ARABELLA (Pewaris Kerajaan Vampir)

ARABELLA (Pewaris Kerajaan Vampir)
kerasukan


__ADS_3

Setelah rekreasi yang menyenangkan dihari minggu, john menjamu kami di rumahnya. bahkan para pemuda dari konservasi pun ikut bersama kami. Sebagian dari mereka adalah werewolf, tapi sebagian lagi masih manusia biasa.


Christian dengan heboh pamer ikan hasil mereka mancing. kurasa ini kali pertama dia memancing, jika dilihat dari antusiasme nya itu.


Acara berlangsung sampai malam, keluarga costel memiliki peralatan barbecue yang lengkap,tentu saja para pria yang berdiri didepan pemanggang sementara para ladies bergosip ria menikmati hidangan.


Ditengah suasana ceria, tiba-tiba saja aku merasa pusing. Ada sesuatu yang mencoba masuk kedalam kesadaranku. sekuat tenaga aku melawannya, mencoba fokus pada orang-orang disekitarku yang sedang bersenda gurau.


"Arabel",


Sebuah suara memanggilku dari jarak yang jauh, hingga terasa berdengung ditelingaku.


" arabel", terus saja begitu sampai aku berdiri terhuyung menghampiri christian.


"ada apa sayang?" tanya christian khawatir. Aku tak dapat bicara, kepalaku terasa mau pecah. Bagaimana ini? aku tidak ingin membuat suasana jadi suram. Teman-temanku ada disini agar aku bahagia, bagaimana perasaan mereka melihatku sakit seperti ini?


"Tidak boleh, aku harus baik-baik saja sampai mereka pulang" pikiranku mencoba mengabaikan suara yang terus menghantamku.


Christian mengerti keadaanku dan juga apa yang aku pikirkan, dengan lagak tertawa dia menarik ku kedalam pelukan nya, aku mengikuti akting nya juga.


"kau ingin menghabiskan waktu hanya denganku,begitu? kata christian cukup keras. teman-temanku tersenyum geli melihat kami.


Urusan belakangan tentang apa yang mereka pikirkan. aku mencoba tampak kuat, bergelayut ditangan christian dengan gaya manja, padahal aku mau pingsan.


" baiklah, isobel?" christian memanggilnya.


"ya?", isobel yang sedari tadi bercanda dengan bill dan conner menoleh. wajahnya sempat panik, tapi kemudian dia tersenyum. aku tau christian berbicara melalui telepati.


" tenang saja, aku disini mewakilimu ra, bersenang-senanglah".


*bagus sekali akting mereka!* pikirku masam.


Dengan lembut christian membawaku masuk kedalam rumah, kami sempat bercanda sambil berjalan supaya orang mengira aku baik-baik saja, tapi begitu kami sudah duduk di ruang tamu, aku tak kuat lagi.


Aku bangun ketika hari sudah gelap, berada di kamar bercat putih, dengan sebuah pintu besar dari kaca yang mengarah ke balkon. hutan pinus menjadi latar belakangnya. suasana begitu sunyi dan dingin.


Ponselku berdering, sebuah pesan singkat masuk, kulihat itu dari bibi lily.


"kau baik-baik saja sweetheart?" isi pesan yang dikirim satu jam yang lalu.


"bibi dirumah jika kau mau pulang malam ini" pesan setengah jam yang lalu.


Pesan ketiga ini yang baru masuk "tolong jangan lakukan hal yang ceroboh sweetheart, pikirkan semua keputusan yang akan kau ambil. jangan gegabah hanya karna kau jatuh cinta".

__ADS_1


Aku terheran, apa maksud pesan bibi itu?, daripada menduga-duga, lebih baik aku telepon saja dia. Teleponku langsung diangkat ketika tersambung.


" sweetheart? kau baik-baik saja?" tanya bibi khawatir.


"aku baik-baik saja bi, tadi aku ketiduran dan baru saja bangun".


" emmm... " bibi terdengar bingung untuk mengatakan isi kepalanya.


"apa maksud pesanmu tadi?", aku bertanya dengan suara lembut, takut dia tersinggung.


" ya kau taulah apa maksud bibimu ini sayangku", jawab bibi tidak enak hati.


Aku tertawa ketika menangkap maksudnya "apa ini tentang kesucianku?" , bibi menghela nafas panjang.


"tenanglah bi, aku tidak melakukan apapun dengan christian. kami memang dekat tapi tidak sejauh itu".


" syukurlah sayangku, aku tau kau sangat bijaksana. sampaikan salam untuk isobel"


"oke," bibi langsung menutup teleponnya, mungkin dia agak merasa bersalah padaku, tapi aku tau dia hanya khawatir.


