ARABELLA (Pewaris Kerajaan Vampir)

ARABELLA (Pewaris Kerajaan Vampir)
isobel stevens


__ADS_3

Seperti janji megan, kami pergi ke santa claus Ln, terdapat bangunan panjang berwarna cokelat aku melihat kedai taco bell, toko pakaian, dan sebelah kanan ada bangunan terpisah dengan plang besar bertuliskan pizza hut. tapi kami memasuki sebuah cafe pertama sebelah kiri, bertuliskan the Country cafe.


Megan bilang, dia berani mentraktir kami disana karna kafe itu milik pamannya, jadi dia bisa mendapatkan diskon sampai 50%. Lagi pula aku sudah bosan dengan pizza dan taco.


Megan membebaskan kami memesan makanan sesuai selera masing-masing, tapi akhirnya kami kompak memesan Korean bulgogi sandwich yang tampak kelihatan sangat lezat hanya dari gambar di menu.


grace memekik tertahan ketika melihat kearah pintu kafe, "astaga ara, dia benar-benar penguntit ulung".


aku melihat arah pandangannya, tentu saja aku bisa menebak siapa yang datang, hanya saja kali ini christian datang bersama ayahnya, dan seorang wanita cantik bak malaikat. kami terkesima, aku tersadar mulutku menganga melihat pemandangan luar biasa itu.


wanita itu, berambut pirang panjang, matanya berwarna abu-abu, dengan make up bold tapi natural. entahlah sok sekali aku mengomentari make up seseorang padahal aku tak tau tentang make up.


awalnya mereka hendak duduk dikursi pojokan, tapi christian seperti sengaja mengedarkan pandangan, dan mata kami bertemu. dia tersenyum senang.


aku langsung berpaling, wajahku memanas, dan tanganku gemetar.


"ra" grace meringis. aku mendelik "apa?".


" anu, mereka kesini".


"hahhh!?" aku berencana akan kabur saja, tapi grace menahanku, dia menggeleng.


kurasakan dadaku membengkak, nafasku berderu, dan jantungku sedang skiping didalam rongga dadaku. rasanya aku ingin punya kekuatan menghilangkan diri saat ini juga. grace terus mengusap punggungku.


"halo", wanita cantik itu tersenyum pada kami, kami dengan sopan membalasnya.


" boleh kami bergabung?" saat dia mengatakannya, christian seenaknya duduk dikursi sebelahku. kami hanya jadi pergi bertiga, jadi ada sedikit tempat lagi untuk 3 kursi tambahan.


"christian!" hardik wanita cantik itu, sepertinya dia kakak perempuannya. "tidak sopan sekali," dia melotot tapi sayang. aku mengerjapkan mata, dia begitu anggun.christian hanya nyengir kuda. lalu wanita itu dan jhon costel duduk diseberang kami.


"kenalkan, aku isobel stevens", dia tersenyum hangat, matanya begitu teduh. " aku anak tertua dari keluarga costel, kalian mungkin bingung kenapa nama belakangku bukan costel"


aku mengangguk penasaran.


"aku memakai nama gadis ibuku, dia juga masih memakai nama gadisnya. itu karna nama ayahku terlalu berpengaruh, sedangkan kami ingin merintis karir diatas kaki kami sendiri"


"alasan yang bagus sayang", john seperti menegur putrinya. " karna alasan kalian itu tidak ada yang tau kalau aku punya seorang putri yang sangat cerdas".


Sebenarnya, aku, grace dan megan seperti orang bodoh yang duduk berjejal bertiga. kami tidak tau harus berkomentar apa, rasanya seperti menyaksikan reuni seorang ayah dan putri tercintanya.


"berhentilah kalian berdua membuat mereka ketakutan kak", christian terlihat kesal.


" benarkah?" tanya john, lalu melihat ekspresi kami bertiga akhirnya dia mengerti.


