Awalku Dan Akhirku

Awalku Dan Akhirku
Memulai dengan pagi


__ADS_3

Pagi ini terasa begitu sibuk. Ani membantu ibunya menyelesaikan tugas rumah seseli melirik jam dinding. Hari ini dia harus ke kantor javapost dulu sebelum mengajar di SMK Harapan Putra.


"Bu, Ani langsung ya. " Ani berkata dengan mencium tangan ibunya sembari bingung dengan tentengan tas kanan kirinya.


"Loh nak, kamu belum sarapan nak,mau dibawahkan bekal? " sambil melihat anaknya yang terburu-buru.


"Nanti saja buk, Ani harus ke kantor redaksi dulu buat nyerahin artikel minggu ini. Terus Ani harus langsung ke sekolah karena Ani ada jam ngajar pagi bu," jawab Ani sembari memakai sepatunya.


"Assalamualaikum bu," Ani sedikit berlari menuju sepeda beat warna putihnya.


Jalanan pagi ini padat seperti biasa. Kemacetan dari banyaknya populasi yang harus bekerja, sekolah dan melakukan rutinitas lainnya memenuhi jalanan.


Bahkan adanya lampu merah dan polisi tetap membuat jalanan macet.


"Sial bisa telat nih," umpat Ani dalam hati sembari melirik jam tangannya.


Dering handphone berbunyi terus membuat Ani semakin panik.


Ani mencari jalan di sela-sela kemacetan itu. Dengan perjuangan belok kanan kiri dan teguran orang karena nyrobot sana sini akhirnya Ani sampai depan kantornya.


Ani sedikit berlari dari parkiran. Diusia yang sudah 45 tahun dia begitu tampak lelah.


"Assalamualaikum, " Ani membuka pintu kantor dengan nafas terpotong-potong.


"Walaikum salam. Eh bu Ani sudah datang, sudah ditunggu pak Harto di ruangannya, " jawab Siti anak magang yang baru lulus kuliah.


Ani pun menuju lantai 2 keruangan kepala redaksi.


Perlahan dia membuka pintu dan belum sempat mengucapkan salam dia sudah mendengar ocehan pak Harto.


"Ani Ani alasan apa lagi ini, belum ada artikel buat minggu ini. Kamu itu niat kerja tidak sih, "pak Harto terlihat marah.


"Maaf pak tadi macet. Ini saya juga sudah menyelesaikan artikelnya, " sembari mencari sesuatu di tasnya Ani berdoa dalam hati agar dimaafkan.


Hal seperti ini tidak terjadi satu atau dua kali.


Ani sudah sering melakukan kesalahan keterlambatan lartikel untuk javapost mingguan. Mungkin karena kesibukannya.


Dia bekerja di javapost dan mengajar di Smk Harapan Putra.


Ani sendiri terkadang merasa malu dengan hal seperti ini. Tapi dia sudah mencintai pekerjaan jurnalistik dan sudah mencintai mengajar pada siswa.

__ADS_1


"Ani saya tau kamu sibuk. Harus membagi waktu untuk jurnalis dan mengajar. Tapi saat kamu sudah menerima ini semua harusnya kamu tau bagaimana bertanggung jawab pada keduanya. "


Pak Harto duduk dimeja dan membaca artikel yang diserahkan Ani. Ani masih duudk menunduk.


"Okelah, langsung masukkan ke bagian pencetak agar besok sudah dicetak. Kalau masalah hasil artikelmu saya sama sekali tidak meragukan lagi. Kamu sudah berada disini bahkan saat saya belum disini. Hanya saja tolong jangan terlalu mepet ya. Dua hari sebelum artikel diterbitkan harusnya sudah ada dimeja saya." Pak Harto memberikan artikel itu lagi untuk menyuruhnya membawa kebagian lain.


"Iya pak maafkan saya. Kalau begitu saya lanjut ya pak sekalian pamit karena mau langsung ke sekolah," pamit Ani pada bosnya.


"Iya," jawab pak Harto singkat.


"Wah lega banget," batin Ani dalam hati saat sudah berada di parkiran.


Dia langsung memakai helm dan jaketnya menuju sekolah.


Sesampai disekolah dia segera menuju ruangannya. Hari ini ada ujian untuk anak-anak kelas 11 D.


Dia segera bergegas dimejanya menyiapkan kertas soal dan jawaban yang nanti akan dibagikan.


Bener-bener hari yang sibuk bahkan untuk bernafaspun harus terburu-buru.


