Antara Janda Dan Duda

Antara Janda Dan Duda
BERTEMU BOS DINGIN


__ADS_3

Rania dibawa dokter Hani kerumah Ikram,disana dokter Hani menunjukkan kamar untuk Rania, dimana Rania diminta tidur dikamar bayi Ikram bersebelahan dengan kamar Ikram dan mendiang anak perempuan dokter Heni.


"ran kamu tidur disini sambil menjaga cucuku!" ucap dokter Hani ramah,


"kenapa saya tidurnya disini bu?saya nggak enak sama yang lain kalo harus tidur disini.saya tidurnya dikamar pembantu saja bu?" kata Rania merasa canggung tak enak hati.


"nggak apa apa ran.kamu disini sebagai ibu susu dari cucuku.bukan pembantu!" jelas dokter Hani,


"tapi bu?" rania masih berharap dokter Hani mau mempertimbangkan keinginanya.


"sudahlah ran.ini untuk kebaikan cucuku!"tegas dokter Heni,


"sebentar lagi cucuku sampai dirumah.sebaiknya kamu mandi dulu.nanti aku ajari cara menyusui yang benar" perintah dokter Hani pada Rania.


"baik bu" dengan sopan Rania mematuhi perintah dokter Hani.


Selesai mandi Rania keliar sudah berpakaian lengkap,didalam kamar bayi itu tampak sudah ada,dokter Hani yang sedang menggendong bayi perempuan dan disampingnya ada seorang pria muda menatap dingin kearah Rania.


"Rania sini!" panggil dokter Heni,


dengan perasaan canggung dan ragu,Raniapun memberanikan diri mendekati dokter Heni,


"i..iya bu" jawab Rania takut takut.


"Ikram.kenalkan, ini Rania yang akan menjadi ibu susu bayimu!" ucap dokter Heni pada laki laki yang dipanggilnya ikram tersebut.


Pria yang berusia 29 tahun itu hanya melihat kearah Rania dengan tatapan dinginnya.


"Rania,kenalkan ini Ikram menantuku dia adalah ayah dari cucuku!" dokter Hanipun berkata dengan ramah pada Rania.


"sa..saya Ra..rania tuan" ucap Rania takut takut pada Ikram.


"hheemm!" hanya itu yang keluar dari mulut Ikram.


suara tangis bayi nyaring terdengar saat merasa terusik tudurnya dengan perbincangan orang orang dewasa disekitarnya,lalu dokter Hani berusaha menenangkan bayi merah itu.


Ikram tampak panik melihat bayinya menangis dengan kencang,


"sayang...jangan rewel ya!" bujuk Ikram pada putri kecilnya sambil mengelus elus kepala bayi yang masih terlihat merah itu.


"Arina sudah lapar.waktunya untuk nyusu kram!" ucap bu Hani dengan tenang,


"ran sini,susui Arina!" perintah dokter Hani pada Rania.


"i..iya bu" dengan berhati hati Rania mengambil alih Arina digendongan dokter Hani.


Dokter Hani mengajari Rania menyusui bayi dengan benar,Ikram yang masih berdiri terpaku tanpa sengaja melihat saat Rania mulai mengeluarkan buah dadanya yang penuh dengan asi.


Menyadari hal itu dokter Hani langsung menyuruh Ikram keluar dari kamar bayi cantiknya.


"Ikram,sebaiknya kamu keluar dulu.biar Rania melakukan tugasnya!" tegur dokter Hani,


"i..iiya ma" sahut Ikram gugup sebab ibu mertuanya memergoki dirinya sedang tak sengaja melihat kearah buah dada Rania.


"astaga !!".


"apa yang barusan aku lakukan" batin Ikram saat melangkah pergi dari kamar bayinya dan menutup pintu kamar itu,


Dengan lahap bayi mungil itu menghisap punting Rania sebab merasa kelaparan,awalnya Rania meringis kesakitan namun lama kelamaan Rania mulai terbiasa dan menikmati saat memberikan asinya pada baby Arina.

__ADS_1


Dua minggu sudah Rania menjalani pekerjaanya sebagai ibu susu bagi baby Arina,selama itu pula dokter Hani selalu membimbingnya dalam merawat bayi.


Dokter Hani juga memerintahkan asisten rumah tangga Ikram agar memberi asupan gizi yang cuku untuk menu makan Rania,supaya asi yang dihasilkan oleh Rania berkwalitas.


Bayi cantik itu terlihat semakin menggemaskan,rasa rindu Rania pada bayinya yang telah meninggal terobati sudah dengan adanya baby Arina bersamanya disetiap saat.


