Awal Yang Manis Berujung Pahit

Awal Yang Manis Berujung Pahit
Lamaran


__ADS_3

Malam hari saat aisyah sedang menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya.


Aisyah berusaha menetralkan degup jantungnya yang berdetak tak karuan lantaran harus menyampaikan perihal rencana lamaaran ridho tadi siang.


Setelah berkali-kali menarik hembuskan napasnya, barulah aisyah memanggil kedua orangtuanya agar terfokus pada dirinya.


"mah, pah.. Ais mau bicara!!"


Sontak atensi keduanya teralihkan pada aisyah.


"mau bicara apa sayang?? Bicara aja, papa sama mama bakalan dengerin sampai selesai." ujar papa aisyah


Aisyah memposisikan diri menghadap papa mamanya.


"gini.. " aisyah menarik napas perlahan sebelum melanjutkan perkataannya.


"huufft.. Gini pah. Temen deket ais, mas ridho tadi bilang mau ngajakin ais serius. Terus.." kembali perkataan aisyah terpotong akibat teriakan sang mama, membuat aisyah terkejut.


"bagus dong!!" papa aisyah yang duduk bersebelahan dengan mamanya ikutan kaget.


"ya Allah mah.. Mau bikin papa jantungan ya. Ngapain teriak kayak gitu." kata papa aisyah seraya mengelus dada.

__ADS_1


Yang ditegur hanya nyengir sambil menunjukkan tanda peace.


"bukan gitu pah.. Mama terlalu bahagia, kalau ternyata anak mama ada yang mau." bantah mama aisyah


"udah, diem dulu. Kita dengerin ais sampai selesai. Nggak baik menyela pembicaraan orang."


Mama aisyah mengangguk patuh.


"lanjut nak." ujar papa aisyah


"terus mas ridho nanyain, kira-kira hari kapan waktu yang pas buat lamaran." lanjut aisyah


Terlihat papa aisyah memikirkan sesuatu dengan tatapan tertuju pada anak semata wayangnya.


"boleh deh pah, nanti sekalian mama mau ngabarin para kakek neneknya aisyah kalau cucu semata wayangnya mau lamaran. Pasti nangis-nangis nggak terima." mama aisyah tertawa jika membayangkan hal itu.


"terserah mama deh.. Ais ngikut aja gimana bagusnya. Jadi fiks hari minggu ya pah. Soalnya ais mau ngabarin mas ridho."


"iya, hari minggu."


"mama sedih deh, ngeliatin anak mama satu-satunya udah pengen lamaran aja. Coba aja mama masih bisa hamil ya. Pasti nggak bakalan sesepi ini." ujar mama ais sendu, karena dirinya pernah keguguran sehingga rahimnya terpaksa harus diangkat membuat dokter memvonis bahwa dirinya tak lagi bisa hamil. Ditambah dirinya dan sang suami sama-sama anak tunggal tanpa saudara.

__ADS_1


Papa aisyah mengelus bahu sang istri agar tak perlu bersedih dengan kejadian yang lalu.


"mama tenang aja.. Walaupun nanti ais nikah, ais bakalan tetap selalu ada buat mama." aisyah lekas memeluk erat keduanya.


Setelah itu tak ada lagi pembahasan tentang lamaran, aisyah asyik bercerita tentang keseruannya sehari-hari bersama dinda.


Malam yang semakin larut membuat asiyah tak kuasa menahan kantuknya. Terlihat dari matanya yang memerah serta mulutnya yang tak henti menguap.


"hooaam.. Masya allah, ngantuknya.


Mah, pah..ais tidur duluan ya, udah ngantuk banget." kata aisyah dengan tangan sesekali mengusap matanya.


"ya udah.. Sana masuk kamar, itu mata kamu udah merah banget." balas mama aisyah


"oke deh mah.. Ais masuk duluan ya. Selamat malam mama, selamat malam papa." aisyah perlahan bangkit dari sofa yang didudukinya.


"malam sayang." jawab keduanya serentak.


Aisyah berjalan meninggalkan kedua orangtuanya, menuju kamarnya.


Dengan semangat aisyah membaringkan tubuhnya pada kasur empuk nan lembut tak lupa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Aisyah membaca doa, sebelum akhirnya kalah dalam melawan rasa kantuk yang menyerangnya.


Kedua orangtua aisyah beranjak dari sofa, berjalan beriringan memasuki kamar menyusul aisyah ke alam mimpi.


__ADS_2