
✨✨✨
Saat pagi menjelang. Anyelir sayup-sayup mendengar suara seorang anak kecil memanggil seseorang. Matanya masih sangat berat, kepala masih pusing. Rasanya malas untuk menggerakkan tubuhnya. Mungkin ia hanya bermimpi, pikirnya.
"Mama … Mama … bangun!"
"Pa, bangunin mama …!"
Gadis kecil berumur lima tahun itu merengek. Agung yang mendengar rengekan putrinya pun merasa iba. Ia berdiri di samping Aurora dan membangunkan istrinya.
"Sayang, bangun!"
Kali ini Anyelir mengerutkan keningnya. Tubuhnya terasa bergoyang-goyang. Suara lembut itu begitu jelas di pendengarannya. Mana mungkin mimpi bisa sejelas ini? Anyelir perlahan membuka matanya. Seorang pria tampan dan gadis kecil telah berada di hadapannya. Reflek ia memundurkan tubuhnya, menarik selimut dan menggenggam erat.
"Siapa kalian!?" teriaknya menggelegar.
Kedua orang yang membangunkannya tadi saling pandang. Anyelir membelalakkan matanya.
"Ngapain kalian di kamar gue!?" teriaknya semakin keras.
"Pa … Mama …!"
Gadis kecil itu mulai menangis. Agung kemudian berlutut mensejajarkan tubuhnya dan menenangkan Aurora.
"Princess … kamu keluar dulu ya. Papa mau bicara dulu sama mama."
__ADS_1
Aurora mengangguk, lalu ia pun keluar dari kamar orang tuanya. Agung bangkit dan naik ke tempat tidur. Anyelir masih terpaku di sudut yang lain.
"Lo mau apa!?" teriaknya lagi.
"Sayang … tenang, kamu kenapa?" tanyanya lembut.
Agung semakin mendekat, tangannya mencoba meraih tubuh istrinya. Tiba-tiba bantal melayang ke wajahnya. Saat Anyelir ingin melemparnya lagi dengan bantal yang lain. Agung menepisnya dan langsung menyergap tubuh Anyelir, mendekap istrinya dari belakang. Anyelir meronta-ronta minta dilepaskan.
"Lepasin gue! Brengsek! Lepas!"
Teriakan itu sangat memekakkan gendang telinga Agung. Sebelah tangan Anyelir yang masih bebas mencakar wajahnya. Dia semakin bingung, kenapa istrinya tiba-tiba kasar seperti ini?
"Anye … stop … berhenti!" bentaknya kemudian, suaranya sangat keras. Hingga membuat Anyelir menghentikan aksinya.
"Sayang, kamu tenang dulu!"
Saat pelukan itu dilepas, barulah Agung merasakan perih di pipi bagian kanannya. Agung mendesis, lalu meraba pipinya yang berdarah. Anyelir mendengarnya dan berbalik, mereka berhadapan. Ia tersentak ketika melihat kuku di tangannya juga berdarah. Tanpa disadarinya ia telah mencakar wajahnya pria itu.
"Maaf!" kata Anyelir keluar begitu saja. Agung memandangi wajah istrinya dan tersenyum. Senyuman lembut itu menghangatkan Anyelir.
"Itu sakit?"
"Tentu saja sakit. Tapi jika istriku yang cantik ini mau mengobati, aku akan memaafkan dengan senang hati."
"Istri? Lo siapa?" tanya Anyelir bingung. "Gue bukan istri lo!"
__ADS_1
"Sayang … apa yang terjadi? Kamu melupakanku? Kamu melupakan Aurora, putri kita? Kenapa tadi kamu tidur di tangga, hm?"
Anyelir semakin bingung. Seingatnya tadi ia tertidur karena mabuk. Kalung, apa karena kalung itu? Ini sangat aneh, tidak mungkin Anyelir benar-benar pindah ke dunia lain, bukan?
Tidak, pria ini mungkin saja gila! Lebih baik ikuti saja dulu arusnya. Jika ada kesempatan aku akan pergi, batinnya.
"Maaf … tadi aku bermimpi buruk."
"Hah? Ya Tuhan … mengagetkan saja. Lalu sekarang kamu sudah sadar?!"
Anyelir mengangguk pelan, ia tidak tahu harus menjawab apa. Dengan cepat anyelir pergi menghindari pria itu. Ia berlari ke arah kamar mandi tanpa menoleh lagi. Saat sampai di wastafel, ia membasuh muka lalu melihat ke arah cermin. Ia terkejut melihat sebuah kalung ada di lehernya. Ya, itu kalung yang didapatnya kemarin. Anyelir memegang liontin pada kalung itu, melihat lekat-lekat. Liontin itu masih bersinar namun tidak berkedip seperti kemarin, ia membiarkan.
Baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, ia terbelalak. Tidak mungkin, sebuah potret berukuran besar terpampang dinding. Potretnya memakai baju pengantin dengan pria tadi. Apa semua ini? Lalu Anyelir keluar dari kamar. Ia melihat dari sudut ke sudut rumah, besar dan mewah. Ia berjalan ke arah tangga dan melihat ke bawah. Kedua orang yang bersamanya tadi memandangnya. Anak kecil itu melambai padanya, dan si pria tersenyum. Perlahan anyelir menuruni satu-persatu anak tangga. Apa ini mimpi? Ia mencubit pipinya, sakit. Tidak mungkin kalau ia hilang ingatan, kapan ia memiliki keluarga?
"Mamaaa … ayo sarapan!" panggil Aurora ceria.
Anyelir menghampiri mereka. Pria itu merangkul dan mengecup pelipisnya. Sangat hangat, Anyelir sampai dibuat terbuai dengan kelembutan itu. Selama di meja makan Anyelir lebih banyak diam. Sesekali ia tersenyum melihat kebahagiaan keluarga ini. Sangat berbeda dengan keluarga yang ia punya.
_____
Ketika malam menjelang. Anyelir membaringkan tubuhnya di kasur. Nyaman, jauh lebih nyaman dari tempat tidurnya sendiri. Seharian ini ia mengikuti setiap aktivitas yang keluarga ini lakukan. Namun ia lebih banyak diam, sehingga menimbulkan pertanyaan di benak Suaminya. Agung berjalan mendekati istrinya. Anyelir masih belum tidur, tapi ia menutup matanya rapat-rapat.
"Sayang, kamu sudah tidur?" tanyanya yang tidak mendapat respon apapun. "Haah! Kamu seharian ini kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu tersenyum, tapi tidak banyak bicara."
Anyelir mendengarnya, tapi enggan untuk membuka mata. Dia merasakan punggung tangannya dicium, lalu puncak kepalanya dibelai dan keningnya dikecup. Kemudian Agung menyelipkan tangannya ke leher istrinya. Menopang kepala Anyelir agar berbantalkan lengan kekarnya. Seketika itu, jantung Anyelir berdegup hebat. Ia tidak pernah mendapat perlakuan selembut ini selama hidupnya. Dan mereka akhirnya terlelap.
__ADS_1
__ Bersambung __