
Setelah persiapan yang matang akhir nya waktu itu tiba V dan ketiga temannya memasuki hutan Andalusia mereka hanya menyalakan 1 obor digunakan untuk menerangi jalan saja supaya tidak terkena jebakan para pemburu lainnya, setelah berjalan cukup jauh V merasa bahwa lokasi nya cocok "kurasa lokasi ini sangat cocok" ucap V.
kemudian mereka mengiyakan, insting berburu V memang lebih baik diantara mereka berempat. V memasang perangkap dengan Tasya, Chika bertugas memegangi obor dan Randy mengawasi daerah setempat, setelah perangkap selesai di pasang mereka bergegas untuk bersembuyi, persembunyian dibagi menjadi 2 kelompok, V dan Tasya, Randy dan Chika.
Malam semakin dingin dan mencekam mata mereka fokus tertuju pada buruan di depan, berharap buruan datang, dan juga jangan sampai bertemu dengan para peri, V menajamkan penglihatannya dan fokus ke jebakan dan sekitar nya, V melamun dan mengingat kembali kenangan dengan wanita itu.
-_-
Dua tahun yang lalu saat usia V 14 tahun V sudah pandai berburu. Malam itu setelah pulang mengantar obat, V berpikir untuk berburu makanan pasti adik-adik panti akan sangat senang pikir V waktu itu. Setelah mencari beberapa saat akhir nya V melihat seekor kelinci berwarna putih dan bermata pelangi, cantik sekali kelinci itu pikir V, tanpa berpikir lama V mengejar kelinci itu, namun di luar dugaan kelinci itu sangat lincah lebih lincah dari pada kelinci biasa pada umumnya.
"akh sial aku gagal menangkapnya, baiklah kalau begitu aku akan mencari jaring untuk menangkapnya" ucap V didalam hatinya,.
setelah memasang jebakan V menunggu kelinci itu, beberapa saat kemudian kelinci itu menghampiri jebakan itu, kelinci itu memakan wortel yang V taruh dibawah jangkar, baiklah ini saat nya aku turunkan jangkarnya, satu detik kemudian seseorang datang menghampiri kelinci itu, V kaget dan kemudian menabrak orang itu, bukk suara jangkar yang jatuh "akh" rintih wanita itu.
"maafkan aku kakak aku tidak bermaksud melukaimu" kata V, orang itu melirik V dan tersenyum .
"tidak apa-apa" ucap wanita itu.
"Tapi tangan kakak berdarah biarkan aku menolongmu" ucap V merasa bersalah.
"terimakasih, tapi ini hanya goresan kecil kau tidak perlu mengobatiku" ucap kakak itu
"tenang saja kak, aku adalah seorang tabib aku bisa mengobatimu" Ucap V, kemudian V memegang tangan kakak itu dan bergumam mengucapkan mantra "harsha" cahaya kuning menyelimuti bagian tangan kakak itu, lukanya perlahan mengering, kakak itu benar-benar takjub.
"terimakasih kau sungguh hebat" puji kakak itu kepada V kemudian kaka itu menoleh kebelakang melihat jebakan dan ada sobekan kain dijaringnya terdapat darah segar di sobekan kain itu "ya ampun punggung mu berdarah biar ku lihat" kakak itu menyuruh V untuk duduk membelakanginya.
"ya ampun luka nya sangat lebar dan dalam apa kau tidak merasakan apa-apa dari tadi?" tanya kakak itu tampak jelas kekhawatiran di wajahnya
“hanya sedikit sakit” ucap V
“Sini biar aku mengobati lukamu” ucap kakak itu
"tidak perlu kak aku bisa mengobati lukaku" ucap V
"Kau sudah menolongku barusan, jadi biarkan aku menolongmu sekarang" ucapnya.
"Tidak apa-apa kak aku adalah seorang tabib, jadi aku bisa mengobati lukaku" ucap V penuh percaya diri.
"Baiklah, tapi bagaimana caramu mengobati punggungmu?" kakak itu bertanya pada V
"aku bisa membuat ramuan" jawab V
__ADS_1
"baiklah kalau begitu kau duduk di situ dan biarkan aku yang mencari bahannya, bahan apa yang kau butuhkan?" pinta kakak itu sungguh-sungguh.
baiklah kalau itu mau nya, V memberi tahu bahan apa saja yang harus di temukan.
"Aku akan pergi sebentar, kau tetaplah disini, aku tidak akan lama" perintah Kaka itu.
untungnya mereka berada d tengah hutan jadi tidak terlalu susah mencari bahannya.
"Apa aku bertanya namanya saja, kakak tadi begitu baik dan parasnya tidak seperti kebanyakan orang tinggal di Amora, bangsa peri sepertinya bukan" pikir V.
beberapa menit kemudian kakak itu datang mebawa bahan-bahan yang di perlukan. Kemudian V menumbuk bahan-bahan tersebut menjadi satu setelah selesai menumbuk bahan, V membaca mantra "harsha" cahaya kuning bersinar.
"jadi apa kau sudah selesai membuat ramuan" tanya kaka itu .
"iyah sudah selesai" jawab V.
"Jadi apa aku boleh membantumu mengoleskannya?" tanya kakak itu.
tapi V lagi-lagi menolak seperti sebelum nya, Kakak itu tidak memaksa V dan hanya memperhatikan V yang kesusahan mengoleskannya tangan V yang pendek tak dapat menjangkau punggung nya V melalukan berbagai cara, kemudian kakak itu tertawa dan meraih ramuan yang ada di genggaman V dan memaksa V agar membiarkan dia membantu V, dengan malu nya V membiarkan kakak itu mengoleskan ramuan itu kepunggung V.
