
✨✨✨
Waktu berlalu begitu cepat, satu bulan sudah Calvin dan Zhivanna tinggal di atap yang sama. Meski begitu, Calvin berusaha menahan diri dari pesona Zhi. Pria itu juga selalu menjaganya dari bahaya yang datang dari luar. Tak dapat dipungkiri, saat ini Calvin merasakan kebahagiaan saat bersamanya.
Malam itu, di balkon villa. Calvin dan Zhi menikmati hawa dingin di temani minuman hangat. Calvin menumpukan tangannya pada besi pembatas di balkon, menatap pemandangan lapangan golf yang agak redup.
“Zhi, apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Calvin mendekat dan duduk di sebelah Zhi.
“Maksud kamu?” Zhi mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan pertanyaan Calvin.
"Aku mulai berpikir, kamu bukan manusia sepertiku, bagaimana bisa?”
"Itu memang benar,” jawab Zhi.
"Hah ... konyol. Kamu bohong!”
"Aku tidak bohong,” pekik Zhi dengan tatapan serius.
"Lantas, apa tujuanmu datang ke sini dan tinggal bersamaku?"
Zhivanna kemudian menceritakan mengenai asal usulnya yang terlahir di dimensi lain, yaitu Negeri Luchania. Ia juga memberitahu Calvin tentang kutukan yang ia peroleh dari seorang lelaki penguasa di negerinya.
“Aku menginginkan cinta yang tulus. Aku ingin hidup normal layaknya manusia di dunia,” ujar Zhi.
“Bukankah sekarang kamu sudah menjadi manusia normal?”
“Ya, memang. Tapi aku akan kembali ke Luchania jika aku tidak menemukan cinta yang tulus. Orang tuaku bilang, aku harus mendapatkan laki-laki yang mau menjadi pendamping hidupku, agar aku terbebas dari kutukan itu. Dengan begitu, aku bisa menjadi manusia biasa dan tidak lagi kembali ke
negeri terkutuk itu."
“Zhi, jika sekarang aku bilang, aku tidak ingin kamu pergi, apa kamu percaya?” Calvin menggenggam tangan Zhi, netra mereka saling menatap penuh makna.
“Maksudnya?”
“Aku ingin kamu terus di sampingku, menemaniku hingga akhir hayat nanti.”
Bola mata Calvin mulai sayu, pandangannya tak biasa, seolah menyimpan kesedihan yang dalam.
“Apa kamu bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?” tanya
Zhi dengan wajah sendu, ia memikirkan kemungkinan terburuk jika ia dikhianati.
“Apa yang keluar dari mulutku, datangnya dari sini.” Masih dalam genggaman, Calvin meletakkan tangan Zhi di dadanya.
“Aku percaya, tapi jika suatu saat nanti kamu berkhianat, apa kamu siap kehilanganku? Karena aku akan pergi dari kehidupanmu selamanya,” tutur Zhi dengan wajah sendu.
“Kamu bisa pegang janjiku. Aku merasakan hal yang berbeda denganmu. Kamu bisa membuatku jatuh cinta lagi setelah hatiku mati, Zhi.”
__ADS_1
Calvin mendekat, Ia memeluk erat Zhi seolah takut kehilangannya.
“Zhi, terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan mengobati goresan luka dihatiku. Aku sangat mencintaimu.”
Calvin mengecup lembut kening Zhivanna. Perlahan, mereka mulai hanyut dalam buaian satu sama lain.
“Shit! Maaf … maafkan aku, Zhi.”
“Memangnya kenapa? Aku tidak apa-apa kalau kamu
menginginkanku.”
“Hah?! Kalimat macam apa itu, Zhi?! Jangan pernah mengatakan hal itu kepada siapapun, termasuk aku. Itu sangat tidak pantas. Kamu seorang wanita, kamu harus jaga harga diri
kamu, atau jangan-jangan kamu pernah melakukannya sebelumnya?”
“Tentu saja tidak, mereka hanya kabur saat melihatku. Aku tidak pernah menemukan lelaki yang bertahan selama ini denganku, hanya kamu. Aku sudah menjadi milikmu Calvin,
jadi kamu berkuasa atas diriku.”
“Tidak Zhi! Tunggu sampai aku menikahimu.”
“Kapan?”
“Secepatnya. Kalaupun harus besok, aku siap.”
Mereka pun tertidur pulas dalam satu ranjang dan satu selimut yang sama, saling berpelukan menautkan rasa cinta yang mulai tumbuh diantara keduanya.