"Assalamualikum anak-anak, " sapa Ani pada muridnya.


"Walaikum salam bu Ani. "


Ani adalah guru yang terkenal killer di kalangan para siswa. Dia bahkan jarang tersenyum saat mengajar dan selalu tegas dengan nilai yang sudah diputuskan.


"Masukan semua buku kalian. Yang ada di meja hanya ada pensil dan penghapus saja, " kata Ani sembari membagi kertas ujiannya.


"Waktunya hanya 50 menit dengan 50 soal. Saya harap itu sangat cukup untuk kalian bisa mengerjakannya dengan benar. "


Para siswa menghela nafas panjang mendengarnya.


"Yang sudah nanti bisa langsung dikumpulkan dan tetap berada dikelas dengan tenang sambil menunggu nanti yang lainnya selesai. Sisa waktu nanti akan digunakan untik evaluasi soalnya langsung. Jadi kalian bisa tahu berapa kira keslaahn kalian dan berapa nilai kalian." Ani duduk dimeja depan dan melihat dengan mata tajam ke setiap murid. Semua murid terlihat hanya menundukkan kepala.


2 jam perlajaran bahasa indonesia sudah selesai.


"Ah akhirnya 90menit berlalu, " batin Ani.


Dia memeriksa jadwalnya ternyata hari ini full.


setelah dari kelas 11 D dia langsung masuk keruang 11A setelah itu di 11E Dengan materi yang sama yakni ujian.

__ADS_1


Jam istirahat sudah selesai. Ani yang sembari tadi sibuk hanya makan roti beberapa potong.


Ani langsung melanjutkan ke kelas berikutnya yakni 11E.


"Tinggal sebentar lagi. Setelah itu aku harus makan. Belum sarapan pagi, siang juga tak enak makan. "


Ani membuat rencana dalam hati. Dengan perut yang keroncongan tetap saja Ani melakukan tugasnya sebagai guru tanpa masalah.


"Mbak kok pucat banget, " seseorang membangunkan Ani yang tertidur dimeja ruang guru.


"Sudah waktunya pulang ini, " lanjut Erna salah satu guru di SMK Harapan putra juga sebagai guru Agama Islam. Sekaligus Erna merupakan adik kandung dari Ani.


"Iya Er, badan lemas. Memang sudah jam berapa ini kok sudah sepi ruang guru. " Ani melihat sekelilingnya.


"Jam 3 sore mbk. Mau aku anterin pulang tah. Biar aku telfon suamiku biar tidak jemput. Aku anterin aja, aku juga kangen ibuk, "kata Erna yang kuatir dengan keadaan kakaknya.


"Assalamualaikum ibuk bapak, " suara Erna membangunkan ibunya yang sudah tua. Beliau sudah umur 68 tahun tapi masih tampak sehat. Ani yang masih belum menikah masih tinggal bersama ibu dan bapak mereka.


Berbeda dengan Erna yang sudah mempunyai rumah tangga sendiri dan sudah mempunyai 2 orang anak.


"Loh nak mana cucuku, " sambut ibunya dengan senyuman.


"Erna kesini nganteri mbk Ani ibuk. Wajahna pucat disekolah tadi jadi Erna tidak membawa anak-anak kesini. " Erna menjelaskan sambil membopong Ani menuji kamarnya.


"Yoalah itu karena gak makan tadi pagi kamu nak, " ibunya mengelus kepala Ani yang sudah berbaring diatas kasur.


Erna menuju dapur dan membuatkan teha hangat untuk kakaknya.


Mereka dua bersaudara dan selalu rukun. Hubungan dengan orangtua mereka pun sangat harmonis biarpun mereka sudah menua.


Apalagi kasih sayang mereka semua pada Ani.


Bahkan terkadang Erna merasa bersalah karena menikah lebih dulu dibanding kakaknya.


Sedangkan orangtuanya merasa kuatir karena diusia 45 tahun Ani masih belum menikah. Ditambah lagi bisik-bisik tetangga yang selalu bergosip mengatakan perawan tua. Biasanya juga ada yang seolah kasian dengan mengkambing hitamkan Erna karena menikah duluan mendahului kakaknya.


Terlihat Ani tertidur pulas.


Erna bersiap-siap untuk pulang kerumahnya.


"Ibuk kami pulang nggeh. Besok bila mbk Ani belum sembuh biar Erna ijinkan ke pihak yayasan."

__ADS_1


Erna pun memohon ijin pulang karena sudah malam.


__ADS_2