ARABELLA (Pewaris Kerajaan Vampir)

ARABELLA (Pewaris Kerajaan Vampir)
anak angkat vampir


__ADS_3

Aku terkesiap ketika ken memelukku dengan defensif, sementara semua orang membeku.


"tetaplah berada didekatku ra", ken menenangkanku dengan mengelus pundakku. aku hanya mengangguk ketakutan sambil mencari siapa dalang dari keadaan aneh ini.


tiba-tiba saja aku mendapatkan visi , christian dan gabe sedang berlari kesini dengan mimik wajah mematikan. aku melihat orang yang diincarnya.


" dysis!" aku setengah memekik.


"apa kita harus pergi?", ken bertanya padaku, dia tau aku mendapat penglihatan


" jangan, kita aman disini bersama banyak orang ken".


Seketika keadaan kembali normal, ken membiarkanku duduk lagi. aku menatapnya curiga


"ken?", aku memanggilnya pelan, dia masih wasoada.


" kau yang membeku kan waktu?"


ken menoleh, dia tersenyum hangat. "ya, itu bakatku.tapi hanya berpengaruh dijarak tertentu dan jangkauanku berbentuk melingkar. "


aku tersenyum sumringah mengetahui kenyataan itu, lalu memukul bahunya dengan bangga


"kau hebat ken",


" kau baru tau setengahnya", tukasnya sombong.


Ketika akan membuka kaleng soda, megan menatapku dengan penuh selidik.


"apa?" tanyaku lugu.


"sebenarnya kau ini pacaran dengan christian atau dia?" megan mengedikkan dagunya lada ken.


"menurutmu?" ken menggoda grace.


megan langsung membekap mulutnya histeris "hhaahhp, kalian selingkuh ketika christian tidak ada?"


aku dan ken tertawa geli, pikiran megan berisi banyak gosip. megan berdecak sebal, dia paling benci jika tidak tau apapun.


Sekolah hari itu diakhiri dengan kegiatan "operasi semut". kami yang banyaknya seperti semut ini diberikan tugas bersama mengutip sampah -sampah dihalaman sekolah.


" tong sampah disetiap penjuru dan kalian bahkan punya kaki untuk berjalan dan mata untuk melihat dimana tempat sampah seharusnya dibuang!". kepala sekolah berkacak pinggang sambil mengomeli kami.


Ken masih mengikutiku sambil membungkuk, dia menabrakku ketika aku berhenti mematung di halaman belakang sekolah.


hutan cemara yang rindang, aku melihat beberapa serigala besar berbulu lebat. mereka menyeringai ketika aku melihat mereka.

__ADS_1


"ada apa ra?" ken bertanya sambil melihat arah pandangan ku.


"werewolf?" ken bergumam tak percaya, "pantas saja aku menciun bau aneh sejak tadi". aku berbalik menatapnya.


" maksudmu kau tidak terkejut serigala sebesar beruang grizzly itu ada dihutan belakang sekolah kita?"


ken mengangguk santai, "mereka memang menjaga wilayah ini. kau saja yang tidak memperhatikan".


aku berpikir, " pantas saja dysis berlari mengitari hutan, bukan menembusnya dan masuk ke halaman sekolah.


"dysis hanya mencari titik lemah para werewolf itu".


" apakah mereka tinggal didekat sini?,para werewolf itu?"


*ya, salah satunya bahkan teman sekelasmu ra",


aku menatap ken tak percaya, "emmm,, bisa kau ajari cara membedakan makhluk-makhluk padaku?" Aku setengah vampir yang tidak tau bahwa ada salah satu kawanan werewolf didekatku? itu sangat berbahaya.


"bisa saja, kemampuanmu memang sengaja dilumpuhkan oleh ibumu, kau tau, demi agar kau tetap menjadi manusia normal sampai kau siap dengan takdirmu".


" kapan kita bisa mulai latihan?"tanyaku serius, tak terasa aku beringsut mendekat pada ken, beberapa siswa lain yang melihat kami berdua berdehem-dehem. tapi aku tidak peduli. mereka belum tau saja bahaya apa yang sedang mereka hadapi.


ken merangkulku, "sepulang sekolah? sepertinya christian akan menjotosku karna terlalu dekat denganmu, kau bisa jadi penyelamatku".


"kau belum tau saja, dia selalu uring-uringan betapa kau tidak terlalu peduli padanya".


" baiklah, sepulang sekolah aku langsung ikut kau saja", aku memutuskan.


"oke".


Grace menghadangku didepan mobil ken, wajahnya datar. hidungnya kembang kempis. setelah aku memberinya janji aku akan menceritakan kemana aku pergi selama tiga hari saat dia menginap di rumahku barulah wajahnya menjadi ceria lagi.


