
✨✨✨
Rey dan Annaya masih saling mengirim pesan di grup, hanya saja Annaya lebih memilih untuk sedikit tidak terlalu nimbrung dengan obrolan anggota grup. Dia hanya berfokus pada satu pesan dari Rey, Penulis misterius yang ia kagumi.
Selang berapa lama Annaya melihat story Rey yang menampilkan sebuah foto dari gambar yang ia kirimkan kemarin dengan caption 'Ngopi yuk:)' bukan main senangnya Annaya mengetahui hal itu.
Dengan sedikit ragu dia mengirimkan balasan ke Rey.
...Chery:...
...Aku kenal dengan gambarnya …...
...Rey:...
...:P...
Perasaan Annaya melambung di atas awan saat mendapati Rey membalas pesannya, dia seperti orang yang tidak waras senyum seorang diri sambil mencium layar ponselnya.
Kembali terdengar sebuah notif dari grup, dan Rey pamit tidak bisa ikut nimbrung lagi karena dia akan bekerja.
Dengan langkah seribu, Annaya gegas ke lokasi syuting. Untuk kali ini dia harus bertemu dengan Rey.
Lagi dan lagi lokasi syuting dipadati dengan masyarakat, yang ingin melihat artis kesukaanya dan Annaya kembali gagal untuk bertemu Rey.
Namun, Annaya tidak menyerah dia kembali menunggu Rey seperti kemarin di cafe dan untuk kali ini, dia memesan kopi yang berbeda, Capucino.
Sambil terus menyelesaikan tulisannya Annaya masih menunggu balasan dari Rey, agar penulis itu dengan suka rela menghabiskan waktunya hanya sepuluh menit.
Beberapa jam berlalu dan Annaya kembali menelan pil pahit, dia kecewa sebab Rey tak membalas pesanya walau sudah dibaca. Dia berpulang dengan kekecewaan yang mendalam dan hati yang hancur.
Lain halnya dengan Rey, setelah dia mendapatkan istirahat ia memilih untuk kembali menikmati secangkir kopi.
Meja yang berada di sudut di bawah pohon menjadi pilihan Rey, yang sepertinya mengusik penglihatan dengan sebuah secarik kertas yang bertulisan 'Mungkin lain kali :('
Apa ini Chery yang menuliskannya atau hanya …
Ting.
Notif pesan masuk dan prasangka Rey benar, Chery mengirimkan sebuah gambar yang sama persis dengan letak gelas yang berada di meja.
Dia menjadi sedikit iba dengan Chery, dia mengirim pesan untuk mengajaknya minum kopi bersama di akhir hari besok, dan Rey janji akan datang dan tidak mengabaikannya lagi.
Namun, hal itu juga sudah mulai memecah konsentrasi kerja Rey, sebab pesan yang ia kirimkan tak kunjung mendapat balasan.
Malam hari, Rey sudah pulang ke rumah. Dia langsung mengisi daya ponselnya yang tersisa lima persen lagi.
__ADS_1
Rey begitu penasaran dengan Chery, dia masih menunggu status whatsapp Chery melewati berandanya, tapi nihil.
Ketika hari berganti minggu, Rey masih menunggu balasan dari Chery. Namun, tidak ada kabar kembali.
Hingga di suatu waktu saat Rey sedang menulis skripsinya, dia mendapat pesan dari Chery. Penulis tersebut kembali mengirimkan sebuah pesan bergambar dengan caption Black Coffe.
Rey tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dia dengan langkah secepat kilat berlari menuju cafe yang biasa dikunjungi Chery.
Benaknya bergelut dengan berbagai pertanyaan tentang siapa Chery? Apakah dia wanita atau pria? Bagaimana rupanya, bagaimana penampilannya? Dan saat dalam kekalutan itu, Rey tiba di cafe.
Ayunan kakinya terhenti di ambang pintu, pandangannya menatap ke setiap penjuru dan mencari sosok yang bernama Chery.
Namun, dia tidak menemukan siapapun. Setiap meja sudah kosong tidak ada lagi pemiliknya disana. Apakah Rey datang terlambat? Tidak! Dia tidak terlambat, waktu yang dibutuhkan untuk kesini hanya sepuluh menit.
Akan tetapi dimana Chery?
"Bismilah."
Suara yang begitu indah, merdu dan lembut menyapa indera pendengaran Rey. Dia berbalik, memutar tubuhnya ke belakang. Seakan-akan apa yang ingin Rey katakan semuanya tertahan di tenggorokan. saat melihat wanita dengan wajah Indo tersenyum manis ke arahnya.
"Chery?" tanya Rey.
Annaya mengangguk, dia menarik sudut bibirnya lalu kemudian berkata, "Annaya."
Mereka saling mengulurkan tangan, baru kemudian Rey mengajak Annaya untuk menikmati secangkir kopi hitam bersama.
