
Hari yang ditunggu-tunggu oleh aisyah akhirnya tiba.
Dari pagi dirinya ikut sibuk mengurusi ini dan itu membuat sang mama kesal sendiri.
"kamu ngapain sih, syah.. Mondar-mandir mulu daritadi??" tanya mama aisyah
"ais, lagi ngecek mah.. Siapa tau ad yanng kurang." jawab aisyah tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan diatas meja
"mama udah pesen dari catering langganan kita, nggak mungkin lah mereka bakal salah. Udah lah, kamu masuk kamar gih.. Kamu mandi terus siap-siap, sekarang udah jam 2 loh."
Aisyah sontak menoleh pada jam dinding yang terpasang cantik diruang tamu mereka.
"wah, iya. Duh, kenapa jam cepet banget sih.. Ais jadi deg-deg an loh mah." ujar aisyah
"udah lah, nggak usah kamu pikirin.. Nanti makin tremor. Sekarang kamu mandi, terus dandan yang cantik ya. Bajunya udah mama siapin, nanti mama nyusul." kata mama aisyah
Aisyah mengangguk setuju, berbalik menuju kamarnya.
Tak lama dinda menyapa mama aisyah
"assalamualaikum, tante."
"waalaikumussalam, akhirnya dateng juga."
"hehe, iya tan.. Soalnya, dinda masih ada kerjaan tadi. Aisyah mana??" dinda melihat sekeliling mencari sahabatnya.
"udah dikamar.. Tolong kamu bantuin aisyah ya, soalnya dia agak gugup tadi."
"aashiap tante, kalau gitu dinda nyusulin ais dulu ya." ujar dinda berlari kecil menuju kamar aisyah.
tok tok tok.. "syah, ini aku. Aku masuk ya." ujar dinda.
Saat tak mendapati jawaban, dinda dengan perlahan membuka pintu dan masuk.
"mandi toh." gumam dinda saat mendengar suara air dari kamar mandi.
Dinda memutari kamar aisyah dengan raut wajah iri.
"enak banget jadi kamu ya, syah.. Kaya, cantik, pintar, dapet calon suami kaya juga. Coba aja kalau aku yang ada diposisi kamu." ujar dinda pelan, dengan tangan meraih figura yang tersusun rapi diatas rak.
Masih dengan pikirinnya, dinda tak menyadari jika aisyah telah selesai mandi dan keluar dari kamar mandinya.
"hei, din.. Udah lama kamu??" tanya aisyah membuat dinda terkejut hingga figura yang dipegangnya terlepas.
Ppraakk.. Bingkai figura itupun pecah
__ADS_1
"m maaf, syah.. Aku nggak sengaja" lekas dinda memunguti bingkai yang berisi foto aisyah bersama kedua orangtuanya.
Aisyah mengambil alih bingkai foto dari tangan dinda, dan meletakkan diatas meja riasnya.
"nggak papa, nanti bisa diganti. Kamu nggak luka kan??" tanya aisyah dengan nada khawatir
"nggak, aku cuma kaget aja.. Kamu tiba-tiba muncul." jawab dinda
"kirain kamu tadi lagi nggak melamun gitu." ujar aisyah duduk didepan meja riasnya untuk mulai membersihkan muka.
Dinda menatap aisyah melalui pantulan cermin tanpa menjawab perkataan aisyah.
Aisyah yang menyadari jika raut wajah dinda yang tak biasa lekas bertanya.
"kamu ada masalah ya??"
"haah, siapa?? Aku??" dinda melihat kearah aisyah. Aisyah mengangguk sebagai jawaban.
"nggak, nggak ada masalah kok. Kenapa??" dinda balik bertanya
"wajah kamu kayak lagi banyak masalah.. Kalau kamu ada masalah, boleh kok cerita sama aku. Kita ini sahabatan."
Dinda hanya membalas dengan senyumannya membuat aisyah tak lagi bertanya, karena pasti tetap tak mendapat jawaban.