" ajaklah isobel," grace merengek, "aku akan mengembalikan kartunya ".


" oke, akan kucoba tanya apakah dia bisa menginap".


aku mengiyakan dengan kurang yakin, karna isobel sepertinya sedang sibuk.


"kartu ini seperti memiliki mantra yang kuat, aku tak akan berhenti memikirkan belanja sebelum dia pergi", grace mengipasi wajahnya yang kepanasan karna pemikiran konyol itu.


aku hanya tergelak mendengarnya, dia ketakutan setengah mati akan menghabiskan isi kartu tanpa limit itu.


"aku akan pergi sekarang", akhirnya aku pamit padanya,


" oke, sampaikan salamku pada christian", grace melambaikan tangan sambil berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


"bye",


Ken agak ngebut mengendarai mobil ke rumahnya, kami sampai dengan cepat. aku sedikit gugup ketika memasuki halaman rumah minimalis itu. bagaimana rupa rumah yang dihuni oleh vampir? aku pernah kesini tapi belum pernah masuk kedalam rumahnya.


Sebelum sampai pintu masuk, tiba-tiba saja ada suara berdebum jatuh dari lantai atas. aku memaki karna kaget.


"halo sayang", christian merentangkan tangannya lebar-lebar.


aku masih menganga tak percaya dengan kelakuannya yang sok pamer itu.


" ayolah, aku merindukanmu". christian menaik-turunkan alisnya yang tebal. Oh kau sangat tampan tuan vampir tua. Tapi aku masih harus memikirkan nasib keluargaku.


aku mengabaikan tangan christian dan mengikuti ken masuk kedalam rumah. dia berdecak sebal sembari mengikuti langkahku.


aku dengar dia menggerutu, bahwa dia vampir paling tampan didunia ini, banyak wanita yang mengejarnya tapi dia malah jatuh cinta padaku yang cuek ini. aku menahan geli ku. ku gigit lidahku pelan, jika aku tertawa dia akan menangisi nasibnya lebih lama lagi.


John costel yang sedang duduk santai diruang tamu sambil membaca koran langsung berdiri begitu melihatku masuk. bukankah harusnya dia tau aku ada disini? tapi sepertinya dia sudah terbiasa bersikap layaknya manusia normal.


"arabela, putriku yang cantik", john langsung memelukku ketika aku menggamit tangannya. aku keheranan. ada apa ini?


" oh, " john menaikkan telunjuknya "bukan karna christian, tapi karna sejak kau bayi, kau sudah menjadi putriku, sayang. sandra membawamu pergi dari sini".


wajah jhon tampak sedih, dia pasti mengenang sahabat karibnya itu. dia mendudukkanku disebelahnya.aku menurut saja.


aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah. perabotannya kebanyakan perabotan klasik yang ku tebak harganya fantastis. pasti usia nya hampir menyamai usia jhon sendiri.


"dengar arabel sayang, ayahmu sudah seperti saudara bagiku, dan ketika kau lahir, aku adalah orang pertama diluar keluargamu yang mengetahuinya".


aku menatap jhon dengan banyak pertanyaan. dia memiliki wajah yang tegas dan teduh bersamaan. pantas saja anak-anaknya begitu menghormatinya.


"ayo ikut denganku",


aku hanya mengangguk, john memegangi tanganku dengan hangat, seperti seorang ayah yang menuntun putri nya.


dia mengajakku berjalan menyusuri lorong rumahnya, yang tampak elegan dengan lukisan-lukisan mahal dan tentu saja,klasik. aku terkesima sambil berjalan. jika saja tanganku tak dipegangi jhon,mungkin aku sudah tersandung.


Kami masuk kesebuah ruangan dengan banyak rak yang berisi buku. aku masih menganga terkagum-kagum. sejak dulu aku ingin sekali memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi buku favoritku. melihat ruangan ini bagaikan surga buku dimataku.


John menekan sebuah buku yang lebih besar dari buku lainnya, lalu rak buku itu terbuka lebar, menampilkan sebuah ruangan yang berisi lebih banyak lagi gambar-gambar dan pernak pernik. tampak ada perapian dipojok ruangan.


"kau lihat lukisan itu?" john menunjuk sebuah lukisan yang terdiri dari lebih dari sepuluh orang. dia menunjuk dua orang yang berdiri berdampingan, mereka tampak akrab. aku tau, itu ayahku dan jhon.


"kami bertemu saat masuk universitas di london",


john mulai bercerita,

__ADS_1


__ADS_2