
Keinginan Untuk Diakui
Dengan perasaan tidak tenang Larissa mengikuti Mark dengan sangat hati-hati, jalan demi jalan dia lewati Larissa begitu Familiar dengan jalan itu dia sangat yakin Mark menuju rumah Ednan tidak lama hujan mengguyur mereka dengan kekuatan sihir airnya Mark tidak terkena hujan tapi dia mempercepat jalannya, Larissa merasa iri dengan Mark ingin rasanya dia berlari ke arah Mark dan membuatnya terkejut tapi Larissa menahan dirinya.
Mark masuk kedalam rumah Ednan dengan cepat Larissa mengikuti, dia cukup kedinginan dengan dirinya yang basah kuyup dia mencoba ingin membuka pintu tapi dia mengurungkan niat nya ketika dia mendengar sesuatu. Ekspresi nya berubah Larissa merasa kecewa dengan Ednan dan Mark dia mencoba memakai dirinya mengapa mereka diam-diam merencanakan sesuatu tanpa mengajak nya apa selama nya di mata mereka Larissa hanya anak kecil dia tidak tahan ...
Brakkk. ..
Larissa membanting pintu kuat-kuat tanpa basa basi dan menghiraukan pandangan orang lain dia langsung mengahampiri Ednan.
"Larissa sejak kapan kau ada di sini?" tanya Mark kemudian menghampiri Larissa melihat nya yang basah kuyup membuat Mark begitu Khawatir dengan cepat dia membuka jubah nya dan memakaikan nya kepada Larissa.
Larissa memohon kepada Ednan untuk membawa nya juga, tapi Ednan tidak setuju karena misi ini begitu berbahaya, tapi Larissa tidak gentar sedikit pun dia terus memaksa Ednan mengijinkannya buliran air mata sudah tak sanggup Larissa tahan besar harapan nya ingin bisa mengikuti Ednan.
"jika kau ikut itu bisa membuat mu menjadi penghianat" Ednan menegaskan.
Larissa mengangguk mantap dia tahu itu resikonya tapi dia tidak keberatan soal itu, akhirnya Ednan mengalah dan mencoba akan memikirkannya.
Rahfa dan Luzzy kemudian meninggalkan tempat kediaman Ednan dan akan berkumpul kembali lusa di perbatasan hutan andalusia.
Setelah Rahfa dan Luzzy pergi Mark memaksa Larissa untuk pulang, namun Larissa tidak ingin pulang tapi Mark tidak memperdulikannya Mark tetap memaksa Larissa untuk pulang, dengan enggan Larissa kembali ke istana.
"master aku paham betul kau khawatir dengan Larissa, tapi melihatnya seperti itu aku juga merasa tidak tega, dan lagi Larissa sudah tahu rencana kita, akan lebih adil kalau dia ikut dalam misi ini, aku berjanji akan menjaganya" ucap Mark tulus
"Aku pikir kalau seandainya kita tidak mengijinkannya dengan sifat nya aku yakin dia akan diam-diam mengikuti kita, kurasa lebih aman untuk membawanya. Mark Missi mu adalah menjaganya tetap aman"
"Tentu master aku berjanji akan menjaganya”.
-_-
Sesampainya di istana Mark langsung menghampiri Larissa ke kamarnya dia mendapati Larissa dengan Mata yang merah dan juga sembab, Mark mencoba menenangkan nya
"hei jangan menangis, aku ada kabar bagus untukmu"
"Ednan sudah mengijinkan kamu untuk bergabung, tapi ingat ini adalah misi yang sangat berbahaya kau harus berhati-hati" tegas Mark
"Benarkah kau tidak Bohong kan ?"
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak berbohong, Kau sudah bukan anak kecil lagi, mana mungkin aku berani berbohong kepada tuan putri kami"
Larissa langsung memeluk Mark dan berterima kasih kepadanya dia tidak berhenti tersenyum, Mark lega karena Larissa ceria kembali
"berjanjilah kepadaku, kau akan menuruti semua perintahku dan Ednan, sekarang kau harus istirahat yang cukup karena besok dan seterusnya adalah hari yang akan melelahkan”
Larissa berjanji dengan segenap jiwanya kepada Mark tidak akan membuat Mark ataupun Ednan kesusahan dia mentap lekat-lekat wajah Mark meyakinkan Mark agar percaya kepadanya.
***
Hari itu tiba Larissa dan Mark menyiapkan barang yang di perlukan. Larissa memohon ijin kepada ayah dan ibu nya dengan alasan ikut berburu dengan Mark, mereka berdua pergi ke hutan andalusia.
