Antologi

Antologi
#3 - Necklace Incarnate


__ADS_3

✨✨✨


Zhi berusaha menyadarkan Calvin dengan kekuatan sihirnya, namun semua hanya sia-sia saat ia tidak dapat berkonsentrasi karena terlalu pilu melihat keadaan Calvin yang lemah. Di matanya, Calvin adalah lelaki yang gagah dan berani. Akan tetapi, kali ini keberaniannya malah justru membuatnya celaka.


Beberapa saat kemudian, Zhi menggenggam liontin di lehernya, lalu menghilang membawa raga Calvin.


Di kediaman orang tua Zhivanna, di Negeri Luchania. Calvin yang lemah dibaringkan di sebuah ranjang.


“Ayah, Bunda!” seru Zhi.


“Zhi? Kenapa kembali?” Ayah Zhi menghampiri.


“Ayah, tolong Calvin! Denyut nadinya sangat lemah akibat ulah Erdo.”


“Apa lelaki ini bisa menerimamu?”


“Iya, Yah. Kami sudah saling mencintai,” jawab Zhi sambil mengusap air matamya.


“Sebaiknya kamu menepi, biar Ayah yang urus.” Ayah Zhi mulai berkonsentrasi menyembuhkan Calvin.


Begitu dalam kekuatan sihir Erdo masuk ke dalam tubuh Calvin hingga ia sedikit kesulitan menyembuhkannya.


“Zhi, sihir jahat yang masuk ke tubuh Calvin sudah tembus sampai ke hati. Dia harus berada di sini untuk beberapa hari agar pulih kembali.”


“Tidak masalah, Yah. Yang terpenting dia bisa sembuh seperti sedia kala.”


Saat-saat Calvin harus melawan hidup dan matinya, Zhi terus menangisinya. Sedetikpun ia tidak mau meninggalkan lelaki itu.


“Calvin, bangun! Bukankah kau mencintaiku? Kamu berjanji akan menikahiku, kenapa kamu masih terus terlelap? Aku menunggumu di sini,” ucap Zhi sambil menghapus buliran air mata di pipinya.


“Kau jahat Calvin! kau membiarkanku setiap hari menangisimu. Bangunlah! Kita akan hidup bersama selamanya.”


Setelah beberapa hari proses penyembuhan dengan kekuatan sihir Ayah Zhi. Kondisi Calvin mulai membaik, ia juga sudah tersadar dari tidur panjangnya.


Calvin perlahan membuka matanya, ia sangat bingung ketika melihat cahaya dan hawa yang tak biasa, sangat asing.


Tempat apa ini? Gumamnya.


“Zhi ….” Calvin mengelus kepala Zhi yang tertidur di kursi sebelah ranjang.


“Calvin! Kamu sudah sadar?!” Zhi terbangun dan begitu terkejut saat melihat Calvin sudah membuka matanya, ia langsung menghambur ke pelukannya.

__ADS_1


“Zhi, kita berada di mana?”


“Di rumah orang tuaku, Calvin. Sekarang kamu sudah sadar, apa kita jadi menikah? Hehe ….” tanya Zhi antusias dengan senyuman cerianya.


“Tentu saja, kamu mau kita menikah sekarang?” tanya Calvin memastikan.


“Hem ….” Zhi mengangguk.


“Baiklah.”


Beberapa saat kemudian, Calvin dan Zhi akhirnya melangsungkan pernikahan di Luchania. Namun tiba-tiba Ayah Zhi mengatakan hal yang mengejutkan. “Calvin, kembalilah lagi ke asalmu! Biarkan Zhi tetap di sini.”


“Maksudnya?! Bukankah Zhi sekarang sudah menjadi istriku?


Aku harus membawanya ikut bersamaku.”


“Iya, Yah. Kenapa Zhi tidak boleh ikut bersama Calvin?”


“Nak, kamu tidak bisa ikut dia kalau kamu belum mencari batu opal untuk pelindung Calvin. Akan sangat berbahaya,” Bunda mengelus lembut punggung Zhi.


“Tapi Bunda … di mana Zhi harus mencari batu opal itu?”


“Apa aku bisa menemukannya di gunung yang sangat luas itu?”


“Jika kamu berusaha, maka batu itu akan memancarkan kilauannya. Ingat, jangan sekali-kali menggunakan energimu, karena batu itu akan semakin sulit di temukan,” sambung Ayah Zhi.


