
...Necklace Incarnate...
...Story By : Fanita Ey...
✨✨✨
Malam hari, semilir angin beradu kencang bersamaan dengan datangnya ombak dari tengah lautan. Menerpa tumpukan batu karang dan pasir yang setia menerima hempasan gelombang air yang deras. Terlihat seorang lelaki menyusuri pantai dengan penampilannya yang lusuh, sesekali ia mengacak rambutnya kasar.
“Aaarrrgghhh …!”
Ia menenggak minuman keras yang ada di genggamannya. Semakin lama kesadarannya mulai pudar, ia tergeletak di atas gundukan pasir. Untuk kesekian kalinya air laut menyapa
tubuhnya yang terkulai lemah. Tak peduli jika ia harus mati tenggelam di lautan yang luas itu.
Dalam hitungan detik matanya mulai terpejam, ia bermimpi dipeluk seorang wanita yang sangat cantik bak bidadari. Dari tubuh wanita itu juga tercium aroma bunga lili yang begitu
menenangkannya, segala pikiran kalut yang ada di kepalanya seakan menghilang seketika. Calvin sangat menikmati tidur panjangnya yang sangat nyaman dan tenang.
Fajar mulai merangkak naik menampakkan cahaya yang menyilaukan, dengan kelopak mata yang berat, Calvin
perlahan membuka netra coklat itu. Ia masih mencoba menyadarkan separuh nyawanya yang belum kembali seutuhnya akibat mabuk.
“Apa ini?” Calvin terkejut melihat benda kecil di genggamannya.
Dari mana aku mendapatkannya, dan kenapa aku bisa di kamarku? Siapa yang mengantarku pulang? gumamnya
dalam hati.
Ia menatap benda aneh di tangannya. Sebuah liontin yang sangat cantik dan berkilau, berbentuk seperti tetesan air.
Liontin opal berwarna hitam keabu-abuan itu mempunyai bintik-bintik biru dan merah seperti api yang menyala di dalamnya. Calvin sangat kebingungan dan berusaha mengingat-ingat kejadian semalam, padahal seingatnya
terakhir kali ia sedang mabuk di pantai, tetapi tiba-tiba paginya ia sudah berada di kamarnya.
“Hei! Siapa kau? Kenapa berada di kamarku?!” Calvin melotot menatap wanita cantik di depannya. Ia hanya memakai
sehelai kain putih polos, melilit bagian dada hingga menjuntai
__ADS_1
ke lantai.
“Kamu sudah bangun?” tanya wanita itu dengan nada lembut.
“Apa yang kamu lakukan di kamarku?!” Calvin
mengernyitkan dahinya.
Kulit wanita itu sangat putih, matanya berkilau kebiruan, senyumannya juga sangat manis. Ia berjalan ke arah Calvin yang bersandar lemas di kepala ranjang.
“Terima kasih karena sudah menyelamatkanku.” Wanita misterius itu membelai pipi Calvin hingga membuatnya
terlena, sentuhan itu begitu lembut dan menghanyutkan.
Calvin tersentak lalu menepis tangan wanita itu. Tatapannya penuh tanda tanya. Aneh, itulah yang dirasakan sejak terbangun tadi. Ya, saat ini Calvin sangat kebingungan karena banyak kejadian tak masuk akal.
“Menyelamatkanmu … apa yang sudah aku lakukan?! Sebaiknya kenakan pakaianmu! Kau sedang berduaan dengan seorang pria di dalam kamar. Jangan menyesal jika aku menerkammu,” ucap Calvin dengan nada mengancam.
“Aku hanya punya kain ini untuk menutupi tubuhku,” tutur
wanita yang bernama Zhivanna.
“Aku bersemayam di dalam liontin yang kamu genggam itu,” terang si wanita dengan senyum tipisnya.
“Hahahaha … kau sangat lucu!” Calvin tertawa geli mendengar penjelasannya. Ia tidak percaya dengan pengakuannya, baginya ini sangat tidak masuk akal. Apa wanita ini gila?
