Antologi

Antologi
#3 - Liontin penghubung


__ADS_3

✨✨✨


Semesta ini memiliki banyak misteri yang tidak terduga. Saat ini Anyelir berada di suatu ruang hampa, tidak ada siapa pun. Tiba-tiba sebuah suara memanggilnya. Anyelir mencari mengedarkan pandangan. Kemudian seorang wanita datang menghampirinya, diiringi dengan cahaya putih kehijauan. Anyelir kaget, wanita itu persis seperti dirinya. Namun, penampilannya sangat berbeda. Dia memakai gaun putih panjang dan jubah besar. Di kepalanya tersemat sebuah mahkota kecil. Duplikatnya itu tampak seperti peri dari dunia dongeng.


"Kamu siapa?"


"Aku adalah kamu, Anyelir."


"Hah, maksudnya?"


"Anyelir ... semesta ini sangat luas dan penuh misteri. Dunia di mana kamu berada sekarang adalah sisi lain dari dunia tempat kamu tinggal. Dan aku adalah wujud lain dari dirimu. Sang pemilik alam telah memilihmu untuk menggantikanku."


"Menggantikan kamu?"


"Anyelir, kalung yang kamu pakai adalah milikku. Kalung itu yang telah membawa kamu ke dunia yang lebih baik. Sekarang tugasku sebagai manusia sudah selesai. Aku akan titipkan keluargaku padamu. Genggamlah liontin di kalung itu, maka kamu akan mendapat segala ingatan tentangku."


"Apa maksudmu?"


Tiba-tiba cahaya yang sangat menyilaukan menutupi pandangannya. Anyelir menghalangi cahaya itu dengan tangannya. Lalu ia terbangun, mimpi aneh itu terasa sangat nyata. Masih dalam keadaan terbaring, Anyelir menyentuh liontin itu dan menggenggamnya. Perlahan, Anyelir merasakan banyak ingatan-ingatan masuk ke dalam kepalanya. Nafasnya terasa sesak, jantung berdebar kencang, matanya terbelalak. Ia mendongak mencoba berteriak, namun tenggorokannya terasa tercekat. Ia mencoba meraih apapun yang ada di sekitarnya. Sebelah tangan Anyelir mencengkram sprei dengan kuat. Agung yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat istrinya sedang kesulitan bernafas. Agung bergegas menghampiri Anyelir.


"Ya Tuhan … sayang … kamu kenapa!?"


Melihat tidak ada reaksi sedikit pun, Agung menjadi panik. Ia meraih gagang telepon dan memanggil asisten rumah tangga, untuk menyiapkan mobil secepatnya. Sedetik kemudian Anyelir tidak sadarkan diri. Wanita itu terkulai lemas tidak berdaya. Agung menggendong istrinya ala bridal style, lalu membawanya berlari keluar. Wajah pria gagah itu terlihat sangat ketakutan. Takut terjadi hal buruk kepada wanita yang sangat dicintainya.


"Sayang … bertahanlah! aku akan membawamu ke rumah sakit!"


_____


Anyelir terbangun dari tidurnya, dua jam yang lalu ia telah dipindahkan ke ruang VIP rumah sakit itu. Di sampingnya Agung tertidur dengan berbantalkan lengan kanan, sedangkan tangan kiri pria itu menggenggam telapak tangan Anyelir. Agung tersentak begitu merasakan tubuh istrinya bergerak.


"Sayang … kamu sudah merasa baikan?"


Wanita itu hanya terdiam. Ingatan-ingatan yang tadi sempat menyiksanya kembali terbayang. Dalam ingatnya, pria yang duduk di sampingnya ini adalah suaminya. Dan anak kecil yang kemarin adalah putrinya. Seolah-olah semua ingatan tentang kedua orang itu ia alami sendiri. Susah, senang, bahagia, bahkan sakit yang dirasakan saat melahirkan Aurora terasa sangat nyata.


"Anye, kenapa sayang! Apakah kamu merasakan sakit? Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter."


Saat Agung bangkit dan hendak pergi, Anyelir duduk dan menahan tangan pria itu. Ia merasa ini semua tidak benar, sangat tidak masuk akal. Hanya dalam waktu semalam tiba-tiba ia memiliki keluarga bahagia. Anyelir merasa ia tidak berhak untuk mendapatkan semua ini. Kebaikan apa yang pernah ia lakukan? Selama ini ia hanya melakukan dosa-dosa.


"Mas Agung!" panggil Anyelir ragu-ragu.


"Iya, ada apa sayang?"

__ADS_1


"Aku ingin mengatakan sesuatu."


"Ok … baiklah. Kamu ingin mengatakan apa?" tanya Agung setelah kembali duduk. Anyelir terdiam sesaat. Haruskah ia mengungkapkan semua kepada Agung?


"Aku bukanlah Anyelir, istrimu," ucapannya membuat pria itu mengerutkan keningnya, perkataan Anyelir itu terlalu membingungkan.


"Apa yang kamu bicarakan, Anye? Tentu saja kamu adalah Anyelir, istriku satu-satunya."


"Mas, aku tau ini sedikit tidak masuk akal, dan semua ini mungkin tidak dapat dipercaya. Tapi aku berkata jujur, aku bukanlah Anyelir yang kamu nikahi. Aku Anyelir dari dunia lain!" tegasnya lagi meyakinkan Agung.


"Haha … sudahlah, sayang. Kamu mungkin butuh istirahat lagi!"


Agung mengusap puncak kepala istrinya, kemudian mengecup kening Anyelir dengan lembut. Wanita itu terbuai seketika, dalam hatinya merasakan ketenangan. Ada suatu getaran aneh yang mengalir di aliran darahnya. Getaran itu menuju ke dada, jantung hatinya. Iya, mungkin Anyelir telah jatuh cinta pada laki-laki ini.