Sesampainya di tempat pertemuan Ednan sudah ada dilokasi
"selamat malam master, maaf membuat anda menunggu"
"selamat malam Mark, tidak apa-apa kalian berdua datang lebih cepat"
"kak Ednan terimakasih karena telah mengijinkan aku ikut"
"sama-sama, jaga dirimu Larissa, ikuti semua perintah Mark mengerti" ucap Ednan sambil mengelus Rambutnya.
setelah beberapa saat Rahfa datang
"ternyata kalian berdua datang tepat waktu, dan kemana kucing pemarah itu?" tanya Rahfa kepada Ednan
"siapa yang kau bilang kucing pemarah itu hah, om tua" tanya Luzzy sambil memukul punggung Rahfa yang berdiri tepat membelakangi Luzzy, Rahfa tampak geram dengan perlakuan Luzzy.
Ednan mengajak mereka semua untuk segera berangkat karena Lokasi lautan segitiga bermuda itu sangat jauh dan tidak bisa di prediksi, Ednan menyewa sebuah kapal laut, mereka semua menuju dermaga dan menaiki kapal, masing-masing mengenakan tudung hitam untuk menutupi identitas.
Setelah beberapa hari perjalanan akhirnya mereka sampai di segitiga Bermuda suasana di sekitar sangat gelap, awan hitam menutupi langit biru, suara gagak hitam mencekik, ombak air laut yang besar membuat kapal berguncang hebat seolah-olah siap berguling kapan saja.
"wajah mu begitu tegang Larissa" tanya Mark
"tidak aku tidak tegang hhe" ucap Larissa dengan senyum terpaksa berusaha menutupi ke tegangannya.
"kau tidak perlu menutupi ketegananmu, aku juga merasa demikian" ucap Ednan sambil menepuk pundak Larissa
__ADS_1
"iyah kami semua juga merasa tegang" ucap Mark tersenyum
"kata siapa kita semua tegang, aku tidak tegang aku merasa tidak sabar haha" ucap Rahfa sambil tertawa
"kau hanya menutupi kegelisahanmu, jangan berpura-pura kau tidak takut apa-apa sebentar lagi juga kau muntah" ucap Luzzy
"hei kau sembarangan aku tidak tegang"
Luzzy membuatkan teh untuk mereka berlima supaya merasa lebih hangat dan rileks, seketika itu Rahfa muntah.
Rahfa marah dan mengumpat kepada Luzzy dia berpikir Luzzy memberikan obat aneh kepada dirinya
"tidak aku tidak mencampurkan apa-apa untuk apa aku melakukannya?" .
"dasar kau! aku tidak percaya padamu" ucap Rahfa sambil mengayunkan tongkat nya.
"tunggu Rahfa tahan emosimu, aku tidak ingin membela siapapun tapi aku yakin Luzzy tidak akan meracunimu, biarkan aku meminum teh mu" ucapan Ednan, kemudian Ednan meminum teh Rahfa dan menghabiskan nya tapi tidak terjadi apa-apa pada Ednan.
"sudah ku bilang aku tidak meracuni mu, apa kau lupa atau kau berpura-pura lupa orang tuamu sendiri yang bilang kepadaku bahwa kau selalu Mabuk Laut" ucap Luzzy dengan wajah mengejek, Rahfa marah kemudian keluar dari ruangan.
Larissa mencoba menahan dirinya untuk tidak tertawa bagaimana bisa seorang yang sombong keras kepala seperti Rahfa bisa Mabuk Laut juga.
-_-
Ednan dan teman-teman nya sampai di gerbang kerajaan iblis, tembok yang tinggi dan juga besar mengelilingi istana yang didominasi warna hitam dan merah.
phantom terbang mengitari istana, phantom adalah iblis penghisap jiwa, seseorang yang menghadapi Phantom jiwanya akan menjadi begitu sedih dan putus asa, sehingga membuat dia tidak tahan lagi dan pada akhirnya korban akan meninggal karena bunuh diri, Phantom iblis berjubah hitam dengan mata Semerah darah.
Gerbang masuk di jaga oleh 2 giant. giant adalah monster raksasa, warna kulit nya hijau, gigi nya bertaring dan kepala nya bertanduk.
"Kalian para peri berani-beraninya kalian masuk kedunia iblis" ucap giant
"kami kesini ingin bertemu Iblis Vorm, dia adalah seorang wanita dengan rambut merah panjang dan bermata merah" ucap Ednan. Dia lupa pada waktu itu dia tidak menanyakan namanya, Ednan berharap para giant itu percaya.
"kau pikir aku sebodoh itu, mana mungkin Nona besar ada urusan dengan makhluk seperti kalian"
"sudah kita makan saja mereka" ucap giant yang satunya, dengan tatapan lapar kedua Giant itu berusaha menangkap Ednan dan teman-temannya.
__ADS_1
Mereka tidak tinggal diam dan mencoba melawan kedua Giant itu.