Setelah memastikan kepalaku baik-baik saja, aku bangun dari tempat tidur dan keluar menuju dapur. Perasaan lega yang entah datang dari mana, dan juga perasaan nyaman berada dirumah orang yang menganggapku putrinya sendiri. Rumah tampak sepi, meskipun penghuninya vampir , perabotan disini sangat lengkap, bahkan ada microwave, oven, juga kulkas besar dengan dua pintu kanan dan kirinya.


Mulutku mungkin bisa masuk satu buah semangka sangking lebarnya aku menganga, isi kulkas itu sangat lengkap. Kebanyakan makanan cepat saji yang bisa dihangatkan, frozen food, camilan, diet coke, dan buah-buahan. Ah surga dunia bagiku. Dengan penuh semangat aku mengeluarkan sosis dalam freezer, berencana menggorengnya.


" benarkah?" aku bertanya sekilas sambil memanaskan minyak di teflon. elliot tampak memainkan buah apel ditangannya.


"christian bersikeras membelinya, dan tentu saja mendapat dukungan penuh dari ayah",


" apakah kau emmm merasa tidak suka?" aku jadi tidak enak hati padanya, jika kemauan christian merepotkannya.


elliot tertawa "tentu aku suka arabel" elliot mengerling padaku, wajahku merah padam.


"kau memang istimewa, terlepas dari kau adalah keturunan kerajaan vampir rumania".


Aku tersenyum malu, berusaha berkonsentrasi pada sosis yang ku goreng agar bisa mengalihkan padanganku dari elliot. Ini pertama kalinya aku bicara dengannya.


" sudah selesai?" tanyanya kemudian. aku mengangguk sambil menata sosis di piring. elliot membantuku mencari saos sambal dan mayones.


"bawa ke ruang keluarga, ada yang harus kita bahas tentang ketidaksadaran mu semalam" titah elliot serius, aku jadi mengkeret.Apa yang terjadi semalam?


"kau pasti tidak mengingatnya bukan?"


"ya" jawabku gemetar. tiba- tiba saja lututku lemas.

__ADS_1


Sambil membawa piring sosisku dan diet coke aku mengikuti langkah elliot. Rupanya semuanya sudah berkumpul disana, bahkan Noa dan jack. isobel memintaku duduk disampingnya. hanya dia perempuan diruangan ini selain aku.


Christian sedang ngobrol dengan Noa ketika aku masuk, dia langsung duduk dibawah kursi sambil mengelus kakiku yang terasa semakin dingin.


"makanlah sayang, kau pasti kelaparan" christian menyarankan, karna aku hanya menatap iba sosisku.


aku mengangguk sambil makan sosis itu, enak sekali sampai aku lupa belum menawarkannya kepada orang lain.


John memulai pembicaraan saat aku sudah minum sekaleng diet coke.


"nah putriku yang cantik, apakah kau ingat yang terjadi semalam?"


aku menggeleng bingung, john hanya tersenyum.


"kau seperti kerasukan seseorang sayang, tapi sepertinya dia tidak bermaksud buruk padamu. dia hanya terus mengatakan agar kami lebih bisa menjaga keselamatanmu"


"aku tidak ingat apapun" gumamku lirih.


"besarnya kekuatan yang dia miliki, ditambah fisikmu yang sedang lemah membuatmu tidak kuat menahannya, itulah kenapa kau pingsan. seharusnya dia berbicara padamu".


Aku menunduk, " yang aku tau hanya, dia seorang perempuan "


"Dia menyarankan agar kau melakukan visi pada mayat dysis",


" apa?" aku kaget setengah mati,


"iya sayang, kami memang memenggal kepalanya, dan kau bisa melakukan visi dengan melihat isi kepalanya bukan?" christian ikut bicara,


"aku...aku "


"kami bersamamu arabel", elliot menenangkan ku.


Noa dan jack hanya memperhatikan ekspresiku, tampak Noa menatap christian tidak suka.


" apakah kita harus memaksanya jika dia tidak mau?" Noa protes.


"tentu saja tidak, hanya jika dia mau" isobel menjawabnya.


"tapi kalian seperti memaksanya" geram noa ,jack masih tenang.


"aku mau melakukannya, hanya saja aku belum pernah melihat visi pada orang yang sudah mati. aku tidak tau apakah bisa dilakukan" setidaknya aku bisa membantu mencari petunjuk , bukan hanya bisa merepotkan.


"kita akan coba, kau siap?"

__ADS_1


aku mengangguk mantap.


__ADS_2