“Terserah jika kamu tidak percaya, tapi itu memang kenyataannya. Mulai sekarang aku adalah milikmu, aku akan melakukan apapun yang kamu mau asal aku bisa selalu di
sampingmu.”
“Siapa kau seenaknya mengaturku?! Aku juga tidak mengenalmu. Jadi, pergilah! Aku tidak suka ada orang asing berada di kamarku!” bentak Calvin dengan wajah emosi.
“Aku tidak akan pergi Calvin, kamu sudah mengambilku, jadi kamu harus bertanggung jawab atas diriku!” pekik wanita yang berdiri di depan Calvin.
“Bagaimana bisa kau tahu namaku?! sedangkan aku saja
belum memperkenalkan diri!” Calvin mengerutkan alisnya.
“Aku mengetahui semua tentangmu. Bahkan aku juga tahu, saat ini kamu sedang frustasi karena seorang wanita,” terangnya sambil membelai lembut pipi Calvin.
__ADS_1
“Hentikan! Jangan terus menyentuhku!” Calvin menepis tangan wanita asing itu.
“Baiklah, aku akan berusaha bersikap baik padamu, asal kau tidak berbuat aneh-aneh. Siapa namamu?!” Calvin mendengus berusaha menormalkan pikirannya yang masih kebingungan.
“Namaku Zhivanna, kamu bisa memanggilku Zhi,” jawabnya
dengan senyum yang begitu manis.
Zhivanna adalah perempuan yang lahir di negeri sihir bernama Luchania. Ia dikutuk oleh kekuatan sihir sejak berusia lima belas tahun. Itu karena orang tuanya menolak pinangan seorang pria yang ingin menjadikannya sebagai ratu. Zhivanna yang berada di dalam sebuah liontin di kirim ke dunia manusia oleh orang tuanya agar terhindar dari pangeran penguasa itu.
Tujuannya selama ini adalah untuk mencari cinta sejati yang benar-benar tulus mencintainya. Jika suatu saat cinta yang ia
temukan tidak mencintainya dengan tulus, maka Zhivanna akan kembali ke dalam liontin. Lautan akan kembali menenggelamkannya hingga cinta yang baru datang padanya.
Mencari pria yang benar-benar tulus mencintainya bukanlah hal yang mudah. Zhivanna selalu mengharapkan cinta yang
tulus dari pria yang menemukannya. Namun, saat Zhi keluar dari liontin opalnya, mereka justru ketakutan dan lari meninggalkannya.
Zhivanna mengetahui semua hal mengenai Calvin, karena ia bisa membaca pikiran seseorang saat dirinya berkonsentrasi,
namun ia susah untuk menebak isi hati manusia. Reaksi dari kutukan itu akan terlihat begitu ada lelaki yang menemukan liontin opalnya. Zhivanna akan keluar dan berwujud seperti manusia biasa.
Setengah jam kemudian, Calvin sudah rapi dengan pakaian santainya.
"Sekarang kamu pakai baju yang ada dulu. Aku hanya punya kaos dan celana ini, kita pergi ke pusat perbelanjaan," ucap Calvin seraya menyerahkan pakainya yang sudah kekecilan.
Perlahan, Calvin sudah bisa menerima keberadaan Zhivanna.
“Bagaimana? Apa aku cocok memakai ini?” Zhi memamerkan penampilannya yang tampak sederhana namun sangat seksi.
Calvin menatapnya tak berkedip, pandangannya fokus dari atas sampai bawah mengabsen tubuh jenjang Zhi yang nyaris sempurna.
“Ayo, kita berangkat!” Zhivanna menyambar lengan Calvin dengan semangat.
Di sebuah pusat perbelanjaan, Calvin dan Zhi terlihat sangat akrab, Zhi begitu bersemangat memilih pakaian. Kurang lebih satu jam berkeliling, akhirnya mereka sudah menenteng banyak belanjaan.
Mereka lanjut menuju ke sebuah restoran untuk makan siang. Lelaki itu mulai nyaman dengan Zhi, tingkahnya selalu membuatnya terhibur dan melupakan sejenak sakit hati yang
ditimbulkan oleh mantan kekasihnya.
__ADS_1
___ Bersambung ___