"kakak apakah kakak tidak tinggal di kota Amora?" tanya V penasaran
"tidak" jawab kakak
"jadi kakak tinggal dimana aku belum pernah melihat seseorang seperti kakak?" tanya V penasaran
"apa yang kakak lakukan dihutan malam-malam begini, apa kakak tersesat?" tanya V.
"tidak aku tidak tersesat dulu aku mengenal tempat ini dengan baik" suara kakak berbeda dan terasa ada kesedihan.
"apa kakak sedang bersedih? Maaf kalau aku terlalu banyak bertanya" ucap V menyesal
"tidak aku hanya teringat teman lama yang meninggal di hutan ini" jawab kakak itu dengan nada sedikit menekan
"aku turut berduka ka, maafkan aku kalau membuat kakak bersedih" ucap V penuh penyesalan
"tidak apa-apa, kematian adalah sebuah takdir yang telah melekat pada siapapun yang hidup, kita tidak bisa lari darinya" ucap Kaka itu.
"Baiklah, jadi siapa teman Kakak yang meninggal itu?"tanya V penasaran
"Teman Kakak adalah seorang sirent" jawabnya
"Oh, jadi teman Kaka adalah seorang sirent, aku belum pernah bertemu dengan kaum sirent, Karena yang aku dengar sirent tidak suka mengunjungi daratan" ucap V.
__ADS_1
"Iyah mereka tidak akan kedaratan kalau bukan karena sesuatu hal yang penting" jelas Kaka itu.
"Kakak hebat sekali bisa berteman dengan mereka, aku kagum sekali" ucap V.
Kakak itu tersenyum lembut "mereka juga tidak susah untuk di ajak bicara. Apa kau tidak membenci mereka?" Tanya Kakak itu
"Membenci mengapa harus membenci, sejujurnya kehidupan ini sudah begitu sulit, akan sangat tidak berguna kalau didalam hati kita penuh kebencian" jawab V.
"Andai semua manusia sepertimu tidak berhati sempit, akan sangat bagus, sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anak hebat sepertimu" ucap Kakak itu tersenyum sambil mengelus rambut V.
V kaget, detak jantung nya berdetak tidak karuan, perasaannya menjadi gelisah, entah pipinya sudah Semerah apa, beruntung saat itu malam begitu gelap, sehingga V sedikit tenang bisa menyembunyikan raut mukanya.
"Aku yang begitu beruntung bisa berjumpa dengan Kaka" ucap V gugup.
" jadi kakak siapa namamu" tanya V .
kakak itu terdiam lama terdapat kebingungan didalam wajahnya "namaku?" Ucap nya.
"apakah kakak juga lupa nama kakak sendiri seperti aku?" Ucap V.
"apa kau tidak tahu namamu sendiri?" tanya kakak itu penasaran
"iya aku tidak mengingatnya, bahkan nama ibu dan ayahku aku benar-benar tidak tahu" V menceritakan sedikit ingatan tentangnya semasa kecilnya.
"baiklah kalau begitu hari ini aku yang akan memberi nama untuk kakak, bagimana kalau aurora?" tanya V kepada kakak itu.
setelah selesai mengobati luka V kakak itu menaruh sisa ramuan itu, dan menatap muka V "aurora ya? Bagus, aku menyukainya" kakak itu tersenyum kepada V dengan lembut.
Sekali lagi jantung V berdetak kencang saat menatap wajah kakak itu.
"Baiklah aku sudah selesai membalut lukamu, hari semakin pagi, aku harus pergi" kakak itu berjalan pergi karena sudah hampir pagi para peri pasti akan beraktifitas, tapi seketika V menghentikannya.
"tunggu kakak, ini untukmu bunga Dandelion Biru" ucap V.
kakak itu heran tapi tersenyum "baiklah aku terima, terimakasih, bunga ini sangat indah" sekali lagi kakak itu tersenyum sangat lembut
"bunga ini memang sangat indah, seperti kakak. Jadi apa kita akan bertemu lagi?" Tanya V.
Kakak itu lalu menatap V matanya berubah menjadi kesedihan namun bibirnya tersenyum "maafkan kakak, seperti nya kita tidak akan berjumpa lagi" ucap Kakak itu.
tanpa disadari air mata V mengalir dengan sendrinya, kakak itu mencium kening V "baiklah, kau percaya takdir? Apabila memang kita harus bertemu suatu hari nanti kita akan bertemu, selamat tinggal" ucap Kakak itu.
Dia segera pergi dan V tanpa berpikir panjang berteriak "aurora" kakak itu kemudian berhenti dan menoleh kearah V kakak itu tersenyum sambil melambaikan kan tangannya kepada V, kakak itu berjalan semakin jauh hingga tidak terlihat jejaknya, V berdiri lama di tempat itu dan memandangi hamparan dandelion biru V lalu memetik satu bunga itu dan meniup bunga itu sambil berbisik “aurora aku akan selalu menunggumu” ucap V, dandelion terbang ke udara dan menjauh dari V “pertemuan yang kebetulan, singkat tapi menyenangkan, kenangan singkat ini akan selalu ku ingat” ucap V didalam hatinya dan berharap suatu hari nanti Dandelion yang terbang menjauh terbang kembali kepadanya.
__ADS_1
terimakasih karena telah meluangkan waktu untuk membaca karya Author, mohon dukungannya dengan cara like, coment dan vote, dan tolong jangan kemana-mana ikuti perjalanan V selanjutnya . see you