Antara Janda Dan Duda

Antara Janda Dan Duda
DITINGGAL OLEH BU AMI


__ADS_3

Saat bu Ami sedang termenung ponselnya berdering dengan nyaring,kemudian bu Ami mengangkat panggilan dari saudara bu Ami yang kampung.


Bu Ami dikabari jika baru saja ayahnya telah meninggal dunia,jadi bu Ami diminta untuk segera pulang kekampung halamannya dijawa timur.


Dengan berderai air mata bu Ami segera memasukkan semua pakaiannya kedalam tas besar miliknya,


sebelum bu Ami meninggalkan ibu kota,bu Ami pergi kerumah sakit untuk menemui Rania.


Rania yang melihat bu Ami membawa tas besar itu melihat heran kearahnya lalu bertanya " bu Ami mau kemana ?"


"kenapa membawa tas sebesar itu bu?"


"Ran,ibu harus pulang kampung sekarang",


"bapakku...bapakku baru saja meninggal Ran" ucap bu Ami terbata dengan isaknya,


"aku turut berduka cita ya bu Ami.semoga bapak bu Ami diterima disisinya" tulus Rania ikut bersedih.


"makasih ya Ran.Ran tadi ibu sudah nyari nyari uangmu dimana mana semua sudah ibu bongkar, tapi uang yang kamu bilang dibawah kasurmu itu tidak ada Ran" bu Amipun berkata dengan jujur.


"apa bu hilang?"tanya Rania yang sangat terkejut.


"padahal aku ingat benar dimana aku menyimpannya bu Ami!.hanya uang itu saja yang aku punya bu.sekarang sesenpun aku tak memiliki simpanan", Raniapun dengan putus asa berkata jujur pada bu Ami.


Rania kembali menangisi nasipnya yang ia rasa selalu sial,


"Ran. ini ibu ada sedikit simpanan buat kamu.nggak seberapa.tapi bisa buat peganganmu Ran" bu Amipun mengenggankan 5 lembar uang ratusan ribu ketelapak tangan Rania.


"tapi, bu Amikan juga butuh uang ini bu!" ucap Rania dengan isaknya,


"ibu sudah ada untuk biaya pulang Ran" sahut bu Ami melihat iba pada Rania.


"makasih bu Ami.ibu selalu membantuku meskipun kita ini tidak mempunyai hubungan darah", lanjut Rania masih dengan isaknya.


"sudahlah Ran,ibu ihlas kok.ibu pamit ya Ran.ibu sebenarnya tak tega meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini.tapi mau bagaimana lagi ibu juga harus pulang sekarang" mata bu Ami berkaca kaca saat berpamitan pada Rania.


"iya bu Ami.aku baik baik saja disini bu.do'akan saja supaya aku bisa membayar tagihan rumah sakit bu" Rania berkata dengan penuh harap meskipun dia tidak tau harus dengan apa dia membayar tagihanya nanti.


Bu Amipun berlalu setelah memeluk Rania,hati Rania sudah mulai kebingungan lagi saat bu Ami pergi meninggalkannya.


Dia tidak tau harus berbuat apa,dan harus bagainama saat itu.


****


Rania memberanikan diri meminta ijin pada perawat yang memeriksa keadaanya untuk meminjam ponsel dari perawat itu,


dengan baik hati perawat itu meminjamkan ponselnya pada Rania untuk menghubungi suaminya,


berkali kali Rania menelpon,tapi sambungan selalu diluar jangkauan,lalu Rania mengirimkan pesan singkat pada suaminya namun hanya bercentang satu tanda nomor dari suaminya sudah tidak aktif lagi.

__ADS_1


Dengan kecewa Rania mengembalikan ponsel dari suster tersebut dan tak lupa mengucapkan trimakasih.


Raniapun mengeluh pada suster yang didada sebelah kirinya tertera nama Diana itu.


"mbak kalau saya ingin pulang sekarang kira kira bisa nggak ya mbak?" Rania bertanya dengan perasaan ragu.


"mbak Rania dirawat baru dua hari ini kan mbak? jadi belum boleh pulang!apalagi mbak Rania mengalami pendarahan dibagian bekas oprasi mbak Rania.dokter mengharuskan mbak Rania dirawat lagi selama seminggu kedepan" suster yang bernama Diana itu berkata dengan ramah namun tegas,


"tapi..tapi..saya nggak bisa membayar biayanya mbak.suami saya pulang kampung dan tidak bisa dihubungi sampai saat ini",


"saya nggak punya siapa siapa disini untuk membantu saya mbak" Raniapun menangis,


"kan ada ibu yang menjaga mbak Rania disini"


"beliau bukan ibu saya mbak.tapi tetangga kontrakan saya.bu Ami baru saja berpamitan pulang sebab bapaknya yang dikampung meninggal" Rania menjelaskan dengan isak tangisnya.


Suster Dianya melihat iba kearah Rania,dia masih terlalu muda dan seharusnya masih diusia perkuliahan.


Namun nasib baik sepertinya kurang berpihak pada Rania,disaat dirinya membutuhkan dukungan dari keluarga ternyata dia harus terlunta lunta sendiri dirumah sakit.


"nanti saya coba diskusikan dengan dokter Heni yang menangani mbak Rania dulu ya.supaya ada solusi dari masalah mbak Rania",


"makasih mbak.saya benar benar nggak tau harus bagaimana sekarang mbak" ucap Rania yang masih tersirat rasa kebingungan dan sangat berharap pada suster Diana.


Suster Diana tersenyum sambil menganggukan kepalanya,kemudian diapun pergi untuk memeriksa pasien yang lainnya.