"baiklah, aku ada pekerjaan di forks, jadi kalian lanjutkan saja sesama anak muda".lalu dia memberikan selembar kartu nama padaku.


" arabella, aku mungkin tau banyak tentang ayah dan ibumu. jika kau siap bisa hubungi aku langsung, oke?"


aku menatap john serius, entah mengapa aku bisa membaca tatapan matanya,


"ada yang perlu aku ceritakan padamu".


aku mengangguk, tak merasa aneh dengan telepati yang ku terima barusan.


john bangkit , mencium pipi putrinya sekali lalu melambai sambil berlalu pergi. keadaan agak mencair ketika dia menghilang dari balik pintu.


" well, kalian bisa santai sekarang", kata christian yang berusaha mencairkan suasana.


"eh anu, ibuku menelpon" megan mengangkat ponselnya yang berdering sejak tadi.

__ADS_1


"mom, " megan melihat jam tangannya, "astaga,oke mom, sorry aku lupa". " oke,oke"


"guys" wajah megan sangat merasa tidak enak hati, "ibuku sudah menungguku, aku berjanji akan mengantarkannya kesuatu tempat, sorry".


" its okay, pergilah meg, jangan buat ibumu menunggu".


"thank you ara, aku akan membayar makanan kita terlebih dulu"


christian bangkit, menahan tangan megan. "biar aku saja, "


megan mendelik "aku sudah berjanji".


" dan jangan buat aku seperti pria tak tau malu"


"aku hanya akan membayar makanan kami bertiga" megan bersikeras.


"plis meg, pergilah, anggap saja kau berhutang padaku"


megan dengan kesal melihat jam tangannya lagi, dia sudah sangat terlambat. "oke, awas saja kau macam-macam" ancamnya pada christian tentang hutang hari ini.


christian hanya tersenyum menang. megan pun pergi. grace duduk santai sambil menikmati jusnya. aku menatapnya tak percaya, bisa-bisanya dia sesantai itu, sementara bokongku mulai panas.


"ara", isobel memegang tanganku, aku tersenyum " ya?"


"kau cantik sekali, pantas saja christian tergila-gila padamu"


aku merah padam, bokongku makin panas rasanya, dan aku bergerak-gerak gelisah. ingin kabur tapi tak enak hati.


christian dengan entengnya merangkul bahuku dan berbisik, "santai saja sayang, dia tak akan menggigitmu"


aku memelototi christian, "sayang,,sayang, kepalamu peyang!!",


" kalian seperti tom dan jerry", ujar isobel geli.


"kau bahkan tidak tersanjung ketika aku mengatakan christian tergila-gila padamu ra?" tanyanya kemudian.


aku mengedikkan bahu, "bukan suatu pencapaian yang bisa aku banggakan "


"oo kau akan jatuh hati padaku, percayalah",christian sangat percaya diri. aku memutar bola mataku jengah.


" aku tak bisa mengelak christian, kau memang pria paling tampan yang pernah aku temui. tapi jujur saja kau sangat menjengkelkan".


isobel tergelak sekarang, bahkan terpingkal-pingkal.


"aduuh perut ku sakit".dia melambai tanganya menyerah.


" kau senang sekali kak?" christian kesal


"dia benar-benar polos dan jujur christian, aku sangat menyukainya! kau mendapatkan restuku!".


" apa!?" aku dan grace terkejut. jadi christian sengaja mengajak isobel berkenalan denganku untuk meminta persetujuan kakak perempuannya itu?, benar-benar keterlaluan.


tapi jujur saja aku juga menyukai isobel, dia terlihat dewasa, anggun, cerdas, berwibawa dan keibuan. seandainya aku punya kakak yang bisa diajak bergosip dan shoping, menjadi teman curhat saat aku patah hati. lama hidup sebagai anak tunggal membuatku merindukan saudara. meskipun sekarang aku punya bibi lily dan grace.