Anye, apakah hal yang kamu katakan sudah terjadi? Bagaimanapun juga, kamu adalah malaikat penyelamatku, aku tidak akan meninggalkan kamu.


_____


Sore hari, langit berwarna jingga. Anyelir duduk bersandar di kursi balkon kamarnya seraya menggenggam liontin di lehernya. Dalam waktu satu bulan ini ia banyak mengalami kesulitan. Kehidupannya yang dulu dan sekarang saling berbenturan. Tapi rasa cintanya kepada Agung tumbuh semakin besar. Pria itu sangat menyayanginya dengan penuh kasih.


Malam itu Anyelir ketahuan pergi diam-diam ke klub malam. Entah kenapa ia nekat pergi ke sana. Agung menyusulnya dan memaksa Anyelir pulang. Dalam perjalanan mereka bertengkar hebat.


"Anye, apa yang kamu lakukan?"


"Iya, tapi tidak harus ke tempat seperti itu. Kenapa kamu semakin tidak bisa di kontrol belakangan ini?"


"Karena aku bukan Anyelir yang kamu kenal. Aku sudah berulang kali mengatakannya, tapi kamu tidak pernah percaya!"


Agung menepikan kendaraannya.


"Anyelir, aku tidak peduli seberapa besar perubahan pada dirimu. Cintaku tidak akan pernah berkurang, malah sekarang semakin besar!"


Anyelir terdiam, memang itulah yang agung rasakan saat ini. Melihat perbedaan yang sangat besar pada istrinya, membuat Agung semakin ingin melindunginya. Anyelir yang sekarang membuat hidupnya jauh lebih berwarna, Agung merasa telah jatuh cinta sekali lagi.


"Anye, kamu tidak mencintaiku?"


Pertanyaan Agung itu menggetarkan hatinya. Anyelir ingin mengakuinya langsung di hadapan pria ini. Tapi ia terus merasa ragu, ia takut ditolak mentah-mentah. Karena dia bukanlah Anyelir dari dunia ini.


"Mas, aku …."


Tiba-tiba liontin itu bercahaya dan berkelap-kelip seperti saat pertama Anyelir melihatnya. Anyelir melirik pada Agung yang juga terlihat kaget. Ada apa ini? Kenapa liontin itu bercahaya lagi? apakah akan terjadi sesuatu? Oohh tidak, cahaya itu semakin terang dan menyilaukan.

__ADS_1


"Mas! Aku menci …."


"Anye … Anyelir! Apa yang terjadi!?"


Agung berteriak memanggil istrinya, sebelah tangannya menghalangi cahaya itu. Agung berusaha meraih tangan Istrinya, namun tidak bisa. Agung melihat Anyelir menghilang di hadapannya.


*****


Pagi hari, Anyelir terbangun di kamarnya. Kepalanya terasa sangat berat, matanya sangat sulit untuk dibuka. Pakaiannya sama seperti yang ia pakai sebulan lalu. Lalu Anyelir membelalakkan matanya.


"Aku di kamar ini? Kenapa?"


Tiba-tiba, dirinya yang lain muncul di hadapannya.


"Anyelir … kenapa kamu melupakan janjimu?"


"Janji? Janji apa?"


Wanita itu menghilang, Anyelir berpikir keras. Benar, sebelum ia pindah ke dunia lain, ia pernah berjanji akan meninggalkan dunia malamnya. Tapi, apa yang telah Anyelir lakukan? Ia melanggar janji yang membawanya kembali ke dunianya.


Setahun kemudian. Anyelir telah meninggalkan rumah orang tuanya. Ia merubah total cara hidupnya, tidak ada lagi alkohol, klub malam, **** bebas. Anyelir masih bekerja di salon Gladys, namun ia berusaha membatasi pergaulannya sekarang.


Saat sepi, Anyelir merenung mengingat semua kenangannya bersama Agung dan putrinya Aurora. Terkadang ia menangis tersedu-sedu sendirian. Ia sangat merindukan dua orang penting itu. Saat malam, Anyelir menggenggam liontinnya dan berharap bisa kembali lagi ke dunia itu, ia meneteskan buliran bening dari matanya dan tertidur.


*****


"Selamat pagi, Anyelir."


Dalam setengah sadar Anyelir mendengar suara pria yang ia cintai. Ahh, mimpi yang indah, pikirnya.


"Anye, sayang … bangunlah!" panggil Agung membangunkan Anyelir, ini bukan mimpi. Dengan cepat ia bangkit dan memeluk Agung yang duduk di sampingnya.


"Mas! Aku kembali, aku sangat merindukanmu, Mas!"


"Aku juga sangat merindukanmu, sayang. Terimakasih sudah kembali padaku!"


Mereka berpelukan sangat erat, airmata mereka tidak berhenti mengalir. Sesaat kemudian Agung melerainya, tersenyum lalu mendekatkan wajah mereka. Agung mengecup kening, mata, hidung dan bibir istrinya. Agung menautkan bibir mereka semakin dalam, mereka melepas kerinduan yang telah lama menumpuk.


THE END


✨✨✨

__ADS_1


Quotes


Ketika tiba waktunya bagi jiwa untuk bertemu, tidak ada apapun di dunia yang dapat mencegah mereka untuk bertemu, dimanapun tempat mereka berada. Jika semesta sudah mengijinkan, apapun bisa saja terjadi dengan sendirinya. Berhenti mencari apa yang kamu inginkan, dan kamu akan menemukan apa yang kamu butuhkan.


__ADS_2