Annaya menceritakan segalanya tentang ketertarikannya pada sebuah karya tulis, dan itu karena pria di hadapannya.
Setiap karya yang ditulis Rey mampu menggetarkan sanubarinya.
Petikan gitar dari Rey seakan menjadi pelengkap sebuah pertemuan yang singkat ini, mata hitam itu menatap Annaya dengan lembut saat dia menyudahi perbincangan ini.
"Terima kasih atas waktu sepuluh menitnya, Bang," Annaya berucap dengan sangat ringan meskipun setiap saraf dalam tubuhnya sudah menegang.
"Ya, next time kita bisa ngopi bareng lagi."
"Jika ada lain kali." Annaya pergi begitu saja tanpa kembali menoleh melihat Rey, yang tengah tersenyum penuh arti ke arahnya.
"Annaya," gumam Rey saat wanita itu sudah berlalu dengan sepeda motornya.
Sejak pertemuan terakhir kali yang singkat itu, tidak ada lagi pesan masuk dari Annaya. Wanita itu seakan hilang di telan bumi, dan Rey begitu gundah memikirkan hal tersebut.
Hingga sebuah kabar mengejutkan yang didapatkan dari grup chatnya, Chery telah kembali ke pangkuan-Nya. Bagai sambaran petir saat panas terik matahari menyengat membakar kulit, Rey tak mampu berkata. Kakinya seakan tidak memiliki tulang untuk menyangga, dia luruh begitu saja di lantai masjid.
Rey baru saja menyelesaikan kewajibannya saat dia mendapatkan kabar tersebut, dengan ketikan jemarinya yang lihai. Rey mengorek informasi tentang Annaya, dan beruntungnya dia, salah satu anggota grup masih tetangga dekat dengan gadis itu lalu mengirimkan alamat padanya.
__ADS_1
Rey melajukan kecepatan motornya di atas rata-rata, tidak peduli dengan makian pengendara lain yang dia salib. Hanya satu yang menjadi tujuannya, yaitu cepat mencapai rumah Annaya.
Bendera kuning masih berkibar di halaman rumah, isak tangis para keluarga masih terdengar menyentuh relung hati. Rey dengan langkah yang ragu, dia memberanikan diri mengetuk pintu rumah Annaya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita dengan perutnya yang membesar, karena dia tengah mengandung.
"Ini rumah Annaya?" tanya Rey ragu, pandangannya menatap ke setiap sudut ruang tamu tersebut, dan di sana di dekat rak TV. Barisan buku cetak miliknya tersusun rapi.
"Kamu, Rey?" wanita itu bertanya dengan nadanya yang lembut.
"Iya."
"Tunggu disini!" titahnya. Wanita tersebut melenggang masuk ke sebuah kamar, mungkin. Lalu tidak lama kemudian dia keluar dengan membawa kotak.
Wanita itu berkata pada Rey, sambil menyerahkan kotak tersebut, "ini pesan terakhir dari Annaya, dan saya gak buka. Tapi saya tau kamu Rey, karena Annaya nyimpen foto kamu di hp-nya."
Setelah Rey mendapatkan kotak tersebut dia bergegas meninggalkan rumah Annaya, setelah berpamitan lebih dulu.
Tibanya di rumah, Rey sedikit ragu untuk membuka kotak tersebut dan itu dapat dilihat dari gerakan tangannya yang gemetar, saat menyentuh tutup hadiah tersebut.
Sebuah surat kecil yang ditulis di kertas biru dan flashdisk, Rey jumpai. Tangannya terulur untuk mengambil coretan tersebut, meski sedikit gugup, dia memilih untuk abaikan.
Abang, terima kasih atas waktu sepuluh menit yang Abang luangkan. Chery sangat beruntung bisa ketemu Abang dan foto bareng Abang, Chery senang karena penantian Chery di saat terakhir nggak sia-sia.
Abang, ini ada sinopsis cerita Chery yang nggak bisa aku lanjutin, Abang tolong ya di lanjutin.
Cerita ini emang nggak sebagus punya Abang, tapi Chery yakin. Di tangan Abang cerita ini bisa jadi best seller, ah satu lagi untuk tokohnya kasih nama kita, ya?
Annaya dan Rey dengan tajuk 'Black Coffe'.
Semangat untuk selalu berkarya, meski Annaya nggak akan bisa baca cerita Abang lagi.
Buliran kristal jatuh di pipi Rey saat dia membaca dan melipatnya kembali surat tersebut. Siapa yang mengira ada seseorang yang begitu peduli terhadapnya.
Rey sangat bersyukur dan akan selalu mendoakan Annaya agar mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan dia juga akan mewujudkan impian terakhir Annaya. Itulah janjinya.
___ The end ___
✨✨✨
Baca karya Kris Muntari yang lainnya 🥰
__ADS_1