
...Rasa Literasi...
...Story by : Kris Muntari...
β¨β¨β¨
Ting ....
Sebuah notif dari grup chat literasi berbunyi, menampilkan nama seseorang yang sudah membuat wanita dengan wajah indo tersebut tersenyum. Dengan gerakan secepat kilat dia menggeser tombol kunci.
...Rey:...
...Aku lagi sibuk kejar 60k....
...SAY:...
...Sama Bang, aku malah kurang 10k lagi :(...
...Queen:...
...Enak aku dong, udah selesai:)...
Begitulah isi chat dari para penulis platform online.
Annaya mulai menggerakkan ibu jarinya di layar ponselnya, ingin mengetik sesuatu. Namun, kembali lagi dia hapus dan sebuah pesan dari Penulis yang sudah sangat lama ia kagumi, Rey.
...Rey:...
...@Chery ngetik apa sampai gak kelar-kelar...
...π€π€π€...
Hati Annaya seketika melambung tinggi saat Rey sengaja menandainya pada sebuah pesan. Senyum manis di bibirnya yang mungil sudah terukir sangat indah, dan begitu saja melempar ponselnya di kasur.
"Aih, bang. Kamu jangan gitu, aku jadi baper," gumam Annaya, sambil mencium buku novel dengan sampul biru berjudul 'Bintang Di Angkasa' karya dari Rey.
Annaya Prameswari gadis cantik yang baru menginjakkan usia di tujuh belas tahun ini, sudah mulai menekuni dunia literasi saat dia tanpa sengaja mengunduh aplikasi novel online berwarna biru.
Ya, saat dia men scroll ke bawah layar ponselnya. Annaya tertarik pada sebuah buku dengan judul 'Bismillah' karya Rey.
__ADS_1
Setiap tulisan dari isi buku tersebut sangat mempengaruhi hidup Annaya, dia bahkan sampai tidak dapat tidur setiap kali tulisan yang dia baca menari-nari di otaknya.
Rasa penasaran sudah memuncak, Annaya mulai belajar menulis novel dan ikut bergabung di grup literasi melalui media sosial. Sampai akhirnya, dia juga mengikuti grup chat whatsapp.
Kini di sini Annaya sekarang. Semua rasa penasarannya terbayar sudah, saat penulis yang dia kagumi juga bergabung dengan grup yang sama, bahkan menyimpan kontaknya dengan nama Chery.
Waktu terus bergulir dan hari silih berganti, Annaya semakin menjadi-jadi akan rasanya terhadap Rey.
Dia mulai memberanikan diri untuk berkomentar pada setiap story Rey yang lewat di berandanya. Walau hanya dibalas dengan emoji atau stiker. Menyedihkan memang.
Sampai sebuah kabar terdengar, akan ada syuting di daerah tempat tinggal Annaya dari salah satu rumah produksi, yang di mana Rey juga terlibat didalamnya sebagai penulis skripsi.
Tuhan memang begitu baik padanya, memberikan jalan untuk Annaya agar dapat berjumpa dengan penulis favorit yang selalu dimimpikan.
"Bu. Annaya mau pergi ke lokasi syuting ya." pamit Annaya pada ibunya yang sedang memasak.
Gegas dia menaiki motor kesayangannya dan menuju tempat yang dimaksud. Sepanjang jalan, Annaya terus saja berpikir akan seperti apa dia bersikap kalau bisa melihat Rey langsung.
Apakah langsung berkenalan atau hanya diam mematung, memandangnya dari jauh?
Lokasi syuting terlihat ramai oleh warga yang berkumpul ingin melihat artis kesukaan mereka, Annaya juga tidak bisa harus berdesakan seperti ini, karena dia memiliki penyakit asma.
Mengedarkan pandangannya ke semua tempat, dia melihat cafe yang tidak jauh dari lokasi syuting. Syukurlah, Annaya bisa menunggu disana.
Pilihannya terjatuh pada Black Coffe, dia sangat menyukai minuman tersebut. Walaupun pahit masih tersisa rasa manis, seperti sikap penulis itu yang tak acuh.
Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas dalam benak Annaya, dia mengambil ponselnya dan mengabadikan secangkir kopi tersebut. Tidak lupa juga dia mengirim pada Rey, siapa tau penulis itu akan datang.
Namun, harapannya menjadi semu saat tanda centang tak kunjung menjadi biru. Penulis itu sangat sibuk sampai tidak sempat membaca pesannya.
Annaya memilih untuk mengintip grup yang sedari tadi tidak dia buka, dan pesannya sudah mencapai ribuan.
Seketika hatinya merasa teriris, saat Rey terlihat aktif di grup dan mengabaikan pesannya.
Lagi pula siapa Annaya dihidup Rey, mereka hanya berkenalan melalui chatting itupun menggunakan nama pena.
Sementara disisi Rey, pria itu bukan tidak tahu tentang pesan dari kontak bernama Chery. Dia hanya tidak ingin berurusan dengan hal yang menurutnya tidak penting dan di luar dari obrolan tentang literasi.
"Rey, serius banget," tegur Adam salah satu kru TV bagian kamera.
"Iya, Bang. Grup chat lagi ramai ini,"
__ADS_1
"Sukses lah β¦ sudah muda berbakat pula." puji Adam.
Rey hanya menunjukan giginya sebagai balasan atas pujian dari Adam.
Hampir lima jam sudah Rey bergelut dengan pekerjaannya dan dia dapat menyelesaikannya juga. Cukup lama dia belum melihat notifikasi di ponselnya, dan benar saja ribuan chat sudah memenuhi pesannya.
Men Scroll ke bawah, Rey baru sadar tentang Chery yang mengirimnya sebuah gambar.
...Black Coffee?...
Sebuah caption ditulis dalam foto yang Chery kirimkan pada Rey.
Maksud dari orang ini untuk mengajaknya minum bersama secangkir kopi kah?
Sungguh sebuah kebetulan yang menakjubkan. Sebab Rey juga sangat menyukai kopi.
Terlebih saat aroma kopi merasuk ke indera penciumannya, itu sungguh menenangkan saraf-saraf otak yang sudah tegang akibat terlalu diperas karena banyaknya kata yang harus ia tulis.
Benar juga, lebih baik dia menghabiskan waktunya di cafe dekat sini, sambil mengejar kata yang belum ia selesaikan.
Annaya malang, dia masih menunggu Rey membalas pesan yang dikirim, tapi tidak akan ada tandanya penulis itu membalas walau centang sudah berubah menjadi biru.
Annaya memilih beranjak dari cafe, lama sudah dia menunggu Rey dan dia sudah sangat lelah.
Seakan takdir sedang mempermainkan Annaya dan Rey, mereka saling tatap saat penulis itu melangkahkan kakinya ke cafe. Begitu juga saat gadis ini berjalan keluar, hanya sekian detik tapi tidak ada yang saling mengenal dan berlalu begitu saja.
Rey memilih duduk di bangku yang Annaya tadi tempati, bahkan masih meninggalkan cangkir kopi yang masih berada ditempatnya.
Semakin diperhatikan posisi letak gelas ini sangat pas dengan foto yang dikirim Chery padanya, dan dia begitu ingat ada sedikit goresan di meja.
Mengedarkan pandangan ke seluruh arah, tapi nihil tidak ada siapapun disini.
"Ini pesanannya, Mas." Suara pelayan menyadarkan Rey dari mencari sosok yang tidak dia kenal.
Lagi, sebuah pesan masuk menampilkan nama Chery. Dia mengirimkan pesan singkat.
...Chery:...
...Mungkin lain kali :)...
Rey kembali meletakan ponselnya di tas, dia memilih untuk menenggelamkan dirinya dengan setiap huruf yang akan dirangkai menjadi sebuah diksi untuk novel.
__ADS_1
Sebuah karya baru yang akan diberi judul Rasa Literasi.
___ bersambung ___