Awal Yang Manis Berujung Pahit

Awal Yang Manis Berujung Pahit
Sering Bertemu


__ADS_3

"din, kemarin mama telepon aku." ujar aisyah


"oh, ya.. Tumben banget tante telepon, biasanya juga sering chat."


"makanya waktu mama telepon, aku udah punya firasat buruk tau."


"emang kenapa sih, kan wajar kalau orangtua ngehubungin anaknya." tukas dinda tak paham


"wajar kalau sekedar nanyain kabar. Lah, ini beda tau. Masa mama nghubungin aku cuma buat nanyain,, aisyah sayang, gimana kuliah kamu, lancar nggak. Kayaknya mama sama papa bakalan pulang pas akhir bulan deh, soalnya ini masih ada sedikit kendala sama perusahaan cabang papa kamu. Terus kamu udah punya pacar, atau gebetan mungkin. Soalnya mama kasihan liat kamu, jomblo dari lahir. Gitu!!!" aisyah menjelaskan dengan meniru persis perkataan sang mama.


Sontak hal itu membuat dinda menyemburkan jus yang sedang diminumnya, semburan itu mengenai wajah mulus nan cantik milik aisyah.


"dinda jorok banget ih, kamu nggak sikat gigi ya. Kok bau jigong!!" sentak aisyah, seraya mengambil tisu untuk membersihkan bekas semburan pada wajahnya.


"maaf, maaf.. Habisnya, kok bisa tante ngomong kayak gitu. Yang bener itukan, harusnya tante ngelarang kamu pacaran." dinda membantu aisyah membersihkan sisa-sisa air pada meja.


"udah ah, males. Aku mau balik dulu."


"syah, tung.." belum sempat dinda menyelesaikan perkataannya, aisyah lebih dulu menubruk badan seseorang saat ingin berbalik.


brukk!!!


"gu.." lanjut dinda setelah bokong aisyah mendarat sempurna dilantai.


Dengan segera dinda membantu aisyah beranjak dari lantai.


"kamu nggak papa kan," tanya orang yang menabrak aisyah, tak lain adalah ridho.


"maaf ya mas, kayaknya temen saya ngantuk. Makanya asal nabrak aja." bukan aisyah yang menjawab melainkan dinda.


Sontak saja aisyah langsung mencubit sisi pinggang dinda yang mepet pada dirinya.

__ADS_1


"aaww, sakit syah." dinda mengusap kulitnya yang terkena cubitan maut milik aisyah.


Aisyah tak merespon, dia hanya menundukan kepala seraya meminta maaf pada orang yang ditabraknya.


"maaf ya mas, saya nggak liat sekeliling."


"nggak masalah, lain kali hati-hati ya. Besok-besok kalau mau tabrakan lagi, kasih tau ya. Jadi saya bisa langsung ambil posisi buat menghindar. Soalnya kita udah 2 kali loh, kejadian kayak gini.


Wajah aisyah memerah mendengar perkataan ridho, sedikit mendongak melihat wajah pria yang ditabraknya.


"hai, ketemu lagi kita." sapa ridho setelah aisyah bertatapan dengannya.


Aisyah meruntuki kebodohan serta kecerobohannya, padahal baru saja dirinya memikirkan bagaimana cara agar tidak bertemu dengan pria dihadapannya.


"hehehe, iya mas." aisyah segera mengambil langkah seribu meninggalkan kantin serta penghuni didalamnya.


Bahkan aisyah tidak menghiraukan panggilan dinda yang sudah tertinggal jauh.


"weess, bro. Biasa aja kali tuh muka." timpal temannya yang lain saat melihat ekspresi wajah ridho.


Ridho mengembalikan ekspresi wajahnya, agar tidak terlalu terlihat bahwa dirinya cemburu pada perkataan temannya.


"udahlah, gue udah laper." ridho segera memesan makanannya.


Dinda masih mengatur napasnya setelah berhasil mengejar langkah aisyah.


"tega banget sih, syah." dinda mengambil tempat duduk tepat disebelah aisyah.


"ya Allah, aisyah malu banget. Mana ramai orang lagi." aisyah menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"jodoh kali syah," canda dinda

__ADS_1


"nggak bisa din, jodoh aku itu masih berada dibelahan dunia lain."


Dinda tertawa, bagaimana bisa dalam situasi seperti ini aisyah masih sempat melawak.


"ihh, serius tau."


"udahlah, syah. Halu kamu itu udah ketinggian banget. Entar jatuh, nangis lagi."


Aisyah cemberut, karena kehaluannya sama sekali tak mendapat dukungan.


"pulang aja yok, kan mata kuliah terakhir udah abis." ajak aisyah


Dinda mengangguk setuju, karena dirinya pun ingin lekas pulang.


Begitu tiba digerbang, aisyah dan dinda kembali bertemu dengan ridho.


"hai." sapa ridho


"ooh, hai." jawab aisyah


"boleh minta nomor kamu."


"buat apa ya," tanya aisyah


"saya pengen kenal sama kamu." jawab ridho lugas.


Sedikit ragu aisyah menyebutkan sederetan angka.


"oke, makasih. Saya pulang dulu ya, udah ditungguin sama yang lain. Nanti saya hubungin." ridho segera menyimpan hpnya setelah mendapatkan nomor milik aisyah.


Aisyah hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah menunggu, akhirnya jemputan aisyah tiba. Aisyah lekas mengajak dinda untuk segera masuk kedalam mobil untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2