
Setelah dirasa, mobil suaminya menjauh barulah aisyah beranjak turun dari tempat persembunyiannya.
Dengan menahan isak tangis, aisyah memasuki rumahnya yang menjadi saksi bisu dari perilaku curang sang suami.
Aisyah tidak dapat menampik hal-hal negatif dari pikirannya. Apa yang membuat sang suami berank melakukan hal itu.
" ya Allah, apa yang sebenarnya sudah terjadi. Bagaimana bisa mas ridho melakukan ini, apa yang salah." tangis aisyah, entah sudah berapa kali aisyah memikirkannya tetapi tetap tidak dapat menemukan dimana kesalahan dirinya.
" apa karena aku belum memberikan anak, tidak. Jika karena anak, nggak mungkin mas ridho menyuruh aku untuk memasang kb." aisyah mengusap airmata yanng mengalir dipipinya.
Aisyah beranjak, menuju kamarnya. Begitu membuka pintu, tangis aisyah kembali luruh melihat kondisi kamarnya yang berantakan, bahkan dirinya menemukan sisa-sisa percintaan mereka.
" tabah aisyah, kamu kuat. Jangan nangis lagi, airmata kamu terlalu berharga untuk menangisi bajingan tak tahu diuntung." aisyah mensugesti hati dan pikirannya agar kembali tenang.
Pikiran aisyah melayang, ke beberapa tahun silam saat awal dirinya bertemu sang suami hingga akhirnya menikah.
Saat itu aisyah mengikuti dinda, sahabatnya dari jaman sekolah menengah menghadiri acara perkenalan antar mahasiswa baru.
" din, tungguin dong. Jalan kamu terlalu cepat." panggil aisyah
" buruan, kita udah ditungguin tau. Dari tadi hp aku udah banyak chat masuk dari senior yang ngadain acara."
" kok mereka bisa wa kamu??" tanya aisyah bingung, pasalnya dinda selalu tertutup tentang nomor hpnya.
" ya mau gimana lagi, yang mintain wa aku itukan senior. Entar dikirain nggak sopan, atau apalah kalau nggak aku kasih." jawab dinda
Aisyah mengangguk paham, karena dirinya pun pernah mengalami hal itu sewaktu duduk dibangku sekolah.
__ADS_1
Begitu mereka berdua tiba, langsung saja teman satu jurusan mereka memanggil agar duduk bersama.
" din, syah, sini.. Duduk deketan." panggil seorang wanita yang bernama marshella
Aisyah dan dinda menoleh, lekas menghampiri pemilik suara. Dengan cepat mendaratkan bokong mereka dikursi yang sudah disediakan.
" lama banget." ujar marshella
" nih, salahin nih manusia. Udah mepet jam masih aja tidur." balas dinda menunjuk aisyah dengan dagunya.
Yang di tunjuk hanya memasang wajah polos dengan mata berbinar, membuat marshella menghela napas.
" duh, pengen marahin tapi nggak tega."
Aisyah tertawa ringan karena terbebas dari omelan panas temannya.
Tak sengaja mata aisyah bersitatap dengan pria yang duduk tak jauh dari tempatnya. Dengan cepat aisyah memutuskan kontak mata antara mereka berdua.
Hal itu membuat aisyah risih, dengan sedikit berbisik aisyah bertanya pada dinda siapa sosok tersebut.
" din," panggil aisyah, yang dipanggil lekas menoleh dengan sorot mata seolah bertanya.
" kamu kenal sama cowok yang pakai baju warna hitam, duduk diantara kating kita. Meja seberang??" tanya aisyah sesekali melirik apakah pria itu masih melihatnya.
Dinda menelisik, pria manakah yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Begitu menemukan siapa, dinda kembali menoleh kearah aisyah.
" oo, itu. Ridho Permana, anak bisnis. Dia emang kating tau, kemarin waktu perkenalan dia nggak hadir karena ada urusan. Kenapa??"
__ADS_1
" nggak, soalnya dia terus-terusan liatin aku. Jadinya risih kalau kayak gitu."
Dinda mengernyitkan dahi tak paham, bagaimana bisa ridho memperhatikan aisyah padahal mereka tak saling kenal.
" kok bisa, emang kamu kenal??" tanya dinda
Aisyah menggeleng, " aku nggak sengaja liatin dia, waktu dia lagi liat kearah sini."
Dinda mengangguk paham, bahwa seniornya itu penasaran dengan aisyah.
" ya udah, pura-pura nggak liat aja. Ntar lama-lama juga dia bosan."
" iya." jawab aisyah
Tak berselang lama, aisyah pamit pada dinda untuk pergi ketoilet karena dirinnya sudah tidak dapat menahan panggilan alam.
" din, aku ketoilet dulu ya. Tungguin." kata aisyah, dinda hanya mengangguk sebagai jawaban.
Aisyah sedikit berlari menuju toilet, untuk menuntaskan keperluannya. Setelah cuci tangan, begitu aisyah keluar dari toilet dirinya tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria.
" ahh, maaf mas. Saya nggak sengaja." ujar aisyah sedikit menunduk.
" nggak masalah, saya juga salah karena nggak liat kedepan."
Mendengar jawaban dari mulut pria tersebut, membuat aisyah sedikit menaikkan pandangannya. Hal itu menbuat dirinya sedikit kaget, karena yang bertabrakan dengannya adalah pria yang asyik mencuri pandang padanya.
" hai. Kamu aisyah kan, anak bisnis juga. Kenalin saya ridho."
__ADS_1
Aisyah tersadar, segera mengangguk tanpa menjawab dan lekas kabur dari pandangan ridho.
" lucu." ridho terkekeh melihat prilaku aisyah