
...Liontin penghubung...
...Oleh : MamGemoy...
✨✨✨
Anyelir, wanita karir ini bekerja di salon kecantikan milik sahabatnya, Gladys. Dia adalah seorang make up artist dan hair stylist. Ia sering mendapat tawaran pekerjaan dari dunia hiburan. Dengan pekerjaan ini ia dapat mengekspresikan dirinya. Tidak masalah orang lain suka atau tidak padanya, Anyelir merasa bebas.
Pekerjaan ini juga yang membawanya tenggelam dalam gemerlapnya dunia malam. Klub malam adalah salah satu tempat favorit Anyelir. Tempat itulah sarang dari kehidupan bebas yang membuatnya mengenal surga dunia. Di sanalah ia bisa melepaskan beban pekerjaan dan beban pikiran dari rumah. Seringkali ia menenggak minuman keras hingga tidak sadarkan diri.
Ya, kehidupan Anyelir sangatlah pelik. Herman dan Lastri selalu bertengkar tidak ada habis-habisnya, hampir setiap hari. Rasanya ia sangat muak tinggal dengan kedua orang tuanya itu. Mereka bahkan bisa meributkan hal-hal kecil yang tidak penting. Pertengkaran kedua orang tuanya adalah salah satu penyebab ia tidak betah berada di rumah. Anyelir hanya perlu bersabar beberapa hari lagi. Ia akan pindah ke apartemennya sendiri begitu tabungannya sudah cukup bulan ini.
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, ia harus pulang dalam keadaan mabuk lagi. Jalannya yang terseok-seok, matanya tidak dapat melihat dengan jelas. Kepalanya sudah sangat berat. Saking beratnya ia sampai harus berjongkok mencari kunci di dalam tasnya.
"Eeeiii … Lo hilang kemana sialan!" teriaknya pada benda yang sedang di carinya.
"Hehehe … disini Lo ngumpet ya! hahaha … brengsek!" umpatnya pada kunci di tangan.
Lalu tiba-tiba pintu depan rumahnya terbuka, tepatnya pintu rumah orang tuanya yang menyebalkan.
"Kau!" bentak seorang pria yang membuka pintu itu.
"Heekk … Lo siapa?" tanya Anyelir menengadah pada pria itu.
"Dasar anak tidak jelas! pulang selalu mabuk-mabukan … mau jadi perempuan malam, ha!?" hardik pria itu kembali, Anyelir bangkit dan menunjuk pria di depannya.
__ADS_1
"Minggir! Gue ... mau ... masuk!" balas Anyelir membentaknya. Kesadarannya hampir menghilang. Ia masuk ke dalam rumah dengan mendorong paksa pria itu. Herman hampir tersungkur karena ulahnya.
"Kau! Benar-benar tidak punya sopan santun sama orang tua!"
"Hahahaha … sopan santun gue bukan buat ... Lo! Gue muak … sial!"
"Kau yang sial! Anak sial yang suka keluyuran malam. Anak dari wanita pembawa sial!"
"Mas! Jadi kamu mengganggap ku pembawa sial?!" tanya Lastri histeris ketika keluar dari kamar.
"Iya, kamu pembawa sial! Pekerjaanku tidak pernah berakhir bagus semenjak menikahi mu!"
"Mas!"
Anyelir sudah muak mendengar kedua orang tuanya bertengkar, ia menyunggingkan senyuman sinis.
"Aaaahhh … terserah … gue gak ... peduli, jangan ... ganggu hidup gue!" ucap Anyelir dengan suara khas mabuk.
"Anak setan!" bentak Herman padanya.
Brakkk!
Pintu dibanting, tanpa mempedulikan mereka Anyelir masuk ke dalam kamar. Tas ditangannya dilempar begitu saja, hingga semua isinya berhamburan ke lantai. Dengan mata yang masih berkunang-kunang, Anyelir melihat ada sebuah kalung yang keluar dari dalam tasnya. Kalung berliontin putih itu bersinar. Ia ingat, tadi pagi ia bertemu dengan seorang nenek tua di jalan. Dan kalung itu pemberian dari si nenek.
*
*
__ADS_1
"Nak … terima kasih telah menolong nenek menyeberang jalan, ini sebagai imbalan, kamu adalah anak yang baik."
"Apa ini, Nek?"
"Ini liontin penghubung, kamu akan mendapat keberuntungan jika memiliki liontin ini. Kamu akan hidup bahagia."
"Tapi, aku tidak percaya dengan hal seperti ini, Nek!"
"Kamu simpan saja dulu, suatu saat nanti pasti berguna."
"Baiklah kalau begitu, terimakasih, Nek."
Nenek itu melangkah pergi, lalu Anyelir menyimpan liontin pemberian nenek ke dalam tasnya. Baru beberapa detik dia menunduk, ketika ia mengangkat kepalanya kembali nenek itu sudah menghilang dari hadapannya. Padahal itu baru beberapa langkah, kemana nenek itu menghilang? Tiba-tiba bulu kuduknya meremang, mungkinkah dia bertemu hantu di siang bolong? Anyelir pun berlari pontang-panting ketakutan.
*
*
Saat dia melihat liontin itu terus berkelip-kelip, ia penasaran. Lalu diambilnya dan dibawanya duduk di tepian tempat tidur. Anyelir menghempaskan tubuhnya. Kakinya masih bergelantungan ke lantai. Di telisiknya dalam-dalam setiap sudut liontin itu. Diputar dan dirabanya perlahan. Liontin itu berbentuk bulan sabit berhias dua buah bintang kecil. Di tengah-tengahnya terdapat batu permata berwarna hijau. Batu itu terus bersinar, dia pikir mungkin benda itu memiliki lampu. Lalu ia teringat lagi dengan perkataan nenek tadi siang.
"Ahhh … bahagia? Kapan gue bisa bahagia? Hah … gue gak percaya yang beginian," gumannya.
Dicampakkan liontin itu ke sebelahnya berbaring. Ia tidak peduli lagi bagaimana cahaya itu bisa muncul. Kepalanya saja sudah dipenuhi oleh cowok brengsek yang baru saja meninggalkannya. Dia sudah terlanjur kecewa pada harapan yang dia pikir akan membuatnya bahagia.
"Kalau benar kebahagian itu memang ada, gue bakalan ninggalin dunia malam gue! Hahaha … omong kosong, gak ada yang namanya kebahagiaan. Cowok brengsek dimana-mana, punya keluarga serasa di neraka!" gumamnya lagi.
"Hahahaha … rasanya gue mau pergi saja dari dunia ini. Gue mau pergi ke dunia lain, dunia yang damai. Hahaha … dunia lain? Konyol!"
__ADS_1
Anyelir meracau sendirian karena mabuk. Tidak lama dia pun memejamkan mata dan tertidur. Tanpa dia tau liontin yang bersinar tadi mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Cahaya berwarna putih kehijauan. Cahaya itu memenuhi seluruh ruangan kamar hingga dapat menyilaukan mata.
__ Bersambung __