Rasa sedih ditinggal oleh suaminyapun sedikit demi sedikit memudar sebab Rania disibukkan mengurusi baby Arina.


Rasa cinta seorang ibu Rania curahkan pada baby Arina yang piatu,sejak Rania menggendong baby Arina untuk pertama kalinya Rania sudah menganggap bayi cantik itu adalah putri kandungnya sendiri,meski tidak lahir dari rahimnya.


Semakin hari Rania seperti memiliki ikatan batin dengan baby Arina,dalam hati Raniapun sangat bersyukur pada sang pencipta sebab telah diberikan jalan keluar dari masalah yang membelitnya, juga dari rasa sedih karna kehilangan buah hati yang ia tunggu tunggu kehadiranya selama 9 bulan lamanya.


Namun ternyata Tuhan lebih mencinyai putranya sehingga Tuhanpun mengambil kembali bayi yang baru dilahirkannya kedunia,malangnya lagi Rania tak bisa melihat wujut dan rupa dari bayi yang keluar dari rahimnya sendiri.


Kini Tuhan telah menggantikan anaknya yang telah pergi dengan seorang bayi perempuan yang juga telah kehilangan ibunya sejak ia dilahirkan kedunia.


Disisi lain, ayah dari baby Arina begitu dingin terhadapnya,selama dua minggu bekerja dengan bosnya itu hanya dua kali Rania berbicara padanya,itupun bosnya hanya menanyakan keadaan baby Arina,selebihnya Rania lebih banyak berinteraksi dengan asisten rumah tangga Ikhram yang bernama bik Ijah dan Dokter Hani,jika dokter Hani sudah kembali dari rumah sakit.


Malam harinya setelah makan malam,dokter Hani menunggui Ikram pulang dari kantornya di ruang keluarga,dokter Hani ingin membicarakan tentang pindah tugasnya ke Aceh minggu depan.


"selamat malam mah!" sapa Ikram saat melewati ruang keluarga setelah pulang dari kantornya,


"selamat malam Ikram" jawab dokter Hani,


"Ikram kamu sudah makan?" tanya dokter Hani dengan ramah,


"sudah mah,dikantor tadi",


"mamah ingin bicara denganmu.ada suatu hal yang ingin mamah sampaikan padamu!"jelas dokter Hani pada menantunya itu,


"apa itu mah?" tanya Ikram penasaran,


"mandilah dulu!" perintah dokter Hani.


setelah merasa segar Ikram keluar dari kamarnya dan melangkah menuju ruang keluarga dimana ibu mertuanya sudah menunggi disana.


"duduklah kram!" ucap dokter Hani,


"Ikrampun menuruti perintah dari ibu mertuanya itu,


"minggu depan mamah akan dipindah tugaskan ke Aceh,disana kekurangan dokter senior kram.jadi mamah harap kamu bisa menjaga putrimu dengan baik!",


"mamah tau,semenjak Arin meninggal,kamu mengalihkan kesedihanmu pada pekerjaanmu dikantor!",


"mamah juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan kram.mamah juga sedih sangat sedih saat mendapati putri mamah sudah berpulang mendahului mamah.mamah ini adalah ibu kandung dari mendiang Arin istrimu!",


"jangan karna kesedihanmu yang berlarut larut itu menjadikanmu mengabaikan keberadaan anakmu kram!".


"jadi mamah harap kamu bisa lebih memperhatikan anakmu Arina.dia berhak mendapat kasih sayang sepenuhnya darimu kram",panjang lebar dokter Hani menasehati menantunya itu agar lebih memberikan waktu untuk bersama bayi cantiknya.


Ikram hanya terdiam mendengar perkataan dari ibu mertuanya yang sudah Ikram anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


Ya..dokter Hani adalah sahabat dari mendiang kedua orang tuanya yang telah lama meninggal,sejak Ikram duduk dibangku perkuliahan.


Sejak orang tua Ikram meninggal,dokter Hanilah tempat Ikram berkeluh kesah jika ada permasalahan yang menimpanya.


Ikram mengenal Arin mendiang istrinya sejak kecil sebab kedua orang tua mereka bersahabat sejak masih muda,pertemuan Ikram dan Arin yang intens lama kelamaan menumbuhkan rasa saling mencintai dan menyayangi,kemudian setelah Ikram dan Arin lulus kuliah merekapun memutuskan untuk menikah.


Dokter Hani yang seorang janda sangat mendukung keputusan putrinya dengan Ikram untuk menikah diusia yang muda.