***


Dokter Hani terburu buru mengemudikan mobilnya,menuju Rumah Sakit Harapan Ibu,tempat dimana putrinya dilarikan sebab mengalami pendarahan.


Arin putri dokter Hani memiliki riwayat sakit jantung dan dia dijadwalkan akan melahirkan secara caesar dua minggu lagi.


Namun sebab Arin terjatuh dikamar mandi dan mengalami pendarahan yang cukup hebat saat suaminya sudah berada dikantor,kemudian Arin dibantu oleh pegawai rumah tangganya kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.


Sesampainya dirumah sakit Arin langsung dibawa keruang persalinan sebab dokter tidak mengetahui riwayat kesehatan Arin,disana Arin berjuang mengeluarkan bayi dalam rahimnya hingga dirinya tak berdaya.


Kemudian dokter memutuskan untuk mengoperasi Arin guna menyelamatkan bayi yang belum bisa keluar dari perut ibunya.


Dan ahirnya Arin menghembuskan nafas terahirnya dimeja operasi,namun untungnya bayi yang dikandung oleh Arin masih sempat diselamatkan.


Saat sampai dirumah sakit Harapan Ibu,dokter hani langsung menuju dimana purtinya ditangani,lalu iapun melihat sekujur tubuh putrinya sudah tertutupi kain putih.


Ikhram menantunya menangis memanggil nama Arina sambil memeluk erat tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa itu.


"Arin sayang...bangun!" panggil Ikram,


"Arin jangan tinggalkan aku.."tangis pilu Ikram membuat hati dokter Hani semakin tersayat,


"Arin...bangun Arin...bangun" panggilnya masih memeluk dengan erat tubuh kaku istrinya.

__ADS_1


"Ikram..!" panggil dokter Hani pada menantunya diiringi tangisan yang tak bisa ditahan oleh dokter Hani.


"Ikram...!" panggilnya lagi,


"mama..."sebut Ikram saat dirinya menoleh kesumber suara yang memanggilnya,


"maafkan Ikram ma...,ikram nggak bisa menjaga Arin dengan baik" ucap Ikram sambil memeluk mama mertuanya,


"mah..bantu Ikram,bantu Ikram bangunin Arin mah...dia belum sempat memeluk putrinya ma!"


"Arin belum sempat ngasih nama bayi kami mah..!" ucap Ikram kacau,


Ikrampun menumpahkan semua rasa kesedihan dan sesalnya pada mama mertuanya.


Dokter Hani yang mencoba tegar menenangkan anak menantunya itu dengan memeluknya dan nepuk nepuk punggung Ikram dan menguatkan hati Ikram yang hancur saat ditinggal oleh istrinya tercinta.


"Ikram sadar nak..!iklaskan Arin istrimu.biarkan dia pergi dengan tenang",dokter Hani menenangkan menantunya yang sangat kacau.


***


Dipemakaman istrinya,Ikram sudah terlihat tegar para pelayat sudah mulai membubarkan diri,tinggalah Ikram dan dokter Hani disana,mereka masih betah duduk dihadapan pusara yang tanahnya masih basah.


"Arin aku pasti menjaga anak kita dengan baik,kamu yang tenang disana" ucap Ikram saat mengusap pusara dari istrinya dengannperasaan sedih.


"aku menamai putri kita seperti namamu sayang yaitu Arina Azahra" lanjut Ikram masih mengusap usap pusara istrinya.


Setelah beberapa lama Ikram dan dokter Hanipun kembali kerumah Ikram,sesampainya disana Ikran mendapat panggilan dari pihak rumah sakit yang mengabarkan bayi perempuannya mengalami kuning dan alergi susu formula yang diberikan pada bayi malang itu.


Ikram dan dokter Hani langsung menuju rumah sakit untuk mengetahui keadaan bayi yang baru ditinggal pergi oleh ibunya untuk selama lamanya itu.


Dokter yang menangani bayi Ikrampun menjelaskan pada Ikram dan dokter mengenai kondisi baby Arina,


Kemudian dokter Hani mengingat salah seorang pasiennya yang baru saja kehilangan bayinya dan masih dirawat dirumah sakit tempatnya berpraktek.


Tanpa pikir panjang dokter Hani menghubungi suster Diana dan menceritakan keadaan cucunya saat ini,lalu dokter Hani meminta tolong pafa suster Diana agar mencarikan ibu susu untuk cucunya.


Suster Diana menemui Rania dan mengutarakan keinginannya pada Rania,


" mbak Rania,sekarang dokter Hani sedang mengalami musibah.putri dokter Hani meninggal saat melahirkan anak pertamanya dan sekarang bayinya memerlukan asi sebab bayi kecil itu alergi pada susu formula",


"jadi saya dimintai tolong oleh dokter Hani untuk mencarikan ibu susu untuk cucunya!" jelas suster Diana,


"kira kira apa mbak Rania mau membantunya?" tanya suster Diana,


"innalilahi wa inailaihi roji'un" ucap Rania merasa iba dan sedih mengingat bayi yang baru lahir itu harus ditinggal oleh ibunya.


"iya sus saya mau.dada saya juga terasa sakit sebab terlalu penuh dengan asi.kalau ada yang membutuhkan saya dengan senang hati akan memberikannya." Raniapun menjelaskan keadaanya dan dengan iklas ia bersedia menjadi ibu susu dari cucu dokter Hani.


"trimakasih mbak.terimakasih sekali.saya ambil alatnya dulu ya mbak" pamit suster Diana pada Rania.

__ADS_1


"silahkan sus" jawab Rania dengan ramah.


Suster Dianapun menghubungi dokter Hani kembali dan mengatakan kabar gembira itu padanya.


__ADS_2