“Calvin, pejamkan mata kamu!” perintah Ayah Zhi sambil memegang satu tangan Calvin. Ia pun hanya menurut. Sesaat kemudian, Calvin menghilang.


“Calvin!” teriak Zhi.


Zhi histeris dan memarahi Ayahnya karena mengembalikan Calvin ke dunianya.


“Ayah, kenapa Calvin pergi?! Harusnya dia menungguku untuk mencari batu itu.”


“Waktu untuk mencari batu opal itu bukan hanya sehari dua hari, Zhi. Jika Calvin terus di sini, ia tidak akan mungkin bisa bertahan karena tempat kita tidak sesuai dengan raganya.”


“Baiklah, Zhi akan berangkat mencari batu itu sekarang.”


“Bunda yakin, pasti kamu akan menemukannya, sayang.” “Iya, Bunda. Zhi pergi dulu.”


Di villa Calvin. Lelaki dengan setelan jas itu termenung. Ia masih bingung dengan kejadian akhir-akhir ini yang seperti mimpi, namun terasa sangat nyata.

__ADS_1


“Apa selama ini aku bermimpi? Pernah berada di dimensi lain, bertemu seorang perempuan cantik bernama Zhivanna. Bahkan aku menikah dengannya di sana. Sungguh sangat sulit di percaya,” gumam Calvin di depan cermin. Ia mengingat saat-saat Zhi datang di kehidupanya.


“Zhi, kalau memang benar kamu nyata, kembalilah. Jangan membuatku terus berpikir kalau ini hanya mimpi. Rasa itu benar-benar ada dan masih kurasakan sampai saat ini. Aku mencintaimu, Zhivanna.”


Setahun telah berlalu, kemunculan Zhi menjadi saat-saat yang begitu mengejutkan untuk Calvin. Zhi terbaring cantik di ranjang Calvin dengan gaun putih, menyangga kepalanya dengan satu tangan. Ia menunggu kedatangan Calvin sepulang dari kantor.


“Zhi … Zhivanna? Apa benar ini kamu?” Calvin membelalakkan matanya begitu membuka pintu kamar dan melihat Zhi di sana.


“Iya Calvin, ini aku. Lihat! Aku sudah mendapatkannya, ini untukmu.” Zhi menunjukkan batu opal yang sudah ditemukannya untuk pelindung Calvin.


“Persetan dengan batu itu!” Calvin memeluk Zhi sangat erat.


“Zhi, kamu kembali setelah aku hampir putus asa. Aku kira, bertemu denganmu hanya sekedar mimpi,” ucap Calvin seraya tangannya menangkup kedua pipi Zhi.


“Apa … kamu akan tinggal bersamaku?!” tanya Calvin dengan mata yang mengembun.


“Tentu saja, aku sudah menjadi istrimu sayang, rumahku di sini….” Zhi menunjuk dada Calvin.


“Terima kasih, Zhi. Selamat datang kembali.” Calvin tersenyum bersamaan dengan tangis bahagianya.


“A—Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sangat bahagia sekarang, akhirnya aku bisa memelukmu lagi,” ucap Calvin.


“Mulai sekarang, besok dan selamanya, aku milikmu. Jika suatu saat nanti kamu berkhianat, kamu tidak akan bisa menemuiku lagi di dunia ini, Calvin.”


“Mana mungkin aku berkhianat, jika memilikimu saja sudah sangat beruntung, aku seperti menemukan oksigen untuk hidupku yang sesak ini, Zhi.”


Tak henti-hentinya Calvin menghujani ciuman mesra ke wajah Zhivanna, ia lalu mengecup lembut bibir istrinya itu, memberikan sentuhan hangat yang sangat ia rindukan selama ini.


Malam panjang kedua insan itu akan menjadi sejarah terindah saat Zhi memulai harinya sebagai manusia normal, juga sebagai seorang istri yang akan mendampingi hidup Calvin selamanya.


___ The End ___


...Quotes...


Siksa derita dan seribu bahagia terpendam dalam misteri cinta, ketulusan adalah tujuan utama dalam percintaan. Tak peduli seberapa besar pengorbanan dan seberapa besar kekalahan yang kamu lalui. Cinta sejati yang abadi pasti akan menjadi milikmu.


✨✨✨


Baca karya lainnya dari Fanita Ey


__ADS_1


__ADS_2