Setelah lumayan lama terdiam, dinda kembali melihat kearah aisyah yang sibuk memasang hijabnya.
"iya, kenapa??" tanya aisyah
Dengan sedikit ragu, dinda bertanya pada aisyah. "kamu yakin?"
Aisyah mengernyitkan dahinya, tak paham dengan pertanyaan dinda yang tak bertuju.
"yakin, maksudnya??"
"engg.. Yakin, buat nerima lamarannya mas ridho?" setelah pertanyaan itu keluar dari mulutnya, dinda membuang pandangannya dari aisyah agar tak bertatapan langsung.
"kok kamu bisa nanyain hal itu?? Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau aku harus yakin sama pilihan aku sendiri" tanya aisyah yang masih bingung dengan maksud pertanyaan dari sahabatnya itu.
"aku nggak ada maksud apa-apa, hanya ragu aja sama pilihan kamu." kata dinda yang masih tidak berani melihat wajah aisyah yang kini terlihat kesal.
"emang kenapa kamu bisa ragu sama mas ridho, yang jelas-jelas kamu tau. Atau kamu suka sama mas ridho, makanya tiba-tiba bilang kayak gitu." tebak aisyah
Dinda sontak melihat kearah aisyah yang juga sedang melihat kearahnya.
"nggak syah.. Bisa-bisanya kamu mikirin sampai kesana. Aku cuma sekedar kagum aja, nggak sampai suka." jawab dinda seraya mengeleng keras.
__ADS_1
Aisyah mendengus kasar mendengar jawaban dinda.
Dengan perlahan dirinya menarik hembuskan napas, agar emosinya mereda agar tak menjadi kekacauan yang tak berguna.
"ya udah.. Maaf ya kalau aku kebawa emosi." tukas aisyah perlahan
"aku juga minta maaf karena ngomong kayak gitu, harusnya aku ngasih support sama kamu." balas dinda beranjak untuk memeluk aisyah, yang segera dibalas oleh aisyah.
Keduanya pun bercerita seolah-olah tak pernah terjadi pertengkaran.
Tak lama terdengar pintu kamar aisyah diketuk dari luar.
Tok tok tok,.. "syah, ini mama. Udah siap nak??" panggil mama aisyah dari luar
Lekas dinda membuka pintu agar mama aisyah dapat masuk.
"udah siap, tante masuk aja." jawab dinda
Mama aisyah mendapati jika sang anak sangat cantik dalam balutan gamis serta hijabnya.
"masya allah, cantik banget anak mama."
"iihh, mama.. Malu tau." balas aisyah dengan wajah bersemu merah.
"anak mama emang cantik banget tau.. Udah siap, dibawah keluarga ridho udah datang."
Aisyah membelalakkan mata, kegugupannya kembali datang. Terlihat dari ekspresi wajahnya.
"udah.. kamu tarik napas, buang perlahan. Terus, sampai kamu tenang." mama aisyah memberikan intruksi.
Setelah tenang, barulah aisyah diajak untuk turun menemui calon tunangannya.
"sekarang, kita turun ya.. Dinda udah jalan dulu."
"bissmillah." ucap aisyah lantas berjalan beriringan bersama sang mama menuju ruang tamu tempat mereka berkumpul dalam acara lamaran dirinya.
Terlihat, kakek serta neneknya hadir dalam acara lamaran membuat aisyah nyaris meneteskan airmata karena terharu.
"mama nggak bilang, para sepuh pada datang??" bisik aisyah pada sang mama yang duduk tepat disebelahnya.
"huusstt, diem. Acara udah mau dimulai." balas mama aisyah.
Acara yang dinantikan pun dimulai, dimana keluarga ridho mengutarakan niat mereka melamar aisyah untuk putra mereka, yaitu ridho.
Dengan disambut baik, keluarga aisyah pun menerima lamaran dari keluarga ridho untuk asiyah.
__ADS_1
Kedua keluarga ikut berbahagia, karena acara penting mereka berjalan lancar.
Setelah itu acara diakhiri dengan acara makan bersama.