Dini hari, angin begitu kencang menerpa villa Calvin, memporak-porandakan apapun yang ada di dalamnya. Zhi merasakan dadanya mulai sesak, pandangannya kabur, ia tahu ada kekuatan sihir yang begitu kuat sedang menyerangnya.
Calvin terkejut melihat kejadian aneh tersebut, ditambah lagi, ia melihat Zhi menegang kesakitan.
“Zhi, apa yang terjadi? Bangunlah, jangan membuatku khawatir.” Tak ada jawaban, Calvin langsung mendudukkan tubuh Zhi dan memeluknya sangat erat.
Angin kencang itu tiba-tiba berhenti. Perlahan, Zhi mencoba melawan kekuatan sihir tersebut. Ia membuka matanya dan segera berdiri, Calvin hanya terdiam, ia masih bingung dengan kejadian yang dilihatnya.
Zhivanna menggenggam liontin di lehernya. Memejamkan mata, mentransfer kekuatan yang diberikan orang tuanya ke
dalam tubuhnya. Sesaat kemudian ia mulai melayang, terbang
melewati jendela kamar secepat kilat. Calvin tercengang melihatnya pergi dengan cara yang tidak biasa.
"Zhivanna!" Calvin berteriak dan segera berlari mengikuti ke
mana arah Zhi pergi.
Di bukit luas yang terletak di sebelah lapangan golf, Zhi bertarung dengan Erdo menggunakan kekuatan sihirnya. Lelaki bertubuh besar dan berwajah bengis itu seperti menarik Zhi tanpa menyentuh. Seketika Erdo langsung mengikat tubuh Zhi dengan sihirnya, ia lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
“Kembalilah, ikutlah bersamaku!” Erdo berbisik tepat di telinga Zhi.
“Jangan mengusikku! Pergilah!” tukas Zhi sambil berusaha melepas kekuatan sihir Erdo.
“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu ikut denganku.”
“Cih! Jangan harap!” Zhi meludah ke samping, betapa jijik
dan bencinya ia pada Erdo. Lelaki yang selama ini ingin memilikinya.
Dari awal, Zhi selalu menolak mentah-mentah tawaran Erdo yang akan menjadikannya sebagai ratu di Negeri Luchania jika ia mau menikah dengannya. Begitu juga dengan orang tua Zhi, mereka tidak rela anaknya menikah dengan lelaki jahat seperti Erdo.
“Hei! Lepaskan dia!” teriak Calvin dari kejauhan.
“Calvin, jangan mendekat! Pergi dari sini!” perintah Zhi yang masih berada di pelukan Erdo.
“Tidak, Zhi! Aku akan menolongmu.”
“Hahahaha … bisa apa kamu, hah?!” ejek Erdo.
Dengan langkah pasti, Calvin menuju tempat di mana Erdo dan Zhi berada. Zhi terus berteriak, menyuruh Calvin untuk menjauh. Namun tetap saja, Calvin malah semakin mendekat. Ia lalu berusaha menyerang Erdo hanya dengan menggunakan tenaga yang dimilikinya.
Calvin berusaha merebut Zhi dan melayangkan beberapa pukulan pada Erdo. Percuma, itu tak berpengaruh apapun di tubuh Erdo. Ia malah tertawa terbahak-bahak melihat Calvin
seperti orang bodoh.
“Calvin berhenti, menjauhlah! Kamu akan celaka!” teriak Zhi.
“Dia sangat berani, Zhi. Apa kamu sudah jatuh cinta dengannya?!” ucap Erdo dengan wajah yang menjijikkan.
“Bukan urusanmu. Lepaskan aku dan pergi kau dari sini!”
“Baiklah, aku akan pergi, tapi setelah aku menjadikannya mainanku. Hahaha ….”
“Jangan pernah kau menyentuhnya, Erdo!”
Erdo tak menghiraukan ucapan Zhi, ia mulai berkonsentrasi
dan melakukan serangan tak kasat mata pada Calvin hingga tubuhnya tersungkur lemah. Berkali-kali kekuatan hir itu mengenai dada Calvin, ia terpental jauh. Zhi semakin histeris
melihat Calvin yang terus diserang oleh Erdo. Sedangkan ia tidak bisa berbuat apa-apa karena masih terikat dengan tali sihir di tubuhnya.
Setelah puas mencelakai Calvin, Erdo menghilang dengan tawanya yang menggema di bukit sepi itu. Zhi pun terlepas dari kekuatan sihir tersebut, ia lalu berlari secepat kilat
menghampiri Calvin yang sudah tak sadarkan diri.
Buliran hangat menetes semakin deras dari matanya saat ia mendapati mulut Calvin penuh darah. Zhi memangku kepala Calvin dan terus menangisinya.
__ADS_1
___ Bersambung ___