yang disebutkan oleh dokter Heni.


"itu cuman gambaran dari saya bu.kurang lebih sekian itu".


Sebelum bu Ami sempat bertanya lagi,ponsel dokter Heni berbunyi kemudian dengan sopan dokter itupun berpamitan pergi untuk mengangkat panggilannya.


Bu Ami kembali kekamar Rania yang terdapat sekitar delapan pasien terbaring disana dan menghampiri Rania.


"ada apa bu Ami?" tanya Rania,


"kamu masih harus dirawat disini selama seminggu kedepan Ran" jujur bu Ami.


Desahan berat keluar dari mulut Rania,"aku harus bayar pake apa bu Ami?" keluh Rania,


"ibu akan berusaha membantumu Ran",


Rania kembali terisak "aku selalu nyusahin bu Ami.mas Randu sama sekali nggak perduli denganku ya bu?" ucap Rani dengan isaknya,


"sudah jangan nangis lagi Ran.nanti lukamu terbuka lagi.bakalan lebih lama kamu disini kalau itu sampai terjadi Ran" bujuk bu Ami merasa sedih.


Mata Rania yang masih basah itupun melihat kearah bu Ami,"bu waktu mas Randu mau pergi,dia ninggalin uang untuk biaya persalinanku.ada 3juta setengah dalam amplop coklat.aku simpan dibawah kasur bu.tolong ambilkan ya bu.


Bu Ami bergegas kembali kekontrakannya untuk mengambil uang Rania,saat akan diambil uang itu sudah tidak ada,bu Ami sudah mencari disemua bagian kamar kontrakan Rania yang hanya sepetak itu tapi hasilnya nihil.


Sudah bisa dipastikan jika uang Rania telah hilang saat Rania dibawa kerumah sakit dua hari yang lalu,


bu Ami yang merasa putus asa itupun duduk melamun,dia merasa sangat kasihan dengan nasib Rania saat ini.


Gadis muda itu harus menanggung beban begitu beratnya,saat akan melahirkan dia ditinggalkan oleh suaminya begitu saja.

__ADS_1


Saat sudah melahirkan Rani harus kehilangan bayinya yang sudah terlalu lama kehabisan air ketuban,dan saat ini uang tinggalan dari suaminya untuk biaya persalinanpu telah hilang.


Bu Amipun menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.


__ADS_2