"tenanglah ra, adikku ini belum pernah memilki kekasih sepanjang eksistensinya, aku jamin dia masih orisinil dan kau adalah cinta pandangan pertamanya".


isobel tertawa geli seperti mengingat sesuatu " meskipun pandangan pertama kalian saat sedang memilih pembalut menstruasi bersama" .


tawa grace meledak, "astaga ra, kau belum menceritakannya padaku!"

__ADS_1


"tidak penting grace, jangan membuatku malu",


" harusnya christian yang malu ra",grace masih terpingkal. padahal tidak ada yang lucu bagiku.


"jangan cemberut lagi sayang, mari temani aku belanja" isobel menarik tanganku dan aku menarik grace,


christian tiba-tiba saja menghilang seperti angin, lalu kembali lagi sambil nyengir.


"nikmati belanjanya, aku akan menunggu diparkiran kak".


" oke".


isobel mengajak kami ke toko baju sebelah taco bell. pilihannya tidak terlalu lengkap. tapi isobel bilang dia hanya membutuhkan baju-baju harian karna dia berencana akan pindah ke north pole untuk sementara waktu. sedangkan dia tak ingin membawa banyak koper, jadi dia membelinya saja disini.


selama berbelanja, isobel terus saja berceloteh tentang pengalamannya selama di paris, dia sekolah khusus fashion designer seperti yang diceritakan grace tempo hari.


"kau tau ra, aku seperti pernah mendengar namamu disebut seseorang disuatu tempat, tapi aku lupa dimana, karna aku sudah berkeliling ke beberapa negara menghadiri fashion show ternama",


" tak perlu diingat bel, mungkin banyak orang dengan nama yang sama denganku" kataku malas.


"kau benar, " katanya, sambil mengangkat tjnggu-tinggi sepotong jeans cut bray, kurasa cocok sekali dengan kakinya yang jenjang.


"kurasa itu sangat cocok untuk kakimu",kataku memberi saran, sementara grace entah nyasar kemana.


" aku suka ini , aku akan mengambilnya dua. satu untukmu dan satu untukku".


"tak perlu" aku mengelak.


"jangan membantah ra, ini perintah bukan pilihan".


Aku pasrah, karna isobel mengancam tidak mau bicara denganku lagi jika aku menolaknya.


" baiklah, lumayan dapat baju gratis", sahutku setengah riang. karna aku bukan tipe orang yang suka membeli pakaian.


"kau benar-benar menyenangkan ", isobel mencium pipiku sekali, lalu berjingkrak-jingkrak semangat.


Aku memang senang memperkecil masalah dihadapanku, jadi aku akan menurut saja seperti kerbau dicucuk hidungnya.


setengah jam berdua saja dengan isobel, grace datang entah dari mana. dia membawa 2 burger, 2 kantong french fries, dan dua diet coke. aku bertanya dari mana dia mendapatkanya, dia bilang tadi christian memintanya menemaninya membeli semua itu, sambil mengorek-ngorek informasi tentangku.


grace bersikap biasa saja sambil bercerita, karna dia sama sepertiku tidak terlalu tertarik dengan pria.


"kenapa isobel tidak dibelikan juga?" tanyaku sambil mengunyah burger, padahal tadi sudah makan tapi rupanya aku tak kenyang.


"karna christian tau aku tidak makan semua itu ra, biaa rusak dietku nanti", isobel kembali dengan membawa sepuluh kantong belanjaan.


" ayo kita pulang", ajaknya kemudian


"eeehh, aku bawa mobil sendiri bel", kataku gugup, takut dia tersinggung.


" aku tau sayangku, aku akan ikut kerumahmu".


*tapi christian?"


"dia sudah pergi ra, " grace menjawab


"aku yang mengusirnya, aku ingin menghabiskan pesta piyama bersama calon iparku",


ooh tuhan, isobel menyenangkan, tapi dia sama percaya dirinya dengan christian.

__ADS_1


__ADS_2