__ADS_1


Setelah wisuda dan menikah,Ikram melanjutkan perudahaan mendiang ayahnya yang bergerak dibidang properti yang semenjak ayahnya meninggal perusahaan itu sementara dipegang oleh pamannya yaitu adik dari mendiang ayah Ikram.


Perusahaan itu diserahkan sepenuhnya kepada Ikram oleh pamannya yang kemudian paman dari Ikram kembali ke fokus untuk mengelola usahanya sendiri yang bergerak dibidang perkebunan.


***


"ran aku pergi dulu!"pamit dokter Hani pada Rania,


"tolong jaga Arina cucuku seperti putrimu sendiri.aku yakin kamu bisa melakukannya ran!",


"iya bu,saya pasti menjaganya dengan baik" ucap rania bersungguh sungguh


"dan ini gajimu selama sebulan menjaga cucuku",dokter Hani menyerahkan aplop berwarna coklat pada Rania.


"tapi...saya bekerja disini kan belum genap sebulan bu?" tanya Rania dengan polosnya.


"nggak apa apa ran.ambillah untuk membeli kebutuhanmu sendiri.kalo ada lebih tabunglah ran!" sahut dokter Hani merasa tersentuh dan iba melihat kepolosan rania,


"trimakasih bu" rania berkaca kaca mengingat kebaikan dokter Hani padanya.


dokter Hanipun menepuk nepuk bahu rania lalu berkata "jaga diri baik baik.jangan lupa makan makanan yang bergizi supaya menghasilkan asi yang baik pula!" pesan dokter hani,lalu menciumi baby arina yang tertidur digendongan rania,


kemudian dokter hani masuk kedalam taxi yang sudah menunggunya dihalaman rumah.


***


Tiga hari kemudian,


"ran,nanti kalo tuan Ikram sudah bangun.tolong kamu buatin kopi ya!soalnya aku buru buru mau kepasar dulu!" pesan bik ijah pada Rania.


"tapi aku takut sama tuan bik!" kata rania dengan jujur.


"aduh.kenapa harus takut ran.tuan ikram gantengnya kayak aktor india gitu kok takut!" serlah bik ijah,


"iya bik orangnya sih ganteng tapi mukanya serem.nggak pernah mau senyum" sahut rania ngeri membayangkan wajah bosnya yang sedingin kulkas itu.


"selama aku kerja disini aku baru diajak ngomong cuman dua kali aja bik!"


"maklumlah ran.tuan baru saja ditinggal orang yang sangat ia cintai pergi untuk selama lamanya.lagi pula kamu juga baru disini.nanti lama kelamaan juga tuan pasti ramah sama kamu!" jelas bik ijah lemah,merasa sedih dan kasihan dengan keadaan bosnya yang sejak istrinya meninggal terlihat tak terurus.


"deg" jantung rania tersentak mendengar ucapan dari bik ijah yang mengatakan tentang kehilangan,hal itu mengingatkannya pada bayinya yang sudah tiada pula,


seketika rania terdiam menahan air mata,rasa sedih yang ia simpan kembali menyeruak memenuhi dadanya,apalagi ditambah suami tercintanya juga tidak ada kabar hingga kini.


"ran" panggil bik ijah,


"kamu kenapa?" tanya bik ijah heran,


"ngg..gak pa pa kok bik!,aku cuman ikut sedih saja ", jawab rania jujur lalu buru buru mengusap air matanya,


bik ijah menghela nafas panjanh,kemudian iapun berpamitan pergi ke pasar.


Didalam kamar,rania sedang duduk sambil sibuk menyusui baby arina yang mulai terlelap,


pintu kamar itu sedikit terbuka,tanpa rania sadari Ikram berdiri didepan pintu sedang memperhatikan rania yang memberi asi pada baby arina.


Awalnya ikram ingin melihat keadaan bayinya yang selama diurus oleh rania,ia jarang sekali menggendongnya,


namun setelah melihat rania sedang memberi asi,ikrampun mengurungkan niatnya,ia hanya berdiri dibalik pintu yang sedikit terbuka dan memperhatikan putrinya dan rania.

__ADS_1


Sejenak ikram membayangkan jika yang sedang menepuk nepuk punggung bayinya dengan penuh kasih sayang itu adalah mendiang istrinya arin,kemudian iapun tersadar dari lamunannya dan melangkah pergi kembali kekamarnya.


Setelah istrinya tiada,Ikram melampiaskan rasa kehilangan arin istrinya itu dengan menyibukkan diri dikantor hingga larut malam dan mulai mengonsumsi minuman beralkohol disana,jika ia sudah mabuk ikram pasti tidak akan pulang kerumah sebab takut ibu mertuanya akan mengetahui keadaanya.


__ADS_2